Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, hanya bisa berubah bentuk. Dalam kasusku, energi "Jomblo Menahun" tidak pernah musnah, hanya berubah bentuk menjadi energi "Ngenes Berkepanjangan".
Usiaku sekarang : 30an. Status: Lajang, tapi di KTP rasanya ingin kutulis "Menunggu Keajaiban". Sabtu malam itu, aku sedang melakukan ritual rutin para jomblo: tiduran di kasur kosan dengan posisi miring 45 derajat, scrolling Instagram sambil menghujat orang-orang yang pamer foto pacaran.
"Halah, paling bentar lagi putus," gumamku saat melihat foto teman SD yang lagi pre-wedding.
Tiba-tiba... TING! Sebuah DM (Direct Message) masuk. Aku melirik layar HP dengan malas. Paling-paling spam dari akun yang nyebarin link pishing, atau dari akun "Peninggi Badan Tiang Listrik".
Tapi mataku terbelalak. Jantungku yang tadinya berdetak dengan irama dangdut koplo, tiba-tiba berubah jadi speed metal. Nama pengirimnya: Siska Amalia.
Siska Amalia! Primadona SMA! Bunga desa! Gadis yang dulu kalau lewat di koridor sekolah, angin seolah berhenti berhembus untuk memberi hormat, dan cowok-cowok (termasuk aku) otomatis menahan napas sampai hipoksia. Dulu, aku cuma berani memandang punggungnya dari kejauhan. Bicara padanya? Mustahil. Level kami beda kasta. Dia kasta Brahmana, aku kasta Plankton.
Aku membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Isinya singkat, padat, tapi mematikan: "Hai Cahyo! Apa kabar? Lama banget ya nggak ketemu. Liat fotomu makin gagah deh. Besok Minggu sibuk nggak? Ketemuan yuk, ngopi-ngopi cantik. Kangen nih pengen ngobrol. 😊"
DUAR! Otakku meledak. Dia bilang apa? "Makin gagah"? "Kangen"? Apakah ini nyata? Apakah Siska baru saja kejedot tiang listrik lalu seleranya berubah drastis menjadi pria berwajah pas-pasan sepertiku? Atau mungkin, standar ketampanan dunia sudah bergeser?
Aku langsung lari ke kamar mandi, berkaca. "Gagah dari mananya?" tanyaku pada cermin yang retak seribu. Perutku mulai buncit, rambut mulai ada tanda-tanda penipisan dini. Tapi, hei! Cinta itu buta, bukan? Mungkin Siska melihat inner beauty-ku yang terpancar laksana reaktor nuklir.
Tanpa pikir panjang (karena kalau mikir pasti sadar diri), aku membalas: "Hai Siska! Kabar baik banget! Wah, kebetulan besok aku kosong melompong. Boleh banget, di mana?"
Balasan cepat datang: "Di Cafe Senja & Kenangan ya, jam 1 siang. See you, Cahyo! 😘"
Ada emotikon cium. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berguling-guling di kasur, membayangkan skenario masa depan. Mungkin ini saatnya. Mungkin dia baru putus dan butuh sandaran. Mungkin dia lelah dengan cowok bad boy dan mencari cowok sad boy sepertiku. Aku membayangkan kami menikah, punya rumah subsidi tipe 36, dan hidup bahagia selamanya.
Minggu pagi. Hari penentuan. Aku bangun jam 5 subuh, padahal janjian jam 1 siang. Persiapanku lebih heboh daripada persiapan proklamasi kemerdekaan.
Langkah 1: Mandi Kembang. Oke, nggak pakai kembang beneran, tapi aku mandi tiga kali. Pakai sabun cair mahal yang kubeli khusus di minimarket (biasanya pakai sabun batangan sisa yang udah tipis ditempel-tempel). Aku menggosok daki di leher sampai kulitku merah iritasi. Harus bersih!
Langkah 2: Busana. Aku membongkar lemari. Mengeluarkan kemeja flanel kotak-kotak andalanku. Kusetrika baju itu dengan penuh perasaan. Saking panasnya setrika dan saking semangatnya aku menekan, garis lipatannya tajam sekali, kalau disentuh bisa mengiris jari. Celana chino krem, sepatu sneakers yang sudah ku-semir pakai tisu basah.
