Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
“Tersesatlah wahai jiwa yang fana. Dalam kegelapan, kebenaran bertakhta.”
Langkah kaki telanjangku menghantam permukaan aspal yang basah dan dingin. Pasrah, terkoyak tajamnya kerikil dan pecahan kaca, meninggalkan jejak perih yang tak lagi kuhiraukan. Ada ketakutan yang jauh lebih pekat melilit dada, memaksa tungkaiku untuk terus memburu malam.
Sementara itu, nyanyian bernada magis terus bergema bagai bisikan gaib di dalam runguku. Ia datang bergelombang, memilin dinding-dinding otakku hingga rasanya hendak meledak. Bau kemenyan yang menjerat dan aroma amis darah seolah melumuri seluruh pori-pori kulitku.
Pandanganku buram. Bayangan kota meliuk-liuk menjadi samar, menyatukan cahaya lampu dan siluet manusia menjadi gumpalan kabut. Tubuhku limbung, menghantam sesosok pria tinggi hingga bunyi kaleng berdenting jatuh beradu dengan cairan dingin yang memercik ke lenganku.
"Woi, jalan pakai mata, dong!" bentak suara parau itu. Namun, makiannya tenggelam di bawah lengkingan nyanyian terkutuk yang kian nyaring di kepalaku.
Aku kembali limbung, menerobos kerumunan warga dengan sisa tenaga dan keputusasaan. Manikku menangkap tatapan ngeri mereka saat melihat sesosok wanita bertelanjang kaki dengan gaun putih bernoda darah, serta binar mata liar bagai jiwa yang kehilangan arah.
Aku melempar ragaku menyeberangi riaknya jalan raya. Seketika, sepasang pendar kuning yang menyilaukan membelah malam, merobek penglihatanku yang remang. Suara klakson menjerit panjang, berpadu dengan decitan rem yang menggerus aspal.
Braaak!
Triiiing! Triiiing!
Aku tersentak bangun. Napasku memburu, keringat dingin membasahi pelipis dan seragam dinas yang kukenakan. Tanganku refleks meraba dahi—bekas luka jahitan dari kecelakaan maut tiga tahun lalu itu terasa berdenyut ngilu.
Ponsel di samping laptopku berdering nyaring. Nama Ipda Gusti berkedip di layar. Aku menarik napas panjang untuk menetralkan detak jantung sebelum menggeser ikon hijau.
"Adisti!" Suara Gusti menyeruak dari speaker, terdengar terengah-engah. "Kamu di mana? Tertidur lagi di kantor?"
"Iya, aku baru saja bangun," bisikku sembari mengusap keringat di kening. "Aku mimpi buruk dan mendengar suara aneh itu lagi."
"Lupakan mimpimu dulu, Dis. Kita harus ke kamar mayat," potong Gusti serius. "Korban ketiga ditemukan. Dokter Aris baru saja menemukan petunjuk baru."
"Baik, aku ke sa...