Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
KOSMOS: KEHENINGAN KALDERA-9
1
Suka
1,134
Dibaca

3.890 EG(Era Galaksi)

Kapal antariksa UES Perihelion telah mengarungi kegelapan selama tujuh belas bulan ketika sensor jarak jauhnya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

"Komandan Reida." Suara Letnan Mark memecah kesunyian dek kendali. "Saya mendapat sinyal. Planet kelas-M. Jarak dua-tiga astronomi dari kita."

Komandan Reida berdiri dari kursinya dan berjalan mendekat ke layar utama. Di sana, di tengah lautan bintang yang acuh tak acuh, sebuah bola biru kehijauan menggantung dengan tenang, seolah sudah menunggu mereka.

"Atmosfer?" tanya Reida.

"Nitrogen, oksigen, karbon dioksida. Komposisinya hampir identik dengan Bumi." Letnan Mark menoleh dengan mata berbinar. "Komandan, ini benar-benar layak huni."

Dek kendali bergemuruh. Setelah tujuh belas bulan, setelah ribuan tahun cahaya dari rumah, mereka akhirnya menemukannya. Planet yang selama ini hanya ada di dalam teori dan impian.

Reida menatap bola biru kehijauan itu lama. Di balik kecantikannya yang tak terbantahkan, ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri, semacam bisikan yang tidak bisa ia terjemahkan.

"Siapkan tim eksplorasi," katanya akhirnya. "Dua kelompok. Saya ingin kalian turun sebelum matahari setempat tenggelam."

Tim Alpha dipimpin oleh Mayor Dion, seorang geolog berusia empat puluh tahun dengan pengalaman eksplorasi di tiga sistem bintang berbeda. Di belakangnya, empat anggota tim lain mengikuti: Ana sang ahli biologi, Kimi sang insinyur sistem, Grace sang xenolinguistik muda yang baru pertama kali terjun ke lapangan, dan Corporal Bram yang bertugas menjaga keamanan.

Tim Beta, lebih kecil, terdiri dari tiga orang: Dr. Leena sang astrofisikawan, Riko sang surveyor, dan Sergeant Mona sebagai pengawal. Mereka akan bergerak ke arah berlawanan, menjangkau sisi barat kaldra vulkanik yang sudah terdeteksi dari orbit.

Shuttlecraft mendarat di padang terbuka yang luas. Rerumputan setinggi lutut berwarna keunguan bergoyang tertimpa angin yang basah. Langit di atas mereka berwarna tembaga, dengan matahari kembar yang lebih kecil dari matahari Bumi, namun memancarkan cahaya lebih hangat. Di kejauhan, hutan gelap menggumpal seperti awan badai yang diam.

"Indah sekali," bisik Grace , membuka visir helmnya setengah.

"Jangan lepas helm." Bram menarik lengan perempuan itu. "Belum ada izin."

"Kadar oksigennya aman, Bram. Saya sudah cek."

"Protokol tetap protokol."

Dion tidak mendengarkan perdebatan kecil itu. Ia berlutut dan mengambil sejumput tanah. Merah kecokelatan, bertekstur halus, sedikit lembab. Terlalu lembab untuk padang terbuka seperti ini. Ia menoleh ke kanan, ke kiri. Tidak ada aliran sungai di sekitar mereka.

Lalu dari mana kelembaban ini berasal?

"Alpha ke Perihelion," ia menyentuh comlink di kerah bajunya. "Kami sudah mendarat. Semua kondisi nominal."

"Diterima, Alpha." Suara Reida terdengar jernih. "Beta sudah turun tiga puluh menit yang lalu. Saat ini mereka sedang bergerak ke kaldera. Tetap jaga kontak setiap dua puluh menit."

"Mengerti."

Dua jam pertama berjalan tanpa insiden.

Ana mengumpulkan sampel tanaman ungu dan menemukan bahwa selnya memiliki struktur yang sama sekali asing namun tidak bermusuhan dengan biokimia manusia. Kimi menganalisis komposisi mineral tanah dan menemukan kandungan logam langka yang luar biasa tinggi. Grace sibuk merekam suara angin dan suara-suara kecil tak teridentifikasi yang sesekali muncul dari arah hutan.

"Ada sesuatu di hutan itu," kata Grace pelan. "Suaranya seperti... getaran. Frekuensi rendah."

"Mungkin angin," kata Kimi.

"Angin tidak berdenyut seperti ini."

Bram mengangkat senjata dan menatap ke arah pohon-pohon gelap itu. Batangnya hitam mengkilap, daunnya berbentuk seperti telapak tangan raksasa yang terbentang ke langit. Di antara celah-celahnya, tidak ada cahaya yang menembus masuk.

