Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Papan kayu di depan gang itu bertuliskan dengan cat merah yang mulai pudar:
"Kos Bu Lastri – Nyaman, Aman, Jangan Bawa Kambing."
Bagi orang yang baru lewat, kalimat terakhir terdengar seperti lelucon.
Bagi penghuni kos, itu adalah hasil rapat darurat dua bulan lalu.
Penyebabnya bernama Bowo.
Bowo adalah penghuni kamar nomor tiga yang bekerja sebagai penjual sate. Suatu pagi ia benar-benar membawa seekor kambing ke dalam halaman kos dengan alasan, "Biar lebih hemat ongkos kirim."
Kambing itu berhasil masuk ke dapur bersama, memakan jemuran, lalu mengejar tukang galon sampai melompat ke selokan.
Sejak hari itu, Bu Lastri memasang aturan baru.
---
Di kamar nomor tujuh tinggal seorang pemuda bernama Raka.
Usianya dua puluh lima tahun.
Pekerjaannya tidak pernah jelas.
Kalau ditanya tetangga, ia menjawab dirinya "pekerja kreatif."
Kalau ditanya Bu Lastri, ia berkata "wirausaha digital."
Kalau ditanya ibunya melalui telepon, ia mengaku "konsultan pemasaran."
Padahal kenyataannya...
Raka adalah editor video lepas yang bekerja dari kamar kos sambil berharap setiap notifikasi di ponselnya adalah transfer dari klien, bukan pengingat tagihan.
Pagi itu ia baru saja bangun ketika terdengar suara teriakan dari halaman.
"Rakaaa!"
Ia langsung duduk tegak.
Suara Bu Lastri.
Kalau Bu Lastri memanggil nama lengkap seseorang, berarti penghuni itu masih aman.
Kalau hanya nama depan dengan nada panjang seperti itu...
Biasanya ada masalah.
Raka membuka pintu perlahan.
"Iya, Bu?"
"Kamu lihat ayam saya?"
Raka berkedip.
"Ayam?"
"Iya."
"Yang putih."
"Yang hobinya masuk kamar orang."
Raka menggeleng.
"Belum lihat."
Bu Lastri mendesah.
"Kalau ketemu, bilang suruh pulang."
Raka hampir bertanya bagaimana cara berbicara kepada ayam.
Tapi ia memilih diam.
Pengalaman mengajarinya bahwa lebih baik tidak mencari logika ketika tinggal di Kos Bu Lastri.
---
Belum sempat kembali ke kamar, pintu kamar sebelah terbuka.
Keluar seorang mahasiswa tingkat akhir bernama Dion.
Rambutnya berantakan.
Matanya sembab.
Di tangannya ada gelas kopi berukuran hampir satu liter.
"Aku belum tidur."
Raka mengangguk.
"Ngerjain skripsi?"
Dion menggeleng.
"Main catur online."
Raka menghela napas.
"Terus skripsimu?"
"Masih online juga."
---
Tiba-tiba seekor ayam putih berlari melewati lorong kos.
"Tu dia!" teriak Bu Lastri.
Entah bagaimana, seluruh penghuni langsung bereaksi.
Bowo mengejar dari arah dapur.
Dion mengejar sambil tetap membawa kopi.
Raka ikut berlari karena tidak enak kalau hanya menonton.
Ayam itu masuk ke kamar mandi bersama.
Keluar lagi.
Masuk ke ruang jemur.
Keluar lagi.
Belok ke halaman.
Lalu...
Masuk ke kamar nomor lima yang pintunya sedang terbuka.
Semua orang berhenti di depan pintu.
"Itu kamar Mbak Mira," bisik Dion.
Mbak Mira adalah guru TK yang terkenal paling rapi di kos.
Ia baru saja mengepel lantai.
Beberapa detik kemudian terdengar suara,
"AAAAAA!"
Disusul suara ember jatuh.
Lalu ayam itu keluar lagi dengan bulu dipenuhi busa sabun.
Kini warnanya bukan putih.
Melainkan putih kebiruan.
---
Malam harinya, seluruh penghuni berkumpul di teras.
Bu Lastri menggelar rapat.
"Mulai besok," katanya serius.
"Semua penghuni harus saling menjaga ketertiban."
"Terutama Raka."
Raka menunjuk dirinya sendiri.
"Saya?"
