Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Lampu dari Sungai yang Mengering
2
Suka
2,403
Dibaca

Sungai tak lagi berdendang, airnya menyusut perlahan, seperti nyanyian lama yang kehilangan nadanya, meninggalkan gurat luka di tanah, retak-retak yang menyerupai ingatan yang tak lagi utuh. Kodok-kodok yang dulu bersorak di kala senja, kini bungkam. Mereka pergi tanpa pamit, mungkin mencari genangan yang masih bisa memantulkan langit. Desa Tirta Wacana kini berangsur berubah dibandingkan satu dekade yang lalu.

Anak-anak tak lagi berlarian di lumpur. Jejak kaki mereka hilang, seperti masa kecil yang terhapus dari lembaran bumi. Di tepian sungai yang mengering, hanya ada bayang-bayang permainan yang tak sempat selesai, dan tawa yang kini hanya bergema di kepala para ibu.

Kemarau datang seperti tamu yang tak tahu diri, berlama-lama, menyerap harapan dari akar, dari sumur, dari mata air. Hujan menjadi dongeng yang diceritakan di warung kopi, di antara kepulan asap rokok dan gelas yang tak lagi berembun.

Bau tanah basah karena hujan, yang dulu biasa menyambut pagi dengan kelembutan, kini lenyap. Orang-orang bahkan sudah lupa bagaimana aromanya. Seperti doa yang tak lagi menemukan jalan ke langit, tersesat di antara awan.

Langit seolah tak lagi bersetia pada bumi. Ia menjauh, membiarkan manusia berjalan di antara retakan yang menganga, membawa cangkul dan doa yang mulai kehilangan kata.

Di Tirta Wacana, bukan hanya air yang menghilang, tapi juga kenangan, harapan, dan nyanyian yang dulu membuat desa ini menyala.

Satria, anak petani yang gagal panen tiga kali berturut-turut, tak punya modal, tak punya gelar, hanya rasa ingin tahu yang tak bisa dikeringkan oleh matahari. Keringatnya basah mungkin lebih basah dari sungai itu. Ia membangun rumah bambu beratap seng bekas, dengan panel surya yang ia pungut dari gudang sekolah terbengkalai. Ia belajar dari koran bekas, radio tua, dan video tutorial yang ia tonton di ponsel pinjaman. Ia merakit irigasi tetes dari botol bekas, menyambung kabel dari baterai motor tua, dan membuat IPAL sederhana dari drum plastik dan arang. Ia hanya berbekal tekad dan keingintahuan yang tak terbatas.

“Teknologi itu bukan milik orang kaya,” katanya suatu malam di balai desa yang gelap. “Teknologi itu milik siapa saja yang ingin bertahan.”

Tawai berderai menyambut kata-kata itu. Teman-teman yang biasa duduk bersamanya di bawah pohon pule menertawakannya. “Satria mau jadi insinyur kampung,” ujar salah satu sambil mengunyah gorengan. Yang lain menimpali, “Nanti kalau lampunya meledak, jangan salahkan PLN.” Tawa mereka memantul di dinding bambu balai desa yang reyot, seakan mengafirmasi sinisme yang sudah lama berakar: bahwa mimpi anak desa tak boleh terlalu tinggi. Nanti jatuhnya menyakitkan.

Warga pun tak kalah skeptis. Sebagian sinis, sebagian kagum. Ada yang menyebutnya gila, ada yang diam-diam berharap ia berhasil. Sebagian paham bahwa Satria memang bukan pemuda biasa. Ia tangguh dan pantang menyerah. Dalam dirinya ada sejenis api kecil yang nyalanya terus terjaga, tak peduli diterpa angin atau direndam hujan yang tak kunjung datang.

Satria tak gentar. Ia tahu, harapan tak tumbuh di tanah yang subur, tapi di tanah yang retak, asal ada yang menyiraminya. Ia mulai dengan satu lampu. Panel surya bekas dari gudang sekolah itu ia utak-atik sendiri. Ia bongkar-pasang berkali-kali, mungkin sudah ratusan kali. Ia siapkan baterai dari motor tua yang sudah tak bisa jalan, dan kabel yang ia sambung sendiri dengan tangan gemetar. Akhirnya di suatu malam yang lebih terang dari biasanya, lampu menyala di rumahnya. Tak terang, tapi cukup untuk menerangi buku agar dapat dibaca dan melihat wajah ibunya yang tertidur. Malam itu, ia merasa dunia yang kelam tiba-tiba memiliki alasan untuk tetap dihidupi.

