Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Kuku Rusmi
1
Suka
2,017
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Sesekali, Rusmi menyantap minyak dalam wajan; bukan karena tidak ada yang bisa dimakan, tapi karena majikan melemparnya ke dalam penggorengan. Tangannya melepuh, wajahnya merah, lumrahnya bagaimana seseorang dimasak bulat-bulat. Tapi itu hanya seumpama, lantaran Rusmi tidak pernah dimasak utuh-utuh. Majikan hanya meminta memasak kuku, sebab pernah disantapnya dulu dan nikmat sekali rasanya. Dia masih terbayang-bayang, maka Rusmi harus membuatnya lagi. Rusmi pikir ia harus menggoreng dirinya sendiri, tapi tidak.

Rusmi hanya gelagapan, tidak ada lagi kuku yang bisa digorengnya. Kesepuluh kukunya kebas, sudah digorengnya tiap hari, 3 kali pula. Lantas pergilah dia meminta kuku ke rumah tetangga, ke rumah ayah dan ibunya, ke saudara-saudaranya, bahkan dia harus menanggung malu untuk datang ke rumah mantan kekasihnya; sekedar ingin minta kuku. Tapi tidak ada yang bisa memberi. Sampai pusing bukan kepalang dibuatnya.

Lantas, dia mengetuk rumah Nor, kekasihnya hari ini. Tapi Nor menutup pintu. Berpura-puralah Nor tidak tahu bahwa Rusmi ada di luar, berusaha meminta kuku. Sementara dirinya tengah meringkuk di bawah dipan, menyembunyikan dirinya yang malang. Ketakutan dengan Rusmi yang meminta kukunya tiap hari. Dia pikir, Rusmi ingin memakannya juga, lalu meninggalkan tulang belulangnya di pinggir jalan, dan dibiarkannya dijilati anjing liar.

Kini Nor mengira Rusmi gila, atau kanibal yang makan manusia. Padahal dia cuma mencari makan untuk majikannya, yang manja bukan main. Minta ini-itu pada Rusmi, bahkan kukunya sendiri. Rusmi pun sama, tidak jeranya dia bilang iya pada majikan. Dipenuhinya satu persatu pinta yang tidak masuk akal. Mungkin jika majikan minta jantung, bakal dikasih one plus one sekalian. Tidak tanggung-tanggung memang saat Rusmi ingin memberi; tatkala dulu saat ia sama Boni, pacarnya sebelum Nor, Rusmi sama tidak tanggung-tanggungnya seperti kali ini.

Tidak hanya mobil mewah, atau rumah melayang. Jika Boni minta satu lagi Rusmi, bakal difotokopinya 10 kali. Maka 10 kali juga yang bakal di dapat Boni. Sekanak-kanakan itulah Rusmi. Tertipu dengan mudah, padahal cukup jelas muslihatnya si Boni. Malang, tapi Rusmi buta, atau dia memang gila. Dulu, Boni masih 10 tahun lebih muda darinya, sekarang pun sama. Baru juga lulus SMP, belum ada 1 tahun menganggur, luntang-lantung tidak jelas pijakannya, karena tidak bisa lanjut sekolah. Saat ku bilang, jangan dengan Boni, cari saja yang pantas. Rusmi langsung kalap. Marahnya minta ampun.

“Usia bukan masalah,” ketusnya.

Usia memang bukan masalah, tapi Boni yang jadi masalah. Dia anak preman, suka malak orang. Jika Nor mengira Rusmi tukang makan manusia. Mungkin itu datangnya dari Boni. Boni yang mengajari Rusmi cara mencincang dan menguliti daging. Pernah mereka berburu celeng di hutan Sumatera. Sejak saat itu, Rusmi jadi tidak segan-segan saat minta daging dan makan mentah-mentah. Awal semua masalah ini, datangnya dari Boni. Itu pasti, tidak salah lagi.

Kata Rusdi, temanku yang dekat dengan temannya Boni. Boni memang suka manusia, tidak cuma buat dipalak tapi juga digebukkin. Ada saja yang mati di tangannya, bahkan tikus-tikus di got lari setiap melihat bayangan Boni. Malangnya, hanya ada satu yang tidak bisa lari, yaitu Rusmi. Rusmi memang gila. Tidak ada takutnya dan Boni takhluk saja. Mereka sama gilanya.