"Iya."
"Kamu paling sering ada di kos."
Raka ingin membela diri.
Tapi memang benar.
Kliennya selalu berkata pekerjaan bisa dikerjakan dari mana saja.
Sayangnya, yang dimaksud klien bukan berarti dari atas kasur sepanjang hari.
---
Belum selesai rapat, seorang pria tua datang membawa koper.
"Permisi."
"Saya mau ngekos."
Bu Lastri tersenyum ramah.
"Masih ada kamar kosong."
Pria itu memperkenalkan diri.
"Nama saya Pak Jatmiko."
"Saya pensiunan."
"Saya cuma ingin hidup tenang."
Semua penghuni saling pandang.
Lalu, hampir bersamaan mereka menahan tawa.
Hidup tenang.
Di Kos Bu Lastri.
Kalimat itu terdengar seperti seseorang membeli payung karena berharap matahari turun.
---
Keesokan paginya, Pak Jatmiko bangun pukul lima.
Beliau senam di halaman.
Udara masih sejuk.
Suasana sangat damai.
Ia tersenyum puas.
"Tempat ini ternyata memang tenang."
Belum sampai satu menit kemudian...
Brak!
Suara ember jatuh.
Disusul teriakan Bowo.
"Siapa yang nyimpen cabai di kulkas khusus es krim?!"
Lalu terdengar suara Dion.
"Itu bukan es krim..."
"Itu sambal yang dibekukan."
Beberapa detik kemudian terdengar suara orang batuk-batuk.
Rupanya Bowo sudah telanjur memakannya.
Pak Jatmiko memejamkan mata.
Ia mencoba tetap tenang.
Belum sempat menarik napas...
Raka keluar kamar sambil panik.
"Siapa yang lihat hard disk saya?"
Dion menjawab santai.
"Yang bentuknya kotak hitam?"
"Iya!"
"Tadi dipakai Bu Lastri."
Raka membelalak.
"Dipakai buat apa?"
"Katanya pas banget buat ganjel kaki lemari."
Raka langsung berlari menuju ruang tamu.
Di sana benar saja.
Hard disk berisi seluruh pekerjaan kliennya sedang menopang lemari kayu yang miring.
Ia mengangkatnya perlahan seperti sedang menyelamatkan benda purbakala.
Saat itulah Bu Lastri muncul sambil membawa sapu.
"Lho."
"Itu bukan batu ya?"
Raka hanya bisa memegang dadanya.
Ia mulai bertanya-tanya.
Apakah yang akan lebih dulu habis...
Kesabarannya...
Atau sisa kapasitas hard disk itu.
Dan tanpa ada seorang pun yang menyadarinya, kekacauan yang selama ini hanya terjadi di dalam kos akan segera menyeret seluruh penghuninya ke dalam kejadian paling konyol yang pernah mereka alami.
Pagi itu Raka masih memeriksa hard disk miliknya.
Ia menghubungkannya ke laptop.
Lampu indikator menyala.
Raka menahan napas.
"Ya Allah... hidup... hidup..."
Layar laptop akhirnya menampilkan seluruh folder pekerjaannya.
Raka langsung memeluk hard disk itu.
"Mulai hari ini aku janji akan menyimpanmu di tempat yang aman."
Dari belakang terdengar suara Bu Lastri.
"Kalau gitu jangan taruh di meja lagi."
"Nanti kukira tatakan galon."
Raka menutup mata.
Ia memutuskan tidak ingin membahasnya lagi.
---
Menjelang siang, Bu Lastri mengumumkan sesuatu.
"Perhatian semuanya!"
Seluruh penghuni keluar dari kamar masing-masing.
"Apa lagi, Bu?" tanya Dion.
"Minggu depan ada lomba Kampung Terbersih."
"Terus?"
"Kalau kampung kita menang, hadiahnya sepuluh juta rupiah."
Mata semua penghuni langsung berbinar.
Bu Lastri melanjutkan,
"Pak RT minta kos kita ikut membantu."
Raka mengangguk.
"Siap, Bu."
"Tugas pertama, bersihkan halaman."
Semua mengangguk mantap.
Lima menit kemudian...
Tidak ada yang bergerak.
Semua saling menatap.
Bowo akhirnya bertanya,
"Mulainya dari siapa?"
