Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
LABIRIN: The Endless Corridor
0
Suka
158
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Hah... hah... hah...”

Suara napas terengah-engah bergema berat, memantul kasar di sepanjang lorong batu yang sempit dan gelap gulita. Derap langkah kaki beradu cepat dengan permukaan lantai tanah yang basah dan licin. Setiap kali ia memutar kepala ke belakang, jantungnya serasa dihantam palu godam.

Di balik remang bayang-bayang, entitas itu terus mengejarnya. Sosok raksasa berwarna hitam legam bertubuh tinggi menjulang, dengan puluhan wajah menyeramkan yang tertanam dan bergidik di sekujur kulitnya. Masing-masing wajah mengerang tanpa suara, memancarkan ekspresi yang saling bertabrakan: amarah yang membara, tangisan histeris, rasa takut luar biasa, hingga tatapan dendam yang menusuk ke tulang belakang Rian.

Entitas itu melayang dan merayap tanpa henti, memangkas jarak dan tak membiarkan Rian mencuri napas walau sejengkal pun.

Di ujung lorong yang samar, sebuah titik pendar mengambang. Rian makin mendekati pintu berukir bercahaya, simbol mutlak akhir perjalanannya di labirin ini. Dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, lorong menuju pintu ini adalah bagian favoritnya, suasananya selalu memberikan ketenangan magis. Namun kali ini, tidak ada kata tenang ketika maut merayap tepat di belakang punggungnya.

Dengan sisa tenaga dan lengan yang gemetar hebat, Rian mengulurkan tangan. Jemarinya yang dingin meraih gagang besi tua, memutarnya, dan mendorong pintu itu sekuat tenaga.

Brak!

Seketika, gelombang cahaya putih yang sangat menyilaukan menyergap pandangannya, menelan seluruh bayangan hitam dan menghapus gema erangan di belakangnya....

Beberapa jam sebelumnya...

Seorang pria terbaring telentang di atas lantai batu yang dingin dan berdebu. Bau lembap yang pekat, bersatu dengan aroma besi tua berkarat yang sangat ia kenali, mendadak menyerbu dan menusuk tajam ke dalam saluran pernapasan Rian.

Perlahan, kelopak matanya yang terasa berat terbuka. Ia menyipitkan pandangan, membiarkan pupil matanya beradaptasi dengan penerangan yang remang di dalam ruangan bersudut kusam itu.

Rian menghembuskan napas panjang, membiarkan dadanya naik-turun secara tidak teratur. Rasa lelah yang teramat sangat langsung menghantam otot-otot tubuhnya saat kesadarannya menyenggol kenyataan pahit: ia kembali terbangun di tempat terkutuk ini.

“Hah... tempat ini lagi. Ini sudah yang kelima kalinya...” gumamnya pasrah, suaranya parau dan tertahan di tenggorokan yang kering.

Ia memaksa dirinya untuk bangkit berdiri. Lututnya sedikit gemetar saat ia menyangga tubuh, menepuk-nepuk debu tebal dan noda hitam yang menempel di pakaian kerjanya. Seperti biasa, persis tiga langkah di hadapannya, ia disambut oleh sebuah papan kayu tua yang melayang condong, bertuliskan kalimat yang dipahat menggunakan tinta gelap yang mengering:

“Kita berjumpa lagi, Rian. Kali ini kau harus menyelesaikan labirin ini seperti biasanya. Jangan sampai salah memilih jalan. Seperti biasa, jalur labirin ini terus berubah setiap kali kau mengambil keputusan yang salah.”

Rian, seorang pemuda berusia pertengahan dua puluhan yang menempuh pendidikan di jurusan teknik, menatap papan kayu itu dengan sorot mata datar dan hampa. Analisis teknisnya selalu mencoba mencari pola arsitektur tempat ini, tetapi logika akademisnya selalu mentok. Ini memang sudah kelima kalinya dalam bulan ini ia "tertidur" dan terbangun di dalam ruang labirin yang membingungkan ini.

Namun, kali ini ada anomali yang janggal. Suasana di sekelilingnya terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Bukan sekadar dingin udara malam, melainkan hawa membeku yang terasa menusuk hingga menembus sumsum tulang belakangnya.

“Uhh... dingin sekali,” gumam Rian. Ia refleks merapatkan jaketnya, mengusap-usap kedua lengan atasnya berulang kali demi menciptakan gesekan hangat yang sia-sia.

Tanpa membuang waktu lebih lama, Rian mulai melangkah menyusuri lorong awal. Di kedua sisinya, dinding-dinding beton raksasa menjulang tinggi, seolah hendak mengimpit siapapun yang melintas. Pencahayaan dari bohlam-bohlam kecil yang tergantung kaku di langit-langit berkerlip redup, memancarkan warna kuning kusam. Sarang laba-laba raksasa menempel di tiap sudut, sementara retakan-retakan dalam menjalar bagai urat-urat hitam di permukaan dinding batu, diselingi hamparan lumut basah yang mengeluarkan bau besi tua berkarat setiap kali Rian melintasi lorong yang lebih gelap.

