Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Self Improvement
Lagi, Lagi, Lagi dan Lagi
0
Suka
26
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Membuka hati yang telah lama terkunci bukanlah suatu hal yang mudah. Kita harus memikirkannya beribu-ribu kali, supaya tidak ada luka lagi di dalamnya. Apa salahnya mencoba buka hati untuk seseorang yang membuat kita merasa diinginkan? Meskipun setelahnya, kita akan kembali merasakan jatuh, lagi, lagi, lagi dan lagi.

Malam itu, udara terasa dingin, menghantam kulit tipisku, menembus ke lapisan tulang belulangku. Pria dengan baju kaos berwarna hitam yang berada tepat di depanku, tengah fokus mengamati jalanan basah. Aneh rasanya, setelah sekian lama aku tidak menerima ajakan kencan dari seorang pria, namun ajakan pria itu tidak membuat aku menolaknya. Awalnya aku tidak berkenan menerima ajakannya, logikaku mengatakan jangan, namun entah bisikan apa yang membuat aku penasaran.

Kencan pertama, ia mengajak aku makan malam ke warung mie ayam favoritnya. Kala itu, semuanya biasa-biasa saja, tidak ada yang menarik darinya. Namun, perlahan aku mulai mencoba mengeja setiap gerak-gerik tubuhnya yang lihai menarik perhatianku. Dengung suaranya, sorot matanya, lentik jemarinya, gelombang hitam rambutnya, semuanya berhasil membuat aku terpana.

Ketika kesempatan untuk bertemu lagi itu datang, aku menyamarkannya dibalik alasan yang paling sederhana. Aku meminta bantuannya untuk mencucikan motorku. Sore itu, aroma sabun kendaraan menyergap indra penciumanku, dengan gemercik air dari selang yang menari perlahan mengikuti alunan tangannya. Aku duduk di pojok halaman rumahnya, bola mataku berlarian mengikuti setiap ritme tubuhnya.

Saat langit perlahan menggelap dan urusannya dengan motorku sudah selesai, begitu gemercik air dari selang mereda, halaman rumahnya mendadak terasa senyap. Ia melangkah ke arahku, dengan napas yang sedikit memburu dan peluh yang menyatu dengan sisa cipratan air diwajahnya. Pria itu melabuhkan tubuh lelahnya di lantai, lalu menyandarkan kepalanya dengan santai di antara kedua lututku. Sentuhan mendadak itu membuatku terpaku, aku kesulitan menelan salivaku. Jarak yang terkikis habis itu membuatku bisa merasakan hangat punggungnya yang kontras dengan embusan angin sore.

"Mau jadi pacarku?"

Mendengar itu, sontak mataku terbelalak. Bagaimana mungkin, seseorang yang baru aku kenal tiga hari lalu, bisa secepat itu mengajak utuk menjalin suatu hubungan?. Aku menarik napas perlahan, "Syaratku harus kenal minimal tiga bulan dulu, kalau belum tiga bulan berarti itu hanya penasaran".

Dia terdiam sejenak, lalu mengangguk. Seulas senyum tipis terbit diwajahnya tanpa ada guratan kecewa. Ia justru membetulkan posisi sandarannya, seolah memberi isyarat bahwa ia tidak keberatan menungguku siap. Lagi-lagi, bisikan itu datang menghasutku, dia berhasil membuat aku terpikat untuk kesekian kalinya.

Pertemuan berikutnya, ia mengajak aku bertemu dengan teman-temannya untuk yang ketiga kalinya. Waktu itu, ia menyuruhku menunggu di sudut kafe, ditemani teman-temannya, sembari dia pergi memesan makanan untukku. Dari kejauhan, aku melihat tubuhnya berdiri tegap di antara deretan panjang orang-orang yang sedang antri pesanan di sana. Lagi-lagi aku terpikat, aku butuh seseorang yang lebih dominan dalam hal mencintai, dan dia orangnya.

Tidak berhenti di situ, kita masih tetap berkomunikasi, sesekali ia mengajakku keluar lagi, mengelilingi kota di malam hari. Setiap kali pasang mata kami beradu di pertemuan-pertemuan berikutnya, kalimat yang sama selalu lolos dari bibirnya.

"Mau jadi pacarku?" tanyanya berulang kali, seolah itu adalah mantra yang tidak pernah bosan ia lontarkan.

Aku selalu menjawabnya dengan tawa kecil, "Aku terlalu setia, nanti kamu cepat bosan".

Tidak ada jawaban apapun darinya, hanya tatapan hangat yang lagi-lagi membuat jantungku mengembang di dalam sana. Hingga suatu hari, nada suaranya berubah, tidak ada dialog-dialog romantis lagi yang ia tebarkan.

Jemariku menari gelisah di layar ponselku, jempolku menggantung di atas tombol kirim. Layar ponsel memantulkan wajahku yang tampak asing, seoraha perempuan di sana sedang menunggu izin dari seseorang yang bukan dirinya. Satu tarikan napas, aku menekan tombol itu. "Aku mau jadi pacar kamu."

