Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebuah televisi menyala tanpa suara, layarnya menampilkan film Hongkong yang sudah sering ditayangkan. Seorang pria duduk mematung menatap kotak hiburan tersebut dengan kepala yang ditopang tangannya.
Rob-B-Hood—judulnya—sebuah film komedi aksi dengan seorang bayi yang menjadi pusat cerita. Ketika aktor bayi tersebut terlihat di layar televisi, si pria menatap gambar seorang bayi yang ada pada buku yasin di tangannya. Matanya memerah memandang foto dan televisi itu secara bergantian.
“Yang, ayo tidur!” ucap seorang wanita dari dalam kamar.
Pria itu mengiyakan dan masuk ke dalam kamar. Ia menjatuhkan diri di samping wanita itu, matanya menatap kosong plafon rumah.
“Hei, ayo tidur! Jangan setiap malam bengong! Sudah lima belas menit loh kamu begitu.”
Si pria memutar badan menghadap si wanita. “Aku kangen Totti,” ujarnya dengan suara bergetar.
“Sama, aku juga. Tapi sudah tiga bulan kamu begini. Hidup kita tidak bisa begini terus. Kasihan Tutta, sudah kehilangan adiknya, dia juga merasa kehilangan ayahnya kalau kamu begini terus.”
Si pria menarik napas panjang dan terasa tersendat karena cairan di hidungnya.
“Kayaknya kamu harus cari kegiatan lain deh. Setidaknya sampai kepergian Totti bisa kamu ikhlaskan. Kasihan dia pergi tanpa rasa ikhlas dari kita sebagai orang tuanya. Dia anak spesial, dia anak yang kuat, kamu juga jadi ayah harus kuat, Yang.”
Bantal pria itu sudah basah, dan malam ini sama seperti sebelumnya. Tangis yang tak bersuara itu menghampirinya. Di saat sunyi dini hari, ia berteriak di dalam hati.
kini matanya tertutup, tapi penglihatannya tidak gelap. Pria itu melihat dirinya sedang memasukkan susu melalui selang sonde yang terpasang di lubang hidung Totti, bayi itu bersendawa kencang setelahnya.
Ia juga melihat anak bungsunya itu tertawa riang saat perutnya diendus oleh sang kakak. Tapi terkadang Tutta bertindak berlebihan, yang menyebabkan bayi sepuluh bulan itu mengeluarkan isi perutnya.
Sayangnya tawa itu tidak bertahan lama. Pria itu terdiam ketika Totti melepas selangnya dan berjalan menuju ruangan depan lalu meninggalkan rumah dengan kencang. Ia tak sempat menahan, pikirannya masih mencerna apa yang ia lihat. “Totti!” teriaknya terlambat.
“Yang, bangun!”
Sebuah goyangan pada kaki si pria menyadarkannya. Ia terduduk mengusap wajahnya yang berkeringat, dan menatap wajah istrinya yang sedang melihatnya dengan iba. Pria itu tersenyum kecut lalu memeluk istrinya, dan melanjutkan lagi tidur dengan tangan yang mengepal kuat di sisi badan.
***
Entah sudah berapa jam kesadaran pria itu berkelana, hingga samar-samar ia mendengarkan sebuah perbincangan.
“Nanti kalau Papa bangun, Tutta bilang ya!”
Pria itu pun seketika terjaga dan melihat istrinya sedang berbicara dengan Tutta.
“Nah, Papa sudah bangun. Ayo bilang, Nak!” kata si wanita.
Tutta menggelengkan kepala.
Wanita itu turut menggeleng dan menghela napas. “Jadi begini, Yang. Mumpung kamu lagi libur jualan. Tutta katanya mau main bola kaki sama kamu, tapi dia takut mintanya. Katanya takut lihat kamu murung terus,” ucapnya sembari mengelus kepala Tutta, “aku tahu kita sedang kehilangan, tapi kamu pikirkan Tutta juga. Coba nanti kalian cari bola, setidaknya dengan begitu kalian bisa akrab lagi.”
Si pria mengangguk dan memeluk anaknya lalu bersiap mencari bola.
