Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Hukum pertama dalam dunia korporat yang tak tertulis namun diaminkan oleh seluruh budak UMR di muka bumi ini adalah: Jangan pernah menunjukkan bahwa kau bisa melakukan pekerjaan di luar job description-mu secara gratis.
Jika kau adalah seorang Office Boy dan kau ketahuan bisa membetulkan kabel printer, esok harinya kau akan diangkat menjadi staf IT tanpa tambahan gaji. Jika kau adalah staf admin dan ketahuan jago bikin flyer di Canva, esoknya kau akan merangkap jadi desainer grafis dengan upah ucapan "Terima kasih, kamu emang pahlawan kantor".
Dan aku, Devi Leona, staf Akunting yang sehari-hari berurusan dengan angka, faktur pajak, dan laporan rekonsiliasi bank yang membosankan, baru saja melakukan dosa besar tersebut.
Semuanya bermula tiga hari yang lalu, ketika divisi Marketing dan Sales di PT Maju Mundur sedang kehabisan orang karena separuh stafnya terkena wabah tipes massal akibat makan seafood diskonan. Sementara itu, perusahaan baru saja meluncurkan proyek perumahan baru bernama "Cluster Pesona Lembah Kesedihan" (oke, nama aslinya Cluster Pesona Lembah Asri, tapi bagiku tempat itu murni sumber depresi).
Pak Bos, pria berkepala plontos yang kilap botaknya bisa digunakan sebagai cermin untuk make-up, dan yang pelitnya mengalahkan lintah darat, memanggilku ke ruangannya.
"Devi," kata Pak Bos sambil menyilangkan jarinya yang gemuk di atas meja mahoni. "Kamu kan di Akunting kerjanya cuma duduk di depan komputer. Bosan kan? Saya punya tugas spesial buat kamu. Refreshment."
Mendengar kata 'tugas spesial' dan 'refreshment' dari mulut Pak Bos, alarm tanda bahaya di otakku langsung melolong dengan volume 120 desibel.
"Maaf, Pak. Saya sangat mencintai komputer saya. Kami punya hubungan emosional yang erat. Laporan akhir bulan juga masih numpuk setinggi Gunung Rinjani," tolakku dengan wajah sedatar aspal jalan tol.
"Ah, laporan bisa dikerjakan nanti malam sambil lembur. Gini, Devi. Hari ini kita kedatangan calon buyer potensial. Seorang ekspatriat. Bule. Sayangnya, semua sales kita yang jago bahasa Inggris lagi diinfus di rumah sakit. Saya butuh kamu untuk handle dia. Bawa dia site visit (kunjungan lokasi) ke perumahan baru kita."
"Lho?! Saya kan Akunting, Pak! Muka saya ini muka penagih utang, bukan muka sales yang murah senyum! Bahasa Inggris saya juga cuma modal yes, no, I don't know, thank you!" protesku tak terima.
Pak Bos tersenyum iblis. "Justru itu, Dev! Wajah jutek dan galakmu itu punya aura intimidasi persuasif. Kamu tinggal tatap matanya tajam-tajam, paksa dia sign SPK (Surat Pemesanan Kavling). Bule biasanya suka cewek-cewek Asia yang eksotis dan galak. Kalau kamu berhasil closing satu unit aja hari ini, saya jamin karirmu bakal meroket!"
Aku menelan ludah. Karir meroket gundulmu! batinku menjerit.
Aku tahu persis apa arti senyum iblis itu. Ini adalah jebakan Batman tingkat dewa. Kalau aku GAGAL, aku cuma akan diceramahi dan dikembalikan ke habitat asliku di balik layar Excel. TAPI, kalau aku BERHASIL menjual rumah itu... Pak Bos yang pelitnya luar biasa ini pasti akan berpikir, "Wah, ternyata Devi bisa jualan tanpa saya harus bayar komisi sales profesional!"
Konsekuensinya absolut: Pekerjaanku akan digabung! Aku harus mengurus pajak, menghitung payroll, DAN dituntut jualan rumah di saat weekend dengan gaji yang sama! Ini adalah perbudakan modern!
