Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Ceritaku yang tak lengkap,
Atau ini mimpi nyataku yang tak lengkap?
Kurasa keduanya.
Di mulai waktu akhir tahun 2018, aku masih mahasiswa semester lima. Di mana ketika tidur mimpiku sering berubah-ubah.
Meloncat dari cerita satu ke cerita selanjutnya. Seperti membaca cerita yang baru saja dimulai, tiba-tiba berada di pertengahan dan kemudian di ujung cerita yang menggantung.
Biasanya mimpi ini membuatku senang, banyak cerita lucu dan komedi, bak princess, kadang mimpi jatuh dari ketinggian, main kora-kora, naik layangan, menjadi semut merah atau mimpi berlari-lari mencari toilet.
Nyatanya di malam yang tak bisa aku jelaskan itu, mimpiku mulai menjadi mencekam. Dan kenyataan.
Aku pulang dari kampus pukul sembilan malam. Waktu itu, kelasku reguler, masuk pagi hingga siang. Namun, karena keadaan permintaan dosen, akhirnya kelasku masuk sore menjelang malam. Selalu berakhir hingga seluruh kelas malam (karyawan) ikutan pulang.
Aku sebagai manusia yang biasa dulu sekolah masuk siang, merasa cukup senang mendapatkan kuliah reguler yang masuknya malam. Sayangnya, kebiasaanku yang kulakukan di setiap malam untuk mengulir ponsel, mencari drama Korea, kini malah berakhir belajar. Jadilah jadwalku berputar berantakan.
Kembali pada satu masalahku, yang tidak masuk diakal. Aku pulang dalam keadaan lelah, semua kelelahanku ditambah dengan freelance yang kusambi di sebuah kantor pemerintahan.
Biasanya, aku akan melakukan ritual sebelum tidur, mencuci muka, gigi, mandi, dan berakhir kasur yang empuk. Namun, kali ini ritual itu terlewatkan semua bersamaan kelelahanku yang tak biasa. Aku tertidur di kamar ibu dan ayah yang jaraknya sangat dekat dengan dapur.
Di situ, aku tidur dalam keadaan pakaian yang terbuka, sendirian. Kedua orang tuaku berada di ruang tamu sambil menonton teve sebelum mereka sama-sama terlelap di sana. Wajahku menghadap langit-langit dengan tangan kananku menutupi sebagian wajah.
Entitas itu tiba-tiba datang dalam mimpiku, seolah mirip kodok jantan pekat yang tercebur di dalam jelaga, namun juga ia berbentuk seperti manusia.
Aku pinga dibuatnya.
Makluk yang berair dan licin mirip terendam lumpur hitam itu menjadi bayangan yang lebih buruk dari seorang mantan.
Bagaimana tidak?
Aku tak bisa mengatakan itu kodok, namun lagaknya mirip kodok. Ia awalnya berdiri dengan seluruh tubuhnya hitam. Tak bisa kulihat di mana mata, mulut, hidungnya. Rambutnya gimbal, basah mengembang.
Lalu perlahan dalam mimpi, ia berjongkok lurus di depanku. Kedua tangannya menyentuh lantai yang dingin.
Mataku nyalang. Dalam mimpi. Bukan dalam wujud asliku yang menutup sempurna, napas yang teratur lambat. Aku bahkan ingin berteriak; Ibu makhluk apa gerangan di depanku!
Di mimpiku ini aku bisa melihat diriku yang rebahan, tubuhku yang matanya terpejam. Mulutku yang tertutup oleh lengan. Apa ini yang namanya sleep paralysis?
Di mana tubuhku terasa kaku, tak bisa digerakan sesuai keinginan. Hanya bisa terlentang memandanginya yang berjarak kurang satu meter dari tempatku rebahan.
Ia bergerigi, berurat serta rambut bergelombang. Benar-benar mengerikan. Begitu tadi ia berjongkok, tiba-tiba saja ia melompat ke arahku. Bukan kah ia mirip kodok jantan?
Sungguh! Aku betul-betul ketakutan. Tak dapat mengingat rapalan doa di kepala kecilku. Kami berada di satu tempat yang sama dan ia tepat berada di sebelahku masih berjongkok.
Kodok jantan itu mendekati wajahku yang menghadap ke langit-langit dan ia memperlihatkan taring-taringnya yang runcing. Ini mirip semacam gigi buaya, pikirku dalam mimpi.
Entah, Tuhan memang masih sayang padaku atau karena ini semacam kekuatanNya untuk memberitahukan padaku bahwa binatang berbentuk manusia itu tak dapat meninggalkan bekas di wajahku dengan gigi-giginya.
Tanganku yang masih menutupi mulutku seketika terkena gigi-gigi itu. Lantas, bayangannya memudar saat aku berusaha untuk meninggalkan mimpinya, hingga aku yang dapat melihat tubuhku sendiri itu masuk ke dalam raga.
