Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Laki-laki Tidak Bercerita
2
Suka
4
Dibaca

Mendung kali ini, Jendra menatap jalan raya di atas cafe yang biasanya menjadi spot favoritenya, konseo cafe bergaya minimalis casual berlantai dua selalu menjadi andalannya. Ia menikmati segelas moccahino dengan cake rasa cokelat kesukaannya, hanya itu yang bisa ia lakukan, selain bercerita kepada Bunda.

Hidupnya penuh dengan gemilang harta, ia berkecukupan dan sangat mensyukuri hal itu bahwa ia tidak perlu memikirkan hari esok.

Jendra memegang prinsip, laki-laki harus kuat, laki-laki tidak boleh terlihat rapuh itulah didikan sang Ayah yang memiliki watak kaku namun, penyayang, ia bertemu dengan seorang gadis yang terpaut empat tahun lebih tua dari dirinya.

Gadis itu, sering ia panggil Nindya, mereka bertemu saat Nindya tak sengaja ingin mengambil buku namun tak sampai di rak yang paling tinggi.

Nindya selalu memberikan afirmasi yang selalu melekat dalam ingatannya, ia selalu berdoa semoga gadis itu dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa.

Bagi Jendra, Nindya adalah rumah sekaligus sahabat untuknya, dan semua asumsi gadis itu benar. Pernah suatu ketika Nindya duduk bersama di spot cafe favoritenya memesan Americano dengan cake vanilla. Wajah kusut Jendra terperta jelas, gadis itu segera memeluk dan mengusap bahunya.

"Dra, kalau ada masalah tuh cerita jangan diam saja, diam tidak akan buat masalah kamu cepat selesai, percaya padaku deh Dra." Pinta Nindya, gadis itu mengenggam tanganya.

Jendra menatap Nindya cukup lama, "Gausah lah, cowok kalau cerita kata teman-temanku tuh Alay—" omongan Jendra tidak di gubris oleh Nindya dan langsung di putus oleh dirinya.

"Alay darimana, mereka itu yang alay ngerti gak sih?!" Omel Nindya, wajahnya berkerut. Ia menatap Jendra penuh perhatian.

"Alay Nindya...."Ujar Jendra tertawa, "Kamu tidak tahu kalau, cerita itu malu banget aku sih nggak mau." Lanjut Jendra, ia menyesap moccahino perlahan.

"Jendra...." Panggil Nindya.

"Kalau kamu ga cerita itu bakalan bikin hati kamu semakin lemah. Kalau kamu cerita dan suatu saat apa yang kamu pendam akan meledak, tenang aku disini bakalan dengerin cerita kamu."

Jendra menarik napas sejenak, "Baiklah, Aku menyukai seorang gadis, gadis itu teman satu sekolahku dan aku sangat menyukainya. Ia gadis terpintar di kelasku, tapi sayangnya dia nggak ada kepastian. Karena, aku udah berusaha sebisaku tapi dia menghindar." Ujar Jendra, ia menyesap moccachino perlahan.

Nindya menarik napas berat, ini perkara sulit dari yang ia duga perkara hati. "Jendra, kamu tau nggak bearti dia bukan untuk kamu...." Sahut Nindya, ia menyesap Americano nya perlahan. Nindya memakan cake vanilla, sembari terus mendengar cerita gadis yang ia sukai itu.

"Jadi kamu belajar catur demi dia?" Tanya Nindya, dan Jendra mengangguk.

"Aku menyukainya Nindya...." Lanjut Jendra ia melepas pegangan tangannya.

Jendra kembali menatap Nindya dengan senyuman manis.

"Dia gadis manis, aku saja kalah main catur sama dia lima kali, kamu bayangin lima kali." Lanjut Jendra, Nindya tertawa kecil.

"Terlihat dari matamu Jendra, kamu mencintainya...." Sahut Nindya ia memotong cake vanilla miliknya.

Ia bersyukur Jendra lebih terbuka dengannya, ia sangat menyukai keterbukaan satu sama lain karena mereka bisa saling memahami.