Dion menjawab santai,
"Dari orang yang pertama kali punya ide."
"Kan idenya Bu Lastri."
Semua serentak menoleh kepada Bu Lastri.
Beliau langsung mengangkat sapu.
"Kalau begitu saya ngawasin saja."
---
Akhirnya mereka mulai bekerja.
Raka menyapu.
Dion mencabut rumput.
Pak Jatmiko merapikan pot bunga.
Bowo bertugas memangkas pohon.
Masalahnya...
Bowo terlalu bersemangat.
Bukannya memangkas ranting, ia justru memotong tali jemuran.
Seluruh pakaian penghuni jatuh ke tanah.
Mbak Mira menatap rok-rok sekolah yang baru dicucinya.
"Bowo..."
"Iya?"
"Itu bukan ranting."
"Oh..."
Bowo menggaruk kepala.
"Pantesan gampang dipotong."
---
Sore harinya, Pak RT datang melakukan pengecekan.
Beliau mengangguk puas.
"Bagus."
"Halamannya bersih."
Semua tersenyum bangga.
Namun tepat saat itu...
Seekor kambing masuk dari gang.
Bowo langsung berdiri.
"Itu kambing saya!"
Semua penghuni menatapnya.
"Bukannya sudah dijual?"
"Iya."
"Tapi kayaknya dia kangen."
Kambing itu berlari mengelilingi halaman.
Lalu melompat ke atas tumpukan pot bunga yang baru saja disusun Pak Jatmiko.
Prang!
Lima pot pecah sekaligus.
Pak RT memijat pelipis.
"Kalian memang luar biasa."
Raka tersenyum canggung.
"Dalam arti positif atau negatif, Pak?"
Pak RT berpikir sejenak.
"Saya juga belum tahu."
---
Malamnya, penghuni kos mengadakan rapat darurat.
"Kita harus membuat kesan baik," kata Raka.
"Dalam tiga hari lagi tim penilai datang."
Pak Jatmiko mengangkat tangan.
"Saya punya usul."
Semua langsung memperhatikan.
"Kita tanam bunga."
"Bagus!"
"Cat pagar."
"Setuju!"
"Bersihkan selokan."
"Siap!"
Dion ikut mengangkat tangan.
"Aku juga punya usul."
"Apa?"
"Kalau tim penilai datang..."
"...kita pura-pura bukan penghuni sini."
Bantal langsung melayang ke arah wajahnya.
---
Keesokan harinya mereka mengecat pagar.
Tugas itu tampak sederhana.
Sampai Bowo tanpa sengaja menyenggol kaleng cat.
Cat hijau tumpah ke ayam putih milik Bu Lastri.
Ayam itu panik lalu berlari ke mana-mana.
Lima menit kemudian muncul lagi...
Kini warnanya hijau.
Bu Lastri memandangi ayamnya.
"Dulu putih."
"Kemarin biru."
"Sekarang hijau."
Dion berbisik kepada Raka.
"Kalau besok merah..."
"...kita sudah punya lampu lalu lintas."
Raka menahan tawa.
Sayangnya Bu Lastri mendengar.
"Kalau kamu masih bercanda..."
"...kamu yang saya cat berikutnya."
---
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Tim penilai datang dengan pakaian rapi sambil membawa clipboard.
Pak RT menyambut mereka dengan penuh percaya diri.
"Silakan melihat-lihat lingkungan kami."
Raka dan penghuni kos berdiri berbaris sambil tersenyum.
Semuanya tampak sempurna.
Halaman bersih.
Pagar baru dicat.
Tanaman tertata rapi.
Bahkan ayam hijau berhasil disembunyikan di belakang dapur.
Salah satu juri mengangguk puas.
"Bagus sekali."
Baru saja ia hendak menulis sesuatu...
Terdengar suara keras dari dalam kos.
Duuuaaar!
Semua terkejut.
Asap putih mengepul dari dapur bersama.
Raka berlari masuk.
"Bowo!"
Bowo keluar sambil batuk-batuk.
"Tenang!"
"Cuma gagal bikin popcorn."
Raka melihat panci yang tutupnya tersangkut di langit-langit.
"Itu bukan gagal."
"Itu percobaan peluncuran roket."
Tim penilai hanya bisa saling berpandangan.
Namun kekacauan ternyata belum selesai.
