Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Kurir Dua Dunia
0
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Nama saya Dani. Umur saya 30 tahun. Bagi sebagian orang, malam hari adalah waktu untuk melepas lelah, berkumpul dengan keluarga, atau tidur nyenyak di bawah selimut. Tapi bagi saya, dan mungkin bagi ribuan driver ojek online di luar sana, malam hari adalah waktu taruhan. Waktu di mana kami bertaruh dengan rasa kantuk, bertaruh dengan keselamatan di jalan, demi beberapa rupiah tambahan yang sering kali habis hanya untuk membeli bensin dan segelas kopi hitam.

Malam itu, jarum jam di pergelangan tangan saya sudah menunjuk ke angka 11.45. Saya sedang memarkir motor di depan sebuah ruko waralaba yang sudah tutup di pinggiran daerah Karawang. Jalanan di depan saya basah, menyisakan kilapan aspal sisa hujan sore hari yang belum sepenuhnya kering. Udara malam terasa dingin menusuk jaket seragam hijau saya yang sudah mulai pudar warnanya.

Saya mengusap wajah yang lelah. Hari itu, akun saya benar-benar 'anyep'. Sejak pagi buta saya keluar rumah, saya baru mendapatkan tiga orderan pendek. Total pendapatan saya hari itu bahkan tidak cukup untuk menutupi biaya sewa motor harian yang saya pinjam dari tetangga. Sementara di rumah, istri saya pasti sedang cemas menunggu. Ibu saya yang menderita komplikasi diabetes butuh obat yang harganya tidak murah, dan tagihan pinjol ilegal yang saya ambil dua bulan lalu kini sudah membengkak menjadi tiga kali lipat karena bunga yang tidak masuk akal.

Beberapa kali saya melihat layar handphone yang dijepit di stang motor. Baterainya tinggal sekitar 80%, tapi aplikasi ojol saya tetap hening. Di jalanan, satu dua motor melintas dengan kecepatan tinggi. Setiap kali ada motor ojol lain yang lewat dengan membawa penumpang atau kotak makanan di belakangnya, ada rasa iri sekaligus putus asa yang menusuk dada saya. Kenapa jalan orang lain kelihatan begitu lancar, sementara jalan saya seperti tertutup tembok tebal?

Saya merogoh saku, mengambil sebatang rokok terakhir yang sudah agak patah, lalu menyalakannya. Asapnya mengepul, langsung buyar ditiup angin malam. Saya tahu, seharusnya saya pulang. Tubuh saya sudah protes. Bahu saya kaku, dan mata saya sudah mulai perih karena seharian terpapar debu jalanan. Tapi batin saya menolak. Kalau saya pulang sekarang dengan tangan hampa, besok pagi pintu rumah saya pasti akan digedor lagi oleh orang-orang berbadan tegap yang tidak mau tahu apakah kami punya uang atau tidak.

Saya menatap langit malam yang mendung tanpa bintang. Dalam hati, saya mulai mengeluh. Saya mempertanyakan keadilan. Saya selalu berusaha jujur. Saya tidak pernah mengurangi timbangan, saya tidak pernah mencurangi sistem aplikasi, dan saya selalu memperlakukan pelanggan dengan sopan. Tapi kenapa hidup saya justru semakin terperosok ke dalam lubang hitam yang tidak ada ujungnya?

Tepat ketika puntung rokok saya injak di atas tanah, handphone saya tiba-tiba bergetar hebat. Getarannya berbeda dengan getaran panggilan telepon biasa. Layarnya yang tadinya redup mendadak menyala terang benderang, memancarkan cahaya putih yang agak menyilaukan mata saya yang sudah lelah.

Saya langsung mendekatkan wajah ke layar handphone. Di sana tertera sebuah orderan baru. Bukan orderan penumpang, bukan juga orderan makanan, melainkan layanan pengantaran barang instan. Sebuah paket yang harus diantar malam itu juga.

Namun, ada tiga hal yang membuat bulu kuduk saya tiba-tiba berdiri, meskipun saat itu saya belum menyadari bahwa itu adalah tanda bahaya.

Pertama, nilai tarifnya. Di layar tertulis angka argo yang sangat tidak masuk akal untuk jarak pengantaran yang tertera. Nilainya hampir lima kali lipat dari tarif normal malam hari. Angka itu langsung membuat mata saya yang mengantuk menjadi segar bugar. Dengan uang sebesar itu, saya bisa melunasi sisa sewa motor minggu ini dan membelikan obat untuk ibu saya besok pagi.

Kedua, nama pelanggan yang memesan layanan tersebut. Biasanya, nama pengguna akan tertulis dengan jelas, entah itu nama lengkap atau nama panggilan. Tapi malam itu, di kolom nama pemesan, hanya ada satu huruf kapital yang tegak lurus: 'N'. Tanpa ada foto profil, tanpa ada penilaian bintang, kosong.

Dan yang ketiga, titik penjemputan barang. Titiknya berada di sebuah area yang saya tahu betul adalah kompleks ruko tua yang sudah terbengkalai dan telantar sejak krisis moneter tahun 1998. Kompleks ruko yang sebagian bangunannya sudah tertutup semak belukar dan pohon liar.

Akal sehat saya sempat berbisik, 'Jangan diambil, Dani. Ini aneh. Jam segini, argo sebesar itu, di tempat mati pula. Bisa-bisa ini orderan fiktif, atau lebih buruk lagi, kamu mau dibegal.' Kasus pembegalan driver ojol di daerah pinggiran memang sedang marak-maraknya waktu itu.

Tetapi, keputusasaan adalah sahabat terbaik dari kenekatan. Ketika kamu tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup, ketakutanmu terhadap hal-hal gaib atau kejahatan manusia mendadak luntur oleh tuntutan perut. Saya melihat angka argo itu sekali lagi. Saya menelan ludah. 'Persetan dengan begal,' pikir saya waktu itu. 'Kalau memang harus mati malam ini, setidaknya saya mati saat berusaha mencari nafkah untuk keluarga.'

