Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Bagaimana jika hari esok kau divonis mati?”
“Kau bukan Tuhan!” gadis itu mengembuskan napas beratnya. Ia mengeluari lorong rumah sakit, mengajak dokter yang baru saja mengucap kalimat aneh menurutnya itu, singgah di sebuah kafe terdekat. Kerlip lampu kota seperti kunang-kunang yang sedang mengadakan peseta. Hari itu cerah, musim kemarau membuat kabur dan embun malu singgah di wajah malam. Pejalan kaki lalu lalang di trotoar. Sesekali dilihatnya seorang pengamen yang memtik senar. Beberapa pemuda mudi sedang hilir mudik, obrolan ringan dicecerkan di sepanjang jalan. Kendaraan berhenti, zebra croos mendadak dipadati penapak jejak. Kafe terletak di dekat lampu apill, membuat mata gadis itu, panggil saja ‘Ra’ mampu merekam romansa temaram. Deru knalpot sahut-sahutan, ada yang elegan, ada yang sengaja dibuat keras mencari perhatian. Dokter memesan kopi liberika. Ia sendiri hanya meminta jus apel.
Kafe sedikit tenang, lagu Adele ‘Someone Like You’ mengalun amat merdu, mengiris jiwa-jiwa yang kelu dengan rindu pada seorang kekasih hati. Meja kafe yang dekat dengan jendela penuh dengan pengunjung, sementara yang di tengah ruangan, justru kosong, hanya kotak tisu dan tusuk gigi yang menjadi penunggu tamu. Ra menatap keluar jendela, semula menyaksikan aktivitas jalan raya, kini diarahkan ke angksa. Langit membentang tanpa noda. Bukan bintang yang menjadi perhatiannya, ia kagum dengan senyum rembulan yang amat ceria hari itu. Melengkung tidak belum sempurna, masih seperti sebuah lengkungan pisang, tiga bintang menjadi penghias di sekitar tubuhnya, awan putih menggumpal, baginya awan tersebut adalah bunga edelwis ruang angkasa. Abadi, meski terkadang hilang diembus angin,ia tetap akan hadir kembali.
“Apa yang sedang kau lamunkan, Ra?” Dokter itu membuka obrolan, ia mengetuk permukaan meja dengan jari telunjuknya, mengharap Ra menatap wajahnya. “Aku lelah berhubungan dengan denyut-denyut nadi manusia. Setiap bulan ada saja pasien yang harus aku robek kulitnya untuk mengangkat tumor--,”
“Kalau kau tidak suka, mengapa kau dulu bercita-cita ingin menjadi dokter?” akhirnya gadis yang selalu dinantikannya sepulang dari rumah sakit terpancing. Ra adalah teman hidupnya, teman yang menjadi sandaran lelahnya sepanjang malam. Separuh jiwanya telah diputuskan menjadi milik gadis yang mudah menggelembungkan pipi itu. Ra membenarkan letak kerudungnya. Ia memutar sedotan di gelasnya yang berisi jus apel. Baru saja waiter datang membawakan pesanan. Mereka lantas pergi, bekerja menyambut tamu lain yang baru saja masuk ke dalam kafe.
“Aku hanya sedikit menyesal, Ra! Pekerjaan ini teramat mengerikan bagiku. Setiap kali aku mengurusi pasien, aku mengingat takdir hidupku. Aku khawatir dalam tempo dekat tubuhku terbujur kaku seperti pasien yang kehilangan detak jantungnya, apa yang akan kau lakukan jika sebentar lagi kau mati?”
“Aku seperti baru saja ditanyai seorang dosen agama. Ia tentu akan mengarahkanku menjadi orang yang baik, lebih mendekatkan diri kepada pencipta hidup, merenung, berserah diri, jangan jauh-jauh dari Tuhan.” Jus apel disedot.
Kafe temaram, pencahayaan lampu memang sengaja remang. Pemilik kafe mendesain tempat dan suasana agar tenang. Sebuah wajah sedih tertempel di dekat kasir, ia seperti hendak berkata bahwa tempatnya adalah persinggahan orang-orang yang dirundung pilu. Tempat itu tidak cocok dikunjungi para manusia yang menyukai keramaian dan musik-musik rock. Lagu Adele usai, sebuah melodi piano tanpa syair mengalir dengan indah, menentramkan jiwa-jiwa yang berkabung, juga mengembangkan perasaan cinta di dada-dada pengunjung yang menggandeng pasangan hidupnya. Pada meja ke lima, ada seorang lelaki yang sedang membukakan kotak cincin.
“Aku bukan seorang dosen.”
“Aku tahu, itulah sebabnya aku tidak ingin menjawab dengan kata-kata itu.”
“Lantas?”
Ra kembali menatap keluar jendela. Angkasa memantul di bola matanya. Senyum rembulan dipandanginya lekat-lekat, sesekali ia arahkan ke lampu-lampu yang berkelap-kelip di sepanjang jalan.
“Jika besok aku mati, aku ingin memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya.”
Dokter meminum satu tenggakan, ia memerhatikan bibir Ra yang sedang berusaha merespon kalimatnya. Gadis yang baru saja berumur dua puluh tiga tahun bulan Juli lalu adalah nyawa yang dijadikan alasannya merobek-robek kulit manusia. Deminya ia ingin menjadi orang yang berarti bagi kehidupan. Tujuh tahun mundur mereka duduk di tepian danau, memandang purnama yang memantul di permukaan air, bercerita mengenai keinginan-keinginan di masa tua, Ra bersabda, bahwa ia tidak memiliki impian yang tinggi, ia hanya ingin menjadi orang yang berguna bagi makhluk lain, maka lelaki yang umurnya lebih tua tujuh tahun dari Ra tidak mau kalah, ia menganggap profesi dokter adalah hal yang sangat membantu kehidupan, maka ia bercita-cita ingin menjadi dokter, demi Ra.
