Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Sebuah rumah tua di ujung jalan sering kali disebut angker dan menakutkan oleh warga sekitar. Rumah itu berada disebrang TPU (Tempat Pemakaman Umum), tidak berpenghuni selama 20 tahun karena terakhir kali rumah tua itu dihuni oleh keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan tiga orang anak. Suatu hari tiba-tiba keluarga tersebut tidak terlihat keluar rumah selama dua Minggu, kemudian disekitar rumah tercium bau bangkai. Setelah warga sekitar beserta ketua RT dan RW mengecek kedalam rumah tersebut, seluruh anggota keluarga yang tinggal di rumah itu sudah meninggal dalam keadaan leher yang tergantung. Setelah kejadian itu tidak ada orang yang berani menghuni atau hanya sekedar masuk untuk membereskan sampah dedaunan di depan rumah.
Alasan-alasan tentang rumah tua disebrang TPU (Tempat Pemakaman Umum) itu menurut manusia cocok untuk dijadikan alasan sebuah bangunan dikatakan angker, namun tidak bagi para hantu. Rumah yang sudah lama kosong entah karena alasan apapun, didukung dengan kondisi rumah yang tidak terawat, hingga akhirnya terbengkalai baik bagian dalam maupun luarnya. Tentu saja ini tempat yang pas untuk dijadikan base camp atau semacam rumah hunian bagi para hantu, kondisi yang gelap, lembab dan kotor sangat membuat para hantu nyaman disana.
Begitu juga nasib rumah tua di ujung jalan dan bersebrangan dengan TPU (Tempat Pemakaman Umum) itu, kini rumah tua itu dihuni oleh para hantu yang sangat sibuk dimalam hari, dan jadi kaum rebahan saat pagi dan siang hari. Pohon besar yang berada di depan rumah tua itu daun dan rantingnya semakin hari semakin rimbun, juga jendela rumah itu sudah tertutup banyak tumbuhan merambat yang membuat cahaya sulit untuk masuk dan membuat rumah tua itu menjadi lembab. Tempat seperti itu tentu saja tempat yang nyaman untuk para hantu merebahkan badan sambil bercerita bagaimana aktivitasnya tadi malam.
Rumah tua yang terkenal angker dikalangan manusia kini dihuni oleh beberapa hantu. Diantaranya Genderuwo, Kuntilanak, Kuyang, Pocong, Suster ngesot , dan Tuyul. Genderuwo alias si Uwo berambut panjang agak berantakan, tubuh dan wajahnya berwarna merah tua, tubuhnya berukuran sangat tinggi dan besar namun bagian perutnya tidak buncit karena saat menjadi manusia dia adalah orang yang senang berolahraga, bahkan saat sudah menjadi hantu pun disaat hantu lain memilih terbang atau menghilang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain namun tidak dengan Si Uwo, dia lebih memilih joging atau jalan santai. Si Uwo adalah hantu yang paling bijak di rumah tua itu, dia biasa diminta mengambil keputusan atau memberi saran jika ada suatu masalah. Si Uwo biasa dinas malam di gedung yang kotor dan terlihat tak terurus,baik itu gedung masih digunakan oleh manusia ada juga gedung yang sudah kosong, baginya kotor dan tak teruruslah yang menjadi kriteria utama.
Kuyang alias Uyang yang bentuknya paling berbeda dengan yang lain, dia tidak memiliki tubuh hanya kepala dengan rambut panjang, dibagian bawah kepalanya bergelantungan organ-organ pencernaan dan pernapasan yang semuanya berwarna merah tua. Jangan tanya bagaimana dia bergerak, tentu saja dia bisa melayang karena tubuh untuk bergerak saja dia tak punya. Si Uyang adalah hantu yang paling tempramen dan hobi marah-marah. Dia hantu yang paling rajin berkeliling, itulah sebabnya tempat dinas malamnya ada dimana-mana. Kadang dia ke perkampungan warga desa, kadang juga di perumahan yang ada di kota, dia berkeliling sesuka hati dan keinginannya saja, dia memang agak sombong karena dia bisa terbang dan dia ringan jadi dia bisa kemana-mana tanpa perlu repot-repot kecapean. Dia juga salah satu hantu yang sering di duga sebagai hantu kiriman yang membawa santet atau dugaan lainjya, padahal misinya hanya satu menjadi hantu yang menyeramkan.
Kuntilanak alias Si Kunti, dia adalah hantu dengan tubuh tinggi langsing, rambut hitam yang sangat panjang, perawakan dan wajah Si Kunti adalah perawakan dan wajah yang diidam-idamkan banyak manusia, namun kulit tubuh dan wajahnya sangat pucat, bahkan pucatnya melebihi orang yang sedang sakit. Si Kunti adalah hantu yang paling baperan dan punya stok air mata yang cukup banyak. Saat sedih dia menangis, bahagia dia menangis, marah pun dia menangis, seolah-olah dia mengekpresikan semua perasaannya dengan air mata. Si Kunti biasa dinas malam di pohon besar pinggir jalan, dia akan duduk bersantai di atas dahannya sambil menangis atau bersenandung tak jelas. Jika dirasa pohon itu sudah tidak kondusif maka Kunti akan mencari pohon lain untuk tempat dinasnya.