Dengan tangan yang sedikit gemetar, jempol saya menekan tombol 'Terima Orderan'. Aplikasi langsung memprosesnya. Layar berubah menampilkan rute perjalanan menuju titik penjemputan.

Saya memakai helm, memutar kunci kontak, dan menyalakan mesin motor. Suara mesin matic tua saya terdengar membelah kesunyian malam. Saya memutar gas, membiarkan motor bergerak menyusuri jalanan utama yang semakin sepi, sebelum akhirnya berbelok ke arah kanan, menuju jalan masuk kompleks ruko tua yang dimaksud.

Jalan masuk ke kompleks itu tidak diterangi oleh lampu jalan satu pun. Hanya ada cahaya dari lampu utama motor saya yang bergoyang-goyang mengikuti permukaan jalan yang hancur dan berlubang. Kanan kiri jalan adalah ilalang tinggi yang sesekali bergesekan dengan kaki saya ketika motor melintas. Suara jangkrik yang tadinya ramai terdengar di sepanjang jalan utama, entah kenapa, perlahan-lahan mulai memudar, digantikan oleh kesunyian yang tebal dan berat.

Setelah berkendara sekitar lima menit, saya sampai di titik penjemputan. Di depan saya berdiri sebuah bangunan ruko dua lantai dengan cat yang sudah mengelupas sepenuhnya. Dinding beralih fungsi menjadi kanvas bagi lumut hitam dan coretan-coretan usang. Pintunya yang terbuat dari besi gulung (rolling door) sudah berkarat dan penyok di beberapa bagian, menyisakan celah gelap di bawahnya.

Saya menghentikan motor, tapi sengaja tidak mematikan mesin. Tangan saya tetap bersiaga di gagang gas, berjaga-gaja jika tiba-tiba ada orang yang keluar dari kegelapan dengan membawa senjata tajam.

"Permisi... paket?" suara saya terdengar parau, tenggelam dalam keheningan tempat itu.

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara angin yang berembus pelan, menggoyang daun-daun pohon tua di belakang ruko.

Saya berniat untuk membatalkan orderan tersebut melalui aplikasi karena mengira ini benar-benar jebakan. Namun, tepat ketika saya mengangkat handphone, pintu besi ruko yang berkarat itu tiba-tiba bergerak naik dengan suara derit yang memilukan telinga.

Dari balik kegelapan ruko, muncul sepasang kaki. Kaki itu melangkah perlahan keluar, mendekati sorot lampu motor saya. Itu adalah seorang pria. Tubuhnya tinggi tegap, mengenakan jaket kulit hitam legam yang potongannya terlihat sangat usang, mirip model pakaian era tahun delapan puluhan atau sembilan puluhan awal. Wajahnya tertutup oleh bayangan topi pet yang ia kenakan agak turun ke bawah.

Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia tidak menyapa saya, tidak juga tersenyum. Tangannya yang berkulit pucat kekuningan menjulur ke depan, menyodorkan sebuah kotak kardus kecil berukuran sekitar 20 × 20 cm. Kotak itu dibungkus dengan sangat rapi menggunakan lakban hitam di seluruh permukaannya, seolah-olah apa yang ada di dalamnya tidak boleh terkena udara luar sedikit pun.

"Atas nama N, Pak?" tanya saya, mencoba memastikan dengan suara yang diusahakan seberani mungkin.

Pria itu tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Dia hanya menunjuk ke satu arah menggunakan jari telunjuknya yang kaku. Dia menunjuk ke sebuah jalan setapak kecil di samping ruko, sebuah jalan tanah yang mengarah langsung ke dalam hutan bambu lebat yang gelap gulita.

Saya melihat ke arah jalan setapak itu, lalu melihat kembali ke arah pria berjaket hitam. Tapi betapa terkejutnya saya, ketika saya menoleh kembali, ruko di depan saya sudah tertutup rapat. Pria itu lenyap. Tidak ada suara pintu besi yang ditutup, tidak ada langkah kaki yang menjauh. Dia hilang begitu saja seperti asap yang ditiup angin.

Jantung saya mulai berdetak dua kali lebih cepat. Keringat dingin mulai keluar dari balik helm saya. Saya melihat kotak kardus hitam di tangan saya. Kotak itu terasa sangat dingin, seperti baru saja dikeluarkan dari dalam lemari es. Dan anehnya, dari sela-sela lakban hitam itu, tercium bau yang sangat tipis namun menusuk hidung, bau wangi bunga kantil yang bercampur dengan bau tanah yang busuk.

Seharusnya saya membuang paket itu. Seharusnya saya memutar balik motor dan memacu kendaraan sejauh mungkin dari tempat itu. Tetapi, ketika saya melihat kembali ke layar handphone, aplikasi ojol saya menampilkan sesuatu yang aneh. Garis petunjuk arah yang biasanya berwarna hijau atau biru, kini berubah menjadi warna merah tua. Jarak pengantaran yang tadinya tertera beberapa kilometer, mendadak berubah menjadi angka nol meter, namun panah navigasinya terus menunjuk ke dalam jalan setapak di tengah hutan bambu tersebut.

Di bagian bawah layar, nilai argo yang tadinya sudah besar, kini terus bergerak naik seperti angka di mesin pompa bensin yang sedang mengisi bahan bakar. Angka-angka itu berputar cepat, melompati batas kewajaran, hingga berhenti di sebuah nominal yang cukup besar untuk melunasi seluruh beban pikiran saya.

