Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sudah seminggu ini, ada seekor kucing putih manis yang mengunjungiku. Setiap aku pergi ke taman kompleks di sore hari, dia akan muncul dari belakang bangku taman. Begitu melihatku, dia akan menggosokkan badannya ke kakiku sebelum aku menggendongnya, lalu meletakkannya di pangkuanku sambil mengelus lembut tubuhnya.
Kuakui, kucing itu sedikit… eksotik. Tidak hanya bulunya putih bersih. Matanya secerah dan sejernih batu pirus—berkilat indah dengan urat warna merah hati yang tipis—menambah kesan eksotiknya. Lebih aneh lagi karena kucing itu tidak memiliki kalung tanda pengenal. Bagaimana bisa ada kucing liar yang begitu cantik dan terlihat terawat jika dia bukan kucing seseorang?
Aku menceritakannya pada anakku setiap aku pulang dari taman, saat dia sedang memasak makan malam. Dan malam itu, dia bertanya sedikit lebih banyak dari biasanya.
“Kucing yang aneh, ya, Yah. Aku jadi mau lihat juga.”
“Kalau begitu, coba besok kita pergi ke taman sama-sama. Siapa tahu dia senang dapat teman baru.”
“Ayah bisa saja… Gimana kalau ternyata dia nggak datang?”
“Hmm… Sejauh ini dia selalu datang, sih. Tapi, iya juga. Dia munculnya baru-baru ini. Sebelumnya Ayah belum pernah lihat dia dimanapun.”
Maika menoleh padaku, alisnya sedikit bertaut. “Ayah yakin dia bukan kucing orang yang hilang?”
Kalimatnya barusan berhasil membuat otakku melambat. “Entahlah. Mungkin saja… Bulunya halus sekali meskipun tidak panjang, dan terasa empuk karena agak tebal. Badannya juga hangat dan dia suka berguling-guling di pangkuan Ayah. Pokoknya dia kucing yang sangat jinak.”
Maika lanjut mengaduk sup dalam diam. Aroma miso yang tajam mengisi rongga hidung dan paru-paruku.
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
Dia menghela napas panjang yang berat sampai-sampai aku bisa mendengarnya dari tempatku duduk. “Itu… Bukan apa-apa. Aku akan pergi melihatnya sendiri. Mumpung besok sedang libur juga.”
“Oh… Nggak masalah. Ikut saja kalau kamu lowong.”
“Um…” Maika mengangguk, lalu mematikan kompor. “Makan malamnya sudah siap. Ayah mau makan sekarang?”
“Ah, ya, ya. Pas sekali. Ayah juga sudah mulai lapar.”
***
Besoknya, kami pergi ke taman kompleks bersama jam lima. Sore itu juga, seperti kemarin, matahari masih tinggi tapi sudah mulai redup. Memang saat musim panas paling enak pergi ke luar jam segini.
Kami duduk di salah satu bangku yang kosong sambil melihat anak-anak berlarian di area bermain. Ada juga yang mengobrol sambil membuat istana di kotak pasir. Di bangku sebelah kami, ada seorang wanita muda yang mengenakan gaun putih tanpa lengan bermotif irisan lemon, sedang membaca sebuah buku tebal bersampul biru. Tumben sekali ada anak muda yang kemari sendirian.
“Tunggu, ya. Harusnya sebentar lagi dia datang.”
Maika mengangguk pelan, mengeluarkan ponsel lipat dari saku celana cinonya, lalu mulai mengutak-atik keypad-nya dalam diam.
***
“Ayah. Mana kucingnya?!” protes Maika, menurunkan ponsel ke pangkuannya. Kami sudah menunggu sampai matahari tenggelam di ufuk barat. Tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda dia akan muncul.
