Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri
1
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Apa sih yang istimewa dari langit senja? Si gadis kedua suka memandanginya setiap hari dan menjengkelkan seisi rumah. Pasalnya dia memandang senja dari lantai dua yang sudah mau ambruk. Bangunan kayu di atas studio lukis almarhum sang ayah sudah terlalu tua dan pikun, bisa lupa cara menopang tubuh ringkih seorang gadis yang disayang langit.

Namun senja selalu menawarkan pesona yang membuat si gadis kedua mengabaikan seluruh marabahaya. Matahari memerah di atas gunung, warna jingganya menembus pepohonan yang menggoyangkan daun-daun, seperti tarian penari di altar para dewa.

'Aku hanya ingin bertemu senja, adakah yang salah?' batin si gadis.

"Mengapa di loteng? Di sana bahaya, bisa ambruk, Ibu belum cukup uang untuk memperbaikinya. Kakakmu masuk universitas tahun ini," kata si ibu menembus isi hati si gadis.

"Dibongkar saja, Bu," kata si kakak, gadis pertama, dengan santainya, seolah meruntuhkan sebuah bangunan semudah meruntuhkan memori yang tersimpan kuat di hati orang-orang terkasih.

"Tidak, itu kenangan Ibu bersama Ayah membangun rumah tangga dari nol, dari rumah sederhana terbuat dari kayu." Itu bukan suara Ibu, itu suara si kakak yang sudah hafal jawaban Ibu, bahkan hafal lebih banyak, nyaris seluruh kisah yang pernah dituturkan.

"Kamu dan adikmu besar di rumah itu, jangan abaikan itu," kata Ibu ketus. Si kakak hanya mengangkat bahu dengan bibir melengkung ke bawah membentuk payung. Wajah cantiknya terlihat menjengkelkan.

Sementara si gadis kedua berlalu diam-diam, menuju bangunan tua di sebelah rumah, membuka pintunya yang reyot. Mengabaikan debu yang menumpuk di kursi kayu tua, easel tripod almarhum ayahnya diam membeku, beberapa lukisan setengah jadi terpajang di dinding, rumah laba-laba menghias langit-langit, dingin dan bisu.

Langkah kecilnya menaiki anak tangga demi anak tangga, perlahan seolah enggan mengusik suara jangkrik dan tonggeret yang mulai ramai bersahut-sahutan. Dia berjalan menuju depan jendela, membukanya dengan hati-hati, namun suara daun jendela bergesek menciptakan deritan yang mengagetkannya sendiri.

Ditatapnya langit yang masih terang. Sebentar lagi warnanya meredup, batin si gadis. Tangannya segera mengambil sebuah buku harian di meja tepat di sampingnya berdiri, membuka buku itu di atas jendela yang terbuka. Terburu menuliskan sesuatu di sana, seolah takut hari berangsur gelap dan matanya tak lagi bisa melihat huruf-huruf. Cahaya jingga mempercantik wajahnya, dihias rambut nan hitam melambai terkena hembusan angin sore. 

Aku suka sekali warnamu, kata si gadis pada langit, kata-kata yang hanya terucap di hati, namun dia tahu langit mendengarnya. Seperti yang dilakukan langit pada setiap sore, selalu sabar mendengar cerita-ceritanya. Dia berkisah tentang apa saja, tentang pagi yang sibuk, tentang teman-temannya di sekolah, tentang kakaknya yang selalu memusuhi dan mencari-cari kesalahannya, tentang Ibu yang selalu sibuk pagi, siang dan malam, tentang cowok-cowok yang mengerubunginya seperti semut mengerubungi donat. Langit tak pernah bosan mendengar ceritanya.  