Melihat angka itu, ketakutan saya yang tadinya setinggi gunung, mendadak runtuh oleh kebutuhan dan keputusasaan yang bercampur jadi satu. Saya meletakkan kotak kardus hitam itu di kompartemen depan motor, tepat di bawah stang. Saya menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu mengarahkan lampu motor saya ke jalan setapak tanah merah tersebut.

"Demi anak istri, Dani. Demi pengobatan ibu," bisik saya pada diri sendiri, mencoba mencari kekuatan atas tindakan nekat yang akan saya lakukan.

Motor saya mulai bergerak maju, memasuki celah di antara rumpun-rumpun bambu yang lebat. Begitu roda depan motor menggilas tanah merah jalan setapak itu, suasana langsung berubah secara drastis. Udara yang tadinya dingin biasa, mendadak berubah menjadi sedingin es, hingga napas yang saya keluarkan dari mulut membentuk uap putih tipis.

Hutan bambu itu seperti tidak ada habisnya. Pohon-pohon bambu di kanan kiri jalan tumbuh begitu rapat, melengkung ke atas saling bertautan, membentuk semacam terowongan alami yang menutup langit sepenuhnya. Cahaya lampu motor saya adalah satu-satunya sumber penerangan di tempat itu. Di luar jangkauan lampu, kegelapannya begitu pekat, seolah-olah ada sesuatu yang padat dan hidup sedang mengawasi saya dari balik batang-batang bambu.

Saya terus berkendara dengan kecepatan rendah, menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh di atas tanah merah yang licin. Saya sesekali melirik ke arah handphone. Sesuatu yang buruk mulai terjadi. Indikator sinyal di pojok kanan atas layar perlahan-lahan turun: tiga bar, dua bar, satu bar, hingga akhirnya muncul tanda silang merah. Sinyal hilang total.

Tidak lama setelah sinyal hilang, kompas navigasi di aplikasi mulai berputar-putar tidak terkendali. Panah birunya berputar searah jarum jam dengan sangat cepat, lalu layar handphone saya mendadak berkedip beberapa kali sebelum akhirnya meredup dan mati total. Saya mencoba menekan tombol power berulang kali, tapi handphone itu tetap bergeming, dingin dan mati, seolah-olah daya baterai yang tadinya masih banyak telah tersedot habis oleh kekuatan yang tidak terlihat.

Di saat itulah, kepanikan yang sesungguhnya mulai menyerang mental saya. Tanpa handphone, seorang kurir ojol seperti kehilangan kompas di tengah samudra. Saya tidak tahu saya berada di mana, saya tidak tahu seberapa jauh saya sudah masuk, dan saya tidak tahu jalan pulang.

Saya memutuskan untuk berhenti dan memutar balik. Namun, ketika saya memutar stang motor dan mengarahkan lampu ke arah belakang, jantung saya rasanya seperti berhenti berdetak.

Jalan setapak tanah merah yang baru saja saya lewati sudah tidak ada. Di belakang saya, yang ada hanyalah barisan rumpun bambu yang tumbuh sangat rapat, seolah-olah jalan setapak itu baru saja ditutup oleh dinding tanaman yang kokoh. Tidak ada celah sedikit pun untuk motor saya lewat kembali.

Saya terjebak. Saya berada di sebuah ruang yang tidak saya kenal, terputus dari dunia luar, sendirian dalam kegelapan.

Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah terus maju, mengikuti ke mana pun jalan setapak di depan saya mengarah. Saya memacu motor kembali, kali ini dengan perasaan pasrah yang teramat sangat. Di dalam hati, saya tidak berhenti merapalkan doa-doa keselamatan yang saya ingat sejak kecil.

Setelah berkendara yang rasanya seperti berjam-jam, kabut tebal tiba-tiba turun dari atas terowongan bambu. Kabut itu berwarna putih keabu-abuan, sangat tebal, hingga saya tidak bisa melihat roda depan motor saya sendiri. Saya terpaksa menghentikan motor dan menuntunnya berjalan kaki, melangkah selangkah demi selangkah dalam kebutaan visual.

Tiba-tiba, di tengah keheningan yang mencekam itu, saya mendengar suara. Bukan suara hantu yang tertawa atau menangis, melainkan suara riuh rendah seperti suasana di sebuah tempat keramaian. Ada suara tawa anak-anak, suara denting logam, dan suara orang-orang yang sedang bercakap-cakap.

Kabut di depan saya perlahan-lahan mulai menipis, memudar tertiup angin yang entah datang dari mana. Dan ketika pandangan saya kembali bersih, saya mendapati diri saya berdiri di ujung sebuah jalan berbatu yang rapi. Di depan saya, terhampar sebuah dunia yang sama sekali tidak masuk akal.

Saya terperangah, berdiri kaku di samping motor saya. Di hadapan saya tidak ada hutan, tidak ada ruko tua, melainkan sebuah kompleks pemukiman dan pasar tradisional yang sangat luas namun memiliki nuansa yang sangat ganjil.

Arsitektur bangunan di tempat itu bergaya jadul, mirip dengan suasana kota-kota kecil di Indonesia pada era tahun delapan puluhan. Kios-kios penutupnya terbuat dari papan kayu yang dicat warna hijau tua atau biru pudar yang sudah kusam. Lampu-lampu yang menerangi tempat itu bukan lampu neon putih, melainkan deretan bohlam kuning redup yang digantung di langit-langit selasar pasar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di atas tanah.

Jalanannya terbuat dari susunan batu kali yang tertata rapi, bersih tanpa ada sampah sedikit pun. Tempat itu sangat ramai. Puluhan, bahkan mungkin ratusan orang berjalan hilir mudik di sela-sela kios pasar. Tetapi, ada satu kejanggalan besar yang membuat bulu kuduk saya merinding hebat: tidak ada satu pun suara di pasar itu.