Mereka tinggal di sebuah kampung kecil yang terkenal dengan sebuah danau yang berada di kaki gunung. Kampung itu cukup terpencil, jika di lihat pada peta yang ada hanya warna hijau. Jarak dari kampung ke kota setidaknya memakan waktu tempuh sepuluh jam.
Anak tiga tahun itu duduk terikat sarung di balik punggung ayahnya, ia memeluk kuat lemak pada pinggang pria itu. Mereka mendatangi beberapa toko dan setelah mendapatkan bola, mereka menghampiri sebuah warung pempek untuk sarapan.
Tutta lahap menyeruput cuko yang tidak pedas sembari mengunyah pempek lenjer yang ada di tangannya. Sedangkan si pria tidak makan, ia menatap kosong kursi tanpa penghuni di hadapannya, dan samar ia melihat Totti sedang memasukkan cuko ke dalam selang sondenya. “Totti, jangan!” teriak.
Tutta terkesiap dan menghentikan kunyahannya. Pria itu mengerjap beberapa kali lalu mengusap matanya, ia melihat para pengunjung menatapnya aneh.
Bahu pria itu turun, berkali-kali ia menggosok wajahnya sembari menggelengkan kepala. Sedangkan Tutta berhenti makan dan menatapnya dengan takut.
Sejenak hening, pria itu tersenyum pada Tutta lalu mengusap kepala si anak.
“Maaf ya, Nak, sudah bikin kaget.”
Tutta mengangguk dan kembali makan, kemudian mereka pulang setelah anak itu kenyang.
***
Pukul setengah lima sore, si pria mengajak Tutta menuju lapangan kampung yang ramai pengunjung. Ada juga para pedagang makanan yang memarkirkan dagangan mereka di tepi jalan dan sibuk melayani para pembeli.
Tutta menggiring bola, kaki mungilnya lincah berlari menuju sang ayah yang sedang menjadi penjaga gawang, dengan gawang sederhana yang mereka buat dari sandal sebagai tiangnya. Kini mereka sudah saling berhadapan, Tutta berhenti menatap sisi kanan dan kiri ayahnya. Ia mundur dua langkah lalu maju dan menendang bola itu.
“Gol!” teriak Tutta dengan kedua tangannya di udara.
Si pria terjatuh di sisi berlawanan dari arah datangnya bola. Ia menggelengkan kepala seolah menyesali keputusannya.
Tutta berlari menuju bola dan hendak mengambilnya. Namun tiba-tiba ia terjatuh dan menangis kencang.
Hal tersebut memancing sang ayah untuk segera berlari menghampiri anaknya dan melihat sebuah beling tertancap pada telapak kaki kanan Tutta.
***
Tutta sedang lasak, ia tidak mampu tidur nyenyak. Kakinya terpasang perban, “cenat-cenut” ia bilang. Ayahnya bergantian dengan ibunya menepuk-nepuk pantatnya agar dirinya tenang. Wajahnya terus meringis meski matanya tertutup rapat.
Pagi hari, Tutta terjaga dengan tidak bersemangat. Matanya sayu dan ia bilang jika badannya lemas. Ia juga menangis mendapati sang ayah yang sudah meninggalkan rumah untuk berjualan, dan ia hanya bersama ibunya yang terpaksa izin dari pekerjaan untuk menjaganya.
Keseharian Tutta tinggal bersama neneknya. Namun sang nenek kini sedang berada di kota mengunjungi saudara-saudara, yang menyebabkan anak itu harus ikut ibunya bekerja di kantor. Ia menanti di ruang laktasi dengan beberapa lembar kertas kosong dan pensil serta krayon. Hampir setiap jam sang ibu datang dan membawakannya camilan.
Sore hari tiba, Tutta histeris menyambut ayahnya, tangannya terbuka lebar meminta untuk digendong.
Pria itu mengangkat Tutta dan memberikan makanan ringan yang ia beli di pasar tempatnya berdagang. Anak itu makan dengan lahap.
“Ramai jualannya, Yang?” tanya sang istri.
“Ya, ada saja.”
Wanita itu menatap anaknya. “Tutta ... katanya tadi mau ngomong sendiri.”
