Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Kitab yang Ditulis oleh Bayangan
0
Suka
3
Dibaca

Di rumah paling ujung desa, tepat di mana bayangan pepohonan memanjang seperti doa yang tak selesai, tinggal seorang lelaki tua yang tak pernah diketahui namanya. Anak-anak memanggilnya Mbah Bayang, sementara orang dewasa menyebutnya hanya dengan gumaman yang tak jelas seolah menyebutnya saja adalah semacam dosa kecil.

Ia tinggal di rumah berdinding kayu lusuh, beratap genteng yang sudah miring ke arah waktu. Rumah itu hanya memiliki satu jendela, dan jendela itu selalu tertutup. Tidak ada yang tahu bagaimana ia hidup; tak pernah terlihat membeli bahan makanan, tak pernah ikut salat di langgar, tak pernah ke pasar. Tapi yang paling membuat orang menjauh darinya adalah kebiasaannya yang aneh: setiap pagi dan senja, lelaki itu duduk bersila di tengah ruangan kosong, di depan sebuah kitab besar bersampul hitam, dan mulai menulis… dengan bayangannya sendiri.

Waktu itu musim kemarau, dan debu seperti telah menjadi bagian dari udara. Ari, seorang pemuda yang baru kembali dari kota setelah gagal menyelesaikan kuliahnya, pulang ke desa dengan kepala penuh pertanyaan dan dada yang kosong. Ayahnya baru saja meninggal, meninggalkan utang dan kebun kering. Ibunya sakit. Adiknya tidak mengenalinya lagi.

Ari merasa hidupnya adalah sebuah kebisingan tanpa suara. Ia merasa seperti… bayangan dari seseorang yang tak pernah ada.

Suatu sore, ketika langit menggantungkan matahari seperti luka yang terbuka, ia berjalan ke ujung desa tanpa arah. Kakinya membawanya ke rumah Mbah Bayang.

Tak ada suara burung. Tak ada angin. Hanya suara ketukan pelan ketika Ari mengetuk pintu yang rapuh itu.

Dan pintu itu terbuka sendiri.

Bagian I Rumah yang Tanpa Jam

Ari melangkah masuk.

Ruangan itu kosong. Tak ada perabot. Hanya tikar tua, dinding gelap, dan sebuah kitab besar di tengah-tengah ruangan. Tapi yang membuat napas Ari tertahan adalah sosok lelaki tua duduk menghadap kitab itu, punggungnya membungkuk, dan di depan tubuhnya, bayangannya sendiri membentuk tulisan di atas kertas.

Bukan tinta. Bukan pena. Hanya gelap yang membentuk huruf. Seolah bayangan itu memiliki kehendaknya sendiri.

Lelaki tua itu tak menoleh. Ia hanya berkata, pelan:

"Bayangan tidak bisa berdusta. Mereka menulis apa yang kita sembunyikan."

Ari diam. Tak tahu harus bicara atau pergi.

"Kau datang karena telah kehilangan dirimu sendiri. Duduklah. Bacalah bersama bayanganmu."

Ari duduk. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat: di halaman terbuka kitab itu, ada tulisan samar. Tak jelas bahasa apa. Tapi Ari bisa merasakannya. Seperti kalimat-kalimat yang pernah ia pikirkan dalam gelap kamar saat semua orang tertidur.

 

Bagian II Dialog Gelap

"Kenapa kau menulis dengan bayangan?" tanya Ari akhirnya.

Mbah Bayang tersenyum. Tidak ramah, tidak menyeramkan. Hanya seperti pohon tua yang mengangguk.

"Karena hanya bayangan yang setia. Ia mengikutimu bahkan ketika kau tak ingin dilihat."

"Tapi bukankah bayangan itu gelap?"

"Persis. Maka ia menulis kebenaran yang tak ingin dilihat terang."

Ari terdiam. Ia melihat tangannya sendiri. Bayangannya sendiri di lantai. Seolah mulai bergerak... sedikit... ke arah kitab.