"Devi tidak akan membiarkan itu terjadi," geramku dalam hati saat keluar dari ruangan Pak Bos. "Kalau Pak Bos mau aku jadi sales, aku akan menjadi sales paling mematikan, paling menghancurkan, dan paling ngenes sepanjang sejarah properti Indonesia. Akan kubuat bule itu lari terbirit-birit sampai ke negaranya dan trauma melihat batu bata!"
Misi Sabotase Penjualan: START.
Pukul 13.00 WIB. Matahari Jakarta sedang dalam mode Trial Neraka. Suhunya menyentuh 36 derajat Celcius, tapi tingkat kelembapannya membuat tubuh terasa seperti sedang direbus di dalam panci presto.
Aku berdiri di depan gerbang perumahan Cluster Pesona Lembah Asri yang masih gersang. Tidak ada pohon, hanya debu proyek yang berterbangan tertiup angin panas. Aku mengenakan kemeja kerja biruku yang lengannya digulung asal-asalan, wajahku sengaja tidak kupoles make-up sedikitpun, dan aku memasang ekspresi Resting Bitch Face (muka jutek alami) level maksimal.
Sebuah taksi online berhenti di depanku. Turunlah target operasiku.
Seorang bule berpostur tinggi besar, rambutnya pirang kemerahan, memakai kemeja motif bunga-bunga (floral) yang kancing dadanya dibuka tiga biji memperlihatkan bulu dadanya yang kemerahan, celana kargo pendek dengan banyak saku, dan kacamata hitam murahan. Dia terlihat seperti turis yang salah naik pesawat ke Bali dan malah nyasar ke Bekasi.
"Heeeyyy!! Hello!" teriaknya dari jarak lima meter, melambaikan tangan dengan antusiasme yang membuatku mual. "Are you Miss Devi? The marketing angel?"
Marketing angel (malaikat marketing). Aku ingin muntah.
Aku berjalan menghampirinya dengan langkah terseret. Aku tidak tersenyum. Aku menyodorkan tanganku dengan kaku. "Yes. I am Devi. Not angel. I am human. You Mister Richard?" balasku dengan grammar bahasa Inggris yang sengaja kubuat sekaku mungkin ala Google Translate versi purba.
"Yes, yes! Call me Richard! Wow, ini perumahannya ya? Very sunny! Very bright!" Richard melihat sekeliling lahan proyek yang gersang dengan mata berbinar-binar. Bule ini sepertinya kebanyakan minum air kelapa difermentasi. Panas neraka begini dibilang bright.
"Listen, Mister Richard," kataku tanpa basa-basi, langsung meluncurkan Fase Pertama Sabotase: Menghancurkan Impresi Lokasi.
Aku menunjuk ke arah jalanan aspal di depan perumahan. "You see that road? If rain comes, that road become swimming pool. Very big river. You buy house here, you get free water park every December. (Kamu lihat jalan itu? Kalau hujan turun, jalan itu jadi kolam renang. Sungai yang sangat besar. Kamu beli rumah di sini, kamu dapet water park gratis setiap Desember)."
Aku tersenyum sinis di dalam hati. Nah, bule mana yang mau beli rumah di daerah langganan banjir? Dia pasti akan minta pulang sekarang juga.
Namun, di luar dugaan, rahang Richard jatuh karena takjub. Dia melepas kacamata hitamnya. "Wait... seriously?! Free water feature?! Ya ampun! Ini luar biasa! Di negaraku, untuk punya properti pinggir danau atau akses air langsung itu harganya bisa jutaan dolar! Maksudmu, di sini sungainya datang sendiri ke depan rumah?! That is so exotic! I love tropical monsoon season!"
Aku melongo. Kelopak mataku berkedut. Gila. Bule ini menganggap musibah banjir tahunan sebagai fitur "Danau Dadakan Alami" yang eksotis?!
"No, no, Mister," aku mencoba meluruskan dengan panik. "The water is dirty. Color is brown. Smell like... like dead rat. (Airnya kotor. Warnanya cokelat. Baunya kayak... tikus mati)."
