Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Kita Tak Perlu Till Jannah
0
Suka
3
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Semoga cinta kita till jannah, ya,” ucap Adi tulus, sembari menatap wajah Nara penuh cinta. Wajah yang kini terkesan datar dan dingin.

Ia sangat mencintai wanita itu, apapun keadaannya. Apalagi setelah berhasil melewati badai, cintanya justru semakin dalam kepada wanita tangguh di hadapannya. Adi merasa bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya, menjadi suami dan ayah yang lebih baik bagi keluarga kecil mereka. 

Saat ini mereka sedang berbincang di ruang depan setelah Zia, putri mereka yang berusia tujuh tahun tidur. Besok anak itu harus bangun pagi untuk sekolah. Makanya ia harus tidur lebih awal.

Tangan Nara bergerak lincah melipat baju-baju yang tadi sore baru saja diangkat dari jemuran. Televisi masih menyala, entah menayangkan apa. Nara sejak tadi fokus pada lipatan bajunya. Ia membiarkan televisi menyala agar suasana tidak terasa terlalu sunyi.

“Kita nggak perlu till jannah,” kata Nara santai, tanpa menoleh.

Namun, kalimat itu terasa seperti peluru yang menyasar ke dada Adi. Ia merasa ditolak, dipatahkan mentah-mentah.

Adi ertunduk, terdiam beberapa saat. Ia menarik napas dan mengembuskannya perlahan.

“Kenapa, Nara?” Adi mengangkat kepala. “Kamu nggak mau ketemu Abang lagi di surga?” Matanya memancarkan kekecewaan. 

Nara tersenyum samar, nyaris tak terlihat. “Apa Abang yakin kita bakal masuk surga?” tanyanya. Tangannya tak berhenti melipat kain demi kain.

“Abang nggak tahu, Nar. Tapi Abang hanya berharap.”

“Tapi aku nggak, Bang,” kata Nara lagi. “Maaf kalau kejujuranku mungkin menyakiti hatimu, tapi aku juga nggak mau lagi membohongi diriku sendiri.”

Adi kembali terdiam. Entah mengapa, rasanya kalimat itu sangat menyakitkan. Di mana sikap lemah dan tutur lembut yang selalu menjaga hatinya dulu? Perempuan yang selalu bicara hati-hati kepadanya itu kini mampu berkata lantang, bak pedang yang menebas harga dirinya.

Adi mengembuskan napas berat. Ia sadar dan mengakui bahwa dirinya dulu sangat jahat kepada Nara. Namun, ia sudah meminta maaf. Apakah kata maafnya itu tidak cukup untuk menebus semua kesalahannya?

Lagi pula, ia tak hanya meminta maaf. Ia juga berusaha berubah. Dan sekarang, ia benar-benar tidak lagi melakukan hal-hal yang menyakiti Nara.

“Abang minta maaf,” kata Adi, untuk kesekian kalinya.

“Aku memaafkan, tapi nggak untuk till jannah,” tegas Nara. “Kita cukup di dunia ini saja,” tambahnya. Pendek. Seperti titik pada akhir tulisan yang mengharuskan semuanya berhenti.

Hening merayap di antara keduanya, membuat suasana malam terasa semakin sunyi. Suara televisi tak mampu mengusir kesunyian yang bersarang dalam diri masing-masing.

“Tapi, kan, di surga sifat kita akan disempurnakan,” kata Adi, masih mencari celah, berharap Nara mengatakan apa yang ingin didengarnya.

Nara tak menjawab lagi. Ia memilih terus melanjutkan aktivitasnya hingga rampung. Setelahnya, ia membawa keranjang pakaian yang sudah rapi ke kamar, lalu menatanya di dalam lemari.

Adi hanya diam. Ia merasa hancur. Selama ini, ia pikir Nara yang memaafkan berarti sudah melupakan semua yang pernah dilakukannya. Ia mengira keseharian mereka yang tampak biasa-biasa saja adalah tanda bahwa semuanya telah kembali normal.

Rumah tangga mereka memang terasa tentram saat ini. Namun, Adi tak pernah tahu bahwa jauh di lubuk hati Nara, luka itu tak pernah benar-benar sembuh.

Kadang, luka itu hadir dalam mimpi Nara, mengusik ketenangan tidurnya dan mengingatkannya kembali pada masa lalu yang telah berusaha ia terima dengan berdamai pada keadaan.

Ternyata, kata maaf tak benar-benar menyelesaikan semuanya. Ia hanya meredam luka agar tak lagi berdarah setiap hari, tetapi tak pernah benar-benar menghapus bekasnya.

