Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Suasana semakin panas di dalam dinginnya malam yang kian mencekam. Vila di tengah hutan pinus masih hidup dengan teriakan puluhan manusia dan gaduh musik disko. Minuman beralkohol dituang berkali-kali ke dalam barisan gelas kaca, lalu diangkat setinggi-tingginya untuk bersulang. Di sudut ruang, Karina melipat wajahnya, sama sekali tidak menikmati acara reuni kuliahnya tersebut. Tentu saja, karena bertemu dengan mantan kekasihnya, Yogi, yang terus membicarakan alasan mereka berpisah.
“Lo kenapa sih cemberut mulu, Rin?” tanya Zahra, memberikan segelas jus. “Apa karena Yogi? Lo jadi BT gitu?” Zahra bertanya karena Karina tak menjawab pertanyaan sebelumnya.
“Pulang yuk, Zah. Gue udah nggak mood di sini,” kata Karina sambil mengambil gelas dari tangan Zahra lalu meneguknya sekaligus.
“Mau pulang naik apa jam segini? Kocak.” Zahra menjawab. “Ga tau deh. Tapi gue pengen balik sekarang. Kenapa acara begini mesti diadain dua malem sih? Harusnya semalem cukup.” Karina terus menggerutu.
Wahyu dan Aryo baru saja meninggalkan kerumunan untuk menghampiri Karina dan Zahra. “Ada yang mau pulang bareng gue nggak? Capek banget gue rasanya pengen balik. Dua hari teriak-teriak.” Kebetulan, keinginan Karina langsung terjawab oleh Wahyu.
“Gue ikut ya!” Maura menyambar pembicaraan mereka entah kapan datang.
“Ya udah, ayo! Kalian siap-siap, gue tunggu di mobil sepuluh menit lagi.” Kata Wahyu, segera naik ke lantai dua untuk bersiap-siap.
Sepuluh menit kemudian, Wahyu dan Aryo sudah berada di mobil, disusul Karina dan Zahra. Kemudian Maura juga datang bersama Adit untuk ikut pulang bersama mereka.
“Eh, kalian mau ke mana?” Farhan menghampiri mereka dalam keadaan setengah sadar karena pengaruh alkohol.
“Kita mau balik, Han. Besok gue harus kerja soalnya,” jawab Aryo, semakin gelisah.
“Gue ikut, gue ikut. Bentar. Jangan tinggalin gue. Bentar.” Dengan suara kurang jelas, Farhan bergegas berlari sempoyongan untuk mengambil barang-barangnya.
“Rin, lo mau ke mana? Gue masih pengen ngobrol sama lo. Lo sekarang tinggal di mana sih?” Yogi memergoki mereka yang sedang menunggu Farhan.
“Kita mau balik, Yog. Besok udah ada yang kerja soalnya.” Zahra menjawab untuk Karina yang masih tak ingin bicara dengan Yogi.
“Ya udah gue ikut. Gue juga nggak bawa mobil.” Tanpa berpikir panjang, Yogi juga memutuskan untuk pulang. Tujuan pulangnya jelas, Karina.
“Kita udah pas bertujuh sama Farhan, Yog.” Karina berusaha untuk menolak Yogi.
“Mobilnya muat berdelapan. Ya kan, Yu?” tanya Yogi memastikan kepada Wahyu, sebagai pemilik mobil.
“Emm, iya sih kalau dipaksakan muat juga.” Wahyu bingung menolak Yogi yang juga teman sejurusannya dulu. Ekor matanya melirik ke arah Karina yang raut wajahnya semakin suram.
“Oke, kalau gitu, cewek-cewek bisa duduk di belakang bertiga ya.” Wahyu berusaha mengatur tempat duduknya agar mobilnya bisa membawa ketujuh teman lamanya. Mereka masuk satu-persatu. Zahra, Karina, dan Maura duduk di kursi belakang meski berhimpitan. Di tengah, Yogi, Farhan, dan Adit juga tak kalah berdesakan. Di depan, Wahyu sebagai pengemudi dan Aryo duduk di samping Wahyu. Mereka pun meninggalkan acara reuni yang berlangsung selama tiga hari dua malam yang baru akan berakhir pada hari Senin.
Semua orang kelelahan. Suasana mobil sangat hening setelah meninggalkan riuhnya vila. Tak ada sepatah kata pun kecuali Aryo yang mulai memutar radio mobil ke kanan dan ke kiri, memecah keheningan. “Krek, srek, krek...”
“Kita dengerin apa yang enak ya?” Kata Aryo, masih mencari saluran yang tepat.
“Ini aja ya? Kisah-kisah horor.” Aryo berhenti memutar setelah menemukan saluran yang dia inginkan.
“Jangan ini lah, Yo. Malem-malem di tengah hutan gini.” Kata Wahyu mengambil alih, mengganti saluran.