Setelah berjalan lima menit, Rian tiba di persimpangan empat arah dengan tiga pilihan jalur. Jalur kiri membentang sempit dengan pencahayaan remang berkedip-kedip yang berdengung kusam. Jalur lurus tampak pendek, menyambung ke tangga batu menurun dengan cahaya terang konstan. Sedangkan jalur kanan membentang sangat panjang, terang benderang, serta terkesan paling aman untuk dilewati.

Rian terdiam cukup lama di titik tengah persimpangan. Pengalamannya terjebak lima kali di tempat ini telah membentuk sebuah pola pemikiran: labirin ini adalah tempat manipulasi psikologis. Jalur yang terlihat paling terang, bersih, dan aman sering kali memancingnya masuk ke dalam jebakan dengan tugas teka-teki yang jauh lebih rumit dan melelahkan.

Dengan pertimbangan itu, Rian mantap mengambil keputusan. Ia memutar tubuhnya dan memilih melangkah ke jalur kiri. Ia berharap firasatnya benar, pilihan ini mungkin jalur yang valid untuk segera meloloskan diri, atau setidaknya, menyajikannya teka-teki yang jauh lebih mudah diatasi.

Ia mulai melangkah menyusuri lorong kiri yang remang. Derap sol sepatunya beradu dengan tanah padat, terdengar relatif santai karena Rian merasa mulai memahami "aturan main" dunia bawah sadar ini. Namun, tepat saat ia mencapai belokan tajam di ujung lorong kiri, tanah yang ia pijak mendadak bergetar hebat.

Gubrak! Bzzzt!

Sebuah guncangan dahsyat menyerupai gempa bumi menghentak dan mengocok seluruh lorong tersebut. Kerikil dan debu batu berjatuhan dari atap lorong. Meskipun guncangan brutal itu hanya berlangsung berselang satu menit, dampaknya cukup kuat untuk membuat dinding-dinding beton bergetar dan mengeluarkan suara deritan tajam—seperti gesekan kencang antara logam tebal dan beban berat.

“Sial! Apa-apaan ini? Apa yang terjadi?!” gerutu Rian panik.

Tubuhnya hampir limbung. Ia dengan refleks melemparkan badannya ke sudut dinding, mencengkeram permukaan batu yang kasar dan dingin demi menjaga keseimbangan. Matanya liar menatap sekeliling dengan kebingungan yang makin membuncah, khawatir jika langit-langit lorong itu akan runtuh dan menimbun dirinya hidup-hidup.

Setelah guncangan hebat itu akhirnya mereda dan menyisakan debu halus yang melayang di udara, Rian menghembuskan napas lega yang tertahan. Ia menyapu bahunya, lalu kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih waspada. Matanya tak henti-hentinya menyapu sekeliling dinding batu. Terkadang, labirin ini memperlihatkan fenomena visual aneh yang cukup menarik perhatiannya.

Beberapa meter di depan, ia terhenti tepat di hadapan sebuah celah jendela batu tanpa kaca. Di balik celah itu, terhampar pemandangan lanskap dunia luar yang gelap gulita, hanya diterangi pendar pucat dan dingin dari cahaya bulan penuh. Rian sebenarnya tidak pernah meyakini apakah lanskap itu adalah dunia nyata. Pasalnya, setiap kali ia menatap ke luar jendela batu tersebut, selalu muncul kilatan-kilatan aneh menyerupai glitch atau gangguan sinyal pada layar televisi tua.

Seperti kali ini. Di balik bayangan pohon kering, mata Rian menangkap siluet seekor kelinci kecil yang berlari histeris, dikejar buas oleh serigala raksasa di bawah cahaya bulan.

Tak butuh waktu lama hingga serigala itu melompat dan mencabik-cabik tubuh kecil itu secara brutal. Walau hanya berupa bayangan bergetar, detail pembantaian itu terasa begitu nyata, cukup untuk membuat tenggorokan Rian mendadak terasa kering dan sesak.

Rian menggelengkan kepalanya dengan cepat, memutus kontak mata dari jendela itu demi mengusir rasa mual dan tidak nyaman yang mendadak melilit perutnya. Ia memacu langkahnya kembali.

Ia berusaha keras menjaga ritme jalannya tetap stabil dan terkontrol, hingga langkah kakinya mendadak terhenti kaku di hadapan sebuah pintu kayu tebal berlapis pasak besi. Rian mendesah, menghembuskan napas panjang yang terasa berat. Kehadiran pintu tertutup di ujung lorong tanpa bercabang ini adalah pertanda mutlak dan tidak bisa diganggu gugat: ia telah memilih jalur yang salah.