Keesokan harinya, ia memasang lampu di rumah tetangga yang tertarik dengan buatannya. Seperti deret ukur, ia memasang lampu di rumah-rumah warga, semakin banyak. Lalu di balai desa. Anak-anak mulai belajar di malam hari karena ada lampu yang menerangi. Ibu-ibu menenun lagi. Dan suara kodok, entah dari mana, mulai terdengar kembali. Seolah alam pun ikut bersyukur, memberi isyarat bahwa secercah cahaya bisa menghidupkan kembali sesuatu yang nyaris mati.

Namun, tak semua senang.

Pak Camat, yang baru saja menandatangani kerja sama dengan perusahaan energi besar, merasa gerah. Ia melihat Satria sebagai ancaman kecil yang bisa tumbuh menjadi duri dalam daging. Ia pejabat yang sangat paham aturan, atau setidaknya tahu bagaimana aturan bisa dipelintir untuk kepentingan. “Teknologi harus terstandarisasi,” katanya di rapat kecamatan. “Tak bisa sembarangan. Kita punya protokol. Keselamatan warga adalah yang utama. Apakah buatan Satria aman untuk digunakan?”

Peserta rapat yang lain mengangguk, mengamini. Suasana rapat terasa dingin, bukan karena pendingin ruangan, yang bahkan sering mati, melainkan karena ketakutan dan kepatuhan yang lebih mengeras daripada beton. Rapat itu berakhir dengan keputusan: kirim surat teguran untuk Satria.

Surat teguran pun dikirim. Bahasa resminya dingin dan tajam: “Kegiatan instalasi energi non-standar tanpa izin resmi dapat mengganggu stabilitas sistem kelistrikan desa.” Satria membacanya pelan, lalu melipatnya dan menyelipkan di bawah bantal, seolah ia tak ingin membacanya lagi. Tetapi hatinya tergores; bukan oleh ancaman, melainkan oleh kenyataan bahwa cahaya yang ia nyalakan dianggap sebagai bahaya.

Beberapa hari kemudian, tim inspeksi datang. Mereka mengenakan helm putih dan membawa clipboard. Mereka mencatat, memotret, dan menggeleng. “Tidak ada sertifikasi,” kata salah satu. “Tidak ada analisis dampak lingkungan. Safety-nya kurang.”

Satria menjawab dengan suara tenang, “Tapi lampunya menyala, Pak. Dan untuk IPAL, airnya bersih.”

Mereka tak menjawab. Hanya meninggalkan laporan dan ancaman pembongkaran. Di balik sikap profesional mereka, terselip ketidaknyamanan: mereka tahu apa yang Satria buat adalah solusi, tapi tak ada kolom dalam formulir mereka untuk menuliskan ‘harapan.’

Malam itu, Satria duduk sendiri di bawah pohon pule. Ia menatap langit yang gelap, hanya diterangi satu lampu kecil dari rumahnya. Ia teringat ayahnya, petani tua yang dulu berkata, “Kalau kau tak bisa menunggu hujan, belajarlah menanam awan.” Kata-kata itu terngiang seperti doa yang lahir dari luka panjang para petani.

Satria tak tidur malam itu. Ia menulis ulang skema panel surya, mencatat ulang alur irigasi tetes, dan menggambar ulang sistem IPAL sederhana. Ia tahu, jika ingin bertahan, ia harus membuat ilmunya bisa diwariskan. Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk desa yang tak pernah dijanjikan masa depan. Ia bertekad akan mengabarkan dan menyebarkan ilmu yang dimilikinya, pengalaman yang diperolehnya kepada warga di desanya.

Dan esoknya, ia mengajar. Bukan di sekolah, tapi di halaman rumah. Anak-anak, ibu-ibu, bahkan beberapa bapak yang dulu menertawakannya, duduk melingkar. Ia menunjukkan cara menyambung kabel, cara membuat filter air dari arang, dan cara menyimpan energi dari matahari. Tidak semua yang duduk, paham apa yang ia sampaikan. Ada yang memperhatikan dengan seksama. Ada yang mulai praktik mengikutinya, tapi ada juga yang tampak mengantuk dan hanya mengangguk-manggut. Meski begitu, dari tatapan mata anak-anak, Satria tahu: ia tidak lagi sendirian.

Dari satu lampu, lahir satu komunitas. Dari satu ejekan, tumbuh satu gerakan. Dari satu tekad, menjelma harapan kolektif yang menolak padam.

----

Beberapa bulan kemudian ada pengumuman di kantor kecamatan. Kecamatan telah menggandeng satu perusahaan besar dengan proyek yang disebut “desa pintar.” Anggaran fantastis telah disiapkan mencapai miliaran. Tak lama kemudian, proyek dimulai. Mereka membangun menara, memasang sensor, dan membagikan brosur. Awalnya listrik menyala dengan terang, Pak Camat tersenyum menang.