"Setiap manusia menyembunyikan sesuatu dari dirinya sendiri. Di balik cita-cita, di balik gelar, di balik nama. Tapi bayangannya ingat."

Ari menelan ludah.

"Apa yang ditulis di kitab ini?"

"Segala yang pernah dipikirkan manusia ketika sendirian. Ketika tak ada yang menghakimi. Ketika jujur hanya pada suara di dalam kepala."

 

Bagian III Nama yang Terhapus

Malam itu, Ari tidur di rumah Mbah Bayang. Ia bermimpi melihat dirinya sendiri berdiri di pinggir jurang, memanggil namanya sendiri, tapi tidak menjawab. Hanya gema, kosong, lalu sunyi.

Paginya, ia mendapati satu halaman kitab yang baru terbuka. Dan di situ untuk pertama kalinya ada namanya tertulis samar.

ARI.

Tapi di bawahnya, kalimat itu seperti goresan gelap:

“Ia belajar menjadi orang lain begitu lama, hingga lupa bentuk aslinya.”

Ari menangis. Diam-diam. Air mata jatuh ke lantai, tapi tak ada yang menenangkannya. Mbah Bayang hanya menatap bayangan di dinding.

"Menjadi manusia itu berat," kata Mbah Bayang. "Tapi lebih berat menjadi bayangan dari manusia lain."

 

Bagian IV Dosa yang Tak Pernah Diumbar

Hari-hari berikutnya, Ari membaca halaman demi halaman kitab itu. Tapi tidak dengan matanya melainkan dengan hatinya yang remuk. Ia menemukan rahasia-rahasia orang lain, bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami: semua orang menyimpan gelap.

Lelaki yang menyesal telah menggugurkan anaknya.Guru yang mencintai muridnya diam-diam.Perempuan yang berpura-pura bahagia demi ibunya yang sakit.Anak kecil yang takut mati tapi terlalu malu untuk menangis.

Dan setiap hari, bayangannya sendiri mulai menulis sesuatu. Kalimat-kalimat kecil, hampir tak terlihat, tapi terasa seperti suara hatinya sendiri sedang mengaku.

Ari mulai sadar: kitab ini tidak menyimpan kebenaran. Ia menyimpan keberanian untuk mengaku.

 

Bagian V Cahaya Terakhir

Pada malam keempat, Ari bertanya:

"Mbah, kenapa kitab ini hanya bisa ditulis oleh bayangan?"

Mbah Bayang menatapnya, kali ini lebih dalam.

"Karena Tuhan hanya melihat manusia sepenuhnya saat mereka tidak berpura-pura. Dan manusia tidak berpura-pura… ketika sedang sendirian, bersama bayangannya."

Ari menggigil. Bukan karena takut. Tapi karena sadar: ia telah membohongi dirinya sendiri terlalu lama.

 

Saat Bayangan Menyala

Pagi itu, Ari bangun lebih awal dari biasanya. Mbah Bayang sudah tidak ada. Hanya kitab itu, terbuka di halaman terakhir. Dan di sana, tertulis satu kalimat:

“Ketika engkau berani membaca dirimu sendiri, tak ada lagi yang perlu kau takutkan.”

Ia menatap bayangannya sendiri. Kali ini, bukan sebagai gelap. Tapi sebagai saksi.

Ari keluar rumah. Ia melangkah kembali ke dunia, membawa kitab itu bukan dalam tangan, tapi dalam kesadarannya sendiri.

Dan ketika matahari pagi menyentuh wajahnya, bayangan di belakangnya tak lagi menyeramkan. Ia hanya mengikuti... seperti seorang sahabat lama yang tak pernah pergi.

 

Penutup:

Kitab itu masih ditulis. Tidak dengan tinta, tidak dengan tangan, melainkan dengan setiap pilihan yang kita tunda dan setiap kejujuran yang kita patahkan pelan-pelan. Ia tidak tersimpan di rak, tidak bisa dipinjamkan, apalagi diwariskan. Ia hidup di dalam diri kita sendiri di ruang paling sunyi, tempat kita jarang berani berlama-lama. Setiap orang membacanya dengan cara yang berbeda: sebagian pura-pura buta, sebagian menghafalnya sambil berharap suatu hari bisa lupa.