“Yah, cupu lo.” Kata Aryo mengembalikan ke acara sebelumnya.
“Rese, lo, Yo.” Wahyu menepis tangan Aryo lagi. Aryo pun membalas dengan menyingkirkan tangan Wahyu dari putaran radio.
“Eh, ati-ati, gaes, jangan becanda.” Kata Yogi dari kursi tengah.
Mengabaikan perkataan Yogi, Wahyu dan Aryo terus berebut untuk memilih saluran radio hingga Wahyu kehilangan fokus kemudinya.
“Awas kucing!” Teriakan Yogi mengagetkan Wahyu dan Aryo.
“Haaaa…?” Wahyu membanting setir ke kiri dan menginjak pedal rem sekuat tenaga. “Ciiitttttt” Mobil berhenti mendadak. Seluruh penumpang tersentak.
“Kucingnya udah gue tabrak?” tanya Wahyu, menarik napas pendek berkali-kali.
“Enggak, dia lari tadi.” Aryo berusaha tidak memperkeruh keadaan.
“Coba lihat dulu!” Maura berteriak panik. Akhirnya, Wahyu, Aryo, dan Adit turun dari mobil.
“Astaga! Kucingnya mati, gaes.” Kata Wahyu setelah melihat ke kolong mobil.
“Masih hidup itu, udah ayo! Entar juga pergi.” Aryo terus berusaha mengabaikan petaka yang baru saja mereka buat.
“Jangan! Jangan tinggalin gitu aja. Awas, gue mau turun,” kata Maura, meminta jalan untuk turun dari mobil karena mendengar pembicaraan Wahyu dan Aryo.
“Di Jawa, ada mitos yang mengatakan kalau kita nabrak kucing, kita harus merawat kucingnya sampai sembuh. Kalau kucing itu mati, kita harus menguburnya dengan baju yang kita pakai.” Maura tidak sedang menakut-nakuti. Dia benar-benar ketakutan.
“Halah, itu cuma mitos orang kuno. Nggak ada begituan zaman sekarang.” Kata Adit, membantah mentah-mentah.
“Udah ayo! Taruh aja kucingnya di pinggir jalan. Kucing kan punya sembilan nyawa. Nanti juga hidup lagi dia.” Farhan berteriak dari dalam mobil. Wahyu kembali melihat ke kolong mobilnya dengan perasaan ragu. Dia merayap ke dalam dan menarik tubuh kucing itu.
“Celaka! Ini udah mati.” Suara Wahyu bergetar setelah melihat tubuh kucing itu bersimbah darah.
“Udah nggak apa-apa. Sini sama gue aja.” Adit menjinjing bangkai kucing itu lalu melemparkannya ke dalam jurang di seberang jalan begitu saja tanpa rasa takut sedikit pun. Sementara di dalam mobil, Karina menggenggam tangan Zahra setelah melihat lampu redup di tengah hutan tempat bangkai kucing dilemparkan. Begitu juga dengan raut wajah Maura yang tiba-tiba mengerutkan alisnya. Kegelisahan hatinya turut pulang bersama mereka malam itu.
“Ayo masuk lagi... Perjalanan masih panjang.” Kata Yogi, menyuruh teman-temannya yang masih berdiri di luar.
“Sini biar gue gantiin nyetirnya, Yu.” Adit bertukar tempat duduk dengan Wahyu. Akhirnya, rombongan kedelapan pemuda tersebut pergi meninggalkan tempat kejadian yang akan menyeret mereka ke dalam mimpi buruk.
Keesokan harinya adalah hari kedua setelah kematian kucing itu. Mereka sudah kembali ke rutinitas masing-masing dan melupakan kejadian semalam seakan tak pernah terjadi apa-apa selain pesta reuni yang membosankan.
Hari Senin yang padat membuat Aryo lupa waktu untuk istirahat dan harus pulang terlambat.
“Duluan ya, Yo... Jangan kemaleman, nanti kehabisan kereta.” Teman sekantornya berpamitan sekaligus mengingatkan Aryo. Aryo yang menyadarinya segera membereskan pekerjaannya lalu bersiap-siap untuk pulang.
Tubuhnya sudah sangat lesu karena kurang istirahat saat dia sampai di Stasiun Manggarai. Kereta baru saja datang setelah sembilan menit dia menunggu di peron. Pintu kereta terbuka. Aryo segera masuk lalu duduk di kursi paling ujung agar bisa meletakkan kepalanya di sandaran, kemudian menghela napas panjang dan memejamkan matanya karena perjalanannya memakan waktu satu jam.