"Kita tidak masuk ke sana," kata Dion. "Kita tetap di padang terbuka sesuai peta misi."

Tidak ada yang membantah.

Namun dua puluh menit kemudian, comlink Dion berbunyi. Bukan dari Perihelion. Dari Tim Beta.

Suaranya putus-putus, dipotong derau statis, namun jelas cukup untuk membuat darah Dion membeku.

"...di sini Beta... tolong... ada sesuatu... Leena sudah---aaaRGHHH---"

Lalu hening.

"Beta! Respons!" Dion menekan comlink berulang kali. "Leena, Riko, Mona---respons!"

Tidak ada jawaban.

Dari atas, Perihelion mencoba menjangkau frekuensi Beta. Juga tidak ada respons. Koordinat terakhir Tim Beta menunjukkan mereka berada dua setengah kilometer ke arah barat, persis di tepi kaldera yang mereka tuju.

"Kita harus ke sana," kata Ana.

"Misi kami…."

"Mereka butuh bantuan, Dion!"

Dion menatap ke arah barat. Dari jarak ini ia tidak bisa melihat kaldera. Yang ia lihat hanya hamparan padang ungu, dan di ujungnya, tepi hutan gelap yang menjulang.

"Baik." Ia mengatur napas. "Kita bergerak. Bram di depan. Senjata aktif. Tidak ada yang berpencar."

Mereka menemukannya dua kilometer kemudian.

Atau lebih tepatnya, mereka menemukan apa yang tersisa.

Helmet Riko tergeletak terbalik di tanah. Visirnya retak bersih dari atas ke bawah, seolah dibelah oleh sesuatu yang sangat tajam dan sangat kuat. Di sekitarnya, rumput ungu rata dengan tanah dalam radius yang luas, seperti ada sesuatu yang sangat besar telah berguling di sana.

Tidak ada tubuh.

Hanya darah.

Merah tua, sudah mulai mengering, tersebar dalam pola yang tidak bisa dijelaskan dengan cara apa pun yang menyenangkan.

Grace menunduk dan muntah.

Kimi mundur dua langkah, menyentuh dinding shuttlecraft imajiner yang tidak ada, paru-parunya tiba-tiba merasa terlalu kecil.

"Apa yang melakukan ini?" bisik Ana, suaranya tidak lagi terdengar seperti suara ilmuwan yang antusias.

Bram tidak menjawab. Matanya berputar memindai sekeliling, jarinya tidak pernah jauh dari pelatuk.

Dan kemudian Dion melihatnya.

Di tepi padang, di mana rumput bertemu dengan bayangan hutan, ada sesuatu yang bergerak. Bukan satu. Bukan dua. Bergerak di antara pohon-pohon hitam itu seperti air yang mengalir, seperti bayangan yang memiliki massa, seperti mimpi buruk yang diberi tulang dan kecepatan.

"Bram," kata Dion pelan.

"Saya lihat."

"Berapa banyak?"

Hening panjang.

"Banyak, Komandan."

Makhluk itu keluar dari hutan secara bersamaan, seolah ada sebuah perintah tak terdengar yang menggerakkan mereka sekaligus. Tubuhnya setinggi dua setengah meter, berjalan dengan empat kaki yang panjang dan beruas-ruas seperti serangga, namun badannya besar seperti mamalia. Kulitnya, kalau bisa disebut kulit, tampak seperti minyak hitam yang bergerak, memantulkan cahaya tembaga langit dengan cara yang tidak masuk akal. Tidak ada mata yang terlihat. Tidak ada mulut yang terlihat. Hanya kepala berbentuk lonjong yang halus sempurna.

Namun kepalanya mengarah tepat kepada mereka.

"Lari," kata Dion.

"Kita tidak bisa—"

"LARI!"

Mereka berlari.

Bram menembak. Sekali, dua kali, tiga kali. Senjata plasma meledak dengan cahaya biru, menghantam tubuh makhluk paling depan. Makhluk itu terhuyung, terpental ke belakang, namun dua yang lain melangkah menggantikan posisinya tanpa jeda.

Grace tersandung. Kimi menarik tangannya, memaksanya berdiri. Mereka berlari bersama namun kaki Grace tidak bisa mengimbangi. Kimi tidak melepaskan tangannya.

Suara di belakang mereka bukan suara yang pernah didengar oleh telinga manusia mana pun. Bukan geraman, bukan raungan. Lebih seperti frekuensi rendah yang Grace ceritakan tadi, namun kini terasa di dalam tulang, di dalam rongga dada, membuat kepala berdenyut dan pandangan bergoyang.

Ana menoleh ke belakang dan menyesal melakukannya.

