Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Kunci yang Bernama Rindu
Leman sudah menduda tiga tahun sejak istrinya menutup mata.
Enam bulan lalu ia meninggalkan pelabuhan—tempat yang terlalu lama menahannya di hidup yang tak ke mana-mana. Damar sedang menjadi primadona. Permintaannya tinggi, harganya bagus. Dalam dua hari saja, hasil dari hutan di utara desa setara dengan seminggu upahnya sebagai buruh angkut.
Itu sebabnya ia banting setir.
Leman tak sendirian masuk hutan. Ada banyak orang dalam kelompok-kelompok kecil. Tapi—lama kemudian—ia mulai menyadari sesuatu yang mengganjal: para senior tak pernah mau masuk ke dalam hutan pada hari di mana kabut menggantung lebat di ujung kanopi daun.
"Kenapa?"
Banyak yang enggan menjawab.
"Padahal ini kesempatan bagus sebelum harga damar turun lagi," Leman berdecak kesal.
Hari itu ia hilang sabar. Ia merasa mereka takut pada sesuatu yang tak masuk akal. Hutan itu bersahabat, tak ada hewan buas yang pernah mengancam. Jalur tempuh sudah ada. Mau apa lagi?
Leman nekat masuk hutan sendiri, setelah tiga hari kabut menggantung pekat di sana.
Seorang ibu tua yang mencari sayur pakis di tepi hutan melihatnya masuk di pagi hari. Mereka saling sapa.
Itulah—mungkin—terakhir kalinya Leman terlihat oleh dunia yang dulu ia kenal.
Ia tak tahu kapan kabut itu mulai menyelimutinya.
Yang ia tahu, langkahnya tak lagi sepenuhnya miliknya. Ada sesuatu yang menariknya. Bukan suara. Bukan bayangan.
Rasa.
Rindu.
Rindu pada sesuatu yang seharusnya tak dirindukan. Rindu yang datang tanpa kenangan. Seperti ingatan yang terhapus… tapi meninggalkan bekasnya di dada.
Dan kabut itu membukakan sesuatu. Sebuah jalan yang tak pernah ada dalam peta mana pun.
Leman melangkah.
Dan langkah-langkahnya membawanya pada tempat yang tak pernah ia bayangkan. Awalnya samar. Namun perlahan segalanya menjadi jelas. Pasar dengan buah-buahan yang tak pernah ia makan sebelumnya. Rumah-rumah panggung yang menjulang tinggi. Langitnya bukan biru, tapi ungu tua seperti senja yang tak pernah benar-benar malam. Cahaya lembut keluar dari dedaunan, dari batu-batu, dari udara itu sendiri.
Leman tertegun.
Orang-orang di sana… begitu rupawan.
Ia tersesat. Atau mungkin ditemukan.
Di sanalah ia bertemu dengan dia.
Namanya tak pernah bisa diingat Leman. Rupanya tak pernah bisa ditangkap. Setiap kali ia mencoba mengingat wajahnya, yang muncul hanya kabut.
Tapi ia ingat suaranya. Lembut seperti aliran sungai di musim kemarau. Ia ingat sentuhannya. Hangat seperti matahari yang menyentuh kulitnya sepulang melaut dulu.
Leman dinikahkan dengannya.
Para tetua, dengan mahkota dedaunan bercahaya, mempersatukannya dengan dia.
Dan mereka punya anak.
Leman tak bisa mengingat wajah anak itu. Tapi ia ingat beratnya saat ia menggendongnya. Ia ingat tawanya. Ia ingat bagaimana anak itu tertidur di dadanya.
Dan ia berjanji akan menjaganya selamanya.
Waktu di sana berbeda.
Leman tak tahu berapa lama ia tinggal di tempat itu. Tapi cukup lama untuk melihat anak itu tumbuh. Cukup lama untuk mengajarinya memanjat pohon seperti dulu ia diajar bapaknya.
Cukup lama untuk merasa… ini rumah.
Namun pada malam-malam tertentu, ketika kabut turun di tempat itu—kabut yang sama seperti di hutannya dulu—sesuatu kembali muncul.