Baginya, tak ada yang lebih istimewa dibandingkan langit, teristimewa langit senja. Bahkan dia berkhayal langit senja akan mengiriminya seorang kekasih yang benar-benar tulus menyayanginya, bukan cowok yang mendekat hanya untuk menyentuhnya atau menatapnya lama-lama sambil mengeluarkan rayuan gombal. Kemudian gadis itu berbohong bila dia sudah tidak perawan dan mereka pun pergi, ide ganjil nan cerdas yang muncul begitu saja.

Langit selalu menampung cerita, menyaksikan berjuta kesedihan dan kebahagian. Walau begitu, si gadis selalu merasa istimewa di hadapan langit, karena dia satu-satunya orang yang suka mengobrol dengan langit senja, tak ada satu pun teman-temannya suka melakukan seperti yang selama ini dilakukannya sejak dia meninggalkan seragam putih merah, sampai menjelang putih abu-abu. Tidak temannya, terlebih lagi kakaknya yang selalu membenci kehadirannya, dia pasti membenci apa pun yang disukainya.

Si gadis terus bercerita sambil menikmati perubahan warna dari biru terang, berangsur kekuningan, lalu jingga, kemerahan, meredup dan menggelap. Sang Ibu meneriakinya dari bawah, menyuruhnya turun untuk salat maghrib dan makan malam. Maka gadis itu pun menutup jendela, mengembalikan buku harian ke atas meja, lalu turun perlahan mematuhi perintah sang Ibu.

Gadis itu harus turun dengan sangat hati-hati, ada anak tangga yang sudah rapuh kayunya, ada juga paku besar berkarat yang sudah menonjol. Bagi gadis kedua, semakin berbahaya tangga untuk naik turun, maka semakin aman rahasia yang tersimpan di atas loteng.

Hari ke hari berjalan seperti langkah pelari, gadis pertama sudah berkuliah di kota, meninggalkan adiknya dan sang Ibu di kaki gunung itu. Si gadis kedua sekarang berseragam putih abu-abu, namun kebiasaannya menatap langit senja dari loteng kayu yang rapuh tetap tak tergantikan dengan apa pun. 

"Mengapa selalu ke loteng?" Entah sudah pertanyaan ke berapa dilontarkan sang Ibu, sedangkan gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.

Andai diterjemahkan, senyuman itu mungkin bilang, "Dari loteng aku bisa melihat gunung dan pepohonan, Ibu, dan cahaya jingga yang menerobos di sela dedaunan, itu indah luar biasa. Lebih dari itu, di sana aku menemukan langit yang tak mendengar dirinya sendiri, Dia mendengarkanku seolah aku adalah hal terpenting di dunia ini."

Walau tak pernah mendapat jawaban yang pasti, sang Ibu tak lagi menghalangi si gadis untuk naik ke loteng di sebelah rumah setiap sore. Itu adalah rumah kayu yang dulu pernah menjadi awal perjuangannya merawat dan membesarkan dua putrinya yang cantik, rumah kayu yang berubah menjadi studio lukis suaminya setelah rumah tembok bisa dibangun di sampingnya.  

Begitu cepatnya waktu berlalu, sekarang si ibu sendirian berjuang untuk dua anak gadisnya. Mengelola toko di pasar desa dibantu dua karyawan. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan kuliah si kakak, tokonya musti buka sampai malam. Bila dulu setiap senja sudah berada di rumah, walau di rumah pun masih bekerja menulis buku kas dan merencanakan usaha. Sekarang jam sembilan malam masih menutup toko, dilanjut mengerjakan pembukuan di rumah sampai selesai. Rutinitas yang melelahkan demi dua buah hatinya.

Si gadis kedua merasa tak ada lagi yang menghalanginya naik turun ke loteng. Di sana dia menulis banyak puisi, banyak cerita, dan banyak lukisan. Dia bersihkan sendiri studio ayahnya, menemukan banyak kanvas kosong, dikumpulkan dan dibersihkannya cat yang sudah berdebu untuk dia gunakan kembali. Si gadis menemukan dunianya, yang tak seorang pun berani mengusiknya, dunia rahasia yang hanya dia dan langit senja yang tahu, 

Hingga pada suatu maghrib terjadilah itu.