Ia refleks menoleh ke belakang. Benar saja, seperti mekanisme yang sudah-sudah, lorong batu yang baru saja ia lalui perlahan menjalin akar-akar serabut hitam pekat yang merambat cepat dari lantai hingga ke atap, menganyam barikade rapat yang menutup total akses jalan kembali. Tidak ada opsi jalan memutar.

Mau tidak mau, Rian mengulurkan tangannya yang gemetar tipis. Ia mendorong pintu kayu berat itu dan melangkah masuk ke dalam ruangan di baliknya.

Brak!

Pintu tebal itu membanting tertutup secara otomatis tepat di belakang punggungnya dengan dentuman keras yang memekakkan telinga, menguncinya rapat-rapat di dalam ruangan misterius tersebut.

Rian mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berdiameter sempit yang pengap itu. Bau busuk tanah basah tercium amat menyengat. Tiba-tiba, dari salah satu sudut dinding batu, matanya menangkap sebuah pipa besi raksasa yang menancap tanpa katup penutup.

Blurp... Slossssh!

Secara mendadak, cairan hitam kental yang pekat, yang sekilas tampak mirip seperti oli mesin tua, mulai menyembur dan mengalir deras keluar dari mulut pipa tersebut. Cairan itu merembes cepat, menggenangi lantai tanah, dan dengan mengancam mulai naik mengisi ketinggian ruangan. Jika dibiarkan, ruangan sempit ini akan penuh dan menenggelamkannya dalam cairan pekat tersebut.

Rian langsung paham apa tugas spesifik yang harus ia selesaikan di ruangan pertama ini.

Ia mengedarkan pandangan dengan terburu-buru, mencari benda apa pun yang sekiranya bisa digunakan untuk menghentikan atau mengalihkan luapan cairan hitam tersebut. Matanya tertuju pada sebuah rak kayu tua usang di sudut ruangan. Di sana, terhampar sebuah beliung berkarat yang berat dengan mata pisau ganda yang tajam namun bergerigi.

Dengan langkah-langkah lebar namun penuh kehati-hatian, Rian bergegas mendekati rak itu. Ia harus menjaga keseimbangan tubuhnya agar tidak terpeleset dan jatuh, sebab cairan kental yang makin meninggi di lantai itu terasa sangat licin dan lengket.

Rian mencengkeram erat gagang kayu beliung berkarat itu dengan kedua tangannya. Ia mengayunkan senjata berat itu tinggi-tinggi ke udara, memusatkan tenaganya, lalu menghantamkan mata beliung itu sekuat tenaga ke permukaan dinding batu bagian bawah demi menjebol celah agar cairan kental tersebut memiliki saluran untuk mengalir keluar ruangan.

PRANG! DUAK!

Anehnya, setiap kali ayunan beliungnya menghantam keras dan meretakkan dinding batu, terdengar hembusan angin tipis menyengat yang diiringi suara menyerupai helaan napas berat dan rintihan samar, seolah-olah dinding batu kaku itu sendiri yang sedang merintih kesakitan akibat robekan beliung. Namun, Rian menepis kejanggalan itu dari pikirannya. Fokus utamanya saat ini hanyalah satu: menyelesaikan teka-teki ruangan ini dan keluar secepat mungkin sebelum bernapas menjadi hal yang mustahil.

“Oke... selesai. Selanjutnya tinggal menunggu pintunya terbuka,” gumam Rian dengan napas yang sedikit memburu.

Ia menyapu bulir-bulir keringat dingin di dahinya menggunakan punggung tangan, tanpa menyadari sama sekali bahwa jemari dan kulit tangannya kini telah tercemar oleh noda cairan hitam pekat yang tidak hanya lengket, tetapi juga mengeluarkan bau amis berkarat yang amat menyengat.

Cklek... Krrriek.

Pintu kayu tebal yang berada di sisi lain ruangan tiba-tiba terbuka lebar dengan sendirinya, menampilkan lorong baru dengan arsitektur yang sama sekali berbeda dari lorong sebelumnya. Dindingnya kini terbuat dari susunan batu bata merah yang kusam dan berlumut.

Dengan langkah mantap, Rian melangkah keluar dari ruangan pertama. Jejak sol sepatunya tercetak sangat jelas di atas lantai batu lorong baru akibat basah oleh sisa cairan hitam kental tadi. Namun, ia tidak peduli. Dari pengalamannya, ia tahu jejak-jejak noda itu akan memudar dan menghilang dengan sendirinya seiring ia melangkah lebih jauh ke dalam sistem labirin.