“Aryo, tolong. Yo... Tolong... Aryo, tolong....” Matanya terbelalak seketika. Napasnya terengah. Aryo baru saja mendengar seseorang yang meminta tolong, namun dia tak bisa melihat wajah orang tersebut. Aryo berusaha mencerna dan menyadarkan dirinya bahwa itu hanyalah sebuah mimpi. Kereta berhenti lalu pintunya segera terbuka. Setelah menoleh ke kanan dan kiri dan melihat sudah sangat sepi, Aryo lekas keluar dari kereta dengan napas masih terengah-engah dan keringat dingin bercucuran.
“Stasiun Manggarai.” Aryo membaca papan petunjuk stasiun. Dia masih berada di Stasiun Manggarai, tempat dia naik setelah perjalanan yang membawa mimpi buruk sebelumnya. Kereta kembali datang dan tanpa ragu Aryo kembali masuk ke dalam kereta tersebut. Kali ini, dia enggan tidur karena takut mimpi itu akan datang lagi. “Stasiun Bekasi Timur.” Pengeras suara memberi tahu bahwa kereta telah sampai di tujuan Aryo. Dia segera keluar dan kembali melihat papan petunjuk untuk memastikan. “Stasiun Manggarai.” Aryo masih berada di stasiun yang sama. Kepalanya berputar mengitari seluruh sudut stasiun yang kelam karena malam. Bangunan tua peninggalan Belanda dengan dinding tinggi dan tiang-tiang besar menjadi ciri khas Stasiun Manggarai. Jantungnya berpacu liar karena ketakutan. Ponselnya tiba-tiba mati saat dia hendak menghubungi seseorang. Kereta kembali datang dan Aryo segera masuk. Kali ini, dia tidak berani duduk. Aryo berdiri di depan pintu kereta yang sepi, dengan lampu yang terasa redup. Beberapa orang mengisi kursi-kursi kosong dengan kepala menunduk. Diselimuti rasa takut yang semakin menguasai tubuhnya, keringatnya mengucur deras. Tangannya memeluk erat tas yang dia gendong di depan. Saat lelah mulai membuat kesadarannya menurun, pengeras suara kembali berbunyi, “Stasiun Bekasi Timur.” Terbukalah pintu kereta dan Aryo bergegas keluar. Matanya terbelalak ketika papan petunjuk masih bertuliskan “Stasiun Manggarai.” Otaknya mulai dipengaruhi oleh imajinasi yang tidak masuk akal. Kereta melintas dengan kecepatan sangat kencang menuju dua arah berlawanan di kedua lajur depan dan belakang tempat Aryo berdiri, sehingga membuat telinganya berdengung kesakitan.
“Aryo, tolong saya…” Suara dalam mimpinya telah sampai di telinga. Aryo menutup telinga dan memejamkan matanya, lalu berteriak minta tolong sambil menjatuhkan sekujur tubuhnya ke lantai dengan wajah pias. “Tolong... Tolong...Tolong...” Suara kereta memekik meredam teriakan Aryo.
“Aryo, tolong saya…” Suaranya berdesis berkali-kali semakin dekat dengan telinganya. Saat Aryo membuka mata, sesosok makhluk berjubah hitam dengan mata merah berdiri tepat di depannya. Tatapannya tajam merobek pikiran Aryo. Dia terus berteriak histeris sambil merayap ketakutan. Sosok tersebut semakin mendekat hingga saat kereta melintas sekali lagi. Aryo melompat tepat di depannya dan tertabrak sangat keras. Tubuhnya hancur berkeping-keping. Potongan tangan terlempar ke peron dengan jam tangan yang masih terikat menunjukkan pukul 23.50. Waktu yang sama dengan kematian kucing pada malam sebelumnya.
Mendengar kabar kematian Aryo, Karina dan Maura segera pergi ke rumah sakit tempat jasad Aryo diotopsi.
“Ini ada kaitannya sama kucing yang kita tabrak.” Kata Maura dengan mata melotot dan air mata berderai. Rasa takut semakin menyelimuti dirinya.
“Apa?” Karina tak bisa memahami perkataan Maura.
“Ini karena kucing itu.” Wajah Maura merah padam. Keringat dingin mengucur dari kening. Tangannya gemetar menggenggam tangan Karina. “Apa sih, Ra?” Karina bingung dengan sikap Maura yang aneh.
Dalam perjalanan menyusul rumah sakit, Wahyu mendapat telepon dari atasannya. Hari itu adalah hari ketiga setelah tragedi kucing.
“Yu, ini proyek besar. Jadi, saya mau kamu yang jalan sekarang. Biar besok bisa langsung ketemu orangnya. Nanti semua biaya dinasnya minta sama kantor. Oke?” Atasannya menutup telepon setelah memastikan Wahyu pergi sore itu juga. Dia tak bisa menolak dan memutar balik mobilnya menuju Bandung.
Hari sudah gelap. Wahyu telah menempuh hampir empat jam perjalanan menuju Bandung. Petunjuk arah di ponselnya telah berhenti di lokasi yang dibagikan oleh atasannya.