Langkah 3: Wajah & Rambut. Ini bagian tersulit. Merenovasi wajah. Aku mencukur kumis tipisku yang lebih mirip rambut jagung. Memakai masker wajah punya teman kosan (rasanya perih, tapi beauty is pain). Terakhir, rambut. Aku memakai pomade (minyak rambut) sebanyak tiga colek penuh. Rambutku kusisir ke belakang, klimis, mengkilap, dan keras. Kalau ada lalat hinggap di kepalaku, dia pasti tergelincir dan patah tulang.
Langkah 4: Parfum. Aku menyemprotkan parfum "Aroma Pria Sukses" ke seluruh titik nadi. Leher, pergelangan tangan, ketiak, dada, sampai lutut (siapa tahu dia nyium lutut?). Baunya menyengat. Satu kosan mabuk kepayang. Nyamuk di radius 5 meter langsung mati keracunan.
Jam 12.30, aku berangkat naik motor. Sepanjang jalan aku senyum-senyum sendiri kayak orang gila baru sembuh.
Sampai di Cafe Senja & Kenangan. Tempatnya estetik, penuh lampu gantung, dan harganya pasti mencekik leher UMR Jogja. Aku duduk di meja pojok, memesan Ice Americano (biar kelihatan dewasa, padahal pahitnya minta ampun, pengen nangis pas minum).
Jam 13.00 Tepat. Pintu cafe terbuka. Lonceng berbunyi. Kling! Angin dari AC seolah bertiup lebih kencang. Musik latar cafe mendadak berubah jadi lagu romantis Westlife. Siska masuk.
Ya Tuhan... Dia jauh lebih cantik daripada di foto. Rambutnya badai, kulitnya glowing laksana bohlam 100 watt. Dia memakai blazer merah marun yang elegan dan rok span hitam. Dia berjalan dengan anggun, hak sepatunya berbunyi tak-tak-tak berirama di lantai kayu. Semua mata pengunjung tertuju padanya. Tapi dia berjalan lurus ke arahku. KE ARAHKU!
"Cahyo?" sapanya.
 Suaranya merdu seperti penyiar radio tengah malam. Aku berdiri, kakiku gemetar. Hampir saja aku hormat bendera saking gugupnya. "H-Hai Siska! W-Wah... Beneran Siska ya? Kirain bidadari nyasar," gombalanku garing kriuk, tapi dia tertawa. "Ah kamu bisa aja. Duduk yuk."
Kami duduk berhadapan. Jantungku mau copot. Dia menatapku lekat-lekat. "Gila, kamu beda banget ya sekarang, Yo. Kelihatan lebih... mapan," puji Siska.
Mapan? Padahal dompetku isinya cuma struk Indomaret dan uang pecahan dua ribuan lecek. Tapi aku mengangguk mantap. "Yaa... begitulah Sis. Namanya juga proses hidup. Alhamdulillah, rezeki ada aja," jawabku sok bijak.
Kami mengobrol. Awalnya nostalgia masa SMA. "Ingat nggak dulu kamu pernah dihukum lari keliling lapangan gara-gara telat?" tanya Siska. "Ingat banget. Itu kan gara-gara aku ngeliatin kamu pas upacara," jawabku berani. Siska tersipu malu. "Ih, kamu tuh ya, dari dulu emang lucu."
Strike 1! Dia bilang aku lucu. Cewek suka cowok humoris. Sinyal positif! Obrolan makin dalam. Dia mulai bertanya hal-hal pribadi.
"Kamu sekarang kerja di mana, Yo?"
"Di perusahaan multinasional, Sis. Jadi supervisor (padahal karyawan kantoran biasa yang kerjaan ga main-main, tapi gaji mainan)."
"Wah, hebat dong. Pasti gajinya lumayan ya? Udah punya tabungan masa depan?"
Deg. Pertanyaan tentang "Masa Depan". Ini kode keras! Dia sedang menyeleksi calon imam! Dia ingin memastikan aku sanggup membiayai rumah tangga kami nanti!
"Ada lah, Sis. Dikit-dikit. Aku orangnya visioner kok. Mikirin masa depan banget," jawabku sambil membusungkan dada (menahan perut buncit).
Siska tersenyum misterius. Senyum yang sulit diartikan. Dia memajukan tubuhnya, mendekat ke arahku. Tatapannya tajam, serius, dan... mengintimidasi.