Richard tertawa terbahak-bahak dan menepuk bahuku. "Oh, Devi! You are so funny! Natural earthy aroma! Very rustic! Take me to the house, please! I can't wait!"
Urat di pelipisku menegang. Pria ini ternyata memiliki filter kebodohan yang menyaring segala hal negatif menjadi hal positif. Kalau begitu, aku harus menggunakan cara yang lebih keras.
Aku membawa Richard menuju Unit Contoh (Show Unit) tipe 36/60 yang berada di ujung blok. Rumah mungil yang desainnya biasa saja, dengan cat dinding berwarna krem pucat yang sudah mulai mengelupas di bagian bawahnya karena kualitas semen murahan yang dipakai developer pelit kami.
Saat kami masuk ke dalam rumah, udara pengap langsung menampar wajah. AC di rumah contoh ini belum dinyalakan, dan hawa panas dari atap asbes langsung memanggang ubun-ubun.
Fase Kedua Sabotase: Mengekspos Kualitas Bangunan Busuk.
"Welcome to the oven, Mister," kataku sarkas, mengusap keringat di leherku. "You feel hot? Yes, because the roof is very cheap. No insulation. If you sleep here, you become roasted chicken. (Selamat datang di oven, Mister. Kamu merasa panas? Ya, karena atapnya sangat murah. Tidak ada insulasi. Kalau kamu tidur di sini, kamu jadi ayam panggang)."
Richard merentangkan kedua tangannya di tengah ruang tamu sempit itu, memejamkan matanya, dan menghirup udara panas dalam-dalam seolah dia sedang berada di puncak Himalaya. "Devi... this is magnificent," gumamnya penuh penghayatan.
"Magnificent dari Hong Kong?!" semburku tak tertahan pakai bahasa Indonesia, sebelum kembali ke bahasa Inggris parahku. "Are you crazy? Hot like hell!"
"Exactly!" Richard menunjuk ke arah atap. "Di Eropa, kami harus membayar mahal untuk pergi ke sauna. Di sini? The house IS the sauna! Ini konsep arsitektur detoksifikasi termal! Sangat bagus untuk pori-pori kulit dan membakar kalori tanpa harus bergerak! Kalian orang Indonesia sangat jenius!"
Aku menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Bule ini benar-benar sakit jiwa. Panas asbes yang bisa bikin orang dehidrasi malah dianggap fasilitas sauna detoks gratis!
Oke. Panas tidak mempan. Mari kita main fisik. Sebagai seorang wanita yang memiliki kekuatan fisik terpendam akibat anomali genetik (dan efek terlalu sering emosi), aku berjalan menuju dinding pemisah antara ruang tamu dan kamar tidur. Dinding ini terbuat dari batako kualitas rendah yang plesternya tipis.
"Mister Richard, look here," panggilku. Aku menepuk-nepuk dinding itu dengan telapak tanganku. "You think this wall strong? No. Very weak. Look."
Aku tidak memukul dengan keras. Aku bersumpah aku hanya menggunakan 10% dari tenaga asliku. Aku memberikan satu dorongan menggunakan pangkal telapak tanganku (Palm Strike) ke arah dinding ruang tamu.
BRAAAAKKK!!! Suara retakan keras bergema. Plester dinding itu hancur berantakan ke lantai, dan sebuah lubang retakan sebesar bola sepak tembus pandang langsung ke arah kamar tidur tercipta seketika!
Debu semen beterbangan di udara. Aku mengebaskan tanganku, menatap Richard dengan tatapan menantang. Nah, lu lihat kan?! Dindingnya rapuh kayak kerupuk seblak! Siapa yang mau beli rumah yang dindingnya bisa jebol cuma dipukul cewek kecil sepertiku?! Lari lu sekarang, Bule!
Namun, reaksi Richard kembali menghancurkan hukum logika alam semesta. Dia berlari menghampiri lubang di dinding itu. Dia meraba tepian retakan batako dengan jari-jarinya yang gemetar karena... takjub?!
