Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bagian 1: Gema dari Masa Lalu
Tahun 2025 menjadi garis pembatas yang tidak pernah kusangka akan mengubah seluruh peta hidupku. Jika seseorang bertanya padaku sepuluh tahun lalu tentang bagaimana aku membayangkan masa depanku, aku mungkin akan menjawab dengan tumpukan dokumen kantor atau perjalanan bisnis yang membosankan. Aku tidak pernah membayangkan bahwa sebuah getaran suara akan menjadi pusat gravitasiku.
Pertama kali aku mengenalnya, dia hanyalah seorang anak kecil dengan ransel merah muda yang kebesaran. Namanya Aira. Saat itu, dia masih duduk di bangku kelas 6 SD. Dia adalah adik bungsu dari dua sahabat baikku, Wildan dan Farhan. Bagiku, Aira kala itu tak lebih dari “adik kecil” yang sering berlarian mengejar kucing di halaman rumah atau merengek minta dibelikan es krim saat aku berkunjung.
“Om Aris, nanti kalau aku sudah besar, aku mau jadi dokter!” pekiknya suatu siang di tahun 2018.
Aku tertawa, mengacak rambutnya yang dikuncir dua. “Belajar yang rajin, ya. Jangan Cuma main saja.”
Lalu, waktu melakukan apa yang paling piawai ia lakukan: berlalu tanpa pamit. Kesibukanku membangun firma arsitektur di luar kota membuatku jarang berkunjung ke rumah Wildan. Sosok Aira perlahan memudar, tersimpan dalam laci memori sebagai memori masa kecil yang lucu.
Bagian 2: Suara yang mengetuk langit
Awal 2025, aku kembali ke kota asalku. Sebuah undangan makan malam dari keluarga Wildan membawaku kembali ke teras rumah yang masih menyisakan aroma melati yang sama. Namun, suasana malam itu terasa berbeda.
Saat aku melangkah masuk ke ruang tamu, terdengar sebuah lantunan ayat suci dari ruang tengah. Suara itu begitu jernih, mengalun dengan tajwid yang presisi namun penuh dengan perasaan yang mendalam. Setiap harakatnya seolah punya nyawa, bergetar di udara dan merambat masuk ke sela-sela relung hatiku yang sudah lama gersang.
Aku terpaku di ambang pintu. Suara itu bukan suara kaset, bukan pula rekaman dari aplikasi. Itu adalah suara manusia hidup yang sedang berdialog dengan Tuhannya.
“Aris? Sudah datang?” tegur Wildan, membuyarkan lamunanku.
“Itu... siapa yang mengaji, Wil?” tanyaku spontan.
Wildan tersenyum bangga. “Itu Aira. Dia baru pulang dari pesantren liburan ini. Sekarang dia sudah kuliah semester dua, Ris. Waktu cepat sekali ya?”
Saat lantunan itu berakhir dengan shadaqallahul adzim, seorang gadis muncul dari balik tirai. Dia mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu dengan kerudung lebar yang senada. Wajahnya bersih, tanpa riasan berlebih, namun memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Gadis kecil dengan ransel merah muda itu telah hilang. Di hadapanku berdiri seorang gadis dengan sorot mata yang teduh. Saat dia melihatku, dia tersenyum tipis. Sebuah senyum sopan yang entah mengapa membuat jantungku berdetak dengan ritme yang tidak beraturan.
“Mas Aris, apa kabar?” suaranya saat berbicara biasa saja sudah terdengar seperti musik, tapi gema suaranya saat mengaji tadi masih terngiang di telingaku.
Bagian 3: Kekaguman yang Menjadi Luka
Malam-malam setelah pertemuan itu menjadi malam yang panjang bagiku. Aku, seorang pria yang sudah mapan secara finansial dan mental, mendadak merasa seperti remaja yang sedang kasmaran. Namun, ini bukan sekadar ketertarikan fisik. Aku jatuh cinta pada bagaimana dia membawa dirinya, dan terutama, aku jatuh cinta pada suaranya saat melantunkan firman Tuhan.
Ada kedamaian yang ia tawarkan lewat setiap ayat yang ia baca. Aku sering sengaja datang lebih awal saat ada janji dengan Wildan, hanya untuk duduk di teras samping dan mendengarkan Aira yang sedang tadarus di dalam rumah. Suara itu menjadi candu, sekaligus menjadi pengingat tentang betapa jauhnya aku telah melangkah dari sisi religiusitas.
Namun, realitas menghantamku dengan keras.
Suatu hari, aku sedang duduk bersama Wildan dan Farhan di kedai kopi langganan kami. Percakapan mengalir santai sampai akhirnya nama Aira muncul.