“Hah? Nggak mungkin ini kan lokasinya?” Gumamnya dalam hati, lalu segera menelepon atasannya. Titik alamatnya berhenti di tengah hutan dengan pepohonan rapat menutupi tebing curam di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri.
“Telepon yang Anda hubungi sedang sibuk.” Berkali-kali Wahyu mencoba menelepon atasannya, namun tak pernah terhubung.
Wahyu mencoba menginjak pedal gas. Lampu mobilnya membelah gelapnya jalanan sampai di pertigaan, belok kanan, lalu belok kiri menuju jalan yang lebih sempit dan semakin sempit hingga Wahyu tiba lagi di tempat pertama kali dia berhenti. Dia kembali membuka petunjuk arah dan mengulangi hal yang sama sekali lagi. Tetapi mobilnya tetap sampai di tempat yang sama bahkan setelah dia mencoba jalan yang lain. Wahyu telah mencoba banyak alternatif jalan berkali-kali. Namun, tetap saja mobilnya berhenti di tempat yang sama, seakan dia telah masuk ke dalam labirin yang menyesatkan.
Hari yang semakin larut membuat Wahyu semakin panik. Dadanya terasa sesak; tangan gemetar meraba untuk mengambil ponsel dari tempatnya. Ponselnya sudah mati karena entah sudah berapa jam dia menggunakannya untuk membuka petunjuk jalan. Saat ingin membuka pintu mobil untuk turun, sosok makhluk berjubah hitam dengan mata merah tajam terlihat dari spion sedang berdiri di belakang mobilnya. Wahyu histeris ketakutan mencoba menyalakan kembali mesin mobilnya, namun tak kunjung berhasil.
“Srek... Srek... Srek...” Terdengar suara seseorang menyeret sesuatu mendekat. “Srek...” Semakin dekat dengan pintu mobilnya membuat Wahyu semakin panik. Akhirnya, Wahyu berhasil menyalakan mesin mobil dan kakinya segera menekan pedal gas sesaat sebelum sosok itu membuka pintu mobil. Mobil Wahyu melaju sangat kencang karena panik. Sosok berjubah hitam sudah berdiri tepat di hadapannya, membuat Wahyu spontan membanting setir ke kiri hingga mobilnya terperosok ke dalam jurang dengan kecepatan tinggi dan menghantam sebuah batu besar sampai menimbulkan ledakan. Jam di mobilnya menunjukkan pukul 23.50 sebelum api melahap habis Wahyu beserta mobilnya.
Setelah mendengar kabar kematian mengenaskan Wahyu dari berita di hari selanjutnya, Karina berusaha menelepon Maura untuk memastikan perkataan Maura sebelumnya tentang kucing yang mereka tabrak. Namun, tak ada jawaban dari Maura. Karina terus mencoba menghubungi teman-temannya yang lain yang berada di dalam mobil pada malam itu. Tapi tak pernah ada jawaban yang serius dari siapa pun.
“Karina membagikan berita.” Pemberitahuan dalam grup WhatsApp yang berisi enam orang tersebut dibuat setelah kematian Wahyu.
“Semalam, Zahra ditemukan tewas karena melompat dari gedung kantornya. Kata saksi mata, ini bukan sekadar bunuh diri. Dalam CCTV gedung, dia terlihat mondar-mandir naik turun lift dari lantai sembilan tempatnya bekerja ke lantai dua puluh tiga seperti orang yang sedang tersesat. Di dalam CCTV koridor lantai dua puluh tiga juga terlihat seakan dia lari dari kejaran sesuatu hingga dia merangkak keluar ke balkon. Beberapa menit sebelum dia melompat, Zahra terlihat seperti meminta ampun kepada sesuatu yang tak terlihat sampai akhirnya dia melompat. Dalam tangkapan layar CCTV balkon, tak ada siapa pun kecuali dia dan bayangan hitam yang terlihat hanya sekali.” Karina menjelaskan setelah mengirim berita kematian Zahra.
“Kalian masih menganggap ini hal biasa? Gila kalian semua!” Hanya Karina yang terus merasa kejadian demi kejadian penuh kejanggalan. Bahkan Maura menghilang karena ketakutan.
“Itu cuma kebetulan aja, Rin.” Adit masih menganggap sepele hal yang sangat serius dan mengancam nyawa mereka.
“Bahkan kalau jadi hantu, hantu kucing mana bisa sampai ke sini.” Farhan menambahkan emotikon tertawa dan menganggap rangkaian kejadian ini sebagai lelucon.
“Kalau lo kangen sama gue, mending kita reuni lagi aja, Rin. Rumah gue cukup mirip dengan vila waktu itu.” Yogi turut membalas dengan lelucon yang sama sekali tak lucu menurut Karina.