Rian menyusuri lorong batu bata itu dengan langkah relatif tenang. Tiba-tiba, dari arah celah-celah dinding, sebuah alunan lagu klasik bergema halus. Melodi piringan hitam familier yang biasa ia dengarkan melalui earphone saat merasa cemas dan stres di dunia nyata. Komposisi piano dan gesekan biola yang lembut itu perlahan mengisi kesunyian, membuat jiwa dan ketegangan di dadanya terasa jauh lebih rileks dan aman di tengah labirin yang asing ini.

Kali ini, jalur yang ia tempuh tidak memiliki persimpangan atau cabang jalan. Lorong ini murni berupa jalur tunggal yang berkelok-kelok tajam. Anehnya, di setiap sudut belokan yang ia lewati, Rian samar-samar mendengar getaran suara menyerupai bisikan ganjil dan igauan orang berbicara dengan nada memohon yang tidak jelas. Suaranya terdengar sangat dekat, seolah-olah ada sosok tak terlihat yang sedang berbisik tepat di samping telinganya. Rian tidak sanggup mencerna kata demi kata dari bisikan bergelombang itu, hingga akhirnya gumaman merinding tersebut lenyap total saat langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu kayu tebal berikutnya.

Tanpa rasa ragu, Rian menekan gagang besi dan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.

Di dalamnya terhampar sebuah ruangan berukuran cukup luas dengan langit-langit yang tinggi. Lantai ruangannya tampak sangat berantakan, tertutup oleh potongan-potongan papan kayu tebal, balok-balok kayu pendek yang berserakan, tumpukan paku besi tajam, sebuah palu martil berukuran besar, serta berbagai perkakas tua yang tak teratur.

Melihat kekacauan visual tersebut, insting praktis Rian langsung menyimpulkan tugasnya: ia harus membuat sebuah rak kayu kokoh untuk menata seluruh barang dan perkakas yang berserakan itu agar ruangan kembali rapi.

Rian menyambar balok-balok kayu berat dari lantai, menyusunnya tegak di atas permukaan tanah, lalu menumpuk papan-papan kayu tebal di atasnya untuk merakit rangka utama sebuah rak. Dengan gerakan yang cekatan dan terlatih, ia menyambar palu martil, memegang paku besi, lalu menghantamkan paku-paku itu menembus serat kayu demi menyatukan struktur tersebut agar tidak goyah.

Rian mengayunkan palu martil itu tinggi-tinggi ke atas kepala.

TAK! TAK! TAK!

Setiap kali kepala martil besi di tangannya menghantam paku dengan hantaman penuh hingga menancap dalam ke serat kayu, gema dentuman keras bergetar memantul di seluruh dinding ruangan. Anehnya, bersamaan dengan setiap pukulan palu yang bertenaga itu, Rian merasa detak dadanya bergelombang kencang secara tidak wajar. Sebuah sensasi senang dan kepuasan yang aneh mendadak merayap pelan di sekujur tubuhnya—seolah-olah ada kepuasan murni yang memuaskan dahaganya saat melihat struktur rak kayu buatannya hampir selesai terkunci rapat.

Didorong oleh rasa antusiasme ganjil yang mendadak membakar semangatnya, Rian kembali mempercepat gerakan. Ia menghantamkan martil besi itu jauh lebih keras dan brutal selama beberapa kali berturut-turut, hingga akhirnya rak kayu besar tersebut berdiri sangat kokoh, terkunci rapat tanpa celah.

Sensasi puas yang mendalam kembali menguasai pikirannya. Rian mengulas senyum tipis, menatap bangga hasil karyanya. Ia mulai melangkah, memindahkan barang-barang dan balok-balok yang tersisa di lantai untuk ditata rapi ke atas rak kayu baru itu.

Tiba-tiba, saat ia membungkuk, matanya menangkap keberadaan beliung berkarat yang tadi ia gunakan dan bawa dari ruangan pertama. Tanpa berpikir panjang, Rian menjangkau gagang beliung yang terasa berat dan dingin itu, mengangkatnya dengan kedua tangan, lalu menumpuk senjata tajam itu bersama dengan barang-barang berat lainnya di sudut teratas rak kayu tersebut.

Setelah seluruh barang di lantai berpindah dan tertata rapi di satu tempat, lagi-lagi penciuman Rian dihantam oleh uap bau besi yang amat pekat dan menyengat. Rian sempat terdiam sejenak, mengusip hidungnya. Namun, ia segera menepis kebingungan itu, berpikir rasional bahwa bau logam pekat itu hanyalah aroma khas dari tumpukan paku, martil, dan beliung berkarat yang baru saja ia sentuh dan tata.

Tepat beberapa detik setelah ia mengabaikan aroma menyengat itu, pintu di ujung ruangan berdecit terbuka lebar secara otomatis. Rian menghembuskan napas lega, ia telah berhasil menjalankan dan menyelesaikan tugas keduanya.

Rian kembali melangkah keluar dari ruangan kedua, menyusuri lorong labirin yang kembali berubah bentuk.