Rindu.
Kali ini bukan rasa asing. Kali ini sakit.
Ibunya.
Ia pasti sudah tua. Siapa yang mengurusnya? Setiap hari ia pergi ke hutan, ibunya selalu menunggunya pulang dengan segelas air putih dan senyum yang tak pernah berubah.
Anak-anaknya.
Mereka masih kecil. Masih butuh bapak.
Rindu itu tumbuh. Membesar. Menggerogoti dadanya.
"Aku harus pulang," kata Leman suatu hari.
Tapi saat itu anaknya—anak yang tak bisa diingat wajahnya—memeluk kakinya.
Tangannya kecil. Hangat. Nyata.
"Jangan pergi," katanya.
Suaranya sederhana. Tidak memohon. Tidak menangis.
Tapi justru itu yang membuat dada Leman runtuh.
Untuk pertama kalinya, ia ragu.
Bukan pada pilihannya. Tapi pada dirinya sendiri—manusia macam apa yang meninggalkan satu anak… demi anak yang lain?
Para tetua diam.
"Jika kau pulang," kata tetua tertua akhirnya, "kau tak akan bisa kembali. Dan kau akan melupakan semuanya. Kami. Anakmu. Istrimu. Tempat ini."
Leman menggeleng pelan.
"Aku tak mau melupakan."
Tetua itu menatapnya lama.
"Banyak hal bisa kami hapus. Nama. Wajah. Bahkan janji."
Ia berhenti sejenak.
"Tapi tidak semua hal diciptakan untuk dilupakan."
Leman tak mengerti saat itu. Tapi ia minum ramuan itu.
Pahit. Dingin. Dan dunia itu perlahan menjadi kabut.
Leman sadar di kamar mandi rumahnya.
Pakaiannya masih sama seperti kepergiannya dulu. Di sampingnya ada dua karung damar.
Ibunya—wanita tua itu—memeluknya sambil menangis.
Ia tak ingat apa pun.
Leman seperti wadah kosong, kata orang-orang. Dokter bilang ia tak terluka, tak sakit apa pun. Hanya hilang ingatan.
Dua belas hari kemudian, ia terbangun dari kekosongan itu.
Leman ingat segalanya tentang dunia ini. Namanya Leman. Ini ibunya. Ini anak-anaknya. Ini rumahnya.
Tapi ada yang hilang.
Tiga tahun, kata mereka. Ia hilang selama tiga tahun.
Tapi Leman tak tahu ke mana ia pergi.
Atau… ia tak mau tahu.
Malam-malam tertentu, ketika kabut mulai menebal di hutan utara desa, Leman bermimpi.
Bukan mimpi biasa. Seolah ia memang mengalaminya dulu.
Pasar. Langit ungu. Rumah-rumah panggung yang menjulang tinggi. Seorang wanita. Seorang anak.
Tak ada wajah. Tak ada nama.
Hanya rasa.
Rindu.
Suatu pagi ibunya—Minah namanya—datang menemui Bu RT dengan wajah pucat.
"Leman tadi malam menangis dalam tidurnya," kata Minah, suaranya gemetar. "Dia memanggil-manggil nama… nama yang tak pernah kudengar. Katanya… 'Rindu', begitu katanya. 'Aku rindu padamu, Rindu'."
Entah nama atau rasa, kata Minah.
Tapi Leman, di dalam hatinya yang paling dalam, tahu.
Ia rindu pada wanita yang tak bisa diingat wajahnya. Pada anak yang tak bisa diingat rupanya. Pada rumah yang bukan rumah ini.
Rasa itu ada di dadanya, pekat. Rasa yang tak pernah pergi meski ramuan tetua itu telah diminumnya. Ia hanya tidur. Dan kabut membangunkannya.
Hingga pada suatu malam, ketika kabut paling tebal yang pernah ada menyelimuti desa, Leman bangun.
Kakinya berjalan sendiri. Melewati halaman belakang. Melewati pagar. Menuju kabut.
Di tepi hutan, ia berhenti sejenak.