Persahabatan yang indah, dan Nindya tau itu. Anak SMA ini, memang sangat lucu— ia ingin kembali ke massa percintaan SMA — Nindya menikmati cake yang ada.

Kulacino yang ada di meja menetes di sisi meja, Jendra sibuk dengan pikirannya, rintik hujan membasahi langit, aroma petichor mengudara.

"Dra..., seandainya kalau ternyata gadis itu menyukaimu gimana?" Tanya Nindya sembari menengak Americano yang sisa setengah.

"Nin, kalau boleh jujur ya..., aku suka dia, aku sayang dia, dia segalanya." Sergah Jendra cepat Nindya tertawa kecil, ia berpikir Andai saja laki-laki dihadapannya seusianya, mungkin ia akan berpikir dewasa tentang cinta.

"Jendra, menurutku cinta itu, kestabilan emosional dan finansial..., aku ingin tau sisi cinta dari Jendra gimana?" Tanya Nindya sungguh-sungguh.

Nindya tertawa, "Cepetan!" Suruhnya.

Jendra tertawa, "Oke-oke, aku mau sama dia karena aku bakalan cari pasangan yang setara, setara financial keluarganya oke banget, aku sama dia financialnya udah oke, cuman dia kayak gamau sama aku." Jujur Jendra, Nindya mengelus bahu Jendra pelan.

"Jendra, perspektif kita beda, kesenjangan financial bisa dua, kalau misalnya dia perintis maka dia bisa aja dapat dari hasil dia, tapi kalau pewaris, kalau misalnya dia bisa memantabkan apa yang dia miliki maka ia dapat meneruskan tapi kalau tidak maka, hancurlah..., kamu bakalan paham kalau di umur 20-an, kamu akan tahu." Ujar Nindya sembari menikmati amerincanonya kembali.

"Aku dapat pencerahan...." Sahut Jendra, sembari menghabiskan potongan cake cokelatnya. Nindya telah menghabiskan cake nya dan ia segera beranjak, mengambil payung dari dalam tasnya.

"Minggu depan kita bertemu Jendra...." Sahut Nindya, ia membuka payung dan turun dari cafe yang bertingkat itu, cafe minimalis dengan banyak rak buku di dalamnya.

"Andai Jendra tau, hati ini masih sedikit tertaut padanya...." Ucap Nindya pelan.

****

"Nindya..., sini Nin!" Pinta Jendra ia mengajak ke salah satu spot favorite Jendra lain, taman dengan wanita yang mengenakan baju ala yunani kuno dengan tangan memegang kendi salah satu diantaranya berdoa.

"Ini, tempat aku luangin waktu dan aku sering cerita keluh kesahku kesini, di patung ini..., dia mengerti aku, seolah hidup." Ujar Jendra, ia tersenyum kecil.

"Dirumah gaada yang dengerin Aku cerita nin, makasih dengerin Aku, kecuali Bunda. Bunda, juga saranin Aku menjauh karena cewek itu cuman manfaatin Aku dan avoidant susah dideketin, sedangkan Aku Anoxious nin."

"Perkara sulit...." ujar Nindya menarik napas.

"Jendra, kamu memang bukan orang paling baik di dunia ini, tapi kamu layak di perlakukan sebaik-baiknya, kamu layak untuk disayangi , kamu layak untuk dicintai dan kamu layak merasakan cinta, dan jatuh cinta itu hal yang wajar...., jatuh cinta memang manis Dra." Jelas Nindya sembari tatapan matanya tertuju pada patung yang ada di penuh dengan lumur.

"Laki-laki tidak apa-apa bercerita, mereka tidak apa-apa untuk menangis itu bukan lah kesalahan..., kalian ga bakalan langsung jadi tidak berharga kok...." Seru Nindya kemudian, ia tertawa.

"Hahaha..., justru yang nggak bisa nangis hatinya lemah." Ujar Nindya kembali. Ia memperhatikan patung diatas dan tersenyum tipis.