“Nanti malam akan ada yang mati lagi di antara kita berlima.” Maura tiba-tiba muncul, menanggapi dengan serius sekaligus menakut-nakuti seisi grup.
“Siapa?” “Siapa? Lo tau orangnya?” “Siapa? Jangan-jangan lo pelakunya?” Karina, Adit, dan Farhan membalas pesan Maura secara bersamaan. “Gue nggak tahu. Yang jelas, pasti akan ada yang mati setiap malam. Sampai malam kesembilan.” Maura membalas dengan sungguh-sungguh.
“Kalian nggak apa-apa? Gue nggak bisa tidur nih.” Karina kembali mengirim pesan di grup tersebut setelah pukul dua belas malam.
“Mau gue kelonin? Sini aja, rumah gue masih sama.” Yogi membalas seolah-olah Karina sedang berhalusinasi seorang diri. Perkataan Maura bahkan dilupakan oleh para laki-laki.
“Hahaha.. Si Yogi nggak nyerah juga, ya.”
“Udah cinta mati dia.” Balasan dari Farhan dan Adit juga tak ada rasa ketakutan sedikit pun.
“Apaan sih kalian. Nggak lucu tau.” Karina kesal karena dia merasa hanya dia sendiri yang memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh.
“Seorang gadis tertabrak truk saat berlari melintas di jalan tol. Diduga karena mengalami kepanikan berlebihan.” Keesokan paginya, Karina membagikan berita terbaru dari media sosial ke grup WhatsApp mereka. Terpampang jelas foto Maura di halaman depan berita.
“Masih nggak mau tahu soal kematian mereka yang nggak wajar?” Akhirnya, Karina membungkam seisi grup yang tersisa empat orang.
“Menurut saksi mata, Maura terlihat berlari dari toilet rest area sambil berteriak minta tolong. Dia kebingungan mencari busnya berkali-kali hingga kemudian dia lari ke tengah jalan sampai tertabrak.” Karina membacakan isi artikel kecelakaan tersebut untuk menyadarkan teman-temannya.
“Jadi, menurut lo, kita harus gimana?” Farhan mulai sadar dan merasa nyawanya terancam.
“Yang jelas, ini hari kelima. Akan ada satu orang lagi yang akan mati di antara kita berempat.” Tegas, Karina tak ingin basa-basi lagi.
“Siapa?” Adit bertanya karena mulai merasa ketakutan.
“Siapa yang tahu? Kita harus ketemu untuk memecahkan teka-teki ini. Jika tidak, hantu atau entah apa namanya akan membunuh kita satu per satu.” Karina menegaskan sekali lagi.
“Teka-teki? Apa maksud lo?” Kepanikan juga mulai menyelimuti Yogi.
“Iya. Ini seperti teka-teki. Kita nggak ada yang tahu kenapa Aryo meninggal duluan lalu disusul Wahyu. Kenapa nggak Wahyu dulu atau Zahra dulu? Jadi kalau kita bisa menemukan polanya, harusnya kita bisa mencegah sisanya.” Karina menjelaskan apa yang sudah dia pikirkan selama beberapa hari terakhir.
“Aneh lo. Kebanyakan nonton film setan. Siapa yang nentuin pola kematiannya? Kucing? Hantu? Kalau nggak ada pola, gimana kalau secara acak?” Logika Karina masih tak bisa dicerna Adit dengan baik.
“Mending kita ketemu dulu untuk bahas ini.” Farhan memberi usulan mulai serius.
“Di rumah gue aja. Setelah pulang kerja, kalian pada ke rumah gue. Kita bisa rileks diskusi sambil berendam ntar malam.” Yogi memberi saran yang akhirnya disetujui oleh semua orang tanpa berlama-lama.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Karina adalah orang terakhir yang sampai di halaman rumah Yogi yang luas, lengkap dengan kolam renang. Dengan suasana yang semakin tegang dan gerimis tak kunjung reda, mereka berkumpul di ruang tengah untuk membahas kematian janggal yang menimpa teman-teman mereka.
“Kita mulai dari mana? Ada yang punya ide?” tanya Yogi. Tak ada gambaran sedikit pun.
“Oke. Gue anggap kalian orang kota dan nggak percaya mitos. Tapi sejak kematian Aryo, Maura selalu bilang ini ada kaitannya sama kucing yang kita tabrak. Dia bilang gitu berkali-kali. Dengan ekspresi ketakutan. Jadi kita anggap aja itu benar.” Karina mengaitkan kematian teman-teman mereka dengan tabrakan kucing.
“Konyol. Itu...” Adit menyanggah mentah-mentah penjelasan Karina.
“Nggak konyol! Kalian nggak pernah denger mitos kalau kita nabrak kucing, kita harus kuburin kucingnya? Kalian nggak pernah denger istilah kucing punya sembilan nyawa?” Dengan nada tinggi, Karina memotong pembicaraan Adit dan membungkam semua orang.