Dari arah belakang, seekor ayam berwarna hijau berhasil lolos.
Ia berlari melintasi halaman tepat di depan para juri.
Semua orang membeku.
Salah seorang juri melepas kacamatanya.
"...Saya baru pertama kali melihat ayam warna hijau."
Dion tersenyum gugup.
"Itu... edisi terbatas, Pak."
Seketika Bu Lastri menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Raka tahu.
Harapan mereka memenangkan lomba kampung mungkin baru saja ikut berlari bersama ayam itu.
Namun mereka belum menyadari bahwa masalah yang lebih besar sedang menunggu.
Karena sore itu, seorang pria berjas datang membawa sebuah surat resmi.
Dan surat itu ditujukan khusus untuk...
Kos Bu Lastri.
Suasana yang semula riuh langsung berubah hening ketika pria berjas itu berdiri di depan pagar kos.
Ia membawa map biru dan sebuah amplop berstempel resmi.
"Permisi," katanya sopan.
"Apakah ini Kos Bu Lastri?"
Bu Lastri maju sambil mengusap tangan ke celemek.
"Iya, Pak."
Pria itu menyerahkan amplop tersebut.
"Ini surat pemberitahuan dari pemilik tanah."
Bu Lastri membacanya perlahan.
Semakin lama wajahnya semakin pucat.
Raka mendekat.
"Ada apa, Bu?"
Bu Lastri menghela napas panjang.
"Pemilik tanah mau menjual bangunan ini."
Semua penghuni langsung saling berpandangan.
"Kalau dalam tiga bulan tidak ada pembeli yang mempertahankan kos ini..."
"...semua penghuni harus pindah."
---
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana, halaman Kos Bu Lastri benar-benar sunyi.
Tak ada yang bercanda.
Tak ada yang mengejar ayam.
Bahkan Dion yang biasanya tak bisa diam ikut termenung.
"Aku baru sadar," katanya lirih.
"Aku betah di sini."
Bowo mengangguk.
"Aku juga."
"Di luar sana belum tentu ada kos yang membolehkan mantan kambingku main ke halaman."
Semua langsung menatapnya.
"Bowo..."
"Iya?"
"Itu bukan alasan yang mengharukan."
---
Malam itu mereka mengadakan rapat darurat.
Raka berdiri sambil membawa spidol.
"Oke."
"Kita cari solusi."
Pak Jatmiko mengangkat tangan.
"Berapa harga bangunan ini?"
Bu Lastri menyebutkan angkanya.
Semua langsung terdiam.
Dion menghitung dengan kalkulator.
"Lima kali tabungan kita..."
"...masih kurang."
Raka menepuk papan tulis.
"Berarti kita harus mencari uang."
"Bagaimana caranya?"
Ide mulai bermunculan.
Bowo ingin membuka jasa potong rumput.
Padahal selama ini ia sulit membedakan rumput dengan tanaman hias.
Dion ingin membuat kanal video berjudul "Kekacauan Anak Kos."
Pak Jatmiko mengusulkan bazar.
Mbak Mira mengusulkan kelas menggambar untuk anak-anak.
Raka akhirnya tersenyum.
"Kenapa kita tidak gabungkan semuanya?"
---
Seminggu berikutnya, halaman kos berubah menjadi tempat yang sangat ramai.
Mbak Mira mengajar melukis.
Pak Jatmiko membuka kelas catur.
Bowo menjual sate.
Dion menjadi pembawa acara.
Raka membuat video promosi dan mengunggahnya ke media sosial.
Awalnya mereka tidak berharap banyak.
Namun justru kekacauan kecil yang terjadi membuat banyak orang tertawa.
Video ketika ayam hijau mengejar Dion ditonton ratusan ribu kali.
Video Bowo salah memakai celemek bergambar bunga juga viral.
Komentar bermunculan.
"Kos ini nyata atau acara komedi?"
"Saya ingin pindah ke sana."
"Ayam hijaunya masih ada?"
Dion membaca komentar sambil tertawa.
"Kita terkenal."
Raka mengangguk.
"Entah harus bangga atau malu."
---
Tak lama kemudian, seorang pemilik kanal wisata datang.
"Saya ingin membuat liputan."
"Kos ini unik."
Bu Lastri bingung.
"Uniknya di mana?"
Pria itu tersenyum.
"Semua tempat berusaha terlihat sempurna."