Pocong alias Si Cong, dia memang pocong yang berbeda dari pocong pada umumnya, ukuran tubuh Cong cukup besar karena semasa hidup si Cong gempal, hingga saat dia sudah menjadi hantu pun jadi pocong gempal. Tubuh gempal yang terbungkus itu juga sering kali jadi alasannya untuk tidak banyak bergerak maka dia sering sekali dipanggil si hantu mager, dan pasrah. Selain itu karena tubuhnya yang gempal dan terbungkus itu membuat si Cong dinas malam ditempat yang paling dekat dengan base camp, tempat dinas pocong adalah di TPU (Tempat Pemakaman Umum) yang berada di sebrang rumah tua. Jarak sedekat itupun ia masih sering mengeluh kelelahan melompat, jelas saja dia lelah melompat dengan keadaan badan leluasa saja sudah menguras energi apalagi melompat dengan tubuh gempal dan kondisi tubuh diikat sebanyak tujuh titik itu pasti sangat merepotkan dan melelahkan.
Selain itu ada juga Tuyul alias Si Uyul. Si Uyul adalah hantu yang paling pendek tubuhnya namun percaya dirinya sangat tinggi, hanya berbekal sebuah kolor berwarna putih dengan sekujur tubuh berwarna putih karena taburan bedak. Diusianya yang paling senior dibanding yang lain, jelas ini menjadi salah satu alasan Si Uyul makin percaya diri karena merasa lebih berpengalaman. Si Uyul biasa dinas malam disekitar kampung atau dinas di Rumah Sakit yang berada tidak jauh dari Rumah tua bersama Suster Ngesot.
Suster Ngesot alias si Sus. Dia adalah hantu terakhir yang ada di rumah tua, hantu dengan pakaian paling rapih ini adalah hantu yang paling jutek dengan hantu lain namun paling memperhatikan penampilan. Kuku tangannya yang selalu cantik, topi suster yang harus selalu simetris menggambarkan bagaimana perhatiannya terhadap penampilan dirinya. Tak jarang para manusia ketakutan bukan karena penampankn Si Sus, namun mereka takut dengan muka jutek yang dipasang pada wajahnya jika sedang tidak mood untuk dinas malam.
Jika malam adalah waktu untuk para hantu dinas malam atau melakukan tugasnya menakuti manusia, maka siang adalah waktu yang para hantu gunakan untuk bercerita satu sama lain. Saat siang mereka akan bercerita bagaimana proses menakut-nakuti manusia yang telah mereka lakukan saat malam, kadang ada cerita lucu karena hantu dan manusia sama-sama kaget atau saat mereka salah sasaran, kadang ada juga cerita sedih karena orang yang mereka takuti tenyata mirip dengan salah satu anggota keluarga mereka.
Si Uwo adalah hantu yang semua ceritanya berisi tentang keberhasilan saat menakuti manusia, dia selalu berhasil menakuti manusia dengan tubuh tinggi besar dan merahnya. begitu juga dengan si Uyang yang selalu punya cerita keberhasilan dalam menakuti manusia. Namun biasanya ada saja cerita tambahan dari si Uyang yang dia sebut sebagai cerita sial yaitu beberapa cerita saat dia terbang, bagian bawah organnya tersangkut dahan pohon atau antena tv yang dipasang diatas rumah. Hantu-hantu lain selalu tertawa terbahak-bahak saat si Uyang cerita tentang kejadian sialnya itu, bahkan si Uyul pernah menyarankan agar si Uyang membungkus organ pencernaan dan pernapasan yang bergelantungan dilehernya, tentu saja dengan kesabaran setipis tisu itu Si Uyang selalu marah saat ditertawakan hantu-hantu lani.
Cerita lucu juga selalu datang dari si Cong, dia sering sekali disebut pocong tidur oleh manusia, karena posisi si Cong sedang merebahkan badan di bawah pohon ketika ia merasa kelelahan setelah melompat kesana kesini. Sebenarnya si Cong sempat kesal karena saat si Cong sedang sibuk melompat-lompat tak ada manusia yang lewat, namun saat si Cong sedang merebahkan badan tiba-tiba saja manusia banyak yang lalu lalang, Si Cong yang mageran akhirnya memilih tetap dengan posisi rebahannya tanpa mau repot-repot bergegas bangun. Akhirnya ia pasrah disebut pocong tidur yang penting para manusia itu tetap lari ketakutan. Saat cerita ini dilontarkan pun hantu-hantu lain selalu terbahak-bahak, Si Uyang pun pernah menyarankan Si Cong untuk diet namun untuk pocong mager seperti Si Cong, diet adalah sesuatu yang cukup merepotkan.