“Entah. Ayah juga bingung…” gumamku, menggosok tengkuk sambil menghela napas panjang. “Mungkin dia tahu Ayah nggak sendirian, jadi dia takut dan nggak datang hari ini.” Aku berdiri perlahan sambil berpegangan pada sandaran bangku taman, lalu menatap Maika sambil tersenyum. “Maaf sudah merepotkanmu, ya. Kita pulang sekarang?”
Maika mengangguk, menyimpan kembali ponsel ke saku celana, lalu menemaniku berjalan pelan. Cahaya jingga memandikan semua benda di hadapanku—trotoar, lampu jalan, pepohonan yang rindang.
Aku sedikit kecewa karena Maika tidak bisa melihat langsung kucing itu hari ini. Tapi besok, aku akan kembali dan coba mengambil setidaknya satu foto sebagai oleh-oleh untuknya.
***
Aku mengalungkan kamera tuaku di leher, lalu pergi ke taman seperti biasa. Sore itu agak mendung, jadi aku membawa payung untuk berjaga-jaga.
Tapi ternyata, sebelum sampai pintu masuk taman, aku bertemu kucing itu lagi. Dia muncul dari balik pagar semak yang ada di pinggiran taman.
“Meong!”
“Oh, ya ampun! Halo, Sayang. Kemarin kau tidak datang. Pergi kemana saja?”
Pelan-pelan, aku berlutut untuk mengelus kucing itu. Masih sehalus dan sebersih biasanya. Saat dia duduk diam di depanku sambil mengibas-ngibaskan ekornya, aku segera meraih kameraku, mengarahkan fokus, lalu memotret kucing itu sejelas mungkin.
“Hah…? Kenapa ini…?”
Ada yang salah. Kucing yang ada di fotoku hitam dengan mata kuning menyala. Aku mengucek mataku, menggeleng pelan, lalu kembali memandangnya. Kucing di hadapanku jelas-jelas sewarna salju di tengah musim panas—dingin tapi hangat. Sementara di kameraku, dia berubah jadi arang. Tidak masuk akal! Ada apa ini sebenarnya? Apa aku berhalusinasi?
Aku mencoba mengambil beberapa foto lagi. Tapi sama saja. Kutelan ludah cepat-cepat karena tenggorokanku mendadak terasa kering.
Segera kubatalkan niat untuk pergi ke taman dan pulang saja. Sambil menenteng payung di tangan kiri, aku berjalan secepat yang kubisa. Ada yang tidak beres dengan kucing itu.
***
“Ah, Maika! Akhirnya kamu pulang juga.”
Aku bangkit dari zabuton, mencegat anakku yang berjalan ke arah kamarnya di lantai dua. Tubuhnya masih berkeringat dan rambut juga bajunya sedikit berantakan.
“Ayah menungguku? Ada apa?”
“Ini. Tadi Ayah coba memotret kucing itu. Tapi dia berubah. Aneh sekali.”
Aku mengangkat kameraku dan memperlihatkan layarnya pada Maika. Foto-foto yang baru kuambil tadi, terlihat jelas meskipun tidak begitu jernih. Alis Maika bertaut, lalu beberapa kali dia memandangiku dan layar kamera bergantian. Kemudian, bibirnya mulai bergetar.
“Ayah…”
Dengan cepat dia memelukku, erat sekali sambil terisak pelan. Kamera masih kugenggam di depan dada sementara Maika melingkarkan tangannya di pundakku. Tak lama, suara gerimis mulai terdengar di luar. Tetesan-tetesan kecil yang membentur atap pun berangsur menjadi semakin keras.
“S-sayang? Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba menangis?”
“Kucingnya… Kucing… Meninggal… Rekan kerjaku… Ibu…”
“Ada apa dengan kucingnya? Ayah nggak paham.”
Maika tidak menjawab. Tubuhnya berguncang lebih keras dan tangisnya semakin menjadi. Tidak biasanya dia begini. Apa ada sesuatu yang kulewatkan?
Aku tidak menanyakan apapun lagi dan balas mendekap punggung Maika sambil menggosoknya pelan. Aku sangat hafal. Kalau sudah begini, dia tidak akan bisa bicara sama sekali sampai tangisnya reda.