"Oh... My... God..." bisik Richard, matanya berkaca-kaca. Dia menatapku seolah aku adalah dewi arsitektur avant-garde.
"What? You see? Cheap material! Bad house! Cancel the deal! (Apa? Kamu lihat? Material murah! Rumah jelek! Batalkan transaksinya!)" seruku tak sabar.
"Devi... this is brilliant!" Richard memasukkan kepalanya ke dalam lubang dinding itu dan melihat ke arah kamar tidur. "Open space concept! Custom ventilation! Dan yang paling luar biasa... keamanan gempa! Dinding ini dirancang untuk mudah hancur (Breakaway Wall) agar penghuninya tidak tertimpa beton berat saat gempa bumi, kan?! Pemasangan batako yang rapuh ini adalah fitur keselamatan tingkat tinggi!"
"ITU BATAKO MURAHAN, BEGO! BUKAN FITUR GEMPA!" raungku dalam hati, rasanya ingin kucekik leher bule ini menggunakan kabel gulung.
Kesabaranku menipis. Paru-paruku mulai sesak karena emosi yang menumpuk. Aku harus menggunakan senjata pamungkas. Senjata yang tidak bisa dilawan oleh logika fisik apa pun. Fase Ketiga Sabotase: Teror Klenik dan Klenik Lokal.
Orang Barat biasanya sangat rasional. Mereka tidak suka hal-hal yang tidak logis. Mari kita lihat bagaimana dia menghadapi Urban Legend Nusantara.
Aku menarik napas panjang. Merubah raut wajahku menjadi sangat misterius, muram, dan menakutkan. Aku menurunkan nada suaraku hingga menjadi bisikan serak.
"Mister Richard... come here," aku memanggilnya, menunjuk ke arah sudut gelap dekat dapur belakang.
Richard mendekat, wajahnya dipenuhi rasa penasaran. "Yes, Devi? What is it? A secret wine cellar?"
"No. Secret ghost," balasku dengan mata melotot ngeri. "You know why this house cheap? Because long time ago, this land is a mystical graveyard. Kuburan. Many dead people here."
Aku mulai mengarang cerita hiperbola dengan dramatisasi tingkat Sinetron Azab. "Every night, at 2 AM... you will hear a woman crying. We call it Kuntilanak. She wear long white dress, hair very long, and she fly on the roof. Sometimes, she sing Dangdut Koplo. Very loud. Disturb your sleep. (Setiap malam, jam 2 pagi... kamu akan dengar wanita menangis. Kami menyebutnya Kuntilanak. Dia pakai baju putih panjang, rambut sangat panjang, dan dia terbang di atap. Kadang, dia nyanyi Dangdut Koplo. Sangat keras. Mengganggu tidurmu)."
Richard membelalakkan matanya. Dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Bingo. Dia ketakutan! Lanjutkan, Devi! Jangan beri ampun!
"And not only that!" tambahku semakin brutal. "We have Tuyul! Little bald ghost baby wearing only underwear! He will steal your money, your dollars, your credit card! And worse... he steal your Wi-Fi password! Your internet will be very slow! (Dan bukan cuma itu! Kita punya Tuyul! Hantu bayi botak kecil cuma pakai celana dalam! Dia akan mencuri uangmu, dolarmu, kartu kreditmu! Dan lebih parah... dia mencuri password Wi-Fi-mu! Internetmu bakal sangat lambat!)."
Hening. Ruang tamu beratap asbes itu terasa semakin pengap. Richard menatapku lekat-lekat. Tubuhnya bergetar.
Aku tersenyum kemenangan dalam hati. Skakmat. Bule ini pasti ngompol di celana kargonya. Dia bakal lari ke bandara sekarang juga.
Tiba-tiba, Richard meraih kedua tanganku dan menggenggamnya dengan sangat erat! "Devi..." suaranya bergetar hebat penuh keharuan. "Are you telling me the truth? Is this real?!"
"Yes! 100% real! Very dangerous! Cancel your buy!" tekanku.