Pesan itu meluncur begitu saja. Aku meletakkan ponsel di samping bantal, memaksa diri memalingkan wajah ke langit-langit kamar. Baru beberapa detik berlalu, benda pipih itu mengeluarkan dering panggilan video. Namanya memenuhi layar. Aku mengusap telapak tangan yang mulai berkeringat ke atas selimut sebelum menggeser tombol hijau.

Wajahnya muncul dengan senyum yang terlalu lebar untuk disembunyikan, "Akhirnya, kamu mau juga."

Aku menahan tawa, menggigit bibir bawah agar senyumku tidak ikut membocorkan perasaanku.

Hari-hari setelahnya berjalan dengan ritme yang baru. Namanya selalu menjadi notifikasi pertama yang menyapaku setiap jam 2 siang. Kami saling bertukar kabar, mengirim foto-foto sederhana tentang bagaimana hari kami berlalu, sangat jarang sekali aku mendengarkan suaranya sebelum memejamkan mata. Katanya, dia suka hubungan yang to the point, cukup saling mengabari setiap hari, tidak selalu ada acara sleep call tiap malamnya. Dan aku, aku mencoba memaklumi gayanya dalam menjalin hubungan.

Suatu hari, tepatnya setelah dua minggu kami resmi menjalin status sebagai sepasang kekasih, aku mengetahui fakta menyakitkan. Dadaku seperti dihantam seribu krikil tajam, tanganku gemetar tak beraturan, detak jantungku berpacu tak karuan, kakiku terasa kaku, perlahan aku menjatuhkan tubuhku ke dasar lantai yang dingin. Bibirku hanya bisa terbungkam, kepalaku bergemuruh hebat.

"Dia sudah memiliki pacar sebelum mengenalku?" gumamku.

Fakta itu benar-benar membuatku berdarah, tak terlihat memang, tapi rasanya seperti tubuhku ditikam dari belakang. Aku tidak mengetahui apa-apa, tentang wanita itu, wanita yang selalu menjadi pemenang dihatinya.

Pahit sekali logikaku waktu itu, hati yang enggan aku buka sebelumnya, namun untuk dia aku mencoba membukanya lagi. Dan ternyata dia membuatku seperti perempuan gila. Sial, aku tertipu lagi, lagi dan lagi. Senyumnya, tatapannya, sentuhannya, kecupannya, suaranya, semua sikap manisnya, seketika terasa begitu menjijikkan untuk aku ingat.

Cara dia memperlakukan aku selama ini hanya sebagai pengulangan, pengulangan dari cara dia memperlakukan wanitanya. Tanpa pikir panjang, aku mengirimkan foto dirinya bersama wanita berparas cantik nan manis itu. Mereka terlihat sangat bahagia.

Perasaan-perasaan bersalah mengepung ragaku, aku ragu harus menyalahkan siapa. Dirinya? Atau aku? Apa kami sama-sama salah? Dia bersalah karena membangunkan rasa percaya, rasa cinta, dan rasa diinginkan olehnya. Sementara aku, aku bersalah karena terlalu cepat mempercayai orang asing yang memberiku rasa aman dan nyaman.

Setelah aku mengirimkan foto itu, dia hanya berkata, "maaf". Hanya sepenggal kata yang sering ia tuturkan saat masih bersamaku juga. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan yang di dalamnya aku dijadikan benalu, hanya pelarian semata. Terlalu hina jika aku terus melanjutkan hubungan itu.

Aku belum sempat berterima kasih atas perlakuan baiknya selama bersamaku. Hatiku benar-benar hancur, tercabik-cabik, berdarah-darah, bahkan aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.

Untuk kesekian kalinya, aku membuka hati pada orang yang salah.

Lagi.

Lagi.

Lagi.

Dan lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Self Improvement
Cerpen
Lagi, Lagi, Lagi dan Lagi
talbiatin
Cerpen
MADILOG: Jalan Sunyi Si Pemikir Muda
Dede Nurrahman
Flash
Bronze
Akselerasi Politis Jakarta Bandung
Silvarani
Novel
Bronze
JANDA & THE TABLE
glowedy
Novel
2 Makhluk 1 Insan Volume 1
Naufal Khoirul Anam
Flash
Bronze
Parallel Myself in Kanagawa Morning
Silvarani
Flash
Bisakah Aku Jadi Dewasa?
lidia afrianti
Cerpen
Silly Milly
Amar Rahim Gafari
Novel
Kamar Tidur
N'zyna
Novel
Teman dari Luka yang Sama
aether.writes
Novel
Anyaman di Rambut Si Kribo
Ulva Idaryani Daulay
Cerpen
Bronze
Merajut Diri
INeeTha
Cerpen
Berkah
Titin Widyawati
Flash
Monoton
Hans Wysiwyg
Flash
Bukan Malin Kundang
Nurul Arifah
Rekomendasi
Cerpen
Lagi, Lagi, Lagi dan Lagi
talbiatin
Cerpen
GESER KE KANAN, KEPOMPONG HENDAK TERBANG
talbiatin