“Aira itu permata keluarga kami, Ris,” ujar Farhan sambil menyesap kopinya. “Kami berdua sudah sepakat, siapa pun yang mau mendekatinya harus benar-benar sepadan. Terutama soal umur dan visi. Kasihan kalau dia dapat yang terlalu tua, nanti dunianya tidak nyambung.”
Wildan mengangguk setuju. “Iya, lagipula aku merasa aneh kalau orang seumuran kita atau yang lebih tua dari kami berdua melirik Aira. Bagiku, itu tidak sopan. Kami ini abang-abangnya, kami tahu mana yang terbaik untuk dia.”
Kata-kata itu seperti hantaman godam di dadaku. Faktanya, aku memang lebih tua dari Wildan dan Farhan. Aku adalah senior mereka saat di kampus dulu. Jarak usiaku dengan Aira terpaut hampir lima belas tahun. Di mata mereka, aku adalah sahabat, kakak, sekaligus mentor dan bukan calon adik ipar.
Bagian 4: Tembok Tinggi Bernama Restu
Ketakutan mulai merayap. Aku tahu betul watak kedua abangnya. Mereka sangat protektif. Bagiku, Aira adalah masa depan, tapi bagi mereka, aku adalah bagian dari masa lalu yang “terlalu dewasa” untuk adik kecil mereka.
Seringkali aku mendapati diriku menatap cermin, mempertanyakan kepantasan diri. Apakah aku egois karena menginginkan bunga yang baru mekar sementara aku sudah berada di puncak musim panas menuju musim gugur?
Pernah suatu sore, aku membawakan beberapa kitab tafsir yang langka untuk Aira. Dia menerimanya dengan binar mata yang begitu tulus.
“Terima kasih, Mas Aris. Mas selalu tahu apa yang aku butuhkan,” ucapnya lembut.
“Sama-sama, Aira. Saya senang kalau itu bermanfaat untuk studimu,” jawabku berusaha menjaga nada suara agar tetap tenang.
“Mas Aris... kenapa akhir-akhir ini Mas terlihat sering melamun saat mendengarku mengaji?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuatku tersedak.
Aku terdiam cukup lama. Haruskah aku jujur? Haruskah aku katakan bahwa suaranya adalah alasan aku kembali mencari arah kiblat? Bahwa suaranya adalah alasan aku ingin menjadi pria yang lebih baik agar pantas berdiri di sampingnya?
Namun, bayangan wajah tegas Wildan dan Farhan melintas. Aku tidak ingin menghancurkan persahabatan belasan tahun ini. Aku juga tidak ingin membuat posisi Aira sulit di dalam keluarganya sendiri.
Bagian 5: Doa dalam Diam
Tahun 2025 belum berakhir, namun hatiku sudah penuh dengan kontradiksi. Aku mengaguminya dalam diam, mencintainya dalam setiap bait doa yang kupanjatkan setelah mendengar suaranya mengaji.
Restu kedua abangnya adalah tembok tinggi yang berlapis duri. Aku sadar, bagi mereka, jarak usia adalah angka yang tidak bisa dinegosiasikan. Mereka melihatku sebagai teman diskusi yang setara, bukan sebagai pria yang akan menggandeng tangan adik perempuan mereka menuju pelaminan.
Kini, setiap kali aku mendengar suaranya mengaji dari kejauhan, ada rasa hangat sekaligus perih yang menjalar. Suaranya masih merdu, masih menenangkan, namun kini ada nada melankolis yang kutambahkan sendiri dalam persepsiku.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari cerita ini. Apakah aku akan memberanikan diri mengetuk pintu rumah mereka bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pelamar? Ataukah aku akan tetap menjadi pendengar setia dari balik dinding, membiarkan suaranya yang merdu itu menjadi rahasia paling indah yang pernah kumiliki di tahun 2025?
Satu hal yang pasti: Aira bukan lagi gadis kecil dengan ransel merah muda. Dia adalah alasan aku kembali percaya, bahwa suara yang indah adalah suara yang mampu membawa jiwa pendengarnya lebih dekat kepada Sang Pencipta. Dan meski restu itu masih terasa mustahil, aku akan tetap menjaga rasa ini sebagaimana dia menjaga setiap makhraj huruf dalam mengajinya—dengan ketelitian, kesucian, dan penuh rasa hormat.
Penutup:
Cerita ini menggambarkan konflik batin antara cinta dan kepantasan sosial. Jarak usia sering kali menjadi isu sensitif dalam budaya kita, terutama ketika melibatkan lingkaran pertemanan yang sudah erat. Namun, seperti alunan mengaji Aira yang tulus, terkadang niat yang baik akan menemukan jalannya sendiri, meski harus melewati rintangan yang sulit.