"Kos ini justru apa adanya."
"Itu yang disukai orang."
---
Beberapa hari kemudian, halaman kos dipenuhi pengunjung.
Warung sate Bowo laris.
Kelas melukis penuh.
Video Raka terus dibagikan.
Kotak donasi yang disediakan untuk mempertahankan kos perlahan mulai terisi.
Meski belum cukup membeli bangunan, hasilnya jauh lebih baik dari perkiraan.
Namun tepat saat suasana sedang ramai...
Seorang anak kecil menangis.
"Balonku..."
Balon berbentuk ayam terlepas dan terbang.
Tanpa berpikir panjang, Dion mengejarnya.
Balon itu tersangkut di antena televisi.
Dion naik tangga.
Raka berteriak dari bawah.
"Hati-hati!"
"Aman!"
Belum selesai bicara...
Tangga bergeser.
Dion kehilangan keseimbangan.
Semua menjerit.
Untungnya Bowo yang sedang lewat berhasil menangkapnya.
Sayangnya...
Mereka berdua justru jatuh ke gerobak sate.
Tusuk sate beterbangan.
Arang tumpah.
Asap mengepul.
Pengunjung yang melihat kejadian itu justru bertepuk tangan.
Mereka mengira semua itu bagian dari pertunjukan.
Seorang anak bahkan berseru,
"Lagi! Lagi!"
Dion yang wajahnya penuh jelaga hanya bisa berkata,
"Kalau ada yang mau mengulang..."
"...silakan ganti saya."
Semua orang tertawa.
---
Malam harinya, mereka menghitung hasil bazar.
Jumlah uang yang terkumpul cukup besar.
Tetapi masih kurang untuk menyelamatkan kos.
Saat itulah Pak Jatmiko tersenyum.
"Sebenarnya..."
"Ada satu hal yang belum saya ceritakan."
Semua menoleh kepadanya.
Pak Jatmiko mengeluarkan sebuah map dari dalam kopernya.
"Aku bukan sekadar pensiunan."
"Dulu aku bekerja sebagai arsitek."
"Dan..."
"...aku mengenal pemilik tanah ini secara pribadi."
Raka membelalakkan mata.
"Serius?"
Pak Jatmiko mengangguk.
"Aku rasa..."
"...aku masih bisa mencoba membujuknya."
Semua penghuni saling berpandangan.
Untuk pertama kalinya sejak surat itu datang...
Harapan mulai kembali muncul.
Keesokan paginya, Pak Jatmiko berangkat menemui pemilik tanah bersama Bu Lastri dan Raka.
Sementara itu, penghuni kos yang lain diminta tetap menjaga bazar agar pengunjung tidak kecewa.
"Semoga berhasil," kata Mbak Mira sambil melambaikan tangan.
Bowo ikut melambai.
"Lihat ya, kalau nanti berhasil, aku traktir sate."
Dion menepuk bahunya.
"Jangan sate dari kambing yang pernah tinggal di sini."
Bowo pura-pura tersinggung.
"Itu sudah jadi keluarga."
---
Pertemuan berlangsung di sebuah rumah tua yang berada di ujung kota.
Pemilik tanah bernama Pak Hendra, seorang pengusaha yang kini tinggal bersama keluarganya.
Setelah berbincang cukup lama, Pak Hendra tersenyum sambil memandangi Bu Lastri.
"Sebenarnya saya tidak ingin menjual kos itu."
Bu Lastri terkejut.
"Lalu kenapa ada surat itu?"
Pak Hendra menghela napas.
"Anak-anak saya menganggap bangunan itu sudah terlalu tua."
"Mereka ingin membangun ruko."
Pak Jatmiko tersenyum kecil.
"Aku sudah bilang."
"Tempat itu bukan sekadar bangunan."
"Itu rumah bagi banyak orang."
Pak Hendra terdiam.
Raka kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Pak..."
"Sebelum Bapak memutuskan, boleh lihat sesuatu?"
Ia memutar video-video tentang kehidupan di Kos Bu Lastri.
Video ayam hijau.
Video bazar.
Video anak-anak yang belajar melukis.
Video Bu Lastri yang membagikan makanan gratis kepada warga.
Pak Hendra tertawa berkali-kali.
Namun di akhir video, ia justru terdiam.
"Itu..."