Saat tiba di ujung lorong, ia dihadapkan pada persimpangan baru: belokan ke kanan atau jalur lurus. Kedua jalur itu tampak persis sama, mulai dari atmosfer udara yang remang, tingkat pencahayaan bohlam, hingga pola retakan pada dinding betonnya. Kondisi seperti ini belum pernah ia temui sebelumnya. Biasanya, labirin selalu menyajikan perbedaan mencolok antara jalur yang terlihat berbahaya, biasa saja, atau yang terkesan aman. Namun kali ini, kedua opsi di hadapannya benar-benar identik.

“Hmm... yang mana saja tidak masalah deh,” gumamnya pasrah sambil memilih melangkah ke jalur lurus.

Langkah kakinya tetap tenang. Namun tepat di ujung lorong lurus itu, jalannya mendadak terhalang oleh sebuah lemari kayu raksasa yang berdiri melintang.

“Hah?” gumam Rian bingung.

Ia tidak menghentikan langkah hingga berdiri tepat di depan lemari tersebut. Saat mengintip dari celah sempit di sampingnya, Rian bisa melihat bahwa lorong masih berlanjut di balik lemari itu. Ini berarti ia hanya perlu memindahkan halangan tersebut, sebab jalan memutar di belakangnya sudah pasti tertutup.

“Duh... kenapa kali ini banyak sekali pekerjaan fisiknya?” gerutunya gusar.

Rian menempelkan kedua telapak tangannya ke permukaan kayu, lalu mencoba menggeser lemari berat itu ke samping. Sayangnya, dorongan Rian justru membuat posisi lemari hilang keseimbangan. Lemari kayu raksasa itu roboh memotong jalan.

BRAAAKKK!

Dentuman dahsyat mengguncang lorong. Suara lemari yang menghantam lantai batu itu bergema teramat keras, jauh lebih memekakkan telinga daripada yang seharusnya, memantul berulang kali di sepanjang dinding labirin yang kedap.

Seketika, tepat setelah gema suara itu memudar, suhu udara di sekitarnya merosot drastis. Atmosfer di dalam lorong berubah menjadi sangat dingin, pekat, dan mencekam secara mendadak.

“Mari akhiri ini dengan cepat...” gumam Rian pelan, mencoba menutupi rasa takut yang mulai merayapi tengkuknya.

Ia memanjat tubuh lemari yang tergeletak di lantai, lalu melompat turun di sisi sebaliknya demi melanjutkan perjalanan di lorong yang makin gelap tersebut.

Kini langkah Rian tidak lagi santai. Derap kakinya berubah tergesa-gesa karena ia mendadak merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya tajam dari balik kegelapan. Namun, makin jauh ia melangkah, sensasi diawasi itu tidak memudar, malah terasa bertambah menjadi puluhan pasang mata tak terlihat. Rasa gusar dan gelisah mulai menggerogoti ketenangannya.

“Ugh... apa-apaan sih ini?” gumamnya gelisah.

Ia mempercepat langkah. Di ujung lorong, Rian kembali dihadapkan pada persimpangan, namun kali ini jalurnya membelah lebih banyak dari biasanya: jalur kiri, serong kiri, lurus tengah, serong kanan, dan kanan.

Bulu kuduknya berdiri. Perasaan tidak nyaman menyergapnya kian hebat. Ia tidak mengerti mengapa pola jalur dan suasana dalam perjalanannya kali ini terasa begitu aneh dan menekan. Ia hanya ingin cepat-cepat keluar dari tempat ini.

“Sial. Jalurnya makin banyak...” gerutunya sembari menyapu pandangan ke setiap lorong yang lagi-lagi tampak identik satu sama lain.

Gelombang cemas di dadanya makin menjadi-jadi, terlebih saat ia mulai mendengar gema langkah kaki samar di belakang punggungnya, diiringi pecahan alunan musik klasik yang terdistorsi dan berulang-ulang dari kejauhan.

Panik, Rian tanpa pikir panjang memilih menyusuri jalur serong kiri. Ia berlari-lari kecil menembus lorong itu demi menghemat waktu. Napasnya mulai memburu, hingga akhirnya mata Rian menangkap keberadaan sebuah pintu kayu berwarna gelap di ujung jalan.

Tanpa ragu, Rian melompat maju, mendobrak masuk, lalu membanting pintu itu rapat-rapat di belakangnya.

BRAK!

Seketika, sensasi diawasi dan suara langkah samar di luar mendadak sirna. Ruangan di baliknya hening, membuat napasnya yang memburu perlahan mulai stabil.

Rian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Kali ini, ia berada di sebuah ruangan yang sangat berantakan. Rak-rak kayu tampak roboh berserakan di atas lantai, cairan hitam kental menggenang di beberapa sudut, dan bingkai-bingkai lukisan tergantung miring serta terjatuh menimpa tanah.

