Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
0
Suka
15
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Debu pada akhirnya selalu memilih untuk pulang. Setidaknya itulah yang dipikirkan Sardi saat ia memandang gedung-gedung setengah jadi yang menjulang seperti rangka-rangka tanpa jiwa. Taman-taman yang dirancang untuk menjadi paru-paru kota hanya berupa lubang-lubang galian yang kini terisi air hujan keruh. Jalanan lebar yang seharusnya ramai oleh kendaraan justru hanya dihuni oleh rumput liar yang tumbuh dari sela-sela aspal yang mulai retak. Ada keheningan yang menggema di udara, seperti napas terakhir sebuah mimpi yang terlalu ambisius.

Sardi adalah petugas terakhir di Kota Bayang—begitu mereka menyebut kota yang tak pernah jadi ini. Tugasnya sederhana: memastikan bahwa semua lampu dimatikan sebelum kota ini benar-benar ditinggalkan. Ironis baginya, karena sebagian besar kabel listrik bahkan belum terpasang.

"Hari ini kau benar-benar akan melakukannya?" tanya Bimo, rekan kerjanya yang datang untuk terakhir kali. Bimo membawa kardus berisi barang-barang pribadi dari bilik kecil mereka di kompleks pekerja.

"Ya, upacara penutupan harus tetap dilaksanakan," jawab Sardi dengan senyum tipis. "Meskipun hanya aku satu-satunya peserta."

Bimo menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan geli.          "Kau selalu aneh, Sardi. Itu sebabnya kau cocok dengan kota aneh ini."

Kota Bayang seharusnya menjadi simbol kemajuan, perpindahan peradaban dari kota lama yang sesak dan tenggelam. Para arsitek terbaik didatangkan, teknologi termutakhir diterapkan, dan anggaran fantastis dikucurkan. Namun, seperti kebanyakan ambisi besar, kenyataan selalu punya cara untuk menjegal. Krisis ekonomi, pergantian rezim, dan skandal korupsi megaproyek membuat impian megah itu kandas di tengah jalan. Kota Bayang pun ditinggalkan, menjadi monumen kegagalan yang terlalu mahal untuk dibongkar.

"Tahun lalu masih ada dua puluh orang yang ikut upacara penutupan," gumam Sardi, mengingat bagaimana satu per satu rekannya memilih untuk pergi. "Tahun depan mungkin hanya hantu-hantu gedung yang akan hadir."

"Kau pikir masih ada tahun depan untuk tempat ini?" Bimo tertawa kering. "Kabarnya pemerintah akan meledakkan semua bangunan ini bulan depan. Dijadikan atraksi wisata, ledakan massal terbesar sepanjang sejarah."

Sardi tidak menjawab. Matanya terpaku pada secarik kertas yang tergeletak di dekat kakinya. Sebuah brosur lusuh dengan gambar Kota Jaya—ibukota administratif Negri Sebrang yang berhasil—kontras sempurna dengan Kota Bayang. Ia memungut brosur itu, lipatan-lipatannya sudah aus seolah telah dibuka dan dilipat ribuan kali.

"Aku pernah ke sana," kata Sardi tiba-tiba. "Kota Jaya. Cantik sekali. Danau buatan, taman-taman rapi, gedung-gedung megah yang benar-benar berfungsi."

"Lalu kenapa kau masih bertahan di sini? Di tengah-tengah puing-puing impian ini?"

Sardi tersenyum misterius. "Karena aku tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain."

Bimo mengerutkan dahi, tapi tak bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangkat bahu, menepuk pundak Sardi, lalu pergi dengan mobilnya yang berdebu—kendaraan terakhir yang meninggalkan Kota Bayang sore itu.

Pukul tujuh malam, Sardi berdiri di depan gedung yang seharusnya menjadi balai kota. Ia mengenakan kemeja putih terbaiknya, celana hitam yang rapi, dan sepatu mengkilap. Di tangannya, sebuah bendera kecil berkibar lemah diterpa angin malam. Sebagai satu-satunya peserta upacara penutupan tahunan, ia menyanyikan lagu kebangsaan dengan suara parau, lalu mengibarkan bendera di tiang pendek yang ia tancapkan sendiri.

"Dengan ini," suaranya bergema di plaza kosong, "saya nyatakan Kota Bayang secara resmi tutup untuk satu tahun ke depan."

Tepuk tangan tunggal terdengar dari kejauhan. Sardi menoleh, terkejut mendapati seorang pria tua berjalan tertatih ke arahnya. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang tampak mahal meski sudah usang.

"Upacara yang mengharukan," kata pria itu dengan aksen asing yang kental. "Saya Tun Mahadi, dari Negri Sebrang."

Sardi membungkuk canggung. "Maaf, tapi bagaimana Anda bisa sampai ke sini? Kota ini sudah ditutup untuk umum."

"Seperti halnya kota-kota hantu, selalu ada celah untuk masuk," Tun Mahadi tersenyum misterius. "Saya datang untuk melihat secara langsung kegagalan yang konon mirip dengan apa yang hampir terjadi di negara saya."

"Kota Jaya?" tanya Sardi.

"Ya. Tidak banyak yang tahu bahwa Kota Jaya nyaris bernasib sama seperti tempat ini. Hanya selisih keputusan tipis antara kesuksesan dan kehancuran."

Mereka berjalan menyusuri jalan utama yang sepi. Di bawah cahaya bulan, gedung-gedung setengah jadi tampak seperti tulang belulang purbakala yang membatu.

"Jadi, apa yang membuat Anda tetap di sini, Tuan Sardi? Semua orang sudah pergi."

