Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Bronze
Kromatika Karma
1
Suka
4,271
Dibaca

Senja ini, sistem komputerku mencatat hari Selasa tahun 5079, sebuah era ketika teknologi telah mencapai puncak kemajuannya. Wahana antarbintang yang dahulu hanya sebatas imajinasi kini sanggup membelah galaksi dalam hitungan bulan. Segalanya telah menjadi mungkin, melampaui batas nalar yang pernah dibayangkan oleh nenek moyang manusia. Di dalam laboratorium pribadi peninggalan ayahku, instrumen AERS (Atomic Energy Resonance Spectrometer) berdengung bagaikan kidung mekanis yang hening. Mesin yang dirancang untuk mengidentifikasi fluktuasi medan kuantum melalui pancaran sensor optiknya, membaca sisa-sisa radiasi di udara satu per satu. Dengan setia, alat itu mencatat setiap serapan cahaya dan menyajikan deretan data yang bagiku jauh lebih berharga daripada oksigen yang kuhirup.

Malam nanti, Kepolisian Federasi Bumi akan menanti hasil analisisku dengan penuh harap dan hal krusial yang paling mereka butuhkan saat ini hanyalah laporanku mengenai sisa radiasi jejak molekuler dari sebuah ledakan resonansi misterius. Tragedi mematikan itu telah merenggut nyawa sembilan puluh delapan persen populasi gabungan dari kubu Mahāvīra dan Durjana, sebuah fakta pemusnahan massal yang terasa amat ganjil dan sulit dicerna oleh akal sehat. Pasalnya, baru dua hari lalu kedua kubu yang saling berseteru itu masih bertempur dengan sengit secara serentak di berbagai belahan dunia. Membentang jauh dari Pegunungan Alpen di Eropa, Sulawesi Utara di Indonesia, daratan India di Asia, hingga hamparan es beku di Kutub Utara.

Sejak tiga ribu tahun silam, Bumi telah menyimpan dua golongan manusia. Pertama, Nāra, jiwa-jiwa biasa yang tak dianugerahi keajaiban; kedua, Adhināra, kaum berkekuatan melampaui nalar yang hadir bagaikan ombak yang tak pernah surut. Dari derasnya takdir tersebut, jalan mereka terbelah. Sebagian mereka memilih menjadi Mahāvīra, pembawa cahaya penegak kebaikan, sementara yang lain menempuh jalan Durjana sebagai bayangan penabur kejahatan. Bagiku, pilihan itu tak mengubah apa-apa, sebab Adhināra yang menjelma Mahāvīra maupun Durjana pada dasarnya tetaplah manusia dengan nama dan wajah berbeda yang sama-sama digerakkan oleh ambisi serta nafsu. Lalu, apa bedanya terang dan gelap jika keduanya tidak lebih dari dua wajah pada sekeping koin tua berkarat yang senantiasa kubiarkan berputar, tanpa pernah kutunggu sisi mana yang akan mendarat?

Aku menunduk saksama, berhati-hati menyempurnakan setiap parameter algoritma yang berpendar di layar. Satu saja angka keliru kumasukkan, seluruh hidupku akan runtuh seketika. Di atas meja, sebuah map cokelat berisi laporan data rahasia tergeletak bisu, laksana saksi mata yang enggan bersuara. Batinku terusik, haruskah aku bersyukur atas kematian kaum Adhin..

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Bronze
Kromatika Karma
Gema Surya Hendrawan
Flash
The Weight of Silence
Rey Orphan
Cerpen
Lintah Darat
Donny Sixx
Skrip Film
Wanita Dalam Rumah
Iyam Renzia
Cerpen
Bronze
Tulis!!!
OvioviO
Cerpen
Kelam
Rairaa
Skrip Film
Aluna's Story
Rizky oktavia
Novel
Absence
Arialdi Kaspari
Flash
Bronze
IF THIS IS US...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Bronze
MISTERI TAS HITAM
Citra Rahayu Bening
Novel
Bronze
Love Freak
Faisal Ridha Dmt
Cerpen
Bronze
Jiwa yang Terkutuk
Ron Nee Soo
Novel
Otorten
Vincenti
Flash
Mimpi Dunia Sihir
winda aprillia
Flash
Diramal
Namira Andiena Fauziah
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kromatika Karma
Gema Surya Hendrawan
Novel
Bronze
Desa Langit Indah
Gema Surya Hendrawan