Si pria menatap istrinya dan anaknya, dahinya berkerut menunggu Tutta bicara. Namun anak itu menggeleng cepat sembari mengunyah makanannya.
“Hah.” Bahu wanita itu turun. “Jadi begini, Tutta minta dibelikan sepatu bola, biar nanti kalau sudah sembuh bisa main bola lagi dengan aman katanya.”
“Benar, Nak?” tanya pria itu pada anaknya yang dijawab dengan anggukan cepat. “Tapi di sini tidak ada yang jual sepatu bola, harus beli ke kota. Lumayan juga ongkosnya, belum lagi waktunya,” keluh si pria.
“Kalau beli online saja bagaimana?”
“Nanti kalau barangnya tidak bagus, repot kita harus kirim balik, Yang,” jawab si pria mengelus kepala anaknya. “Tapi kan?”
“Tapi apa?” tanya sang istri.
“Aku ada ide.”
***
“Bu, Tutta sakit,” kata sang pria sembari menempelkan ponsel di telinganya
“Hah, sakit apa?!”
“Jadi, kemarin kami main bola, terus kaki Tutta kena beling.”
“Terus bagaimana kondisinya?”
“Kemarin dokter bilang tidak apa-apa, nanti juga sembuh kalau lukanya sudah kering.”
“Terus Tutta sama siapa pas istrimu kerja?”
“Tia terpaksa izin, Bu. Tapi ini Bu, ini ...”
“Tapi apa?”
“Anu ...”
“Anu apa?”
“Tutta minta dibelikan sepatu bola. Kan itu Ibu lagi di kota, Anto minta tolong dibelikan. Ibu sudah mau pulang kan?”
“Ibu masih lama di sini.”
“Kalau begitu dikirim saja, Bu.”
“Kenapa kamu tidak beli online saja?”
“Tidak mau, Bu. Nanti kalau barangnya jelek, repot harus kirim balik. Si Tutta maunya cepat.”
“Ya sudah, nanti ibu belikan. Tapi kirimnya pakai apa?”
“Pakai JNE saja, Bu.”
“Oh, pakai JNE?”
“Iya, JNE, Bu. Tadi sudah Anto baca di internet, ongkos kirimnya lebih murah dan waktu kirimnya juga lebih cepat. Tapi yang paling penting, barang kita aman dan pasti sampai di tangan penerima, Bu.”
“Wah, bagus sekali, lebih murah tapi lebih cepat tibanya?”
“Iya, Bu, betul!”
“Ya sudah, nanti Ibu belikan. Anggap saja ini kado dari Oma untuk cucunya yang lagi sakit.”
“Nah, memang itu maksudnya Anto, Bu. Makanya Anto minta belikan sama Ibu. Hehehe.”
“Ya sudah, nanti Ibu kirim.”
***
Tutta sudah bisa berjalan normal, lukanya sudah tidak terasa sakit lagi, bahkan ia sudah bisa melompat ke pelukan ayahnya yang sedang berdiri.
“Permisi.”
Sedang asyik bermain, suara berat seorang pria mengagetkan.
“Ya,” ucap sang ayah yang berdiri menuju depan rumah.
“Selamat siang, saya dari JNE mau antar paket untuk Bapak Anto.”
Pria itu membawa paketnya ke dalam rumah. Ia menyembunyikannya di balik punggung yang membuat Tutta menebak-nebak. Setelah tiga kali salah menjawab, pria itu akhirnya mengeluarkan apa yang ia pegang.
Wajah Tutta seketika semringah dan meminta sang ayah membuka plastik pembungkus paket tersebut. Semangatnya menggebu-gebu, tangan kecilnya tak sabar mengeluarkan apa yang ia terima.
Sejenak Tutta terdiam, ia memegang isi paket yang ternyata sebuah kotak. Matanya memandang ayahnya seolah bertanya mengenai isi kotak itu.
“Ayo buka!” ujar sang ayah.
Tutta membuka kotak itu, seketika bibirnya menyungging. “Asyik ... sepatu bola!” teriaknya kencang melihat isi kotak yang menghiburnya.
***
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE35BergerakBersama
#JNEContentCompetition2026
#JNEBeragamCerita