Tubuhku tersentak dengan napas yang memburu. Perasaan yang was-was, dan wajah yang pucat pasi. Sudah bukan di mimpi. Masih dalam keadaan yang sama, bedanya mataku benar-benar telah terbuka sepenuhnya.
Aku memandang tangan yang tadi menutupi sebagian wajahku. Ini gila! Sungguh-sungguh gila! Tanganku masih merasakan gigitannya yang hampir ingin menciumku!
Denyut kecil yang terasa seperti habis tertancap duri besar masih terasa bekasnya yang dalam. Menembus di telapak tangan.
Aku betul mimpi kah itu?
Rasanya sulit kujelaskan di saat adzan dari masjid berkumandang samar-samar. Sudah waktunya subuh. Tepat sebelum kodok jantan itu hilang dari mimpi.
Aku lemas bukan main.
Sehabis ini aku perlu cerita ke Ibu soal kodok jantan, dan kamarnya.
Sayangnya Ibu tak merespon itu dengan cepat. Di saat menjalani aktivitasku seperti biasa, aku menjadi trauma tidur di kamar Ibu dan lebih baik tidur di kamarku sendiri.
Mengapa bisa ada makluk seperti itu yang sangat menakutkan.
“Kamu ikut Ibu, yuk, nanti malam,” kata Ibu. Ceritaku yang waktu kusampaikan pada Ibu baru direseponnya selepas seminggu, dua minggu berlalu begitu cepat.
“Mau ke mana, Bu?”
“Sepertinya itu bukan mimpi biasa. Ibu udah tanya sama adik-adik Ibu. Kata mereka, itu makhluk yang mau ganggu.”
Aku diam mendengarkan kalimatnya, malam ini kebetulan tak ada jadwal mata kuliah. Akhirnya aku menurut tanpa banyak komentar apa pun, padahal di kepalaku sudah terisi sejumlah pertanyaan.
Sehingga pertanyaan itu pun terjawab begitu aku ikut dengan ibu ke salah satu rumah pemuka agama dengan saudaraku yang masih kukenal.
Malam itu kami datang berampat. Aku, ibu, saudaraku dan suaminya. Kami masuk ke dalam rumah sang pemuka agama serempak.
Rumahnya sederhana. Sang pemuka agama pun masih terbilang muda. Wajahnya cerah menyapa kami.
“Lho, kamu gak diundang! Kok datang kemari!” katanya menunjuk ke arah pintu rumahnya yang terbuka.
Kami semua sama-sama menoleh ke arah pintu. Tidak ada siapa-siapa. Apa pemuka agama itu halu? Kami bahkan hanya berempat.
“Ka, kamu bawa siapa kemari. Di luar ada sosok hitam dekil banget. Masalahnya, dia gak bisa masuk ke rumah saya. Makanya, dia di depan pintu. Pengen ikut masuk.”
Lantas aku menengok ke arah Ibu. Ibu juga sama, seperti seorang yang langsung terkoneksi denganku.
Kami baru masuk, pun belum sempat berbicara, ia sudah tahu tanpa banyak tanya? Luar biasa.
“Nah, itu yang jadi masalah kami.” Ibu membuka suara saat seluruhnya menatap ke arahku.
“Dia gak tau datang dari mananya, ya? Sepertinya ini karena melihat auramu yang terpancar mirip magnet. Apalagi, kemungkinan ia mencium bau wangi seorang wanita perawan. Begitu biasanya makhluk-makhluk itu menempel.”
Ibu menenangkanku dengan lirikannya. Tapi, aku sudah terlihat seperti orang yang ketakutan. Ternyata, kodok jantan itu datang betulan dalam mimpiku.
“Kalau mau diajak komunikasi, saya bisa masukan dia ke tubuh saudaramu. Biar kita sama-sama tahu, buat apa dia datang mengganggu kamu.”
“Sepertinya jangan Pak Ustadz. Kami datang mau sembuhi saja. Jangan diundang untuk masuk ke dalam tubuh. Saya takutnya ada apa-apa,” kata Ibu yang juga jadi cemas akan sosoknya.
Akhirnya pemuka agama itu menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Menghadap ke belakang. Ia merapalkan sesuatu sambil menunjuk belakang tubuhku. Tangannya tak betul-betul menyentuhku. Seketika pakaianku yang di belakang seperti berhoyang-goyang sendiri.
Setruman kecil terasa begitu nyata. Hingga, ia berhenti merapal dan meninggalkan kursi. Kulihat, ia mengambil kesempatan itu untuk membuat air doa. Masuk ke dalam kamar. Tak berapa menit, ia keluar dengan air putihnya. Menyuruh ibu untuk dibawa pulang.
“Habiskan di rumah untuk si Kaka. Kodoknya udah pergi,” kata sang pemuka agama.
Dan ajaibnya, itu betulan terjadi. Tak ada kodok-kodok jantan lainnya yang tiba-tiba menyergap mimpiku tanpa permisi. Setelah itu, tidurku nyenyak lagi tanpa perlu terjaga setiap pukul satu dini hari.
——∞♥∞——