"Bagus, Yo. Aku suka cowok yang peduli sama masa depan. Karena kita nggak pernah tahu apa yang terjadi besok, kan? Hidup itu penuh ketidakpastian. Sakit, kecelakaan, atau... (dia menelan ludah)... meninggal mendadak."
Aku merinding. Kok jadi horor?
"Maksudnya gimana, Sis?"
 "Bayangkan, Yo. Kalau tiba-tiba besok kamu sakit kritis. Siapa yang bayar biaya rumah sakit? Siapa yang ngebiayain orang tuamu? Tabunganmu cukup?"
Aku terdiam. "Y-Ya... belum cukup sih." Siska mengangguk prihatin. Tangannya perlahan merogoh ke dalam tas besarnya. Aku menahan napas. Apa yang dia ambil? Cokelat? Kado? Atau cincin lamaran (mungkin dia tipe wanita agresif)?
Yang keluar adalah... Sebuah IPAD PRO dan SEGEPOK BROSUR KERTAS MENGKILAP.
Siska meletakkan iPad itu di meja. Membuka aplikasi dengan grafik warna-warni yang mengerikan. "Nah, Cahyo. Kebetulan banget kita ketemu. Aku sekarang adalah Financial Consultant di Asuransi 'Masa Depan Sejahtera Abadi Jaya Sentosa'. Aku lihat kamu punya potensi besar, tapi proteksimu nol. Sayang banget kalau asetmu hilang cuma gara-gara sakit tipes."
Duniaku runtuh. Langit-langit cafe rasanya ambruk menimpa kepalaku. Musik Westlife di telingaku berubah jadi lagu Mengheningkan Cipta.
Jadi... Dia menghubungiku bukan karena rindu? Dia memujiku "mapan" bukan karena kagum, tapi sedang mengukur kemampuanku bayar premi? Kata "Masa Depan" yang dia ucapkan bukan tentang pernikahan kami, tapi tentang ASURANSI JIWA UNIT LINK?!
"Sis... Jadi kamu mau nawarin asuransi?" tanyaku lirih, suaraku serak menahan tangis. Siska tidak peduli dengan perubahan wajahku. Mode "Salesman" sudah aktif. Matanya berapi-api. "Bukan nawarin, Yo. Tapi MEMBANTU. Aku nggak mau temanku susah. Coba lihat ilustrasi ini. Kalau kamu setor 2 juta per bulan, di usia 55 tahun kamu bisa punya dana pensiun 2 Milyar! Keren kan?"
Dia mulai presentasi. Cepat sekali. Mulutnya komat-kamit menjelaskan istilah asing: Critical Illness, Waiver, Top Up, Rider, Cutloss. Aku cuma bengong. Otakku blank. Rasa kopi Americano yang pahit ini tidak sebanding dengan pahitnya kenyataan hidupku.
Aku mencoba mencari celah untuk kabur. Atau setidaknya menolak. "Waduh Sis... menarik sih. Tapi kayaknya aku belum butuh deh. Aku kan masih muda, sehat..." "Eits! Jangan salah!" potong Siska cepat. "Justru pas muda dan sehat ini preminya murah! Kalau udah sakit, ditolak perusahaan lho!"
Dia menekan layar iPad-nya agresif. "Lagian Yo, kamu kan single. Nanti kalau (amit-amit) kamu meninggal, siapa yang dapat warisan? Kasihan orang tuamu."
Skakmat. Mau bilang "Aku nggak punya duit" tapi tadi di awal aku sudah sombong bilang "Mapan dan Gaji Lumayan". Senjata makan tuan. Sombong membawa petaka. Harga diriku sebagai lelaki dipertaruhkan. Kalau aku bilang nggak punya duit sekarang, aku akan terlihat seperti penipu di mata Siska.
Aku masih berusaha flirting tipis-tipis, berharap ini cuma sampingan dia. "Ya... oke deh Sis. Nanti aku pelajari. Tapi ngomong-ngomong, kamu semangat banget kerjanya. Buat nabung nikah ya?" pancingku. Berharap dia jawab "Iya, nunggu dilamar kamu."
Siska tersenyum lebar. Kali ini senyum tulus, bukan senyum sales. Dia membuka galeri di iPad-nya. "Bener banget, Yo! Aku semangat kerja demi mereka..."