Sebagai seseorang yang menyukai keteraturan, pemandangan kacau ini memicu rasa risih di kepalanya. Rian yakin bahwa tugasnya di ruangan ini adalah merapikan dan membersihkan segalanya hingga kembali sempurna, sebab tidak ada objek lain yang bisa dia kerjakan selain kekacauan tersebut.

Rian mulai mengedarkan pandangan, mencari alat-alat yang bisa ia gunakan untuk merapikan ruangan tersebut. Matanya tertuju pada sudut dinding. Di sana tergeletak sebuah ember kayu berisi air keruh, lengkap dengan alat pel tua, kain lap kusam, serta beberapa peralatan kebersihan lainnya yang tersusun acak.

Tanpa membuang waktu, Rian menyambar alat pel tersebut. Ia membungkuk, mulai menggosokkan kain pel basah itu ke atas genangan cairan hitam kental yang merembes di lantai. Ia melakukannya dengan sangat telaten, mengusap tiap sudut ruangan berulang-ulang, memastikan noda lengket itu terangkat bersih tanpa tersisa sedikit pun. Setiap kali kain pel itu bergeser, uap bau besi tua berkarat yang amis makin pekat membumbung ke udara, namun Rian tak memedulikannya.

Setelah urusan lantai tuntas, Rian mengalihkan perhatiannya pada rak-rak kayu yang roboh. Dengan menguras sisa tenaganya, ia mendirikan kembali rak-rak berat tersebut ke posisi semula. Ia lalu menghampiri bingkai-bingkai lukisan yang tergantung miring dan tergeletak di lantai, mengangkatnya satu per satu, menyapu debunya, lalu menggantungnya kembali hingga posisinya sejajar dan simetris sempurna.

Rian melanjutkan aksi pembersihannya sampai seluruh sudut ruangan terlihat benar-benar rapi, bersih, dan teratur.

Mengamati hasil pekerjaannya, gelombang rasa lega yang luar biasa mendadak menyapu dadanya. Perasaan ganjil dan tidak nyaman yang sejak tadi mengganggunya perlahan sirna, berganti dengan kepuasan murni melihat segalanya kembali ke tempat yang seharusnya.

CKLEK... KRIETT...

Pintu kayu yang tadi ia lewati perlahan terbuka dengan sendirinya, menandakan bahwa ia telah menyelesaikan tugas di ruangan ini.

Begitu Rian melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut, matanya langsung menangkap keberadaan sebuah tangga melingkar yang familier di ujung lorong—tangga utama yang menjanjikan kebebasannya. Ia bergegas berjalan cepat menuju ke sana. Namun, tepat saat kakinya hendak berpijak pada anak tangga pertama, seluruh struktur labirin mendadak bergetar hebat, seolah-olah bangunan batu ini akan runtuh seketika.

Rian segera berlari menaiki tangga melingkar tersebut, akses yang biasanya akan membawanya menuju lorong panjang penutup sebelum ia bisa keluar dari tempat ini.

Langkahnya makin terburu-buru seiring getaran di dalam labirin yang tak kunjung mereda. Dinding-dinding batu retak, memuntahkan kerikil dan debu yang berjatuhan dari atas. Saat Rian berhasil menjejakkan kaki di lantai atas, ia berhenti sejenak demi meraup oksigen. Di area atas ini, getaran tanah perlahan mereda.

Namun, sebuah raungan nyaring mendadak memekakkan telinga dari arah tangga tempat ia baru saja memanjat.

Rian refleks menoleh ke belakang. Matanya terbelalak horor saat mendapati sebuah sosok raksasa berwarna hitam legam dengan puluhan wajah menyeramkan di sekujur tubuhnya sedang berlari kencang menerjang ke arahnya! Lantai yang ia pijak kembali bergetar hebat seiring langkah sosok itu yang makin mengikis jarak.

Panik menyapu habis sisa tenaganya. Rian memacu langkah sekuat tenaga menembus lorong panjang di hadapannya. Lampu-lampu lorong berkedip-kedip liar hingga beberapa bohlam di atasnya meledak pecah akibat getaran dahsyat yang ditimbulkan oleh entitas yang membuntutinya.

Napasnya tercekat, langkah kakinya makin terasa seberat timbal saat rasa lelah menguasai fisik. Namun, ia tak boleh berhenti sekarang jika tidak ingin dimangsa hidup-hidup oleh makhluk tersebut!

Ia terus berlari dan melampaui batas fisiknya, meski dadanya terasa sesak seolah-olah pasokan udara di dalam labirin ini makin menipis. Derap langkah raksasa di belakangnya bergema konstan, mengikis ketenangannya hingga ke batas nol.

“Hah... hah... hah...”