Sore, sang Ibu merasa tidak enak hati, dia memutuskan pulang untuk salat maghrib di rumah saja bersama si gadis. Batin seorang Ibu memang selalu begitu, seperti ada kabel tak kasat mata yang menghubungkannya dengan buah hati.  

Kabel itu menyuruhnya melangkah ke rumah tua dan menemukan gadis keduanya, putri yang disayanginya, telentang di lantai dengan kepala berdarah, masih berseragam putih abu-abu dan darah itu juga membasahi sebagian baju putihnya, pas di bagian dada. Spontan dia menjerit histeris sampai seluruh pegunungan mendengarnya, setelah itu dia terjatuh tak sadarkah diri. Para tetangga berdatangan. Dalam waktu singkat sang Ibu mendapati dirinya berada di ruang IGD sebuah Rumah Sakit kecamatan.

Gadis itu, entah apa yang dilakukan paramedis di ruangan berkelambu putih tepat di sebelah sang Ibu berbaring. Sementara sang Ibu mulai siuman, pandangan matanya kosong, mungkin merangkai kejadian yang baru dialaminya. Spontan seorang perawat datang memegang pergelangan tangannya sambil tersenyum.

"Putri Ibu tidak apa-apa kok, hanya kepalanya perlu dijahit," kata perawat itu. Si ibu melongo, antara percaya dan tidak. Kesadarannya mengulang memori warna merah darah yang membasahi seragam putih putrinya. Apakah darah dari kepala yang membasahi dada itu? Bagaimana mungkin? Apa yang sebenarnya terjadi? Setidaknya dia merasa lebih tenang dengan berita yang disampaikan Suster itu.

Sang Ibu mencoba duduk, tetapi Suster menahannya untuk melakukan pengukuran tekanan darah.  

"Boleh saya melihat anak saya. Suster?" tanyanya.

"Belum, Bu. Dokter masih melakukan tindakan. Bila ibu sudah tidak pusing, boleh menunggu di ruang tunggu."

Seorang perawat lelaki menyodorkan sebuah buku padanya. Sang Ibu mengusap air matanya, menatap mata si lelaki, seolah bertanya buku apakah itu?

"Ini buku yang dipeluk si Mbak," kata si lelaki. Sang Ibu menerima buku itu, buku yang sebagian masih lengket oleh warna merah. Bau yang tercium dari buku itu telah lama tidak dirasakan oleh indranya, bau cat akrilik.  Ternyata warna merah darah yang membasahi baju putrinya adalah warna cat tumpah. Tiba-tiba perasaan lega mengalir di dada sang Ibu, bibirnya tersenyum lalu pamit pada perawat untuk menunggu di ruang tunggu saja. Di sana sudah berkumpul para tetangga yang menunggu kabar berita dari ruang IGD.

Sang Ibu sangat berterimakasih dan mempersilakan para tetangga untuk pulang saja karena dirinya sudah sehat dan putrinya selamat, hanya perlu dijahit di bagian lukanya. 

Ditemani buku catatan harian si gadis kedua, bergetar tangannya ketika membuka lembar demi lembar curahan hati si gadis pada langit senja. Catatan itu seolah menelannya hidup-hidup, membuatnya menyesali segala yang terjadi walau itu sia-sia. Menangisi waktu yang tak bisa diputar ulang.

Dibukanya buku harian itu secara acak dan menemukan tulisan ini.

"Langit senja, hanya kamu temanku satu-satunya. Entah mengapa aku tidak pandai berteman. Teman-teman mendekatiku hanya karena aku pintar dan murah hati memberi contekan saat ulangan. Bila mereka tidak membutuhkan aku, mereka pun menjauh. Kakakku membenciku karena katanya kehadiranku membuatnya gagal menjadi anak satu-satunya yang memperoleh seluruh perhatian. Ibuku terlalu sibuk bekerja menyiapkan masa depan kami, sedangkan Ayah, mengapa cepat sekali matinya? Aku masih membutuhkan Ayah."