Sardi menatap jauh ke depan. "Rahasia, Tuan Mahadi. Saya menunggu sesuatu yang akan terjadi."

"Ah, rahasia." Tun Mahadi mengangguk. "Saya juga punya satu. Mau dengar?"

Tanpa menunggu jawaban, pria tua itu melanjutkan, "Putrajaya yang Anda kagumi itu sebenarnya juga kota hantu. Kami hanya lebih baik dalam menyembunyikannya."

Mata Sardi melebar. "Apa maksud Anda?"

"Gedung-gedung cantik, taman-taman indah, danau buatan yang menakjubkan—semua itu hanya kulitnya saja. Di dalam, kekosongan yang sama seperti Kota Bayang ini. Pegawai pemerintah enggan pindah, birokrasi macet, ekonomi tidak berkembang sebagaimana diharapkan."

"Tapi saya pernah ke sana. Saya melihat sendiri keramaiannya."

Tun Mahadi tertawa kecil. "Yang Anda lihat adalah upacara pembukaan yang tak pernah berakhir. Turis dibawa dengan bus khusus pada jam-jam tertentu, pegawai negeri diberi insentif untuk tinggal meski hanya sementara, dan gedung-gedung diterangi meski tak berpenghuni. Putrajaya adalah teater megah, Tuan Sardi."

Mereka berhenti di depan sebuah gedung yang seharusnya menjadi perpustakaan nasional. Tun Mahadi mengeluarkan sebuah kunci kuno dari sakunya.

"Mau lihat rahasia Anda yang sebenarnya?"

Sardi ragu, tapi rasa penasaran mengalahkan kewarasannya. Ia mengangguk.

Tun Mahadi membuka pintu gedung itu dengan kuncinya. Anehnya, pintu terbuka mulus seolah selalu terawat. Di dalam, bukannya konstruksi setengah jadi, Sardi menemukan ruangan megah dengan lampu-lampu kristal yang menyala terang. Puluhan orang berjas dan bergaun mewah sedang berpesta.

"Selamat datang di upacara penutupan yang sebenarnya," bisik Tun Mahadi.

 

 

"Sardi, kau baik-baik saja?" Bimo mengguncang tubuhnya.

Sardi membuka mata, mendapati dirinya terbaring di tanah berdebu di depan gedung balai kota yang tak jadi. Bimo memandangnya khawatir.

"Aku... aku bertemu seseorang... Tun Mahadi dari Negri Sebrang..." ucapnya terbata.

Bimo mengerutkan dahi. "Kau berhalusinasi, Sardi. Aku kembali karena khawatir kau melakukan sesuatu yang bodoh. Dan benar saja, kau pingsan di sini setelah upacara konyolmu."

"Tidak, tidak. Dia nyata! Dia membawaku ke pesta di perpustakaan itu!"

"Perpustakaan? Gedung itu tidak pernah selesai dibangun, Sardi. Bahkan pondasinya saja belum sempurna."

Sardi memaksa diri berdiri, lalu berlari tertatih menuju gedung perpustakaan. Bimo mengikutinya dengan cemas. Mereka berhenti di depan lubang besar di tanah yang seharusnya menjadi fondasi perpustakaan nasional. Tak ada gedung, tak ada pesta, tak ada apapun selain genangan air keruh dan batang-batang besi berkarat.

"Tapi... aku yakin..."

"Sudahlah, Sardi. Saatnya pergi. Kota Bayang ini membuatmu gila."

Mereka berjalan kembali menuju mobil Bimo. Sardi merasa sesuatu keras di saku celananya. Ia merogoh ke dalam dan menemukan kunci kuno—kunci yang sama persis dengan yang digunakan Tun Mahadi untuk membuka pintu perpustakaan.

Tiba-tiba ponsel Bimo berbunyi. Ia mengangkatnya dengan kening berkerut, lalu menatap Sardi dengan wajah pucat.

"Ada apa?" tanya Sardi.

"Berita baru saja masuk," kata Bimo dengan suara bergetar. "Kota Jaya... seluruh kota tenggelam dalam lubang raksasa yang tiba-tiba muncul malam ini. Ribuan orang hilang."

Sardi mencengkeram kunci di tangannya. Di permukaan logamnya yang kusam, tergores halus tulisan dalam bahasa Melayu kuno: "Kota-kota yang mangkrak tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya menunggu untuk bangkit di tempat lain."

Dari kejauhan, di balik gedung-gedung rangka, samar-samar terdengar suara musik pesta dan tawa yang menggema. Sementara Kota Bayang, untuk pertama kalinya, mulai berkedip dengan lampu-lampu yang tak pernah dipasang. βα™

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Pertemuan di Kereta Bawah Tanah
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Isi Dalam Kemasan yang Berkurang Satu
Marino Gustomo
Cerpen
Zoon Politicon
Teguh Santoso
Flash
Coffee
Wuri
Flash
After Dark-19
Populartflower
Flash
SMS
Veramuna Risqyana
Flash
Bronze
Niskala
Bksai
Cerpen
Bronze
Mimpi Terakhir
Nuraini Mastura
Novel
Gold
Rahasia Nenek Piju
Mizan Publishing
Novel
Kaliptra
Kaela
Cerpen
Rahasia Gudang Tua
Yusfita
Flash
Mengisi Segelas Kopi
imagivine
Skrip Film
Does Netflix party require everyone to have Netflix?
watch party
Flash
Pasak
Xchalant
Rekomendasi
Cerpen
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Pertemuan di Kereta Bawah Tanah
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Diam yang Berbicara
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Di Atas Meja*
Muhammad Ibrahim
Novel
Rumah Tujuh Cahaya
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Katalog Bau di Kamar Mayat
Muhammad Ibrahim