Tapi akhirnya, mereka pisah juga, saat giliran Rusmi minta kuku pada Boni, lagi-lagi untuk majikannya. Boni jadi gemetaran, takut kalau-kalau Rusmi benaran makan kuku. Persis seperti kata Nor, pacarnya setelah Boni. Padahal Rusmi tidak seperti itu, dia cari kuku untuk makan majikan. Majikannya lah yang makan kuku.

Tapi siapa yang bakal percaya itu. Tidak satupun orang pernah lihat majikan si Rusmi pernah makan kuku sebelumnya. Bahkan rupanya saja, juga tidak perlah dilihat. Dia tidak pernah keluar rumah, barang 1 cm pun. Mukanya juga selalu dialing-alingi korden. Tidak pernah mencuat keluar jendela. Selalu sibuk di dalam rumah. Cuma Rusmi yang pernah melihatnya.

Saat aku tanya seperti apa muka majikannya, Rusmi kalap lagi. Lagi-lagi dia marah. Tidak jelas kenapa, aku hanya bertanya. Katanya, itu bukan urusanku. Muka majikannya tidak untuk dibeber-beberkan. Jadinya, aku justru makin penasaran. Mungkin rupanya memang seperti Buto, giginya taring, matanya besar, kulitnya ijo, sebab dia makan manusia.

Tapi kata Rusmi, aku ngawur. Dia ketawa saja. Majikannya itu seperti Gatut Kaca, gagah nan perkasa. Rupanya bak Arjuna, melehkan hati wanita. Bahkan dia juga seperti Yudistira, bijaknya luar biasa. Pokoknya, majikan Rusmi sudah seperti wayang, tidak ada di dunia nyata. Pantas saja dia makan manusia.

Suka sekali dia merepotkan Rusmi, minta ini-itu bahkan sampai minta kuku. Kali ini Rusmi harus lari mencari Rendra. Tidak ada Nor yang mau membagi kukunya. Dia bukan lagi pacar, sebab tidak mau berbagi suka-duka bersama. Rusmi juga tidak mau ketemu Boni, sakit sekali hatinya karena dikira makan manusia. Maka tinggal Rendra, sahabat dekat Rusmi, sudah bak adik dan kakak mereka. Karip sekali, seperti pinag di belah dua. Kembar dampit yang sayangna dari rahim berbeda.

Mereka sangat dekat sampai seluruh desa pernah bertanya apa mereka saling cinta. Tapi mereka serentak menjawab tidak. Teman tidak boleh pacaran, atau apalah yang dikata mereka. Tapi sejatinya, hati mereka berbunga-bunga juga. Saling memendam suka, sering kelabakan tiap ketemu. Malu-malu sendiri kalau lagi bicara, apalagi ketika bicara tentang kentang dan ayam goreng. Mereka sama-sama suka makan. Sama-sama suka jeruk. Warna merah. Buku bergambar. Dan cerita Romeo and Juliet. Seperti mereka sendiri yang jadi Romeo dan Julietnya.

Hanya saja, sejujurnya, tidak ada satupun dari mereka yang sama-sama suka jeruk, warna merah, buku bergambar dan cerita Romeo dan Juliet. Rusmi lebih suka duku, tapi bilang jeruk karena Rendra yang suka. Rendra suka hitam, tapi bilang merah karena Rusmi yang suka. Mereka seperti itu, biar selalu bisa dekat. Saling mengaku suka padahal tidak. Itulah pengorbanan. Sayangnya, mereka cuma teman, teman dekat. Dekat juga di hati.

Rusmi sampai di rumahnya, mengetuk pintu tiga kali. Rendra tidak suka jika ada tamu yang suka nyelonong, meskipun teman sendiri, atau Rusmi sekalipun. Itu jugalah kenapa Rusmi tidak bisa bersama Rendra, Rendra tidak bisa percaya padanya. Terlalu tertutup dan tidak mau apa-adanya. Makanya, Rusmi lebih memilih teman, meskipun sayang, sekalipun cinta. Rendra juga tidak bisa bilang cinta, sebab Rusmi sudah punya majikannya.