Pasar itu beroperasi dalam kesunyian yang mutlak. Mereka bertransaksi menggunakan bahasa isyarat tangan. Para pedagang menggelar barang dagangan mereka di atas kain jarik usang. Dan barang-barang yang dijual pun sangat tidak lazim, ada tumpukan perhiasan kuno yang sudah berkarat, kain kafan yang warnanya sudah menguning, jam dinding kuno berukuran besar yang jarum panjangnya berputar terbalik dengan cepat, hingga sesajen berupa bunga tujuh rupa yang diletakkan di dalam mangkuk tanah liat.

Orang-orang yang berjalan di sana mengenakan pakaian adat Jawa kusam, seperti baju lurik dan kain batik untuk pria, serta kebaya lawas untuk wanita. Ketika saya menuntun motor saya melewati kerumunan itu, beberapa dari mereka menoleh ke arah saya.

Saat itulah saya melihat wajah mereka dengan jelas. Kulit mereka pucat, seolah-olah tidak pernah tersentuh sinar matahari seumur hidup. Mata mereka hitam legam, tanpa ada bagian putihnya, dan tatapan mereka lurus, kosong, menembus tubuh saya seakan-akan saya hanyalah selembar kaca transparan. Yang lebih membuat saya gemetar, langkah kaki mereka tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka berjalan seperti mengambang, beberapa sentimeter di atas permukaan jalan berbatu.

Saya memeluk kotak kardus hitam di dada saya erat-erat. Motor matic saya terasa seperti benda asing yang sangat mencolok di tempat itu. Saya ingin lari, tapi tidak tahu ke mana arah jalan keluar. Kaki saya seperti dipandu oleh kekuatan lain, menuntun saya berjalan menyusuri lorong pasar yang panjang, menuju ke sebuah ruko paling ujung yang terletak di bawah pohon beringin raksasa.

Ruko itu berbeda dengan kios lainnya. Bangunannya terbuat dari batu bata merah tanpa plester, dengan pintu kayu jati besar yang terbuka lebar. Di depan ruko itu, berdiri seorang wanita paruh baya. Badannya lurus tegap, mengenakan kebaya hitam beludru yang terlihat sangat mewah namun kuno. Rambutnya disanggul rapi khas perempuan zaman dulu, dihiasi sebatang tusuk konde berwarna emas.

Wanita itu berdiri diam, menghadap ke arah kedatangan saya. Dan ketika jarak saya tinggal beberapa meter darinya, saya menyadari satu hal yang membuat lutut saya lemas: kedua matanya tertutup rapat, kelopak matanya dijahit menggunakan benang hitam kasar. Dia tidak bisa melihat, tapi dia tahu persis posisi saya berdiri.

Dengan tangan yang gemetar hebat hingga hampir menjatuhkan paket, saya melangkah mendekatinya. Suara saya tercekat di tenggorokan, namun saya paksakan untuk keluar.

"Permisi... paket, Bu. Atas nama N," kata saya, terbata-bata.

Wanita berkonde itu tidak menjawab. Dia hanya mengulurkan kedua tangannya yang berkulit keriput ke depan. Saya meletakkan kotak itu di atas telapak tangannya.

Begitu kotak itu berpindah tangan, wanita itu meraba permukaan kardus dengan lembut, seolah-olah sedang menyentuh barang yang sangat berharga. Dia kemudian merobek lakban hitam yang membungkus kotak itu menggunakan kuku jempolnya yang tajam dengan satu gerakan cepat.

Dari dalam kotak, dia mengeluarkan sebuah jam kantong kuno berwarna perak yang jendelanya sudah retak. Jam itu tidak berdetak, jarumnya mati di angka dua belas tepat. Wanita itu mendekatkan jam tersebut ke telinganya yang tidak tertutup rambut, lalu tersenyum.

Senyumnya sangat lebar, terlalu lebar untuk ukuran manusia normal. Detik itu juga, jam kantong di tangannya tiba-tiba mulai berdetak kembali. Tik... tok... tik... tok... suara detaknya terdengar sangat keras, menggema di dalam kepala saya, mengalahkan suara riuh bisu pasar di belakang saya.

"Terima kasih, anak muda," wanita itu akhirnya bersuara. Suaranya terdengar sangat lembut, bernada keibuan, namun memiliki getaran dingin yang langsung mencengkram tengkuk saya dan membuat seluruh otot saya kaku. "Kamu sudah mengantarkan waktu saya yang hilang. Waktu yang selama ini tertahan di dunia atas."

Dia melangkah mundur ke dalam kegelapan rukonya. Beberapa detik kemudian, dia keluar kembali sambil menyeret dua buah karung kain tebal berwarna putih kusam, seperti karung beras zaman dulu. Karung-karung itu diikat rapat pada bagian ujungnya menggunakan tali tambang plastik berwarna kuning.

"Ini adalah upah untuk keberanianmu, dan tip untuk perjalananmu yang jauh," kata wanita itu sambil menunjuk ke arah dua karung besar di lantai. "Bawa ini pulang ke rumahmu. Tapi ingat pesanku dengan baik, jika kamu ingin selamat: jangan pernah membuka ikatan karung ini sebelum kamu mengunci pintu rumahmu sendiri. Dan jangan pernah ceritakan dari mana kamu mendapatkan harta ini kepada siapa pun selama tiga hari tiga malam."

Saya tidak mampu berkata-kata lagi. Saya hanya mengangguk cepat seperti orang linglung. Saya membungkuk, mengangkat kedua karung itu satu per satu, lalu meletakkannya di jok belakang motor saya. Anehnya, saat saya angkat, karung-karung besar itu terasa sangat ringan, seperti hanya berisi tumpukan kapas atau daun kering. Saya mengikatnya kuat-kuat menggunakan tali karet ban yang biasa saya bawa di bagasi motor.

Setelah karung terikat aman, wanita itu kembali berbisik, "Sekarang, pulanglah. Sebelum pasar ini tutup, dan sebelum kamu menjadi bagian dari kami."