Bayangan itu bukan untuk ditakuti. Ia tidak mengejar, tidak mengancam. Ia hanya mengikuti, setia seperti napas kedua. Ia lahir dari hal-hal yang kita tekan ke bawah karpet kesadaran: rasa bersalah yang kita sebut “sudah berlalu”, luka yang kita bungkus dengan humor, dan kebenaran yang kita tukar dengan kenyamanan. Bayangan itu tumbuh bukan karena gelap, tapi karena cahaya yang kita arahkan ke tempat lain karena kita memilih melihat apa yang ingin kita lihat.

Ia hanya ingin kita mengaku. Bukan kepada siapa pun, bukan untuk dimaafkan, bukan untuk dipahami. Hanya sebuah pengakuan yang jujur, bahwa kita pernah tahu lalu memilih berpaling. Bahwa ada bagian dari diri kita yang kita korbankan demi bertahan, dan ada harga yang diam-diam kita bayar setiap hari. Pengakuan itu harus datang sebelum waktu mengeras menjadi kebiasaan, sebelum keterlambatan terasa normal, sebelum “nanti” berubah menjadi “tidak pernah”.

“Segala sesuatu yang kau sembunyikan akan tumbuh di balik cahaya.” Sebab cahaya bukan selalu penyelamat; ia adalah saksi yang kejam. Ia membuat yang kecil terlihat besar, yang samar menjadi jelas, yang kita kira mati ternyata hanya menunggu. Dan ketika cahaya itu akhirnya jatuh tepat pada diri kita, kitab ini akan membuka halamannya sendiri menunjukkan bukan siapa yang ingin kita jadi, melainkan siapa yang selama ini kita hindari.

Pada saat itu, tak ada lagi ruang untuk menyangkal. Hanya ada dua pilihan yang tersisa: membaca sampai tuntas, dengan hati yang remuk namun jujur, atau menutupnya selamanya dan membiarkan bayangan itu menuliskan akhir cerita kita tanpa pernah kita sadari.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Kitab yang Ditulis oleh Bayangan
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Bronze
Kenangan Pada Sebuah Jam Tangan
Yuisurma
Cerpen
Bronze
Harga Sebuah Kejujuran
Wahyu Hidayat
Cerpen
Wibawa Aparat & Kenaikan Harga
Yovinus
Cerpen
KEAJAIBAN TETANGGA KOMPLEK
R Hani Nur'aeni
Cerpen
PEDAGOGI
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Dua Wanita yang Berteduh
anjel
Cerpen
Influencer Istana
zain zuha
Cerpen
Bronze
Ruang Gunjing
Robeni
Cerpen
Bronze
Bahtera di Lautan Waktu
Haswardi Eka putra
Cerpen
Penyebab
Fata Raya
Cerpen
Bronze
Memulung Murung
hidayatullah
Cerpen
Bronze
PAHIT GETIR CINTA
ari prasetyaningrum
Cerpen
Serigala yang Terpisah dari Kawanan
awod
Cerpen
Bronze
Rumah Terakhir
Anggri Saputra
Rekomendasi
Cerpen
Kitab yang Ditulis oleh Bayangan
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Ada Nastar Di Kulkas
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Manifesto Seorang Pemancing Sungai Kecil
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Bronze
Selayaknya Ampas Kopi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Tugas Akhir Mahasiswa Sastra Mancing
KusumaBagus Suseno
Cerpen
The Jhony : Antara Nasi Kucing dan NASA
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Mangkuk Sakti Penjual Bakso Keliling
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Pujian Tanpa Nutrisi: Sebuah Biografi
KusumaBagus Suseno
Cerpen
Naskah Orang Mabuk
KusumaBagus Suseno