Richard melepaskan tanganku, mengangkat kedua tangannya ke udara, dan berteriak kegirangan layaknya orang yang baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah! "YEEEEEESSSS!!!!! AHAHAHA! THIS IS IT! THIS IS EXACTLY WHAT I AM LOOKING FOR!!!"
Mataku nyaris copot keluar dari rongganya. Mulutku menganga hingga rahangku nyaris lepas. APA-APAAN INI?!
Richard mengambil ponselnya dari saku, membuka aplikasi kamera, dan mulai merekam video ke arah lubang dinding yang tadi kuhancurkan. "Hey, guys! Welcome back to Richard's Paranormal Adventures! Hari ini saya menemukan The Holy Grail dari properti angker di Asia Tenggara! Rumah ini tidak hanya dilengkapi sauna alami dan fitur anti-gempa rahasia, tapi juga ada hantu lokal yang suka bernyanyi musik tradisional dan hantu bayi hacker pencuri Wi-Fi! Ini akan menjadi Airbnb bertema horor paling epic di seluruh dunia!"
Dia mematikan kameranya, lalu berbalik menatapku dengan wajah memerah karena antusiasme yang meledak-ledak. "Devi! You are the best marketing agent I have ever met! Semua agen di Jakarta mencoba menjual kemewahan yang membosankan kepadaku. Tapi kamu? Kamu sangat jujur! Kamu mempresentasikan kekurangan sebagai sebuah seni! Kamu menceritakan kearifan lokal yang tidak ternilai harganya! Pendekatan 'Anti-Hard-Selling'-mu sangat jenius!"
"Bukan jenius! Emang rumah ini jelek, Bego!" teriakku frustrasi pakai bahasa Indonesia, meremas rambutku sendiri.
"How much for one unit?!" tanya Richard tak sabar, merogoh dompet kulit tebal dari saku kargonya.
Aku memundurkan langkahku. Kepanikanku sudah mencapai batas ambang mematikan. Kalau dia beli satu unit, Pak Bos botak itu pasti akan meresmikan jabatan ganda neraka itu untukku!
"No! No! Very expensive! 500 million Rupiah! You don't buy! Better you buy house in Bali! Bali is beautiful! Here is hell!" aku mengibaskan tanganku, mencoba mengusirnya layaknya mengusir lalat berpenyakit.
"Only 500 million?! That's like thirty thousand bucks! Sangat murah untuk sebuah wahana spiritual dan sauna abadi!" Richard tertawa penuh kemenangan. Dia menepuk dinding batako yang masih utuh (dan syukur dinding itu tidak rubuh).
"Devi, I love your honesty. I don't want one unit."
Aku menghela napas lega seketika. Syukurlah. Dia tidak jadi beli...
"I will buy THREE UNITS. Cash. Right now. (Saya akan beli TIGA UNIT. Tunai. Sekarang juga.)"
Waktu berhenti. Detak jantungku berhenti. Putaran bumi sepertinya juga ikut berhenti.
"T-T-Three... units...?" bisikku parau, kakiku melemas.
"Yes! Aku akan membongkar dindingnya, menggabungkan tiga rumah ini menjadi satu Haunted Mansion Complex untuk podcast-ku! Dan aku ingin kamu yang memproses semua surat-suratnya, Devi. You are my favorite person in Indonesia!"
Pandanganku menggelap. Udara panas di ruangan itu terasa menghilang, digantikan oleh hawa dingin dari masa depanku yang hancur lebur. Aku, Devi Leona, Akunting yang selalu berhasil menghancurkan musuh-musuhnya... baru saja mengalahkan diriku sendiri dengan tingkat kebodohan kosmik yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu sains.
Bule ini memborong tiga unit rumah rongsokan berhantu (yang kukarang sendiri) secara TUNAI.
Dua jam kemudian. Lokasi: Ruang Kepala Cabang PT Maju Mundur.
Pak Bos Botak Jahanam sedang berdiri di atas kursinya. Ya, berdiri di atas kursi kerjanya yang mahal. Tangannya memegang tiga lembar Surat Pemesanan Kavling (SPK) yang sudah ditandatangani oleh Richard, lengkap dengan bukti transfer uang muka yang nominalnya membuat kalkulator kantorku error.