Dia melambaikan tangannya yang pucat. Seketika itu juga, embusan angin bertiup dari dalam ruko, menerbangkan debu dan kabut tebal yang kembali menyelimuti pandangan saya. Kompleks pasar lawas, lampu-lampu bohlam kuning, dan wanita bermata jahit itu lenyap dalam sekejap. Kepala saya mendadak terasa sangat pusing, seolah-olah otak saya berputar di dalam tempurung kepala. Pandangan saya memutih, dan kesadaran saya hilang sepenuhnya.

Saya terbangun karena merasakan guncangan keras di bahu saya. Ada suara-suara yang akrab di telinga saya, memanggil-manggil nama saya dengan nada panik.

"Kang Dani! Kang! Bangun, Kang! Istigfar, Kang!"

Saya membuka mata dengan perlahan. Cahaya matahari pagi yang terik langsung menusuk pupil mata saya, membuat saya terpaksa menyipitkan mata. Saya mendapati diri saya tergeletak di atas tanah berumput di pinggir jalan raya utama perbatasan desa, masih dalam posisi memeluk stang motor saya yang roboh ke samping.

Di sekeliling saya, ada tiga orang teman sesama driver ojol dan beberapa warga setempat yang sedang memandangi saya dengan wajah pucat dan cemas. Salah satu teman saya, namanya Imam, langsung menyodorkan sebotol air mineral ke mulut saya.

"Minum dulu, Dani. Kamu dari mana saja?" tanya Imam dengan tangan yang gemetar.

Saya meminum air itu dengan cepat. Tenggorokan saya rasanya seperti padang pasir yang kering. Setelah napas saya agak teratur, saya memandangi sekeliling saya dengan kebingungan yang teramat sangat. Jalanan ini adalah jalanan utama yang biasa saya lewati. Jam di tangan saya menunjukkan pukul tujuh pagi.

"Saya... saya baru saja mengantar paket semalam, Imam. Terus saya ketiduran di sini karena kecapekan," kata saya, mencoba membela diri.

Mendengar ucapan saya, Imam dan warga saling berpandangan dengan tatapan ngeri. Imam menggelengkan kepalanya dengan kuat.

"Semalam apa maksudmu, Dani? Kamu itu sudah hilang misterius selama tiga hari tiga malam! Akun kamu mati, handphone kamu gak bisa dihubungi, dan motormu terakhir kali terekam CCTV kompleks ruko mati di perbatasan hari Selasa malam. Sekarang sudah hari Jumat pagi, Dani! Istri kamu sudah menangis terus, bahkan semalam warga baru saja menggelar pengajian yasinan di rumahmu karena mengira kamu diculik atau dibegal!"

Kata-kata Imam rasanya seperti hantaman keras di dada saya. Tiga hari tiga malam? Bagaimana mungkin? Di ingatan saya, saya baru saja memasuki hutan bambu itu semalam suntuk. Saya hanya berada di pasar retro itu tidak lebih dari satu jam. Bagaimana bisa waktu di dunia nyata berjalan secepat itu?

Di tengah kepanikan itu, ingatan saya langsung tertuju pada satu hal: dua karung dari wanita bermata jahit.

Saya langsung menoleh ke bagian belakang motor saya yang masih roboh. Di sana, terikat kuat pada jok belakang, dua buah karung kain putih kusam yang diikat tali tambang kuning masih ada di tempatnya. Karung-karung itu tidak hilang.

Namun, ketika saya mencoba menegakkan motor saya, saya hampir saja terjatuh karena tidak kuat menahan bebannya. Karung yang semalam terasa seringan kapas saat berada di alam gaib, kini berubah menjadi sangat berat, seolah-olah masing-masing karung berisi satu kuintal semen padat. Ban belakang motor saya sampai amblas mendatar karena menahan beban yang luar biasa berat itu.

Melihat karung misterius itu, warga dan teman ojol saya mulai bertanya-tanya dengan curiga.

"Itu isi karungnya apa, Kang Dani? Berat banget kelihatannya. Paket yang kamu antar semalam?" tanya seorang warga.

Teringat akan pesan dan syarat mutlak dari wanita ghaib itu, saya langsung menggelengkan kepala dengan cepat. Saya memaksakan diri untuk tersenyum meskipun wajah saya pucat pasi.

"Ah, ini... ini cuma barang bekas titipan orang, Pak. Kemarin saya dititipi di jalan untuk dibawa pulang. Tolong, bantu saya tegakkan motor saja, saya harus segera pulang ke rumah. Istri saya pasti sudah cemas menunggu," kilah saya.

Dengan bantuan Imam dan warga, motor saya akhirnya bisa ditegakkan. Saya tidak memedulikan rasa pusing yang masih ada di kepala saya. Saya memutar kunci kontak, menyalakan mesin motor yang untungnya langsung hidup, lalu memutar gas perlahan. Motor saya berjalan dengan sangat lambat dan berat, bergoyang ke kanan dan ke kiri karena beban di bagian belakang yang sangat besar.

Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah kontrakan saya yang berjarak sekitar tiga kilometer, pikiran saya berkecamuk. Antara rasa tidak percaya, rasa takut, dan setitik harapan yang mulai tumbuh di dasar hati saya. Apakah isi karung ini benar-benar harta yang bisa menyelamatkan hidup saya, ataukah ini adalah awal dari masalah yang lebih besar?

Begitu saya sampai di depan pagar rumah kontrakan saya yang sempit, istri saya langsung berlari keluar dari pintu dengan mata yang sembab dan bengkak. Dia menjerit, memeluk saya erat-erat sambil menangis. Dia mengira saya sudah tidak ada. Ibu saya yang duduk di kursi roda di dalam rumah juga meneteskan air mata, bibirnya komat-kamit memanjatkan doa syukur.