“Oke, anggap aja penjelasan lo bener. Terus, hari ini siapa yang akan mati? Gue? Lo? Farhan? Apa Yogi?” Adit membalas Karina dengan nada yang lebih tinggi. Semua orang merasa bingung sekaligus ketakutan.
“Kalau gue tahu, kalian nggak bakalan gue kumpulin. Kalian nggak peduli, kan, awalnya? Sekarang sisa berempat kalian baru mau kumpul begini.” Diskusi mereka langsung diawali dengan perdebatan yang panas.
“Oke, stop! Semua udah terjadi. Kita cegah yang masih bisa kita cegah. Coba kita ingat-ingat lagi malam itu. Mulai dari kita berdelapan masuk ke mobil...” Farhan mulai berpikir secara logis, mengambil alat tulis, menggambar alur kejadian malam itu, sampai pada posisi duduk di dalam mobil.
“Jadi, Aryo dan Wahyu duduk di depan, makanya mereka mati duluan. Zahra dan Maura duduk di belakang. Karina di belakang tapi di tengah. Kita bertiga duduk di baris kedua. Jadi, jika menganut pola tempat duduk, korban selanjutnya adalah Adit atau gue. Atau Karina.” Farhan mencoba menjelaskan meskipun bingung dengan penjelasannya sendiri.
“Nggak masuk akal. Jika pola kematiannya berdasarkan tempat duduk, ini terlalu acak. Harusnya urut dari depan atau belakang.” Yogi tidak setuju dengan pendapat Farhan.
“Lalu? Siapa yang duluan masuk ke mobil? Atau dari siapa yang nyuruh buang bangkai kucing sialan itu? Atau apa? Umur? Tempat tinggal? Atau apa?” Adit bertanya dengan meninggikan nada bicaranya.
“Dit, jaga mulut lo! Kita lagi diincar.” Karina terus menyela Adit dengan nada tinggi juga.
“Gue tahu! Ini dari yang paling tua di antara kita. Secara logika, orang yang lebih tua akan mati lebih dulu. Dan kucing itu mengurutkan siapa yang paling tua di antara kita semua. Umur Aryo paling tua di antara kita, lalu Wahyu, Zahra, dan Maura. Bener kan?” Setelah sempat hening beberapa menit, Farhan menyampaikan pendapatnya sambil menggambar simulasi dengan mengurutkan umur mereka berdelapan.
“Lo tahu umur kita semua dari mana, Han?” Karina merasa aneh, tapi urutannya sesuai dengan urutan kematian sejauh ini.
“Gue mantan sekretaris BEM, kalau kalian ingat.” Farhan menjawab tegas.
“Oke... Jadi yang lain setuju?” Karina bertanya kepada Adit dan Yogi. Mereka mematung menatap Karina karena urutannya tepat
“Jadi, kalau itu benar, sekarang giliran gue?” Kata Adit, wajahnya seketika menjadi pias.
“Lalu, lo, Rin...” Yogi menambahkan. “Abis Karina, gue, lalu Farhan yang terakhir.” Dia melanjutkan. “Ini nggak biar lo mati terakhir aja kan, Han?” Yogi meragukan pendapat Farhan karena tak ada yang benar-benar pasti tentang bagaimana urutan kematiannya.
“Cuma itu yang paling masuk akal. Urutannya udah sesuai!” Farhan meyakinkan yang lain.
“Jika memang itu benar. Jadi, malam ini gue bakalan mati?” Adit mulai menyadari bahwa sebuah ancaman sedang mengincarnya. Wajahnya layu. Kedua alisnya hampir bertemu.
“Jangan panik, Dit! Pasti ada jalan keluarnya.” Karina berusaha menenangkannya setelah mereka merasa telah menemukan pola kematiannya.
“Gimana caranya? Sudah empat orang tewas.” Adit membentak.
“Oke! Kalian semua nginep aja di sini. Jangan mendekati bahaya apa pun. Kita berkumpul di satu ruangan. Jangan ada yang pergi ke mana pun sampai besok pagi kita ambil bangkai kucing itu dan kita kubur!” Yogi memberi solusi meski tak ada yang yakin bahwa itu akan berhasil. Meskipun begitu, semua orang setuju dan tinggal di sana.
Perdebatan panas malam itu diakhiri oleh malam yang semakin mencekam. Mereka berempat tidur bersama di ruang tengah.
“Crek... Crek... Crek...” Detik jarum jam terdengar lebih keras dari gerimis yang tak kunjung berhenti. Adit masih terjaga karena kegelisahan hatinya yang terus menguasai pikirannya. Yogi dan Farhan sudah terlelap di dua sofa yang membentuk huruf L. Karina juga terlihat pulas di kasur lantai tak jauh dari tempat mereka.