***
“Jadi, ada apa sebenarnya?”
Aku mengambilkan ceret mugicha dingin sisa kemarin dari kulkas, menuangkan segelas, lalu menyodorkannya pada Maika. Kubawa dia ke ruang makan untuk duduk sambil menenangkan diri.
“Kucing itu… Kurasa, dia… iblis yang menyamar…”
“Hah? Maksudnya?” Aku mengernyitkan alis, lalu ikut duduk di sampingnya.
“Ayah nggak ingat? Ibu juga bertemu kucing itu sebelum meninggal. Di sini, di teras rumah kita.” Napas Maika pendek-pendek, tangan di pangkuannya mengepal sampai buku-bukunya memutih.
“Oh, iya… Dia juga cerita ke Ayah soal kucing cantik yang bola matanya seperti perhiasan. Lalu, apa hubungannya?”
“Rekan kerjaku… Dia juga bertemu kucing itu. Seminggu kemudian, dia kecelakaan… dan, meninggal…”
Aku tertegun, tapi lanjut tertawa getir. “Mana mungkin? Pasti cuma kebetulan.”
“Tapi ini sudah kali kedua, Ayah! Mana mungkin kebetulan?!”
Maika kembali kesulitan mengatur napas. Dia memegangi kepalanya, terlihat kesakitan.
“Tenanglah, Sayang…” Aku memegangi pundaknya, simpati. “Jangan terlalu dipikirkan. Nanti kamu malah sakit…”
“Mana bisa…? Mana bisa aku nggak memikirkannya…?”
Maika melepaskan cengkeraman ke rambutnya, lalu menatapku. Matanya nampak suram tanpa kilatan. “Aku minta izin cuti ke Ryuu-sensei saja. Akan kutemani Ayah berobat. Besok sudah waktunya kontrol ke rumah sakit, ‘kan?”
“Iya, tapi nggak perlu. Ayah bisa pergi sendiri seperti biasa.”
“Tapi aku khawatir, Ayah… Mana bisa aku bekerja dengan tenang kalau terus kepikiran Ayah…?”
“Sudah. Makanya nggak usah dipikirkan. Ayo, minum dulu biar tenang.”
Kudekatkan gelas itu pada Maika. Dengan tangan tegang, dia menyambut gelas itu dan minum perlahan.
“Besok nggak perlu izin, ya?”
“…” Maika menurunkan gelasnya, lalu menatapku lagi. Kali ini dia tersenyum tipis. “Ya, sudah. Ayah besok hati-hati, ya?”
“Iya. Ayah pasti hati-hati, kok.”
Setelah itu, kami lanjut mengobrol soal pekerjaan Maika sambil dia bersiap memasak untuk makan malam.
***
Pagi itu aku sarapan enak. Yudōfu, salad segar dan makerel bakar tanpa tulang. Nasinya sisa kemarin malam yang sudah dipanaskan, tapi bukan masalah. Mood-ku tetap jadi bagus karena semuanya kesukaanku.
“Aku berangkat dulu, Ayah.”
“Iya. Hati-hati, ya.”
Maika akhirnya beranjak setelah menatapku lama dengan mata berkaca-kaca, sepatu dan setelan rapinya yang biasa. Masih jam delapan kurang lima menit. Tapi sepertinya tidak masalah kalau berangkat sekarang. Sekalian jalan-jalan, mumpung mataharinya belum tinggi.
Semalam, Maika bersikeras menyuruhku membawa ponsel yang sudah jarang dipakai dan biasanya hanya tergeletak di rumah. Anak itu sungguh keras kepala. Tapi aku turuti saja agar dia tenang.
Jalanan masih agak becek, tapi mataharinya bersinar cerah. Jadi kurasa tidak perlu membawa payung. Dompet dan ponsel sudah di saku. Lalu, ada juga eco bag untuk berjaga-jaga. Aku segera berangkat setelah memastikan rumah aman dan mengunci pintu.