Saya menenangkan istri saya, menghapus air matanya, lalu meminta bantuannya untuk menurunkan kedua karung besar dari jok motor dengan sangat hati-hati. Istri saya sempat terkejut melihat berat karung tersebut. Kami berdua harus mengerahkan seluruh tenaga untuk menggotong karung itu masuk ke dalam ruang tamu yang sempit.

Setelah kedua karung berada di dalam, saya langsung menutup rapat semua jendela, menarik gorden kain hingga tidak ada celah bagi orang luar untuk mengintip, dan mengunci pintu depan dari dalam menggunakan slot besi.

Istri saya memandangi saya dengan tatapan penuh tanda tanya yang campur aduk dengan rasa takut.

"Mas... kamu dari mana saja? Dan... karung besar ini isinya apa? Kamu gak melakukan hal yang dilarang agama kan, Mas?" tanya istri saya dengan suara yang bergetar. Dia melihat seragam ojol saya yang kotor terkena tanah merah dan bau aneh yang masih menempel di tubuh saya.

Sesuai dengan syarat dari wanita ghaib itu, saya tidak boleh menceritakan dari mana asal uang ini selama tiga hari tiga malam. Saya memegang kedua bahu istri saya, menatap matanya dengan serius.

"Dek, tolong dengerin Mas. Mas gak bisa cerita apa-apa sekarang. Mas minta kamu percaya sama Mas, Mas gak nyolong, Mas gak melihara pesugihan, Mas gak merampok. Tolong jangan tanya apa pun tentang dari mana karung ini berasal sampai tiga hari ke depan. Sekarang, bantu Mas buka karung ini," kata saya dengan nada yang serius.

Istri saya akhirnya mengangguk pasrah. Saya mengambil sebuah gunting kecil dari dapur, lalu memotong tali tambang plastik kuning yang mengikat kuat ujung karung goni pertama.

Dengan tangan yang gemetar hebat dan jantung yang berdegup kencang, saya membuka lebar-lebar mulut karung kain tersebut. Kami berdua melihat ke dalam untuk memastikan isinya.

Napas kami berdua seolah terhenti.

Karung pertama itu berisi penuh... benar-benar penuh hingga ke dasar dengan tumpukan uang kertas. Tapi bukan uang kuno atau daun kering, melainkan tumpukan gepokan uang kertas pecahan seratus ribu rupiah emisi terbaru yang berwarna merah menyala. Uang itu masih sangat baru, kaku, dan rapi diikat pita Bank Indonesia. Karung kedua juga sama, penuh dengan pecahan lima puluh ribu rupiah biru yang masih wangi kertas baru.

Istri saya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya kembali meleleh karena syok yang luar biasa.

"Mas... ini... ini uang asli? Kamu gak ngerampok bank kan, Mas?" bisik istri saya dengan suara yang nyaris hilang.

Saya mengambil selembar uang seratus ribu itu. Saya raba cetakannya yang timbul, saya cek benang pengamannya, bahkan saya senter pakai lampu UV milik toko sebelah, semuanya lolos. Uang itu seratus persen asli.

Namun, ketika saya menyusun gepokan uang itu di lantai untuk dihitung, saya menemukan sebuah kejanggalan yang membuat bulu kuduk saya berdiri hebat. Semua uang di dalam dua karung itu memiliki nomor seri yang sama persis.

Jika lembar pertama memiliki nomor seri ABC123456 , maka ribuan lembar uang seratus ribu lainnya di dalam karung tersebut nomor serinya juga ABC123456.

Secara hukum fisika dan perbankan di dunia nyata, ini sangat mustahil. Bank Indonesia tidak pernah mencetak dua uang dengan nomor seri yang sama. Jika saya nekat menyetorkan uang ini ke bank dalam jumlah banyak sekaligus, mesin otomatis bank akan langsung mendeteksinya sebagai sistem kesalahan atau penggandaan ilegal, dan saya bisa ditangkap polisi dengan tuduhan pemalsuan uang, padahal fisik kertasnya murni asli.

Karena ketakutan dengan nomor seri kembar itu, saya terpaksa menggunakan uang tersebut dengan sangat hati-hati dan diecer sedikit demi sedikit secara tunai agar tidak memicu kecurigaan orang lain.

Saya membayar utang pinjaman online saya secara tunai kepada debt collector yang datang ke rumah dengan lembaran uang itu. Saya membelikan obat ibu saya secara tunai di berbagai apotek yang berbeda setiap minggunya, dan istri saya menggunakannya untuk belanja kebutuhan pokok di pasar tradisional dalam jumlah kecil agar nomor seri yang sama tidak disadari oleh pedagang biasa.

Secara ekonomi, hidup kami langsung berubah total, berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua utang yang sempat meneror hidup saya langsung lunas, membuat para penagih utang itu terdiam. Ibu saya akhirnya bisa mendapatkan pengobatan medis terbaik di rumah sakit hingga kondisinya berangsur-angsur membaik. Saya juga membeli rumah kontrakan yang kami tempati saat ini secara sah, mengubahnya menjadi rumah yang layak huni, dan membuka sebuah usaha toko sembako yang cukup besar untuk dikelola oleh istri saya.

Saya tidak lagi keluar malam untuk menarik ojek online. Jaket hijau ojol saya kini tersimpan di dalam lemari pakaian, sebagai pengingat akan masa-masa sulit yang pernah kami lalui.

Semua orang di desa mengira saya mendapatkan warisan mendadak dari keluarga jauh, atau sukses besar dari bisnis online. Saya membiarkan mereka percaya dengan spekulasi tersebut. Hidup kami kini tenang, damai, dan berkecukupan. Dua karung goni itu kini tersimpan di dalam sebuah brankas besi yang tersembunyi di balik dinding kamar tidur saya, isinya masih sangat banyak.