“Apa yang akan kau lakukan, Ra?”
“Aku ingin bersinar dengan cara yang elegan,” kata Ra lagi. “Jika vonis matiku karena sebuah penyakit, maka aku akan menjadikan setiap perjalanan hidupku sebagai perjuangan yang indah, tentu saja aku tidak akan pernah membiarkan perjuangan itu berakhir dengan sia-sia. Penyakit akan membuatku lemah, maka apa pun yang aku lakukan akan memiliki cahaya.”
“Lantas?”
“Aku ingin menghargai hidup, aku tidak ingin mengejar-ngejar kesuksesan. Aku hanya ingin bahagia dengan orang-orang yang kucintai, termasuk dirimu, Fan!” ia menatap Fan, dokter itu, panggillah ia Fan.
“Bagaimana caramu membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarmu saat kau sakit, Ra?”
“Aku ingin meraih kemenangan dengan kemampuanku yang terlihat sedikit menonjol. Aku ingin belajar dari kerlip lampu malam ini, mereka memang indah, namun aku tidak pernah berkeinginan menjadi diri mereka. Di mataku, mereka aku anggap seperti orang-orang tahun ini, orang-orang yang terlihat mewah gaya hidupnya, namun teraih dengan hal-hal instan, aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar untukmu kan, Fan? Kau seorang dokter tentu saja kau paham.” Ra sedikit menyunggingkan senyuman, ia kembali menyedot jusnya. Denting piano bertambah nikmat.
“Tanpa lampu kau tidak akan pernah bisa memaknai kegelapan dunia ini, Ra! Kau sedikit aneh malam ini,”
“Ya, itu sisi positifnya, karena cahayanya menerangi kegelapan,membuat suatu hal yang tidak tampak menjadi terlihat. Aku hanya sedang berfilosofi layaknya Dosen Psikologi yang sedang berusaha meyakinkan seseorang dengan berbagai macam obyek, Fan,” matanya dipusatkan ke wajah laki-laki yang antusias mendengarnya. “Lampu bersinar di tempat-tempat terdekat, gemerlapnya memang indah Fan, sebagaimana seorang yang dijadikan panutan oleh kabanyakan orang, mereka akan tampak berwibawa juga berkesan di lingkungan terdekat, namun jikalau diraih dengan cara yang tidak benar, dengan hal-hal yang diracik oleh manusia, apakah sinar itu mampu menerangi dunia luar? Lampu mudah dimatikan dengan satu kali sentuhan, sebagaimana seorang pemimpin yang sudah ketahuan sisi negatifnya, ia akan mudah lengser, tidak lagi mendapatkan cinta dari rakyatnya. Begitu juga nasib lampu, Fan! Kau tahu? Ribuan orang menggerutu ketika lampu dipadamkan, padahal pemadaman itu tidak selamanya dilakukan. Aku tidak ingin menjadi manusia yang seperti itu, Fan! Aku ingin sinarku terus menerangi hal-hal yang gelap, bahkan aku ingin membantu menghilangkan ketakutan-ketakutan di dunia ini,”
Ra meraih tangan Fan, ia menggenggamnya erat-erat. Cincin pernikahan yang melingkar di jemari manisnya terasa mengganjal kulit Fan, namun ia merasa nyaman, justru hal itu membangunkan rindu mereka yang bertahun-tahun melupakan kisah lampau. Kisah yang mengantarkan mereka berdua berdiri tegak bersama puluhan kesibukan. Fan di rumah sakit, Ra di sebuah universitas ternama di kotanya.
“Lalu kau ingin menjadi bintang?”
“Tidak, aku ingin menjadi diriku yang mampu tegak sendiri. Bintang akan diyakini indah jika ribuan teman-temannya ikut menghias langit, aku tidak ingin seperti itu Fan, aku ingin menjadi bulan. Ia terang, saat kabut datang dirindukan, saat menghiasi langit namanya seringkali menjadi lambang keindahan pada kisah-kisah manusia. Semua manusia mengenalnya, ia lahir secara alami dari alam atas kehendak Tuhan, ia tidak pernah jatuh hati dengan pujian, ia juga tidak sakit hati dengan celaan dari para pemuda yang menganalogikan wajah perempuan seperti bulan yang permukaannya tidak datar.”
“Di mana korelasi antara pernyataan jika kau mati besok dengan filosofimu, Ra?”
“Jika benar aku mati besok, maka aku akan memanfaatkan waktuku sebaik-baiknya, tidak akan mempedulikan kapan aku menjadi baik di mata banyak orang, tidak peduli kapan akau akan dianggap berguna bagi banyak orang, aku tidak akan gegabah dalam mengejar sesuatu, aku akan belajar tenang seperti bulan.” Untuk yang kesekian kalinya lagi Ra menatap keluar jendela. Kendaraan masih berlalu lalang. Derung nyaring terdengar walau samar. Musik kafe setia dengan denting piano.
“Bagaimana jika kau yang divonis akan segera mati, Fan?”
“Keinginanku sederhana Ra, aku tidak ingin menjadi bulan dan lampu, aku hanya ingin menjadi diriku yang mampu menghabiskan sepanjang waktu bersamamu.”
Seperkian detik bibir Ra tersungging, jantungnya mengalun cepat.
“Ketika aku menangani pasien yang sekarat, aku khawatir jika dalam tempo dekat aku pun seperti mereka dan tidak bisa lagi melihat senyummu.”
Dunia memekarkan bunga. Sinar bulan bertambah cerah. Pengunjung kafe seperti tidak memiliki ruh. Dunia mengalun perlahan. Suasana dirasanya hening.
Magelang, 01 November 2017.