Raka mengangguk.
"Semua penghuni menganggap kos ini rumah kedua."
Pak Hendra menatap ke luar jendela cukup lama.
Akhirnya ia berkata pelan,
"Kalau begitu..."
"...aku yang akan berubah pikiran."
---
Siang harinya mereka kembali ke kos.
Semua penghuni sudah menunggu dengan wajah penuh harap.
"Bagaimana?" tanya Dion.
Pak Jatmiko sengaja diam beberapa detik.
Lalu tersenyum lebar.
"Kos ini..."
"...tidak jadi dijual."
Suasana langsung meledak.
Bowo melompat kegirangan.
Dion memeluk Raka.
Mbak Mira meneteskan air mata.
Bu Lastri berkali-kali mengucapkan syukur.
Pak Hendra ternyata ikut datang.
Beliau berdiri di depan semua penghuni.
"Saya hanya punya satu syarat."
Semua kembali diam.
"Apa, Pak?"
"Jangan pernah mengubah suasana tempat ini."
"Biarkan tetap menjadi rumah yang penuh tawa."
Semua mengangguk serempak.
---
Malam itu Bu Lastri memasak lebih banyak dari biasanya.
Meja makan penuh dengan berbagai hidangan.
Sate buatan Bowo.
Es teh racikan Dion yang entah mengapa rasanya selalu berbeda setiap gelas.
Sayur buatan Mbak Mira.
Dan kue bolu hasil percobaan Raka.
Sayangnya...
Begitu dicicipi semua orang langsung diam.
Pak Jatmiko bertanya hati-hati,
"Raka..."
"Ini rasa apa?"
Raka ikut mencicipi.
Lalu mengernyit.
"Harusnya cokelat."
Bu Lastri mengambil bungkus bahan yang digunakan.
"Lho..."
"Kamu pakai bubuk kopi."
Dion tertawa sampai hampir tersedak.
"Pantes."
"Ini bukan bolu."
"Ini semangat lembur yang dipanggang."
Semua kembali tertawa.
---
Beberapa bulan kemudian, Kos Bu Lastri menjadi terkenal.
Banyak orang datang bukan hanya untuk menginap, tetapi juga untuk merasakan suasana hangat yang selalu dipenuhi cerita lucu.
Di depan gerbang kini terpasang papan baru.
Tulisan lamanya masih dipertahankan.
"Kos Bu Lastri – Nyaman, Aman, Jangan Bawa Kambing."
Namun di bawahnya ada tambahan kalimat hasil usul seluruh penghuni.
"Kalau membawa masalah, masuk saja. Pulangnya semoga sambil tertawa."
Pak Hendra bahkan membantu memperbaiki bangunan tanpa mengubah bentuk aslinya.
Perpustakaan kecil dibuat di ruang kosong.
Halaman diperluas agar anak-anak sekitar bisa bermain.
Bazar akhir pekan tetap diadakan setiap bulan.
Dan ayam milik Bu Lastri...
Akhirnya kembali berwarna putih.
Meski sesekali masih ada bercak hijau di ekornya yang tidak pernah benar-benar hilang.
---
Suatu sore, Raka sedang mengedit video di teras.
Dion datang membawa kabar.
"Rak!"
"Apa?"
"Video terbaru kita tembus satu juta penonton!"
Raka tersenyum.
"Lumayan."
"Honor iklannya bisa buat apa?"
Raka berpikir sejenak.
"Lemari baru."
"Kenapa?"
"Supaya hard disk-ku nggak dipakai ganjal lagi."
Bu Lastri yang kebetulan lewat langsung berseru,
"Tenang!"
"Sekarang saya sudah tahu bedanya hard disk sama batu."
Semua tertawa.
Raka mengangguk puas.
"Itu perkembangan terbesar di kos ini."
Tepat saat matahari mulai tenggelam, tawa mereka kembali memenuhi halaman.
Di tempat itu, tidak ada penghuni yang sempurna.
Tidak ada hari yang benar-benar tenang.
Selalu ada kesalahan kecil.
Selalu ada kekacauan yang muncul tanpa diduga.
Namun justru dari semua kekacauan itulah, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga.
Bukan sekadar tempat tinggal.
Melainkan keluarga yang dipertemukan oleh keadaan, lalu dipersatukan oleh tawa.
TAMAT