“Jika orang yang seharusnya belum mati tapi mati malam ini, bisa jadi itu akan merusak polanya. Seharusnya, kalau Karina gue bunuh malam ini, gue akan selamat.” Iblis dalam diri Adit juga masih terjaga dan terus mendorong Adit untuk melakukan apa yang menguasai pikirannya. Degup jantungnya lebih keras dari detak jarum jam.
“Rin, tolong gue!” Karina tersentak membuka matanya setelah mendengar suara Adit meminta tolong. Dia melihat bayangan Adit berjalan menuju dapur. Dengan perasaan ragu, Karina bangun dan mengikuti Adit ke dapur setelah memastikan Adit tak ada di tempat tidurnya.
“Dit? Lo di sini? Dit? Adit?” Saat tangan Karina meraba dinding untuk mencari sakelar lampu, tiba-tiba Adit mencengkeram tangan dan menariknya.
“Dit, lo kena...” Adit mencekik leher Karina sebelum Karina selesai bicara.
“Kalian bilang gue orang selanjutnya, kan? Gimana kalau gue rusak polanya? Kalau lo mati duluan, berarti gue bakalan selamat, kan?” Adit mendorong keras tubuh Karina ke dinding. Tatapan matanya dingin tapi sangat tajam. Otot lengannya keluar keras untuk menekan leher Karina. Wajah Karina mulai membiru. Suaranya mengerang di tenggorokan. Tangannya berusaha menarik tangan Adit, tapi tenaganya berangsur-angsur hilang.
“Seharusnya lo diem dan biarkan kita semua mati bareng-bareng.” Mata Adit terlihat memerah. Amarahnya memuncak, membuat Karina kehabisan napas.
“Pyarrr!” Yogi memukul kepala Adit dengan vas bunga cukup besar, membuat Adit seketika melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Karina. Keduanya tergeletak tak berdaya. Adit merasa kesakitan ketika memegang kepalanya yang berdarah. Farhan segera membangunkan Karina dan memapahnya keluar. Yogi mengunci tubuh Adit dengan duduk di atas tubuhnya dan memukul wajahnya berkali-kali hingga Adit terlihat tak berdaya. Mereka bertiga segera berjalan ke depan untuk pergi dari rumah Yogi.
Setelah mencari kunci rumah dan mobil, Yogi dan Farhan memapah Karina berjalan keluar perlahan melewati kolam, ditemani hujan yang semakin deras dan kilat yang terus menyambar. Dengan wajah penuh darah, Adit berusaha mencegah mereka semua kabur dengan mendorong ketiganya ke dalam kolam. “Ayo kita mati bersama!” Teriak Adit.
“Byur...” Seketika air menelan dalam-dalam tubuh mereka berempat. Semua orang berlomba untuk naik ke permukaan. Di luar kesadarannya, Adit yang pertama kali muncul dan mengambil napas panjang lalu kembali ke dasar kolam untuk menarik kaki Karina. Yogi juga kembali ke dalam kolam setelah mengambil napas untuk membantu menarik Karina ke atas dengan terus menendang Adit. Setelah lepas dari cengkeraman Adit, Karina akhirnya muncul ke permukaan dalam keadaan lemas, hampir kehabisan napas berkali-kali. Farhan segera membantu Karina ke pinggir kolam. Sementara Yogi masih terus berkelahi dengan Adit di dalam air, saling mendorong ke bawah agar kehabisan napas. Keduanya terus berenang untuk naik ke permukaan, tetapi keduanya juga terus saling menekan dan melukai, bahkan saling mencekik.
Yogi dan Adit berhasil muncul ke permukaan; ketegangan mereda. Adit tersedak karena terlalu banyak air yang masuk ke dalam paru-parunya. Yogi tak bergerak setelah Farhan menarik tubuhnya ke darat. Dia tewas setelah kehabisan oksigen di dalam air.
“Adit berhasil merusak polanya. Apakah kita beneran diselamatkan?” Karina termangu-mangu duduk di ruang tunggu bersama Farhan. Sementara Adit berada di ruang rawat inap karena lukanya.
“Menurut gue, ada yang aneh sama Adit semalam. Tapi sudahlah. Kita udah diselamatkan.” Karina masih berusaha mencerna kejadian semalam.
“Kita pulang aja dulu. Besok kita jenguk Adit lagi. Semoga keadaannya membaik.” Farhan berusaha menenangkan Karina seakan mereka telah menemukan jalan keluar dari ancaman yang mengerikan.
“Pukul 23.50. Seorang pasien tewas gantung diri di kamar setelah berkali-kali teriak minta tolong.” Baru saja merasa tenang, Karina mendapat pesan dari Farhan pada hari selanjutnya.
“Adit tewas gantung diri.” Kata Farhan setelah mengirim pesan.