Suara napas terengah-engah bergema berat, memantul kasar di sepanjang lorong batu yang sempit dan gelap gulita. Derap langkah kaki beradu cepat dengan permukaan lantai tanah yang basah dan licin. Setiap kali ia memutar kepala ke belakang, jantungnya serasa dihantam palu godam.

Di balik remang bayang-bayang, entitas itu terus mengejarnya. Sosok raksasa berwarna hitam legam bertubuh tinggi menjulang, dengan puluhan wajah menyeramkan yang tertanam dan bergidik di sekujur kulitnya. Masing-masing wajah mengerang tanpa suara, memancarkan ekspresi yang saling bertabrakan: amarah yang membara, tangisan histeris, rasa takut luar biasa, hingga tatapan dendam yang menusuk ke tulang belakang Rian.

Entitas itu melayang dan merayap tanpa henti, memangkas jarak dan tak membiarkan Rian mencuri napas walau sejengkal pun.

Di ujung lorong yang samar, sebuah titik pendar mengambang. Rian makin mendekati pintu berukir bercahaya, simbol mutlak akhir perjalanannya di labirin ini. Dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, lorong menuju pintu ini adalah bagian favoritnya, suasananya selalu memberikan ketenangan magis. Namun kali ini, tidak ada kata tenang ketika maut merayap tepat di belakang punggungnya.

Dengan sisa tenaga dan lengan yang gemetar hebat, Rian mengulurkan tangan. Jemarinya yang dingin meraih gagang besi tua, memutarnya, dan mendorong pintu itu sekuat tenaga.

Brak!

Seketika, gelombang cahaya putih yang sangat menyilaukan menyergap pandangannya, menelan seluruh bayangan hitam dan menghapus gema erangan di belakangnya.

Perlahan, Rian kembali membuka matanya.

Biasanya, ia akan terbangun di atas kasurnya yang empuk dan menganggap seluruh perjalanan itu hanyalah mimpi buruk semata. Namun kali ini, kenyataan menghantamnya secara brutal.

Ia tidak terbaring di kamar tidurnya, melainkan berdiri mematung di tengah-tengah ruang tamu yang asing. Aroma amis darah yang sangat pekat langsung menyergap dan menusuk hidungnya.

Di ambang pintu depan yang terbuka lebar, tiga orang petugas polisi menodongkan pistol tepat ke arahnya. Pendar lampu darurat berwarna merah-biru dari mobil polisi di luar merangsek masuk, menyinari isi ruang tamu yang gelap gulita.

Rian menunduk kaku, menatap kedua telapak tangannya sendiri yang basah dan berlumuran darah segar. Tepat di belakang punggungnya, dua sosok manusia tergeletak kaku bersebelahan dalam kondisi tak bernyawa.

Pandangan Rian mendadak kosong. Otaknya lumpuh total, tak sanggup mencerna apa yang sedang terjadi dan mengapa ia berada di tempat ini. Ia hanya ingin keluar dari labirin itu seperti biasanya, namun mengapa kini ia justru berdiri di sebuah TKP berdarah?

“Jangan bergerak! Kau ditangkap atas kasus pembunuhan yang terjadi di rumah ini!” teriak salah seorang polisi dengan suara bergetar namun tegas. Polisi itu melangkah maju dengan sangat hati-hati agar tidak memancing Rian melakukan tindakan agresif.

“Pembunuhan...? Aku... yang melakukan semua ini...?” gumam Rian parau.

Ia menggeleng samar, enggan mempercayai bahwa jemarinya sendiri yang telah merenggut nyawa manusia.

Ruang tamu itu tampak tertata rapi. Sebuah ember plastik berisi air yang kini berubah warna menjadi merah pekat masih bertengger di sudut ruangan, menjadi bukti bisu bahwa ia sempat membersihkan genangan darah di lantai sebelum polisi mengepung tempat ini, persis seperti tugas pembersihan yang baru saja ia selesaikan di dalam labirin.

Di sebelah tumpukan dua jasad itu, barang bukti tergeletak berdampingan: sebuah pisau dapur dan martil besi berdarah. Korban pertama menderita puluhan luka tusuk yang brutal, sementara korban kedua tewas akibat hantaman benda tumpul berulang kali di bagian kepala.

Rian akhirnya diringkus. Beberapa petugas polisi melompat maju, menjepit tubuhnya ke lantai tanah, lalu mengunci kedua pergelangan tangannya ke belakang menggunakan borgol besi yang dingin. Setelahnya, ia diseret masuk ke dalam mobil patroli dan dibawa ke kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan intensif.

“Dia benar-benar mengaku tidak mengingat apa pun yang terjadi,” ujar seorang penyidik kepada rekannya yang sedang mencatat lembar interogasi.

Rian terduduk kaku di kursi pemeriksaan, mendengar samar percakapan polisi-polisi tersebut.