Namun... tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, terlebih jika hal itu melibatkan pemberian dari dunia yang tidak kasat mata.

Cerita ini mungkin terdengar memiliki akhir yang bahagia seperti di dongeng-dongeng. Tetapi, kenyataan yang saya hadapi setiap malam kini mulai mengikis ketenangan jiwa saya.

Kejadian aneh ini dimulai tepat empat bulan setelah saya kembali dari hutan bambu. Larangan tiga hari sudah lewat lama dan saya sudah menceritakan seluruh kronologi kejadian mistis itu kepada istri saya.

Malam itu, tepat pukul 11.45, saya terbangun dari tidur karena ingin buang air kecil. Ketika saya kembali ke dalam kamar, suasana rumah terasa sangat sunyi, sunyi yang tebal dan berat, persis seperti suasana yang saya rasakan saat berada di hutan bambu dulu.

Tiba-tiba, dari dalam laci meja rias istri saya, terdengar suara getaran handphone. Bzzzt... bzzzt...

Saya mengernyitkan dahi. Handphone saya dan istri saya ada di atas meja di samping tempat tidur. Lalu, handphone siapa yang bergetar di dalam laci?

Dengan langkah perlahan, saya mendekati meja rias tersebut. Saya membuka lacinya. Di balik tumpukan kosmetik istri saya, tergeletak sebuah handphone tua dengan layar retak, itu adalah handphone lama saya yang sudah mati total dan rusak karena baterainya tersedot habis di alam gaib dulu. Handphone yang selama ini tidak pernah bisa dinyalakan lagi meskipun sudah diisi daya berhari-hari.

Tetapi malam itu, layar handphone tua itu menyala terang benderang dengan latar belakang putih yang menyilaukan mata. Di tengah layar, muncul sebuah kotak notifikasi dari aplikasi ojol lama saya yang sudah saya hapus akunnya.

Notifikasi itu berbunyi: 'Orderan Baru Masuk. Pengantaran Barang Instan.'

Nama pemesannya tertulis satu huruf kapital hitam: 'N'.

Dan yang membuat seluruh tubuh saya kaku seketika, koordinat GPS-nya menunjuk tepat ke alamat rumah saya sendiri, tepat di dalam kamar tidur tempat saya berdiri saat itu.

Saya terpaku, menatap layar handphone yang terus bergetar di tangan saya. Di saat yang sama, hidung saya mencium aroma wangi yang sangat tajam menyengat, aroma wangi bunga kantil yang bercampur dengan bau tanah basah, mengalir keluar dari sela-sela ventilasi udara kamar.

Dari balik pintu depan rumah saya yang terkunci rapat, tiba-tiba terdengar suara ketukan.

Tok... Tok... Tok...

Ketukannya terdengar sangat lambat, konstan, dan berat. Tiga kali ketukan. Disusul oleh suara bisikan lembut seorang wanita yang menggema langsung di dalam kepala saya, memecah kesunyian malam.

"Uangnya sudah dibelanjakan, Mas Dani?" suara itu terdengar pelan namun tajam. "Uang itu dicetak dari satu lembar uang asli milik manusia di dunia nyata yang kami gandakan secara ghaib. Setiap kali kamu membelanjakannya, ada orang lain di luar sana yang tertimpa kesialan atau kehilangan hartanya secara misterius. Sekarang, waktunya kamu membayar bunganya..."

Mendengar ucapan itu, seluruh persendian saya seolah dikunci. Saya ingin berteriak memanggil istri saya yang tidur nyenyak di samping saya, tapi tenggorokan saya kering, tidak ada suara yang keluar selain desisan pasrah.

Bau bunga kantil dan tanah basah semakin menyengat, memenuhi kamar tidur kami. Dari balik kegelapan sudut kamar, tepat di depan brankas besi tempat saya menyimpan sisa uang bersi kembar tersebut, kabut putih keabu-abuan mulai keluar secara mustahil dari sela-sela lantai.

Dari dalam kabut itu, muncullah wanita berkonde dengan kebaya beludru hitamnya. Kedua kelopak matanya yang dijahit benang hitam kasar itu tampak sedikit basah. Dia berdiri diam, namun kepalanya miring memandangi saya.

"Mas Dani..." bisiknya lagi. Suaranya tidak lagi adem, melainkan dingin menyengat seperti es yang ditempelkan ke kulit. "Waktu yang kamu antarkan tempo hari sudah habis. Sekarang, kamu harus bekerja untuk membayar bunga pinjamanmu."

Wanita itu melangkah mendekati tempat tidur saya. Setiap kali kakinya yang mengambang itu bergeser, suhu kamar turun drastis hingga cermin di meja rias berembun. Dia menjulurkan tangannya yang keriput, bukan untuk menyakiti fisik saya, melainkan untuk menyentuh kening saya dengan jari telunjuknya yang kaku.

Begitu ujung jarinya menyentuh kulit saya, kepala saya rasanya seperti dihantam benda keras. Pandangan saya memutih, dan jiwa saya rasanya seperti ditarik paksa keluar dari tubuh asli saya yang masih tertidur pulas di atas ranjang.

Ketika saya membuka mata kembali, saya tidak lagi berada di kamar tidur saya yang nyaman. Saya kembali berada di dalam bangunan batu bata merah di bawah pohon beringin raksasa, di dalam kompleks pasar tradisional yang sunyi itu. Suasananya persis sama, sepi tanpa suara, dengan orang-orang bermata hitam legam yang lalu lalang di luar ruko.

Di depan saya, sebuah meja kayu jati besar sudah disiapkan. Di atas meja tersebut, tergeletak selembar kertas tua berwarna kekuningan dan sebuah mangkuk tanah liat berisi cairan merah kental.

Wanita bermata jahit itu duduk di seberang saya.