“Jadi, jika bukan dari umur, dari apa?” Karina memejamkan mata, menghela napas panjang. Baru semalam dia bisa tidur dengan tenang.
“Jadi, satu-satunya jalan keluar adalah kita harus mengambil bangkai kucingnya dan menguburkannya dengan layak?” Farhan bertanya kepada Karina.
“Ayo kita kembali ke sana! Persetan dengan pola kematian karena hanya tersisa kita berdua.” Karina membalas pesan grup yang anggotanya hanya tersisa mereka.
“Gue jemput jam tiga sore. Mobil gue lagi di bengkel.” Farhan menjawab tegas.
“Jangan terlalu malam plis! Kita harus sampai sebelum jam sebelas.” Karina kembali menekankan Farhan karena semua orang tewas pada pukul 23.50.
“Han! Hati-hati.” Karina menggenggam tali sabuk pengaman karena Farhan membawa mobil dengan kecepatan maksimal.
“Kita nggak ada waktu lagi.” Farhan sangat panik dan ketakutan karena tragedi yang menyisakan mereka berdua dari delapan orang.
“Han! Lo bisa bunuh kita berdua sekaligus... Hati-hati.” Karina semakin panik karena beberapa kali Farhan hampir menabrak karena ugal-ugalan.
“Udah lo diam aja. Gue masih pengen hidup.” Jalanan semakin menanjak dan berliku, tapi Farhan tetap membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
“Ini salah lo telat jemput gue, Han! Gue juga masih pengen hidup!” Karina ketakutan dan menyalahkan atas keterlambatan Farhan saat menjemputnya.
“Apa? Lo nyalahin gue? Kenapa lo nggak pergi sendiri aja tadi?” Farhan tak terima atas perkataan Karina.
“Kalau gue bisa nyetir, gue nggak bakalan ngarepin lo.” Mereka mulai cekcok di dalam mobil.
“Sakit jiwa, lo.” Farhan menekan pedal gas semakin dalam, membuat mobil melaju semakin kencang.
“Bip... Bip... Bip...” Terdengar suara klakson disusul sorot lampu dari arah berlawanan. Sebuah truk besar melaju di lajur yang salah, hampir kehilangan kendali di jalanan menurun tajam, membuat Farhan kaget. Sontak dia membanting setir ke kanan untuk menghindari truk tersebut. Dengan kecepatan tak wajar, truk menghantam bagian ekor mobil dan mendorongnya ke arah jurang.
“Duaarrrrr! Brak!” Mobil berhenti setelah sebuah pohon besar menahannya.
“Han, bangun. Han, bangun.” Karina merintih setelah beberapa menit pingsan dalam keadaan terjepit di bagian depan mobil yang menabrak pohon. Sementara Farhan telah tewas mengenaskan akibat beberapa pecahan kaca yang menancap di wajahnya dan tubuhnya terhimpit. Karina masih terus merintih, menangis kesakitan sekaligus ketakutan hebat. Dia berusaha melepaskan tubuhnya dan keluar dari mobil dengan sisa tenaganya. Setelah berhasil keluar, Karina merangkak ke atas jalan dalam keadaan bersimbah darah, tetap berusaha menuju lokasi bangkai kucing yang mereka buang. Setelah sampai di pinggir jalan, Karina menghindari kerumunan akibat kecelakaan sebelumnya. Dia tak ingin ada yang mencegah jalannya. Dia tak ingin terlambat.
Sebuah rumah dengan lampu temaram akhirnya terlihat setelah dia berjalan tertatih lebih dari setengah jam. Bau busuk semakin tercium menyengat dari semak-semak tak jauh di bawah jurang. Dengan mulut meringis menahan sakit, Karina meratap menuruni jurang sambil mencari pusat bau yang sudah pasti berasal dari bangkai kucing tersebut.
Setelah membabi buta mencari bangkai kucing, dia menemukannya sudah tak berbentuk. Karina segera melepas jaketnya yang penuh darah untuk membungkus kucing tersebut agar dia tak melihat bentuknya yang telah rusak. Setelah seluruh tubuh kucing tersebut terbungkus, Karina menggali tanah dengan batu, lalu menggantinya dengan kayu, dan menggantinya lagi dengan batu berkali-kali. Setelah dia merasa cukup dalam dan kehabisan tenaga, Karina meletakkan bangkai tersebut dan menguburkannya, lalu menancapkan kayu di atasnya sebagai tanda. Karina, yang energinya telah habis dan kesakitan, segera meletakkan tubuhnya di samping kuburan kucing itu dan menghembuskan napas panjang, merasa sangat lega.
“Karina, tolong saya...” Dalam keadaan setengah sadar, suara seseorang meminta tolong berbisik tepat di telinganya. Sontak matanya terbuka dan dia terperangah.