***
Bel penanda istirahat makan siang usai baru saja berdering. Guru-guru lain sudah mulai meninggalkan ruangan. Jadi segera kusiapkan berkas untuk kelas berikutnya. Hari ini waktunya ulangan harian di kelas 3B, lalu melanjutkan materi zaman Edo di kelas 2A. Rasanya jadwalku padat sekali. Aku bahkan belum sempat menghubungi Ayah.
“Tolong masukkan semua buku teks dan catatan, juga matikan ponsel kalian. Kita mulai ulangan harian—”
BEEP BEEP BEEP
Tiba-tiba ponselku berdering. Siapa yang meneleponku siang-siang begini?
“Maaf. Sebentar, ya.”
Aku meletakkan kertas ulangan ke meja, lalu berlari kecil ke luar kelas. Kubuka ponsel lipatku dan melihat nama yang tertera di layar. Ayah.
“Kebetulan sekali… Ya, halo? Gimana? Ayah sudah pulang?”
“…Apa benar ini Nona Kawamura Maika? Kami petugas dari kepolisian Shinjuku, ingin melaporkan bahwa kami menemukan Tuan Kawamura Shingo tidak sadarkan diri di—”
—TAK!
“TIDAAAAKKKK!!”
***
“Kami turut berduka atas meninggalnya ayah Anda, Nona Kawamura.”
Ini gila… Ini tidak masuk akal… Kenapa Ayah harus pergi di saat seperti ini…?
“Kami menemukan ini di dekat tubuh almarhum Tuan Kawamura. Isinya masih utuh. Dan ini, barang pribadi yang ada di saku celana beliau.”
Aku menyambut eco bag biru dan kantong plastik berisi dompet dan ponsel Ayah. Di dalamnya, ada dua kaleng mugicha yang sudah tidak dingin dan struk pembayaran. Ternyata di baliknya ada tulisan tangan dari pena biru yang sedikit gemetar. Untuk Maika, otsukare.
“Ayah… Ayah…”
Aku merengkuh erat kedua benda di tanganku sambil membiarkan air mataku mengucur deras. Sudah kuduga ini akan terjadi… Aku harusnya membangkang saja dan menemani Ayah tadi. Mungkin saja, aku bisa mencegah Ayah untuk bertemu kucing itu lagi…
Tapi penyesalanku tidak ada gunanya. Sekarang Ayah sudah pergi tanpa sempat berpamitan…
Aku meraung sampai tenggorokanku kering, tapi aku tidak peduli. Kucoba mengabaikan semua rasa sesak dan tekanan di kepalaku hingga lututku akhirnya runtuh ke tanah. Dan di menit berikutnya, kesadaranku lenyap bersama suara dua petugas polisi di hadapanku.
***
Sudah seminggu berlalu sejak Ayah meninggal. Aku masih belum menyentuh lagi mugicha kaleng ataupun barang lain yang Ayah bawa saat berobat. Tapi malam itu, didorong oleh rasa penasaran yang mengganjal, aku kembali membuka galeri di kamera Ayah.
“Hah…? Kok…?”
Nihil. Hanya ada foto jalanan kosong menuju taman. Tidak ada figur apapun di sana. Tidak ada kucing yang selalu Ayah sebut-sebut sebelum kematiannya. Padahal aku ingat jelas melihatnya sendiri sore itu, saat Ayah baru saja mengambil foto-foto ini…
Aku tidak mengerti dan ini melelahkan. Akan kulupakan saja segala hal yang berhubungan dengan kucing itu. Sambil menarik napas perlahan, aku lanjut mengemasi semua barang peninggalan Ayah untuk disimpan di gudang.
***
Siang ini cuacanya sudah berangsur mendingin. Trotoar pun mulai dipenuhi daun-daun kecokelatan, merah dan kuning. Sebuah truk penjual ubi bakar melintas pelan di jalanan beraspal.