“Namun, hasil analisis forensik menemukan empat kasus pembunuhan lain yang pola TKP-nya persis seperti ini. Semuanya dipastikan dilakukan oleh pelaku yang sama, dilihat dari ciri khas lokasi yang disapu bersih hingga tak tersisa noda darah, meninggalkan para korban tertata rapi di sudut ruangan. Anehnya, tersangka terus-menerus meracau bahwa ia berada di dalam sebuah labirin dan bersumpah tidak pernah membunuh siapa pun.”

Seorang perwira polisi yang memimpin kasus itu mendesah berat. “Kita panggil tenaga ahli psikologi forensik saja. Biarkan mereka yang mengutusnya. Namun, dari pola seperti ini, biasanya tersangka mengalami gangguan kejiwaan berat, seperti kepribadian ganda atau semacamnya.”

Penyidik itu mengangguk setuju dan segera menghubungi tim psikiater.

Setelah serangkaian tes mental yang ketat, hasil pemeriksaan medis akhirnya keluar. Rian secara resmi didiagnosis mengidap Dissociative Identity Disorder (Gangguan Identitas Disosiatif), sebuah kondisi di mana penderitanya memiliki lebih dari satu kepribadian terpisah, sehingga kepribadian utama akan mengalami amnesia total atas aksi ekstrim yang dilakukan oleh kepribadian sekundernya.

Atas pertimbangan kondisi mental tersebut, Rian dijatuhi vonis penanganan medis dan dipindahkan ke Rumah Sakit Jiwa berpengamanan ketat. Ia dikurung di dalam ruang isolasi khusus untuk pasien berisiko tinggi, sebuah ruangan serba putih berlapis busa empuk (padded room) tanpa jendela, yang alih-alih memberikannya ketenangan, justru memicu rasa cemas yang kian mencekik dadanya.

Beberapa minggu berlalu di dalam kesunyian ruang isolasi. Rian hanya bisa terduduk kaku di sudut lantai busa putih, dengan kedua lengan yang terkunci rapat di dalam baju pengekang (straitjacket).

Ia memejamkan mata dan menghembuskan napas pasrah, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa di tempat terkunci ini, terisolasi total dari dunia luar dan terikat tanpa daya, monster di dalam kepalanya tidak akan pernah bisa menyakiti siapa pun lagi. Labirin itu tidak akan mungkin mendatangi dirinya lagi.

Sreeek... Cklek.

Pintu tebal ruang isolasi berdecit terbuka. Seorang perawat muda melangkah masuk membawa nampan berisi cangkir plastik obat dan segelas air minum. Perawat itu mengulas senyum ramah yang berusaha menutupi rasa cemasnya saat berjalan pelan mendekati Rian.

Rian menengadah, hendak mengucapkan sesuatu untuk menyapa perawat itu.

Namun, kata-katanya mendadak tercekat di tenggorokan.

Pandangannya mendadak menghitam total. Dunia di sekitarnya runtuh dalam hitungan detik, ditelan oleh kegelapan pekat yang dingin.

Saat kegelapan itu perlahan memudar, Rian tidak lagi merasakan empuknya dinding busa putih atau baju pengekang yang mengikat tubuhnya. Hawa hangat rumah sakit jiwa telah sirna, berganti menjadi hembusan angin membeku yang membawa aroma busuk lumpur basah dan uap besi tua berkarat yang teramat ia kenali.

Rian perlahan membuka matanya.

Ia terduduk kaku di atas lantai tanah basah. Di sekelilingnya, dinding-dinding batu beton berlumut menjulang tinggi melingkupinya. Dan tepat di hadapannya, melayang sebuah papan kayu tua berdebu dengan tulisan yang dipahat rapi:

“Selamat datang kembali, Rian.”

 

-TAMAT-

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
LABIRIN: The Endless Corridor
stellaris rhea
Flash
Dream Claustrophobia
Halimah RU
Novel
Karantina
Jasma Ryadi
Flash
Dekapan yang Hilang
Jasma Ryadi
Cerpen
Penanggal
ANINZIAH
Novel
MOM!!
pucuk
Flash
Bronze
judul
Udang laut
Cerpen
Bronze
AUL
Rian Nugraha
Novel
Gold
Fantasteen Ghost Dormitory in Paris
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Jamkos ~Novel~
Herman Sim
Cerpen
Bronze
Bangkai di Meja Makan
Vania
Cerpen
Bronze
Kejadian Mistis Pada Pohon Dekat Masjid
Ron Nee Soo
Flash
13
Rahma Nanda Sri Wahyuni
Cerpen
Bronze
HANTU WONDO & KORBAN G30S PKI
Sri Wintala Achmad
Novel
Kabar Duka
Maureen Fatma
Rekomendasi
Cerpen
LABIRIN: The Endless Corridor
stellaris rhea
Novel
MIDNIGHT COVENANT
stellaris rhea
Novel
The Wiranata Code
stellaris rhea