Tangan Nara bergerak lincah menata baju-baju yang telah rapi pada tempatnya, bibirnya menyunggingkan senyum tipis, getir. 

Kemudian, ingatan itu datang lagi.

Bagaimana tatapan tajam Adi. Bagaimana mulut berbisanya menyemburkan racun. Bagaimana dirinya diminta menghormati dan menghargai Adi, sementara hak-haknya sendiri tak diperhatikan.

Nara menarik napas dalam. Satu per satu, semuanya muncul ke permukaan. Sekecil apa pun pemicunya, cukup untuk menyingkap tirai yang selama ini menyembunyikan luka-lukanya.

Bagaimana dirinya diinjak-injak atas nama bakti. Bagaimana dirinya dibandingkan dengan wanita-wanita di luar sana. Dan masih banyak lagi yang bermunculan, bertumpang tindih, berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Dadanya terasa berdenyut. Luka itu kembali berdarah. Perih lagi, meski semuanya telah berlalu.

Pagi-pagi, Nara menyiapkan sarapan. Zia sudah duduk rapi mengenakan seragam sekolahnya menghadapi nasi goreng dan telur mata sapi dalam piring. 

“Ayah sekarang sudah nggak marah-marah lagi, kan, Bu?” tanya Zia tiba-tiba.

Tangan Nara yang sedang menuangkan air untuk membuat kopi terhenti. Pertanyaan sederhana itu terasa menghantam dadanya.

Nara berbalik dan melemparkan senyum kepada putri semata wayangnya. “Enggak, Sayang. Kenapa?”

“Zia senang, kita bisa makan sama-sama kayak di buku yang Zia baca semalam.”

“Iya, Sayang,” sahut Nara, lalu berbalik melanjutkan pekerjaannya.

Tak lama, Adi menyusul bergabung di meja makan bersama Zia. Ia menarik kursi di samping putrinya, lalu duduk.

“Eh, anak Ayah, makan yang banyak, ya, biar makin pintar.” Adi mengusap kepala Zia. Gadis kecil itu hanya tersenyum ceria menanggapi ayahnya. 

Tak sengaja tangan Zia menyenggol gelas di samping piringnya hingga air di dalamnya tumpah ke lantai. Gadis kecil itu beringsut, wajahnya berubah ketakutan.

“Nggak apa-apa. Zia, kan, nggak sengaja,” kata Adi lembut. Perlahan, rona pucat di wajah anak itu kembali berseri.

“Nara...!” panggil Adi.

Nara terperanjat. Ia segera meninggalkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi selesai dan buru-buru menghampiri Adi.

“Ya, Bang?” sahutnya.

“Nggak apa-apa, Bu. Ayah nggak marah, kok,” kata Zia. 

Adi terdiam sejenak. Ternyata, perlakuannya dulu sangat membekas di hati istri dan anaknya. Ia sudah tidak seperti dulu lagi, tetapi bekasnya masih menempel kuat dalam memori mereka.

Ia merasa marah pada dirinya sendiri. Pria itu mengembuskan napas perlahan. “Pelan-pelan aja, Nar. Abang nggak marah, kok,” katanya, lalu mengembangkan senyum agar wanita itu tak terlalu tegang.

“Tolong ambilkan lap. Zia numpahin air,” pintanya pelan. Tanpa menjawab, Nara langsung pergi mengambil lap.

Lagi-lagi pria itu menghela napas. Kepalanya terasa berat. Semua ternyata tidak benar-benar normal seperti yang ia kira. Ia hanya salah memahami selama ini. Dan bodohnya, ia percaya pada ketenangan yang ternyata menyimpan trauma.

Ia mengutuk kebodohannya di masa lalu. Ia benar-benar menyesal. Namun, apalah arti penyesalannya sekarang?

Kaca yang pecah tak akan bisa kembali utuh. Walau masih berada dalam bingkai yang sama, bayangannya tak akan lagi seharmoni dulu.

Seminggu sudah berlalu setelah percakapan itu. Adi banyak merenung di kala kesendiriannya, baik di rumah maupun di tempat kerja.

Perkataan Nara terus terngiang di kepalanya. Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu mudah menganggap semua itu aman hanya karena untaian kata maaf. 

Ia memang sudah berubah. Namun, ia terlambat menyadari bahwa perubahan dirinya tidak serta-merta menghapus luka yang pernah ia torehkan. 

Penyesalan kembali memenuhi dadanya. Ia ingin melakukan sesuatu, tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Adi mengusap wajahnya kasar, kepalanya terasa seperti mau pecah.