"TIGA UNIT!!! TUNAI KERAS!!! BHAHAHAHA!!!" tawa Pak Bos menggelegar ke seluruh penjuru lantai 12, memantul di kaca-kaca jendela. Kilap di kepalanya bersinar lebih terang dari biasanya, memancarkan aura keserakahan yang paripurna.
Aku berdiri di depannya. Kepalaku tertunduk dalam. Kantung mataku menghitam. Jiwaku sudah terbang jauh ke alam baka.
Pak Bos melompat turun dari kursi, berlari menghampiriku, dan menepuk bahuku dengan sangat keras. "Devi! Kamu ini mutiara yang tersembunyi di dalam kerang berlumpur! Jenius! Brilian! Luar biasa! Saya nggak tahu pelet apa yang kamu pakai ke si bule gila itu, tapi kamu berhasil menjual blok paling nggak laku di ujung perumahan yang deket pembuangan sampah itu!"
Aku mendongak lambat-lambat, menatapnya dengan mata kosong layaknya zombi. "P-Pak... sesuai perjanjian awal... saya cuma handle bule itu hari ini aja kan? Besok saya balik ngurusin pajak dan Excel saya kan?"
Senyum iblis Pak Bos kembali muncul. Senyum yang akan menghantuiku seumur hidup. "Oh, Devi sayang... Sayang sekali kalau bakat marketing intimidatifmu ini disia-siakan hanya di depan layar komputer."
"M-maksud Bapak...?"
"Mulai hari ini, SK (Surat Keputusan) kamu saya revisi!" Pak Bos menepuk tangannya dengan dramatis. "Jabatanmu sekarang adalah Senior Accounting & Special Ops Marketing Executive! Kamu tetap mengerjakan semua laporan keuanganmu dari Senin sampai Jumat..."
"D-dan weekend...?" suaraku mencicit.
"...Dan weekend, Sabtu dan Minggu, kamu wajib standby di Marketing Gallery perumahan baru! Siapa tahu ada bule gila lain yang suka beli rumah bocor dan berhantu! Kamu adalah ujung tombak penjualan kita, Devi!"
DHEEEENGGGG!!!!! Lonceng kematian berdentang keras di dalam batinku.
"Gajinya... nambah, Pak...?" tanyaku dengan sisa-sisa napas terakhir.
"Hahaha! Kamu ini materialistis sekali, Devi! Ini namanya Career Development (pengembangan karir)! Kesempatan belajar ilmu baru! Komisi tentu ada... kalau target 10 unit sebulan tercapai. Tapi untuk basic salary, kita tahan dulu ya untuk efisiensi perusahaan."
Kerja ganda. Senin sampai Minggu. Tanpa tambahan gaji pokok. Di saat orang lain menikmati akhir pekan dengan Netflix and chill, aku harus berdiri di bawah terik matahari asbes, mencoba meruntuhkan rumah dengan kekuatan mentalku yang kian menipis.
Aku memutar tubuhku perlahan. Berjalan keluar dari ruangan Pak Bos dengan langkah terseret. Pintu ruangan tertutup di belakangku.
Di lorong kantor, Aryo sedang mengepel lantai. Dia melihat wajahku yang semurung kain pel kotornya. "Mbak Dev? Kenapa mukanya kayak abis ngeliat tagihan pinjol?" sapanya polos.
Aku tidak berteriak padanya. Aku tidak memarahinya. Aku hanya berjalan mendekati dinding lorong, menempelkan keningku ke dinding beton yang dingin itu, dan bergumam pelan. "Yo... bawain gue sianida segelas, Yo... dicampur sirup marjan juga nggak apa-apa..."
Dan begitulah, keadilan sosial di dunia korporat kembali terbukti hanyalah mitos belaka. Jika kau terlalu pintar berpura-pura bodoh, alam semesta akan menghukummu dengan memberikan bos yang lebih licik dari setan.