Dua makhluk telah mengejar Kimi dan Grace , bergerak dalam kecepatan yang tidak adil untuk ukuran tubuh sebesar itu. Satu melompat. Tinggi. Jauh. Bayangan hitamnya menutupi cahaya matahari kembar untuk sesaat.

Grace tidak sempat berteriak.

Kimi berteriak cukup untuk keduanya.

"KIMI ANA, JANGAN—” Bram berbalik dan menembakkan seluruh klip senjatanya ke arah makhluk yang kini berdiri di atas apa yang tersisa dari Kimi. Makhluk itu berpaling. Perlahan. Seperti sesuatu yang tersinggung, bukan sesuatu yang terluka.

Bram memasang klip baru. Tangannya tidak gemetar. Tangannya seorang prajurit.

"Komandan, pergi!"

"Bram—"

"PERGI, DION!"

Dion menarik Ana dan mereka berlari. Di belakang mereka, senjata Bram terus menyalak, cahaya biru menerangi padang ungu seperti kilat yang terus-menerus, dan suara tembakan itu semakin lama semakin jauh, semakin teredam, hingga akhirnya:

Berhenti.

Dion dan Ana mencapai shuttlecraft dengan napas yang sudah tidak bisa disebut napas lagi. Lebih seperti tangisan yang terlalu tergesa untuk mengeluarkan air mata.

Ana memukul panel akses dengan kepalan tangan. Pintunya terbuka. Mereka masuk. Dion menekan tombol lepas landas bahkan sebelum pintu menutup sempurna.

Di layar kamera belakang, ia melihat padang itu.

Tenang. Rumput ungu bergoyang. Langit tembaga tidak berubah. Matahari kembar condong ke barat dengan anggun.

Dan di bawah sana, antara jarak shuttlecraft yang makin jauh, satu per satu sosok hitam itu berjalan kembali ke dalam hutan. Perlahan. Tanpa terburu-buru. Seperti pulang ke rumah setelah selesai bekerja.

Planet itu kembali kepada dirinya sendiri.

Di atas, Reida menerima dua orang yang naik dengan tangan kosong dan mata kosong. Ia tidak bertanya apa-apa dulu. Ia hanya memerintahkan kapal untuk meninggalkan orbit.

Nanti, dalam laporan yang ia tulis dengan tangan yang tidak pernah benar-benar berhenti gemetar, ia mencantumkan koordinat planet itu dengan tepat dan akurat.

Di bawah deskripsi, ia menambahkan satu baris peringatan yang singkat:

"Planet Kaldera-9: layak huni secara atmosferik. Tidak layak secara lainnya. Jangan kembali."

UES Perihelion memutar haluannya dan menyelam kembali ke dalam kegelapan antarbintang, membawa pulang delapan nama yang tidak akan pernah menjawab comlink lagi.

Di belakang mereka, planet biru kehijauan itu terus berputar dengan tenang, cantik, tak terganggu.

Ia sudah menunggu jutaan tahun.

Ia bisa menunggu lebih lama lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
KOSMOS: KEHENINGAN KALDERA-9
Dio Septian
Cerpen
Bronze
Blanchete
Centrifugal
Novel
Kosmis dalam Kelut
adek Dwi oktaviantina
Skrip Film
MYOVM
Sahrun Rojikin
Novel
Haruna: Di Balik Tawa Ini
Sequoia Tom
Cerpen
Kopiah Bapak
Intan Andaru
Cerpen
Bronze
Kuburanku Adalah Tempat Kau Berdiri Hari Ini
Agnes Erylia
Cerpen
Bronze
Lentara yang Padam
Nurfaizah
Novel
RENTENIR: PEMBURU KEBENARAN
Novi Assyadiyah
Cerpen
Bronze
Suara Seruling
Hekto Kopter
Cerpen
Pandangan Islam tentang Kesurupan
Daffa Septa
Novel
TERDAMPAR DI PULAU MENEKETEHE
Andhika Wandana
Cerpen
Bronze
Siaran Terakhir
Christian Shonda Benyamin
Flash
The Weight of Silence
Rey Orphan
Cerpen
Bronze
Sttt... Jangan berisik. Kebenaran Bersembunyi dalam Sunyi
Ron Nee Soo
Rekomendasi
Cerpen
KOSMOS: KEHENINGAN KALDERA-9
Dio Septian
Novel
KOSMOS: BINTANG DI RENGGUT
Dio Septian
Novel
KOSMOS: DI BAWAH LANGIT
Dio Septian
Novel
ASTRAEL
Dio Septian
Cerpen
Sinyal dari Selat Sunda
Dio Septian
Novel
KOSMOS: PERANG ANTTAN
Dio Septian