“Inilah proyek yang lebih aman, bersifat jangka panjang,” tegasnya di balai pertemuan kecamatan. Namun hal itu hanya berlangsung beberapa bulan, kini listriknya sering padam, dan untuk IPAL, airnya tetap keruh. Warga mulai membandingkan. “Yang mahal tak selalu berfungsi,” bisik seorang ibu. Kata-kata itu beredar seperti angin malam, menyelinap ke tiap telinga, mengikis kepercayaan pada janji yang terlalu gemerlap.

Lira, jurnalis lingkungan, datang ke desa itu. Ia datang bersama aktivis lingkungan yang pernah menerima penghargaan internasional. Mereka melihat, mendengar, dan mencatat. “Inovasi rakyat harus dilindungi,” ucap aktivis lingkungan. “Bukan dimatikan oleh regulasi yang berpihak pada korporasi.” Kata-kata itu meledak di media sosial, menjadi bara yang menyulut percakapan nasional.

Berita itu viral. Pemerintah pusat turun tangan. Pak Camat dipanggil. Proyek desa pintar dihentikan sementara. Tapi Satria tetap sama. Ia menolak proyek besar, menolak gedung megah. Ia hanya ingin satu hal: agar setiap desa punya cahaya, bukan dari mercusuar, tapi dari tangan sendiri.

Sore itu, hujan kembali datang setelah pergi lama. Sungai Tirta Wacana kembali mengalir. Bukan hanya karena hujan, tapi karena gotong royong. Dan di malam yang tenang, lampu-lampu kecil menyala di rumah-rumah bambu, seperti bintang yang turun ke bumi. Desa itu tampak seperti kunang-kunang yang berpendar di malam yang sepi.

Di dunia yang terus memanas, harapan tak datang dari langit, tapi dari tangan-tangan yang tak menyerah. Dan di Desa Tirta Wacana, cahaya itu lahir dari sungai yang pernah kering, bukan sebagai teknologi canggih, tapi sebagai keberanian untuk bermimpi di tengah ketimpangan. Dan siapa tahu, suatu hari, dari sungai yang dulu hanya menyisakan retakan, lahirlah aliran panjang peradaban baru: sebuah keyakinan bahwa masa depan bukan milik penguasa, melainkan milik mereka yang berani menyalakan cahaya kecil di kegelapan.

 

Blora, September 2025

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Lampu dari Sungai yang Mengering
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Pemimpin Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
GAMBAR TANPA WAJAH
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Pukuc Kadit Odlas
Muhaimin El Lawi
Cerpen
Tetangga Depan Rumah
ken fauzy
Cerpen
Bronze
Duwa Nyawa
Silvarani
Cerpen
Bronze
Line 00
MiiraR
Cerpen
Barang Biasa, Cerita Luar Biasa
Tresnaning Diah
Cerpen
Bronze
Kembalikan Senyum Ibu
Anggrek Handayani
Cerpen
The Lost's Neighborhood Serenity
Hafizah
Cerpen
Bronze
Dua Kunci
Jasma Ryadi
Cerpen
Dunia Cermin
Chiavieth Annisa06
Cerpen
Bronze
Galau Mutasi Sang Peneliti
spacekantor
Cerpen
Bronze
PEREMPUAN ILEGAL
Hendra Wiguna
Cerpen
Bronze
Senja
Bisma Lucky Narendra
Rekomendasi
Cerpen
Lampu dari Sungai yang Mengering
Desto Prastowo
Cerpen
GAMBAR TANPA WAJAH
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Dua Lilin di Bukit Sunyi
Desto Prastowo
Flash
Handphone yang Tertinggal
Desto Prastowo
Flash
Tongkat, Payung, dan Kulit Kacang
Desto Prastowo
Cerpen
Sebelum Kamu Mengetuk Lagi
Desto Prastowo
Cerpen
Waktu yang Hilang
Desto Prastowo
Flash
Cum Laude di Sudut Jalan
Desto Prastowo
Flash
Hantu Anti-Ghosting
Desto Prastowo
Cerpen
Bronze
Puisi yang Tak Pernah Sampai
Desto Prastowo
Novel
Kita Dibesarkan untuk Kuat, Bukan Bahagia
Desto Prastowo
Novel
Bronze
RESONANSI ROMENI
Desto Prastowo
Flash
Satu Butir Telur dari Ibu
Desto Prastowo
Cerpen
Lubang di Daun Pisang
Desto Prastowo
Cerpen
Syamsul dan Senja yang Jujur
Desto Prastowo