Dia menunjukkan sebuah foto wallpaper. Di foto itu: Siska, memakai kebaya, tersenyum bahagia. Di sebelahnya, seorang pria tinggi, tegap, gantengnya kayak Reza Rahadian campur Chris Hemsworth. Dan di gendongan pria itu, ada bayi gemoy yang lucu banget.
"Kenalin, Yo. Ini Mas Bram, suamiku. Dia Pilot. Dan ini Baby El, anak pertamaku, baru 6 bulan."
DUARRR!!! DUARRR!!! DUARRR!!! Kali ini bukan cuma otakku yang meledak. Hati, ginjal, pankreas, dan usus besarku ikut meledak berkeping-keping.
Suami? Pilot? Anak? Jadi... dia sudah nikah? DM "Kangen" itu apa maksudnya?! Oh, aku tahu. Kangen target omset.
"Suamiku Mas Bram juga ambil paket yang 5 juta sebulan lho, Yo. Dia sadar banget sebagai kepala keluarga harus proteksi diri. Masa kamu yang temen lama aku kalah sama Mas Bram?"
Siska melancarkan serangan fatality. Dia menggunakan suaminya yang sempurna itu untuk menghancurkan mental miskinku. Aku menatap foto Mas Bram si Pilot. Lalu menatap bayanganku di layar iPad: Kumel, kucel, minyak rambut kebanyakan, dan bau parfum nyengat. Aku hanyalah remah-remah rengginang di dalam kaleng Khong Guan.
"Jadi gimana, Yo? Kita deal ya? Tanda tangan di sini. Cukup KTP dan transfer awal aja." Siska menyodorkan iPad-nya.
Aku menatap Siska. Dia tersenyum manis. Aku menatap dompetku. Aku menatap harga diriku yang tersisa seujung kuku. Aku tidak bisa mundur. Aku sudah kalah segalanya (kalah ganteng, kalah mapan, kalah start). Aku tidak mau kalah gengsi juga.
Dengan tangan gemetar (dan air mata yang tertahan di pelupuk mata), aku mengambil stylus pen. "O-Oke, Sis. A-Aku ambil... yang paket paling murah ada nggak?" "Ada! 500 ribu sebulan. Tapi nggak dapet kartu rumah sakit ya, cuma santunan meninggal." "Gapapa. Kayaknya abis ini aku emang mau meninggal aja," gumamku.
Aku menandatangani polis itu. Tanda tangan di atas materai digital, meresmikan kebodohanku.
Pertemuan itu berakhir 15 menit kemudian setelah aku mentransfer uang kost-kostan bulan ini ke rekening asuransi. "Makasih banget ya, Cahyo! Kamu emang teman terbaik!" seru Siska sambil membereskan barang-barangnya. "Oh ya, salam buat keluarga ya. Aku harus cabut nih, Mas Bram udah jemput di depan bawa Pajero."
Siska pergi. Melenggang kangkung dengan bahagia. Meninggalkan aku sendirian di meja pojok. Ditemani kopi Americano yang es batunya sudah mencair semua, sehambar hidupku.
Aku berjalan keluar cafe dengan gontai. Di parkiran, aku melihat Siska masuk ke mobil Pajero Sport putih yang mengkilap. Supirnya (si Mas Bram Pilot itu) turun membukakan pintu sambil mencium kening Siska. Adegan FTV live di depan mata.
Aku menyalakan motor bututku. Brebet... brebet... dor! Knalpotku nembak, membuat tukang parkir kaget. "Dua ribu, Mas," kata tukang parkir. Aku merogoh saku. Kosong. Uangku habis buat bayar kopi mahal tadi. "Pak, boleh ngutang nggak? Saya baru aja kena musibah..." "Musibah apa Mas? Kecopetan?" "Bukan Pak. Kena Unit Link berkedok CLBK."
Hari itu aku pulang dengan membawa tiga hal:
Dan malam ini, aku kembali ke posisi semula. Miring 45 derajat di kasur kosan. Makan mie instan (tanpa telur, lagi hemat). Sambil menatap langit-langit kamar, aku berbisik: "Setidaknya kalau aku mati keselek bumbu mie instan, aku dapet santunan 50 juta. Makasih, Siska."