Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Perasaan bersalah, menyesal dan ingin mati kerap menghinggapi pikiran Lana. Skripisnya ditolak dosen lagi, dan Lana harus memutar otak agar bisa menyusun judul serta tetek bengek lainnya. Tak jarang Lana merutuki dirinya sendiri.
"Otak bodoh seperti lo, seharusnya ngambil jurusan lain. Dasar, begok, kuliah gak lulus-lulus. Mau sampai kapan lo kayak gini? Malu dong, teman-teman lo sudah lulus, punya kerjaan bagus, sementara lo masih saja bergelut dengan skripsi sampah itu!"
Lana mengatakan itu di depan cermin, sembari menodongkan pis4u ke lehernya. Mungkin seharusnya ia mat1 saja.
Kakaknya sering marah-marah setiap Lana meminta uang untuk kontrakan dan membayar UKT. Lana juga merasa sedih dan stres, tetapi mau bagaimana lagi, hanya Mas Iwan yang ia punya.
Lana berkutat di depan layar laptop, setelah membuat judul, ia sekarang tengah mengisi halaman demi halaman. Seharusnya Lana berkonsentrasi, tetapi teriakan di depan kamar membuat ia buyar.
Lagi-lagi pasangan suami-istri dan seorang perempuan berprofesi perawat. Mereka beradu mulut lagi kali ini. Suara kencangnya benar-benar membuat Lana mengepalkan tangan.
Ah, sial. Seharusnya ia mengerjakan skripsi dengan tenang, tetapi karena tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya miskin, membuat Lana tidak bisa menyelesaikan kuliahnya.
Setiap ia bersiap, fokus, manusia-manusia itu berisik. Anak kecil berlarian, bermain-main di koridor. Orang tuanya cekcok masalah uang.
Benar-benar menjengkelkan!
Lana menyalahkan hidupnya yang miskin lagi. Jika kehidupan setelah kematian itu ada, maka Lana akan menjadi orang kaya di sana. Dia muak dengan semua ini, kemiskinan membuatnya tertinggal oleh banyak hal.
Meski telinganya telah disumpal oleh headphone, tetapi lengkingan teriakan itu menembusnya. Lana memijit pelipisnya, lantas melepaskan kacamata. Gadis itu telah kehilangan semangatnya. Sekarang ia merebahkan badannya di kasur lecek itu.
"Suruh suami lo kerja, malah minjem uang ke gue."
"Ya, lo 'kan belum punya tanggungan, lo masih lajang, pengeluaran lo juga belum sebanyak gue 'kan, Nindy?"
"Halah! Bacot lo."
"Gue serius, Nindy."
"Sekarang gue tanya dah, suami lo kerja apaan, Nyet? Crypto, trading, maen saham, t4i. Halu mulu, dari dulu lo yang harus banting tulang kerja, minjem duit ke orang."
Lana mengerjapkan mata mendengar percekcokan di luar. Sekarang ia paham apa yang membuat Mbak perawat jengkel.
"Gue gak halu, ya, Nind. Gue memang work from home."
"Kalau begitu, bayar hutang ke gue. Sudah dari tahun kapan, tapi gak ada sedikitpun lo cicil," balas Mbak Nindy.
Pasangan suami-istri itu terdiam. Lana berdecak jengkel dari sini, tentu ia juga ingin mengatakan sumpah serapah yang sama. Mbak Via dan Mas Hadi juga pernah meminjam uang kepada Lana. Sepertinya bukan rahasia umum kalau pasangan itu suka meminjam-minjam.
"Nind, gue pinjem 100 ribu dah, buat makan anak gue doang," rengek Mbak Via.
"Via ... Via, seharusnya kalau miskin, jangan mempunyai anak dulu. Sekarang keluarga lo mesti gue yang repot ngurusin, minjemin duit. Aneh banget sumpah!"
Lana setuju dengan omongan Mbak Nindy, apa yang dia katakan memang fakta. Bahkan kabarnya Mbak Via hamil lagi sekarang, padahal untuk jajan anak pertama mereka juga harus meminjam sana-sini.
....
Kilas balik saat Lana baru pertama kali tinggal di rumah susun ini, Mas Hadi dan Mbak Via sangat baik padanya. Mungkin karena Lana asalnya dari desa, sehingga mereka juga harus mengarahkan Lana jika mau ke kampus atau ke pasar. Mewanti-wanti agar Lana tidak pulang kemalaman, karena di kota sedang masa banyak gangster dan begal kala itu.
"Terima kasih, Mbak." Lana mengangguk kala Mbak Via menceramahi pagi-pagi sebelum berangkat ke kampus.
Karena hujan deras, Lana telat pulang. Tadinya ia mau menginap di kosan Tantri, tapi teringat bahwa di kamarnya juga sering bocor. Lana takut kamarnya sekarang banjir.
Dia bergegas pulang setelah maghrib. Sialnya, motor butut miliknya itu mogok. Sehingga mau tidak mau Lana mengantarkannya ke bengkel.
Ternyata pekerja bengkel di sana adalah Mas Hadi. Beliau memberikan Lana teh hangat sembari menunggu motor dibenarkan.
