Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
kutukan Bulan
2
Suka
7,524
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Jakarta pagi itu terasa lembap oleh sisa hujan semalam. Clara Amara melangkah cepat di trotoar Sudirman, tas kulit cokelatnya dipenuhi dokumen kuno untuk pameran museum esok hari. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan tertiup angin, tapi ia tak peduli. Sebagai kurator termuda di Museum Sejarah Nusantara, ia terbiasa berlari melawan waktu.

"Tolong, tunggu!" teriaknya pada tukang loak yang hendak menutup lapaknya di pinggir jalan. Matanya tertuju pada sebuah cermin persegi delapan dengan bingkai perunggu berukir naga. Ukirannya khas Dinasti Qing, tapi ada simbol aneh di sudutnya: **sepasang mata kucing yang menyala**.

"Berapa, Bang?" tanya Clara, jarinya hampir menyentuh permukaan kaca yang keruh.

"Lima ratus ribu," jawab si tukang loak sambil mengunyah sirih. "Barang ini kutemukan di gudang bekas rumah tua di Glodok. Katanya, pemilik sebelumnya tewas misterius. Tertarik?"

Clara mengerutkan kening. Sebagai ahli artefak, ia tahu cermin ini bukan sekadar barang antik—ada energi aneh yang memancar darinya. Tapi sebelum ia bisa menolak, angin tiba-tiba bertiup kencang. **Suara perempuan** berbisik dari dalam cermin:

"Bawa aku pulang…"

Dada Clara sesak. Tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan uang dan menggenggam cermin itu.

**Museum Sejarah Nusantara, pukul 15.00**

Di ruang arsip bawah tanah, Clara mengusap debu dari cermin dengan kain mikrofiber. Simbol mata kucing itu kini jelas terlihat, menyala lembut dalam gelap.

"Kau tidak seharusnya di sini," gumamnya, jari telunjuknya menelusuri ukiran naga.

Tiba-tiba, **percikan biru** menyambar dari cermin. Clara terpental ke belakang, punggungnya membentur rak besi. Suhu ruangan anjlok. Di permukaan kaca, bayangannya berubah: seorang perempuan dengan telinga runcing dan mata hijau menyala sedang tersenyum sinis.

*"Clara… akhirnya kita bertemu,"* suara itu bergema, menusuk tulang telinganya. *"Kau adalah keturunan terakhir Kirana. Bersiaplah."*

"Bersiap untuk apa? Siapa kau?!" t...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp3.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Fear Under Spotlight
Nilakandi Lazuardi
Novel
Bronze
End in lovE
Rian Widagdo
Cerpen
Bronze
kutukan Bulan
Taufik reja waluya
Novel
Today Will Be Fine
Viola Zesica Sari
Novel
Spring Breeze
Ratna Aleefa
Novel
Terpaksa Menikahi Om-Om
Durratul Hikmah
Flash
Bronze
Putus
Athea Magnolia
Flash
Lebih Baik Jangan
Seraphine Alana
Flash
Bronze
Janji di Stasiun
Risti Windri Pabendan
Flash
Kisah Tanpa Tokoh Utama
MHD Yasir ramadhan
Cerpen
Bronze
Kamu dan Takdir
Ilfina Azka Najah
Cerpen
Bronze
Janji Kelinci
aksara_g.rain
Novel
Gold
Helen Dan Sukanta
Mizan Publishing
Novel
URANUS
Cahaya Aisyah
Novel
Autumn In Your Heart
Some Landry
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
kutukan Bulan
Taufik reja waluya
Cerpen
Cinta kucing
Taufik reja waluya
Cerpen
Introvert me
Taufik reja waluya
Cerpen
Penyihir bulan dan kucing ajaib
Taufik reja waluya
Cerpen
Cahaya di Balik Ranting
Taufik reja waluya
Novel
Avicenna : The alchemist of knowledge
Taufik reja waluya