"Maaf, Bu," bisiknya.
Lalu ia melangkah masuk.
Kabut itu membukakan jalan yang sama. Jalan yang tak pernah ada dalam peta mana pun. Jalan yang hanya muncul ketika rindu memanggil.
Kali ini Leman tak tersesat.
Ia pulang.
Leman tak pernah kembali ke desa sejak malam itu.
Minah mencarinya. Seluruh desa mencarinya. Polisi datang lagi dengan anjing pelacak. Pendaki gunung, paranormal, bahkan dukun dari tiga kabupaten didatangkan.
Tak ada yang menemukan.
Hanya seorang dukun tua dari ujung desa—nenek Sakom, yang sudah hampir buta—yang berkata dengan suara parau:
"Dia tak hilang. Dia kembali. Ke tempat yang dulu menjerat rindunya."
Minah jatuh sakit setelah kepergian Leman untuk kedua kalinya. Bukan sakit biasa. Ia hanya terbaring lemah, matanya sayu menatap langit-langit.
Empat puluh hari setelah Leman pergi, Minah menemui warga di balai desa.
"Saya sudah pasrah," katanya pelan.
"Tapi saya minta tolong satu hal. Kalau suatu saat kabut turun lagi di hutan itu… tolong jangan ada yang mencari anak saya. Biarkan dia. Dia sudah menemukan rumahnya."
Kini, setiap kali kabut turun di hutan utara desa, Leman berdiri di batasnya.
Ia bisa melihat mereka. Ibunya di beranda. Anak-anaknya di halaman.
Mereka tak melihatnya.
Tapi kadang—hanya kadang—mereka berhenti sejenak. Seolah merasakan sesuatu. Seolah merindukan sesuatu… tanpa tahu apa.
Lalu menatap jauh ke hutan berkabut.
Dan itu cukup.
Sesekali, di pagi hari setelah malam berkabut tebal, orang-orang desa menemukan sesuatu di tepi hutan.
Damar. Segenggam damar dalam wadah daun pisang. Atau buah-buahan yang tak pernah mereka kenali. Atau sekali waktu, sebuah gelang anyaman rotan halus—terlalu kecil untuk tangan dewasa.
Minah menyimpan gelang itu. Ia menggantungnya di atas ranjang, di samping foto Leman yang dulu pernah tersiar di koran kabupaten.
"Dari mana itu, Nek?" tanya Ujang—anak bungsu Leman—yang masih kecil ketika ayahnya pergi untuk kedua kalinya.
Minah tersenyum. Senyum yang aneh, kata orang-orang. Antara bahagia dan pilu.
"Dari adikmu," jawabnya pelan.
"Adik? Aku punya adik?"
Minah tak menjawab. Ia hanya menatap kabut tipis yang mulai merambat dari sela-sela pohon di ujung desa.
Dan di kejauhan, dari dalam kabut itu, samar-samar terdengar suara tawa kecil. Tawa anak-anak. Dua anak, barangkali, atau lebih. Bercampur dengan suara Leman yang dulu mereka kenal—tertawa lepas, bahagia.
Di desa itu, orang-orang tak lagi bertanya ke mana Leman pergi.
Mereka hanya berpesan: jika kabut turun… jangan ikuti suara apa pun.
Kecuali jika yang kau dengar bukan suara. Melainkan sesuatu yang lebih sunyi—yang tumbuh diam-diam di dadamu.
Maka berhentilah.
Karena bisa jadi… itu bukan milikmu.
Dan di suatu rumah sederhana, seorang ibu tua—Minah—masih menggantung sebuah gelang rotan kecil di samping ranjangnya.
Ia tak pernah menjelaskan dari mana asalnya.
Hanya sesekali ia menatap kabut di kejauhan, dengan senyum yang tak sepenuhnya bahagia, tak sepenuhnya sedih.
Seolah ia tahu—bahwa di balik kabut itu, ada seseorang yang masih mengingatnya… meski tak lagi mengingat apa pun.
Tamat
—Rico Tsiau
Siak Sri Indrapura, 28 Maret 2026