Air mata itu menetes lagi, dibiarkannya mengalir sambil membuka lembar berikutnya.

"Langit senja, mengapa orang-orang sibuk berbicara dan ingin didengarkan? Guruku, Ibuku, kakakku, teman-temanku, semua minta didengarkan olehku, aku harus mematuhi dan mengikuti aturan main mereka. Lantas, siapa yang mendengarkanku aku? Hanya kamu, ya, kamu. Kamu selalu mendengar segala keluhanku, kamu selalu sabar dan setia. Untung aku punya kamu, untung juga aku punya kanvas yang patuh dan mengikuti aturan mainku sendiri. Pantesan Ayah suka berlama-lama di studio ini, kanvas dan cat adalah sahabat sejati."

Terasa pedih hati si ibu menyadari gadis kesayangannya merasa sendirian sampai harus bersahabat dan berbicara pada benda-benda mati. Dadanya terasa sesak dan berdarah. Selama ini dia telah salah membaca kebutuhan kedua gadisnya. Bukan materi, bukan.  

Buku harian di tangannya seperti memahami isi hati si ibu, tak sengaja jatuh, di bagian yang terbuka langsung dibacanya.

"Langit senja, apakah kamu melihat kebodohan orang-orang? Aku melihat kebodohan ibuku, mengejar uang untuk masa depan aku dan kakak, tapi mengabaikan hari ini. Seolah-olah masa depan lebih penting daripada hari ini. Kalau aku jadi gila karena sedih dan kesepian, adakah masa depan untukku?"  

Rasanya sang ibu ingin menerobos masuk ruang berkelambu putih itu, untuk memeluk si gadis kedua, memohon maaf telah menjadi ibu yang tak bisa memahami dan berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik.

****

Catatan:

Kutulis cerita ini di Ngantang Malang, 14 Juni 2026, untuk mengenang kebiasaan masa SMP, memandang senja, gunung, pepohonan dan langit dari loteng rumah ibu, sambil berbicara pada alam. Sampai hari ini aku masih suka senja yang kunikmati dari rooftop rumah anakku Aden, di Ngantang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Bronze
Secarik Tagihan Sendu
Ayub Wahyudin
Cerpen
Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri
Innuri Sulamono
Novel
Othallam Kiss
Azmi
Skrip Film
Perfect Husband to My Sister
mahes.varaa
Cerpen
Bronze
Semutina Sahabatinu
Ron Nee Soo
Flash
Bronze
Daun di Atas Bantal: Cemburu Ketika Angin Mencocoli Daun
Ari S. Effendy
Novel
Social Distance Relationship
Achmad Nawaro
Novel
Because of you
windi putri
Novel
Cakrawala yang Sunyi
Rafael Yanuar
Novel
Proyek Buku Besar
Foggy FF
Novel
NOT FOR SALE
GAZALI
Novel
Gold
Let's Break Up
Bentang Pustaka
Novel
Lus(h)a
Hiki
Flash
Awan
Hariz Rizki
Flash
Bronze
Bahu dan Sandaran
White Blossom
Rekomendasi
Cerpen
Langit yang Tak Mendengar Dirinya Sendiri
Innuri Sulamono
Novel
Bulan Madu yang Tertunda
Innuri Sulamono
Cerpen
Bronze
Dusta Ternoda
Innuri Sulamono
Cerpen
Setelah 39 Tahun Kemarau
Innuri Sulamono
Novel
Utuh tak Berjeda
Innuri Sulamono
Flash
Mobil Pembawa Pesan
Innuri Sulamono
Flash
Ngidam
Innuri Sulamono
Cerpen
Bronze
Terpisah untuk Mencinta
Innuri Sulamono
Novel
Semurni Cinta Seputih Rindu
Innuri Sulamono