Sepulang kerja, Adi mampir ke toko bunga dan memesan setangkai mawar putih. Setelah mendapatkannya, ia melaju menuju rumah. Bibirnya tersenyum, meski dalam hatinya berkecamuk.

Tak lama kemudian, ia sampai di rumah. Dilihatnya Nara sedang menyapu. Adi diam, berdiri tak jauh dari pintu, memandang wanita yang tengah sibuk mengurus rumah itu. Nara tak menyadari keberadaan Adi.

Setelah puas memandanginya, Adi mengucap salam dan masuk ke dalam. Nara menyambutnya seperti biasa. Namun, kali ini terasa dingin.

Bukan karena Nara yang tiba-tiba berubah, tetapi Adi yang baru menyadarinya. Selama ini, Nara hanya menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri, tanpa melibatkan perasaan lagi di dalamnya.

“Mana Zia?” tanya Adi.

“Lagi main di rumah Delia,” sahut Nara. Tangannya kembali bergerak mengayunkan sapu.

Adi menyodorkan setangkai mawar putih yang dibelinya tadi kepada Nara. Tangan wanita itu terhenti. Ia menatap bunga tersebut, lalu beralih menatap wajah Adi dengan kebingungan.

“Buat kamu,” katanya.

Nara melepaskan sapu. Tangannya dengan ragu menyambut bunga yang terbungkus plastik bening itu.

“Maafkan Abang.”

“Sudah ratusan kali kudengar,” kata Nara. Ia tersenyum samar. Hampa. Tak ada getaran apa pun di hatinya.

Setelahnya hening. Baik Nara maupun Adi larut dalam pikiran masing-masing. Adi menatap Nara sendu, sementara Nara mematung menatap mawar dalam genggamannya.

Adi menghela napas beberapa kali. Dadanya terasa sesak sebelum akhirnya ia mencairkan suasana yang beku itu.

“Abang pasrah.” Ia memejamkan mata sejenak. Rasanya berat. 

“Abang nggak bisa maksa kalau kamu memang nggak mau ketemu Abang lagi di akhirat nanti,” ucapnya sedih, perasaannya tak menentu. 

“Tapi … selama sisa hidup Abang, berikan Abang kesempatan untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecil kita,” lanjutnya dengan suara serak.

“Nggak apa-apa, Nara nggak mau ketemu Abang lagi. Abang ikhlas.” Adi memeluk tubuh Nara. Tanpa sadar, air matanya menetes. Untuk pertama kalinya, air mata itu luruh di hadapan seorang wanita.

“Terima kasih, Bang,” ucap Nara. Ia tersenyum tipis lalu membalas pelukan Adi. Bunga itu masih digenggamnya. 

TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Cerpen
Kita Tak Perlu Till Jannah
Dara Kirana
Novel
Bronze
Rahasia Tondi Ayahku
Mulia Nasution
Novel
Derita Istri Muda
Novia dewi
Cerpen
Lampu
Titin Widyawati
Cerpen
Bronze
SETITIK NILA MASA LALU
Raha Kurnia
Novel
Bronze
Sekolah Menengah Atas
Lu'lu
Flash
Bronze
Cherry Real Love
Silvarani
Flash
Puber
Alifia Sastia
Novel
Bronze
Sun's Economic.
Aurellia Angelie
Flash
Bronze
HOBI NYONTEK
Shabrina Farha Nisa
Novel
Jodoh Aini
Isna Nur Isnaini
Komik
DUKUN VS MEDIUM
Rizky Eka Puspita
Flash
Lahar dan Kemarahan
Nunik Farida
Cerpen
Tak Harap Kembali
Zjoama R Sapta
Novel
Bronze
Cinta dan Rahasia
Cesssy
Rekomendasi
Cerpen
Kita Tak Perlu Till Jannah
Dara Kirana
Cerpen
Bronze
Luka yang Mengajariku Bertahan
Dara Kirana
Novel
Perempuan yang Memilih Bertahan
Dara Kirana
Novel
Bronze
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Cerpen
Semangkuk Cinta
Dara Kirana
Cerpen
Ibu dan Segala Ocehannya
Dara Kirana
Cerpen
Simfoni Di Dapur Panas
Dara Kirana
Cerpen
Ceker Ayam Favorit Ibu
Dara Kirana
Cerpen
Hujan Dan Jejak yang Ditinggalkan
Dara Kirana
Cerpen
Cinta Tumbuh Dari Dompet
Dara Kirana
Cerpen
Selamat Tinggal Cinta
Dara Kirana