Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
PAGI HARI
Pukul delapan pagi, cahaya matahari menyelinap masuk lewat jendela besar di sisi timur Kopitaloka, mengguratkan pola hangat di atas meja kayu dan lantai semen yang mengilat. Wangi biji kopi yang baru digiling menguap dari balik meja bar, menyatu dengan suara halus musik jazz yang mengalun pelan.
Sena berdiri di balik bar, membilas portafilter, memanaskan mesin espresso, dan mengintip stok susu oat di lemari pendingin. Tangannya bergerak hafal, tapi pikirannya masih setengah terjaga.
Kopi pertama hari itu bukan untuk pelanggan, tapi untuk dirinya sendiri. Flat white, tanpa gula. Selalu begitu. Seolah kopi pertamanya adalah ritual perkenalan ulang dengan pagi.
Lonceng kecil di pintu berdenting. Raya masuk—seperti biasa, dengan rambut setengah diikat, totebag yang penuh buku, dan ekspresi setengah kantuk. Ia langsung menuju kursi di pojok dekat jendela. Meja favoritnya. Tanpa perlu berkata apa-apa, Sena sudah mulai menyiapkan Espresso dingin, dua tetes gula cair, tanpa sedotan.
"Selamat pagi, Sena," kata Raya, akhirnya. Suaranya serak manis, masih belum sepenuhnya bangun.
"Pagi," balas Sena. "Kamu telat lima menit dari biasanya."
Raya tertawa kecil. "Wah, jangan-jangan kamu nyatet jadwal semua pelanggan."
"Bukan dicatat. Dihafal saja, karena terbiasa."
Mereka sama-sama diam beberapa detik. Lalu bunyi mesin kopi mengambil alih suasana. Uap naik pelan, menari di udara.
Di luar, kota mulai sibuk. Tapi di dalam Kopitaloka, waktu bergerak sedikit lebih lambat.
Setelah beberapa tegukan, Raya mulai mengetik di laptopnya. Jari-jarinya menari cepat, kadang terhenti, lalu bergerak lagi. Sena melirik sebentar, tak berniat mengganggu. Ia tahu, setiap pagi Raya sedang “menangkap ide yang belum sempat lari”.
* * *
Lonceng pintu berdenting lagi.
Pak Anwar masuk dengan langkah pelan tapi pasti. Kemeja putih lengan pendek dan celana kain abu-abunya sudah disetrika rapi. Di tangan kanannya, koran yang dilipat dua. Di tangan kirinya, topi yang baru saja ia lepas.
"Selamat pagi, Sena."
"Seperti biasa, Pak?"
"Tentu. Hitam, tanpa gula, sedingin cucian belum diperas."
Sena tertawa kecil. "Berarti saya harus bikinnya sepahit kenangan mantan ya, Pak?"
Pak Anwar duduk di kursi bar depan mesin espresso, meletakkan korannya. "Itu terlalu pahit. Kenangan saya manis, tapi basi."
Raya melirik dan tersenyum. Pak Anwar membalas dengan anggukan kecil, seolah mereka sudah lama kenal meski jarang bicara.
* * *
Beberapa menit kemudian, suara riuh kecil datang dari belakang pintu. Egi, mahasiswa semester lima yang magang di sana, muncul dengan ransel tergantung di satu bahu.
"Maaf telat! Tadi ban sepeda gue kempes."
Sena mengangguk, tidak marah. "Langsung cuci tangan, terus bantu di bar."
Egi bergerak cepat. Tapi tak lupa menyapa, "Pagi Mbak Raya, pagi Pak Anwar!"
"Sepeda kamu kayaknya lebih sering kempes dari kamu ngopi di sini, Gi," komentar Pak Anwar.
"Karena kopi di sini bikin kuat, Pak. Jadi sepeda saya iri."
Tawa kecil mengisi ruang. Musik jazz tetap mengalun, pelan, tidak ingin mengganggu.
* * *
Sekitar pukul sembilan, pintu terbuka lagi. Angin pagi menyeret serta suara langkah kecil. Mbak Mei masuk sambil menggandeng Aluna, anak perempuannya, yang kini usianya sudah mau lima tahun. Si kecil itu mengucek matanya, masih mengantuk.
"Maaf ribet, Sena. Mau seperti biasa, tapi es batunya dikit, ya."
Sena mengangguk. "Kopi untuk ibunya, biskuit untuk bocahnya."
"Terima kasih," senyum Mbak Mei, lalu duduk di sudut dekat rak buku anak-anak.
Sekarang, lima orang duduk di dalam Kopitaloka. Masing-masing dengan cerita, rutinitas, dan hidupnya. Pagi merangkak naik. Jam di dinding berdetak malas, seolah tahu tak ada yang terburu-buru di Kopitaloka. Musik masih mengalun, kini berganti ke Nina Simone—Feeling Good, versi live. Sena menyukai lagu itu, tapi pagi ini, nada-nadanya terdengar seperti kenangan yang terlalu besar untuk disimpan di dada.