Tidak perlu repot, Rusmi dapat satu kuku. Di potongnya dari jari manis. Rendra dengan senang hati memberikan itu, sudah 2 bulan sejak dia memanjangkannya, tahu kalau Rusmi bakal mencari kuku. Dia sudah berjaga-jaga, karena dengan itu Rendra bisa bertemu dengannya. Meskipun Rusmi datang hanya untuk si Majikan.

Sampai di rumah majikan, Rusmi langsung menyajikan kukunya. Ditanyailah Rusmi asal dari kuku itu. Lalu dijawabnya dari Rendra, sahabat karib Rusmi. Tapi majikan itu justru kalap, marahnya minta ampun. Dia cuma mau makan dengan kuku Rusmi. Ketahuan juga gilanya. Memang semua asal kegilaan Rusmi, juga datang dari majikannya. Sudah diberi dia hati, tapi minta juga jantungnya.

Rusmi gelagapan, celingukan ke sana dan ke mari. Bingung harus motong kuku dari mana, kukunya sudah kebas. Terlalu sering di potong. Bahkan sampai pangkal-pangkalnya. Harusnya bukan ini yang dia pikirkan, dia harus marah, tak boleh kalah dari majikan. Tapi saking polosnya Rusmi, dia justru lari mencari pisau, dipotonglah tangannya yang masih ada kuku. Gila sudah dirinya sekarang, seperti sedang mengabdi pada setan. Rusmi kelewatan.

Tapi majikan itu bilang jangan, Rusmi tidak perlu potong tangan. Biar tangannya ada tetap pada Rusmi, tapi sudah jadi milik majikan. Saat giliran dia makan lagi, artinya Rusmi harus potong yang lainnya. Tapi potongannya biar tetap pada Rusmi. Rusmi harus utuh, agar bisa dimakan bulat-bulat. Mau direbusnya dalam panci dan digorenganya seperti ayam. Rusmi cuma bilang iya. Genap sudah gilanya. Bukannya berusaha lari, tapi dia cuma diam. Pasrah dengan hidupnya. Mau mati di tangan majikan.

 Akhinya, bertanya juga si Rusmi pada majikannya, sampai kapan dia harus mencincang badannya sendiri. Rusmi perlu tahu agar bisa bilang pada orang tuanya, pamitan pada Nor dan Boni. Dia juga perlu berpikir bagaimana cara berpisah dari Rendra, kekasih hatinya yang selalu dinyatakan sebagai kawan semata.

Dan dijawab pulalah Rusmi oleh si Majikan itu. Katanya, “Saat sudah genap kamu jadi milikku.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Menarik ceritanya❤
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Solo Balapan
Herman Sim
Cerpen
Kuku Rusmi
Dina prayudha
Novel
Gold
R [Raja, Ratu & Rahasia)
Coconut Books
Novel
Bronze
Supernumerary in Liona Life Story
windra yuniarsih
Flash
Bronze
Pulang dari Perang
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Writing is My First Love
d Curly Author
Novel
Bronze
If I Talk To God
Red Maira
Novel
Time For Us
Pratiwi_Hwang
Novel
Syifa: The Untold Story
aliaputri
Novel
Layak
Fauziyah Nur Aulia
Flash
Bronze
Melody Ariana
Indah Budiarti
Novel
Orange Breeze
Cemung
Novel
Bronze
Thongngin Fanngin Jitjong
Megumi
Novel
Bronze
Hi Cold Prince
Jalvanica
Novel
The magic of love in the life
thalita amalia
Rekomendasi
Cerpen
Kuku Rusmi
Dina prayudha
Cerpen
Bayi Ceropong
Dina prayudha
Cerpen
Karung Beras
Dina prayudha
Cerpen
Sesi
Dina prayudha
Cerpen
Boulevard
Dina prayudha
Cerpen
Bronze
Mengawini Surtijah
Dina prayudha
Cerpen
Pencuri Kerdil
Dina prayudha