Setelah beberapa minggu terus bertabrakan jadwal, aku dan Takashi akhirnya bisa bertemu di sebuah outdoor café. Aku sudah sangat menantikannya sejak bulan lalu.
“Selamat ulang tahun, Maika-tan7!”
Takashi menyodorkan sebuah kotak persegi berwarna biru laut berhias glitter dan pita putih kecil di ujung kanannya. Kotak yang sangat manis.
“Oh, astaga! Terima kasih banyak, Takashi-kun8! Boleh aku buka sekarang?”
“Buka saja.”
Aku menarik penutup kotak itu dan mendapati sebuah kalung dengan liontin permata pirus yang berkilau di dalamnya. Bentuknya droplet—seperti tetesan air mata, dan seperti…
“Awalnya aku bingung mau beli yang mana. Tapi, saat baru keluar toko untuk memikirkan ulang pilihanku, tiba-tiba ada kucing putih lewat. Dan kamu tahu? Matanya sungguh cantik! Persis seperti liontin kalung itu! Rasanya aku sempat tersihir sebelum memutuskan untuk mengambil model yang sama dengan—”
DEG
Kenapa…? Kenapa saat kukira akhirnya aku bisa bahagia, sosok itu ingin merenggutnya dariku lagi…? Setelah berduka selama lebih dari setahun dan nyaris tidak ingin mencintai siapapun lagi, kukira aku sudah baik-baik saja sekarang… Kukira semuanya tidak akan hancur untuk kesekian kalinya… Tapi ternyata aku salah besar…
“—Maika-tan, kamu nggak apa-apa?”
Suara Takashi menyadarkanku. Entah sejak kapan dia beranjak dari kursinya. Sambil membungkuk di depanku, dia mengelap air mata yang sudah membasahi pipi, menatapku dengan wajah memelas. “Kenapa tiba-tiba menangis? Apa yang terjadi?”
“Aku…” Tenggorokanku rasanya tercekat. Tapi melihat Takashi yang begitu jujur mengkhawatirkanku, batinku jadi makin dilema. “…Aku teringat Ayah… Dia juga lihat kucing itu sebelum meninggal…”
“Oh, ya? Kedengaran seperti cerita film horor… Kamu yakin soal itu?”
“Tentu saja! Bukan cuma Ayah. Ibu dan rekan kerjaku juga… Dia itu iblis…!”
Takashi terdiam, tapi kemudian tercengir simpati. “Sudahlah, Maika-tan. Mungkin kamu terlalu stres karena terus memikirkan ayahmu. Dia sudah tenang sekarang, jadi nggak usah—”
“Mana bisa aku…!” Seketika, keringat dingin membasahi punggungku saat aku sadar telah menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar. Aku mengatur napas, berusaha mendiamkan badai di dalam benakku sambil menggigit bibir sedikit keras.
“Itu… Lupakan saja. Mungkin aku memang cuma kelelahan…”
Takashi kembali duduk setelah memastikan aku sudah lebih tenang. Tapi, saat baru mulai menyeruput frappe yang agak mencair, mataku menangkap sesuatu di trotoar depan kafe, di seberang tempat kami berdua duduk.
Seekor kucing putih.
Dia hanya duduk diam di antara orang-orang yang berlalu-lalang, tak terganggu dan menatapku lurus-lurus dengan mata yang sama persis seperti liontin kalung pemberian Takashi. Mata pirus dengan pupil hitam yang nyaris mengecil menjadi satu garis lurus, bersinar terang diterpa cahaya matahari. Dan mungkin, dia adalah sosok yang sama dengan yang pernah dilihat Ayah, Ibu dan rekan kerjaku.
Tiba-tiba, sebuah ambulans dengan sirene meraung-raung lewat, mengalihkan perhatianku sejenak. Dan saat aku memandang kembali tempat tadi, kucing itu sudah menghilang.
__TAMAT__