"Kasihan kamu, Na. Gini aja deh, karena motornya belum selesai, kamu sekarang pulang sama saya. Kamu kedinginan, nanti masuk angin lho. Pokoknya besok beres. Aman!"
Lana melirik jam tangannya, akhirnya ia setuju pulang bareng dengan Mas Hadi. Entah kenapa dalam perjalanan pulang, Lana merasa mengantuk sekali. Kepalanya terasa berat, badannya menggigil, tak terasa ia terlelap.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, Lana tidak mengingat apapun lagi. Namun, samar-samar ia dengar desahan lelaki di sampingnya.
Saat Lana membuka mata, ia melihat Mas Hadi sudah bertelanjang dada. Lana ingin berteriak dan meminta pertolongan, tetapi badannya terasa sangat lemas. Dia hanya bisa menangis saat lelaki itu menyetub*hinya berkali-kali.
"Jangan pernah berbicara kepada siapapun, Lana!" ancam Mas Hadi, seraya melemparkan uang pada gadis itu.
Sejak saat itu Lana tidak pernah memercayai siapapun lagi. Seharusnya Lana pergi dari rumah susun itu, tetapi hanya rumah itu yang memberinya kelonggaran saat Lana berkali-kali telat membayar sewa.
Dan bertetangga dengan orang yang sudah merudapaksanya, membuat Lana muak. Sekian lama ia terpuruk, berkali-kali mencoba bun*h diri, tetapi Lana bisa bangkit dan memendam dendamnya selama ini. Berharap suatu saat ia bisa menik4m Mas Hadi.
Mungkin ini saatnya, pikir Lana, seraya menimang-nimang pis4u di tangan.
Sore tadi pemilik rumah susun memberitahukan melalui pesan Whatsapp, sekitar 1 jam lampu akan dipadamkan karena ada kerusakan kabel yang berujung korsleting.
Lana menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke rumah Mas Hadi, sebelumnya ia lihat Mbak Via keluar untuk membeli lilin.
Lorong gelap gulita itu tak membuat Lana takut, ia menyusuri pintu demi pintu sampai di depan pintu rumah Mas Hadi. Diketuknya berulang-ulang, sampai terdengar suara desisan dari dalam.
"Masuk saja!" bentaknya.
Senter dari ponsel Lana gunakan untuk menerangi masuk ke sana. Rumah sepetak itu hanya ada satu kamar, ruang tamu sekaligus dapur, serta satu kamar mandi. Sama seperti kamar Lana.
"Sial, kalah lagi!" Hadi mendesah, jengkel. Uang dari pinjaman online sudah habis lagi digunakan untuk top up berjudi.
Lana menyeringai, dimatikan senter itu.
"Via ...." Hadi mengacak rambutnya.
Tak ada sahutan apapun, Hadi memanggil lagi. Setengah kesal ia melemparkan ponsel dan keluar dari kamar untuk mengambil pemantik.
Namun, tanpa diketahuinya, Lana telah siap menerkamnya. Pis4u tajam itu mendarat di lehernya. Hadi sempoyongan, lalu ambruk saat Lana menendangnya.
"S ... siapa kamu?"
Lana mencabut pis4u itu, selanjutnya menggusur tubuh Hadi ke kamar mandi. Meski berat, Lana berusaha mengangkatnya. Sekarang kepala Hadi ditenggelamkan beberapa kali. Setelah puas, Lana menancapkan dua pis4u yang berada di sakunya ke perut lelaki itu.
Dendam yang membara itu kini terealisasikan sudah. Namun, tidak cukup disitu. Lana mencari sesuatu, sampai ia temukan handuk. Digunakannya handuk itu untuk menutupi wajah Hadi.
Lana memuk*linya tanpa henti, sampai darah segar mengalir dari hidung dan bibirnya.
"Hadi ... bahkan set4n pun iri dengan kejahatanmu!"
Hadi mendengar suara itu, suara yang sangat dikenalnya. Namun, ia tidak berdaya. Seluruh tubuhnya kaku, entah berapa tus*kan yang mendarat di tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah, Lana berjalan ke dapur, meraba-raba tempat penyimpanan pis4u. Setelah mendapatkannya, Lana kembali menaiki Hadi. Lana menik4m perut Hadi tanpa belas kasihan. Darah segar muncr4t mengenai wajah gadis itu. Setelah dipastikan mat1, Lana berjalan pelan-pelan keluar dari rumah itu.
"Mbak Via, gue sudah mengirim suami lo ke ner4ka!" Tangannya yang berdarah menepuk pundak Via.
Via mematung, tubuhnya limbung, terjatuh ke bawah sambil meraung-raung meminta tolong. Semua orang panik, segera mengerumuninya.
Orang-orang berteriak saat menatap Lana dengan darah di mana-mana. Gadis introvert itu masuk ke rumahnya, tak lama ia keluar lagi mengenakan kemeja berwarna gelap guna menutupi darah di kausnya.
Lana mengendarai motor menuju kantor polisi terdekat. Selanjutnya ia mengaku atas perbuatannya beberapa menit lalu.
"Saya bersedia menjalani
hukuman sesuai prosedur yang sudah ditetapkan, Pak." Lana mengangguk, mengusap sudut bibirnya.
Selesai.