SIANG HARI
Siang merayap masuk perlahan. Cahaya matahari yang tadi lembut kini menembus kaca dengan lebih tegas, membuat bayangan kursi dan meja bergeser pelan. Kopitaloka mulai terasa lebih ramai, tapi tetap tidak kehilangan ritme lambatnya.
Raya menutup laptop sebentar, menghela napas panjang. “Ide-ide gue kayaknya butuh jeda,” katanya sambil menatap keluar jendela. Sena hanya tersenyum, lalu mengganti pilihan musik di audio player. Kali ini, suara gitar akustik mengisi ruang.
Egi sibuk mengatur gelas-gelas bersih di rak, sesekali melirik jam. “Kalau nggak ada tugas kampus, gue betah di sini seharian,” gumamnya.
Pak Anwar menanggapi tanpa menoleh dari korannya, “Betah itu tanda tempatnya benar.”
Di sudut rak buku anak-anak, Mbak Mei membacakan cerita singkat untuk putrinya. Si kecil tertawa kecil, lalu tertidur di pangkuan ibunya. “Aneh ya,” kata Mbak Mei lirih, “tempat ini kayak bisa menenangkan lebih cepat daripada rumah.”
Sena mendengar semua percakapan itu, meski tidak ikut campur. Ia hanya menambahkan catatan kecil di buku inventaris: stok kopi masih cukup, tapi stok kehangatan sepertinya bertambah.
Menjelang sore, hujan turun sebentar. Rintiknya mengetuk kaca jendela, membuat semua orang menoleh. Tidak ada yang beranjak. Justru, hujan itu seperti alasan tambahan untuk tetap tinggal.
Ketika hujan reda, aroma tanah basah bercampur dengan wangi kopi. Raya kembali mengetik, Egi kembali bercanda, Pak Anwar kembali membaca, Mbak Mei kembali tersenyum. Dan Sena, sekali lagi, menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Kali ini Americano, hangat, tanpa gula.
Ia menyesap pelan, lalu bergumam dalam hati: Mungkin Kopitaloka bukan sekadar tempat singgah. Mungkin ia sedang diam-diam menjadi rumah.
MALAM HARI
Hari itu pun berlalu. Sudah lewat pukul sembilan malam. Kopitaloka tak lagi ramai, tapi tidak juga sepi. Lampu gantung menyala lembut, memantulkan bayangan hangat ke meja kayu yang masih menyimpan bekas gelas hari ini.
Sena duduk sendirian di bangku bar. Di depannya, secangkir kopi yang baru diseduh—bukan untuk dijual, tapi untuk dirinya sendiri. Tangan kirinya memegang flashdisk berisi kumpulan musik yang tadi siang diperdengarlan. Audio player sudah dimatikan, tapi suaranya masih terngiang.
* * *
Raya tadi meninggalkan secarik kertas sebelum pulang. Tertulis di atasnya, dengan tulisan tangan miring: "Gue gak tahu ini inspirasi dari mana, tapi tulisan gue ngalir lagi. Terima kasih untuk tetap buka hari ini."
Egi menempelkan post-it kuning di mesin espresso. "Kalau lo butuh barista tetap, gue siap cabut dari kampus."
Pak Anwar—yang biasanya pulang jam sembilan tepat—tadi duduk lebih lama lima belas menit. Hanya untuk bilang, “Dulu saya pikir saya kesepian. Sekarang saya tahu saya hanya belum menemukan tempat untuk diam.”
Mbak Mei membisikkan satu kalimat kecil saat keluar tadi sore: “Anak saya tidur paling nyenyak di sini. Mungkin karena tempat ini juga lelah dengan dunia, seperti saya. Jadi cocok buat tempat istirahat”
Sena menyandarkan kepala ke dinding belakang bar. Ia tak berkata apa-apa. Tak perlu. Karena malam ini, semuanya sudah berbicara. Tanpa keramaian, tanpa drama. Hanya… kehadiran.
Dari luar, suara motor menjauh, suara dedaunan bergesek pelan. Hujan ringan turun, menari di atap seng.
Kopi di cangkirnya sudah tidak terlalu panas. Pas. Ia angkat cangkir itu, menyesap pelan. Kali ini, tak terburu-buru. Karena ia tahu, rumah tak pernah menuntut waktu. Ia hanya minta dikenang.
Malam itu, ia menggantung papan kayu kecil di depan pintu. Di papan sederhana itu terpampang sebuah tulisan: “Kopitaloka – Rumah yang Kebetulan Menjual Kopi”
SELESAI