"Kamu tidak bisa mengembalikan harta yang sudah kamu gunakan di dunia atas, Mas Dani," ucapnya tanpa menggerakkan bibir, suaranya langsung bergema di pikiran saya. "Uang yang kamu ambil adalah berkah dari pasar ini. Dan aturan di pasar ini mutlak: siapa pun yang mengambil modal, dia harus menjadi pekerja di sini sampai seluruh nilainya lunas."

Saya akhirnya paham konsekuensi dari ketamakan saya malam itu. Uang di dalam dua karung itu bukanlah hadiah gratis atas keberanian saya. Itu adalah pinjaman ghaib. Dan karena saya sudah menggunakannya untuk mengubah hidup saya, saya sudah terikat kontrak dagang dengan alam mereka.

"Apa yang harus saya lakukan? Tolong jangan ambil nyawa saya, anak istri saya masih membutuhkan saya," ratap saya dalam hati, berharap dia bisa mendengar pikiran saya.

Wanita itu tersenyum lebar hingga sudut bibirnya tertarik tidak alami.

"Saya tidak butuh nyawamu. Saya hanya butuh waktumu. Setiap malam, mulai pukul 11.45 hingga fajar menyingsing, jiwamu akan ditarik ke sini. Kamu akan menjadi kurir kami. Kamu harus mengantarkan paket-paket dari pasar ini ke manusia-manusia lain di dunia atas yang juga sedang putus asa karena uang... seperti kamu yang dulu."

Saya tersentak bangun. Matahari pagi sudah menembus gorden kamar tidur. Istri saya sedang menata sarapan di meja luar, dan anak saya sedang bersiap pergi ke sekolah. Rumah kami masih utuh, toko sembako kami masih ramai, dan uang di dalam brankas masih tersimpan dengan aman. Secara fisik, tidak ada yang berubah dari lingkungan saya.

Namun, ketika saya berjalan ke kamar mandi dan melihat ke arah cermin, saya hampir saja berteriak.

Kedua mata saya... di bagian putihnya, kini muncul urat-urat halus berwarna hitam pekat yang membentuk pola menyerupai jaring kecil. Tubuh saya terasa sangat lelah, remuk redam, seolah-olah saya baru saja melakukan kerja fisik semalaman suntuk tanpa henti. Dan ketika saya memeriksa saku celana saya, saya menemukan selembar uang kertas seratus ribu rupiah baru yang masih kaku: upah hasil kerja saya semalam sebagai kurir di alam gaib.

Sekarang, inilah nasib akhir hidup saya.

Di siang hari, saya adalah seorang juragan toko sembako yang dihormati para tetangga karena kekayaannya yang melimpah. Saya bisa mencukupi semua kebutuhan keluarga saya dengan sangat mewah tanpa perlu kekurangan lagi. Namun, di malam hari, ketika jam menunjukkan pukul 11.45, tubuh asli saya akan tertidur kaku seperti orang mati di atas ranjang, sementara jiwa saya dipaksa memakai kembali jaket ojol hijau saya yang sudah pudar warnanya.

Saya berubah menjadi kurir ghaib. Malam demi malam, jiwa saya mengendarai motor menembus kabut hutan bambu, membawa kotak-kotak kecil dibungkus lakban hitam dari pasar misterius itu untuk diantarkan ke pintu-pintu rumah manusia di dunia nyata yang sedang putus asa karena terlilit utang atau kemiskinan. Saya datang ke rumah mereka, mengetuk pintu mereka dalam keheningan malam, dan membiarkan mereka mengambil karung goni mereka sendiri untuk terjebak ke dalam lingkaran setan yang sama seperti saya.

Saya tidak tahu kapan kontrak ini akan selesai. Mungkin sampai saya menua dan mati, atau mungkin sampai ada kurir baru dari dunia nyata yang terjebak untuk menggantikan posisi saya sebagai pengantar paket ghaib ini.

Jadi, untuk kalian semua yang sedang mendengarkan atau membaca cerita saya ini di malam hari. Jika posisi ekonomi kalian sedang sulit, jika kalian sedang bingung memikirkan cara membayar utang, lalu tiba-tiba handphone kalian bergetar menjelang tengah malam menawarkan orderan dengan argo yang sangat besar dari pemesan bernama 'N'... tolak orderan tersebut.

Karena jika kalian tergiur dan menerimanya, mungkin pada malam berikutnya, akulah yang akan datang berkendara menembus kabut, mengetuk pintu depan rumahmu, dan menyerahkan dua karung uang yang akan mengubah seluruh jalan hidupmu... menjadi sebuah kutukan yang tidak ada ujungnya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Kurir Dua Dunia
ANTON SYAHRONI
Flash
Sintas
Ilestavan
Novel
Kirana dan Pangeran Cinta - Into Darkness
Cancan Ramadhan
Cerpen
Bronze
Kuburanku Adalah Tempat Kau Berdiri Hari Ini
Bells
Flash
Siapa Pembunuh Nina?
M Fadly Hasibuan
Cerpen
bayang bayang yang kutunggu
Zumrotun Nufus
Flash
In My New World
Via S Kim
Novel
Tum
Ais Aisih
Cerpen
Bronze
Mereka Nyata Dan Bercerita
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
After Impact
Fuseliar
Cerpen
Bronze
Sekolah yang tak pernah sepi
wlc
Novel
Tamu
Nona Vian
Novel
Gold
Hollowpox: Nevermoor #3
Noura Publishing
Novel
The Hidden
adinda pratiwi
Novel
JALAINI: Sumur-Sumur Mutilasi Berantai
Ikhsannu Hakim
Rekomendasi
Cerpen
Kurir Dua Dunia
ANTON SYAHRONI
Novel
Siulan Malaikat
ANTON SYAHRONI
Novel
Rumah Batu
ANTON SYAHRONI
Skrip Film
Siulan Malaikat
ANTON SYAHRONI