"Justru, Ikhlas kan saja dia pergi..., toh setiap orang ada masanya dan setiao masa ada orangnya...." Nindya tertawa sembari memegang payung biru itu.

"Kita bertemu lusa nanti ya." Ujar Nindya hanya di anggukin oleh Jendra.

***

"Nindya, apa usahahku belum cukup untuk menyenangkan Ayahku..., aku sudah berusaha." Kali ini bukan lagi tentang Jendra yang merasa tersiksa akibat jatuh cinta sepihak tapi karena, sang Ayah yang sangat keras dalam mendidiknya.

" Jendra, don't to be harsh on yourself mungkin karena kamu anak laki-laki Ayah kamu sangat sayang kamu..., dan ingin kamu sukses tapi caranya salah, nanti kalau kamu punya anak jangan lakuin itu ke anak kamu yah." Ujar Nindya sembari memeluknya.

Jendra merasa hidup karena ucapannya, hari ini Nindya mengenakan dress putih selutut, "Jendra, kalau aku mati lebih dulu jangan lupakan aku ya..., aku sangat menyayangimu." Ujar Nindya, kali ini gadis itu tidak mengenakan payung yang biasanya ia bawa.

"Iya..., jangan ngomong ngelantur Nin, hidup dan mati itu perkara serius bukan candaan." Ujar Jendra menasihatin Nindya, gadis itu hanya tersenyum tipis.

Hari yang cerah ini tiba-tiba mendung dan hujan, Nindya pulang duluan Jendra sempat ingin mengantarkannya namun, Nindya ingin pergi ke suatu tempat.

Saat melewati jalan cempaka Jendra melihat ada kerumunan dan mobil Ambulance, ia melajukan motornya menuju lokasi kejadian, ia melihat mobil yang menabrak pejalan kaki dan dua diantaranya meninggal, ia melibat sekelebatan sepatu yang Nindya kenakan.

***

Sudah sebulan lama Nindya tidak terlihat Jendra khawatir ia menghubungi pun tidak ada jawaban, saat dering ketiga ponselnya baru terangkat dan hanya suara tangis wanita paruh baya dan menyatakan, Nindya telah tiada.

Sempat Jendra ingat wajah tulus Nindya kala itu, ia hanya tersenyum.

" Ini kali terakhir, Aku cerita Nin..., selebihnya laki-laki tidak akan bercerita." Lirih Jendra.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Novel
My Beautiful Bride
pinnacullata pinna
Novel
Friend Or Lover
Aquariusang
Skrip Film
KOFFEIN, less or more you still needed
Evy Andriani
Novel
Bronze
Shine
trinihutapeaa
Novel
Ai Ni
Tara Lee
Novel
PSYCHO
Anis Nabilah
Novel
Eerste Liefde
Athena Venus
Novel
Gold
When Love Walked In
Bentang Pustaka
Novel
LYP
Jumraini
Novel
Terasing Kisah Sendiri
Arisyifa Siregar
Novel
The Bogaz Kesen
Im Myreen S.
Novel
Inbetween: Me (A)nika
Yofara
Novel
Bronze
Al Kahfi Land 3 - Delusi
indra wibawa
Novel
Bronze
Zian dan Zahira
romaneskha
Rekomendasi
Cerpen
Laki-laki Tidak Bercerita
Reveniella
Novel
First place in my heart
Reveniella
Novel
Ruang Abu-abu
Reveniella
Flash
Ayahku koruptor
Reveniella
Flash
Lanang
Reveniella
Flash
Penjara Aktivis
Reveniella
Flash
Budak korporat
Reveniella
Novel
Venchouva
Reveniella
Cerpen
Dunia Hijau milik Cemara
Reveniella
Flash
Wanita metropolitan
Reveniella
Cerpen
HARDARIYAM
Reveniella
Novel
Lily and the mask
Reveniella
Cerpen
Hadriyam (2)
Reveniella
Flash
Rakyat terpinggir
Reveniella
Novel
Neskara
Reveniella