Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Bab 1 — Ciuman yang Belum Pernah Ada
Halo.
Namaku Nyleah. Semua orang memanggilku Leah.
Usiaku delapan belas tahun, baru lulus SMA, dan sekarang aku resmi menjadi mahasiswi.
Kalau ada satu hal yang agak memalukan tentang diriku, mungkin ini:
Aku belum pernah dicium oleh pacar.
Sama sekali.
Oke, aku pernah dicium teman. Jangan salah paham. Tapi itu cuma ciuman iseng, cium pipi, atau sekadar bercanda. Bukan ciuman yang membuat seseorang kehilangan kata-kata.
Bukan ciuman yang dilakukan seorang pria yang menyukaimu.
Dan jelas bukan ciuman yang membuat jantungmu seperti ingin keluar dari dada.
Kadang aku bertanya-tanya, apakah aku terlalu biasa?
Teman-temanku sudah punya cerita masing-masing. Ada yang punya mantan sejak SMA, ada yang sudah berganti pacar beberapa kali, bahkan ada yang bisa bercerita panjang tentang ciuman pertama mereka seolah-olah sedang menceritakan adegan film.
Sementara aku?
Aku cuma bisa mendengarkan.
“Leah, kamu serius belum pernah?”
Itu pertanyaan yang paling sering kudengar.
Dan jawabanku selalu sama.
“Belum.”
Biasanya mereka akan tertawa.
Aku ikut tertawa.
Padahal diam-diam aku penasaran.
Seperti apa rasanya?
Aku tidak tahu bahwa pertanyaan sederhana itu suatu hari akan membawa seorang pria masuk ke dalam hidupku.
Pria yang bahkan sejak pertama kali kulihat sudah seharusnya kuhindari.
Namanya Raka.
Dia bukan pacarku.
Bahkan bukan teman dekatku.
Dia adalah abang dari sahabatku.
Dan kalau aku tahu sejak awal bahwa suatu hari dia akan membuatku mempertanyakan semua hal yang selama ini kupikirkan tentang ciuman pertama...
mungkin aku akan memilih untuk tidak pernah mengenalnya.
Hari pertama kuliah seharusnya menyenangkan.
Aku berdiri di depan gedung fakultas sambil memegang jadwal kuliah yang sudah kusimpan di ponsel. Kampus ini jauh lebih besar daripada sekolahku dulu. Orang-orang berjalan ke segala arah, sebagian membawa laptop, sebagian sibuk dengan ponsel, dan beberapa terlihat seperti sudah mengenal satu sama lain sejak bertahun-tahun.
Aku sedang mencari ruang kelas ketika seseorang memanggil namaku.
“Leah!”
Aku menoleh.
Sahabatku, Maya, berlari kecil menghampiriku.
“Ya ampun, akhirnya ketemu!”
Aku tertawa. “Kamu dari tadi ke mana?”
“Parkir. Dan aku hampir mati karena panas.”
Kami berjalan berdampingan.
Lalu Maya tiba-tiba berkata,
“Oh iya, nanti abangku jemput aku.”
Aku mengangguk santai.
“Yang mana?”
Maya menatapku seolah pertanyaanku bodoh.
“Ya abangku yang itu.”
Aku mengerutkan kening.
“Kau punya berapa abang?”
“Dua.”
“Oh.”
Aku tidak terlalu memikirkannya.
Sampai sore itu.
Aku berdiri di depan gerbang kampus sambil menunggu Maya ketika sebuah motor berhenti beberapa meter di depanku.
Seorang pria turun.
Hoodie hitam.
Rambut sedikit berantakan.
Anting kecil di telinga.
Dan ketika lengan bajunya tersingkap, aku melihat sesuatu yang membuat mataku otomatis berhenti.
Tato.
Bukan satu.
Lengannya hampir penuh.
Dia melepas helm, lalu mengangkat wajah.
Tatapan kami bertemu.
Entah kenapa, aku langsung merasa salah tingkah.
Dia berjalan mendekat.
“Leah?”
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku Raka.”
Aku menelan ludah.
Aku belum tahu saat itu bahwa pria di depanku adalah alasan kenapa kalimat “aku belum pernah dicium” nantinya akan...