Lain lagi cerita dari si Kunti yang selalu tentang cerita sedih dan selalu bercerita sambil meneteskan air mata.. Kadang ia sedih karena ada manusia yang lewat mirip dengan ibunya, kadang ia sedih karena ada manusia yang ia takuti mirip dengan adiknya, kadang juga ia sedih karena tidak ada satu orang pun yang lewat situ sampai menjelang subuh. Tak jarang tangisannya terlalu keras hingga Si Sus harus menutup mulut Si Kunti dengan tangannya agar manusia tidak ketakutan pada siang hari bolong karena mendengan suara kuntilanak yang menangis.
Kalau cerita si Uyul sering sekali berhubungan dengan cerita si Sus, maklum mereka memang sering dinas malam di tempat yang sama. Bahkan sempat ada manusia yang mengira kalau si Sus dan si Uyul adalah ibu dan anak, saat manusia melihat si Sus dan si Uyul sedang berada ditempat yang sama karena belum berpencar manusia itu selalu lari ketakutan sambil berteriak "suster ngesot bawa anak". Cerita itu juga selalu membuat hantu-hantu lain tertawa puas, bahkan si Uyang menyarankan mereka untuk berduet dalam menakuti, tentu saja usul itu ditolak oleh si Uyul yang sangat percaya diri kalau dia masih bisa menakuti sendiri, si Sus juga menolak dengan ketus.
Mereka selalu meluangkan waktu untuk bertukar cerita di waktu siang, dalau selelah apapun dinas malam yang mereka lewati, mereka menganggap bahwa dengan bertukar cerita antara satu sama lain mempu mengurangi lelah yang mereka lewati saat malam. Setelah beberapa tahun lamanya mereka menjadikan rumah tua itu base camp dan meluangkan waktu untuk saling bertukar cerita, suatu hari terlihat beberapa diantara mereka yang terlihat murung, sedih, dan sering melamun, mereka adalah si Cong, si Kunti, si Uyul dan si Sus. Mereka tidak seperti biasanya, mereka menjadi tidak bersemangat saat bercerita disiang hari, kalau mereka dapat giliran untuk bercerita selalu diceritakan secara singkat saja. Mereka juga tak lagi saling mengejek cerita yang dilontarkan oleh hantu-hantu lain.
Si Uwo dan Si Uyang pun akhirnya menyadari perubahan pada empat teman hantu mereka, Si Uwo meminta mereka berempat untuk menceritakan tentang masalah mereka dengan harapan siapa tau mereka bisa saling membantu satu sama lain. Suasana menjadi hening karena tidak ada yang memulai untuk bercerita, Si Uwo pun menyebut nama Si Cong agar dia bercerita terlebih dahulu.
Si Cong akhirnya mulai bercerita bahwa beberapa bulan ini dia merasa kecewa pada dirinya sendiri saat menakuti manusia, karena manusia tidak lagi takut dan lari saat melihat si Cong, si Cong bahkan sering disebut hantu lontong, atau pocong gendut. si Cong sudah berusaha lebih seram namun tetap manusia-manusia itu kini tidak takut lagi dengan pocong, si Cong bercerita sambil merunduk.
Setelah si Cong selesai bercerita si Kunti mulai bercerita yang diawali dengan tangisan khas kuntilanak hingga terdengar ke warga sekita dan membuat warga heran dan ketakutan karena ada suara tangisan kuntilanak siang. Si Uyang mencoba menenangkan si Kunti dan mengingatkannya agar dia berhenti menangis karena ini masih siang, si Kunti pun mulai tenang dan suara tangisannya tidak lagi terdengar oleh warga sekitar. Si Kunti akhirnya mulai bercerita tentang kesedihannya karena sering dipanggil mba Kunti dan Tante Kunti, ia bercerita bahwa beberapa bulan ini manusia tidak lagi takut pada kuntilanak bahkan mereka berani menggoda Si Kunti karena rambut si Kunti memang sangat bagus, warna hitam, lurus dan rapih si Kunti pun dipanggil dengan mba rambut panjang. Bahkan si Kunti bercerita saat ia menakuti dengan tangisannya manusia itu malah ingin menenangkan Si Kunti.
Selesai si Kunti bercerita, si Sus dan si Uyul langsung melanjutkan cerita. Si Uyul yang kesal karena sekarang dia sering sekali disebut hantu botak atau hantu bocil, baru kali ini si Uyul merasa sakit hati dengan ucapan manusia, untuk hantu yang punya tingkat percaya diri paling tinggi tentu ini menjadi masalah yang berat baginya. Lalu si Sus gantian bercerita bahwa dia sudah mulai diabaikan dan tidak dianggap, tangannya jadi sering terinjak oleh manusia yang dia takuti. Sambil meneteskan air mata si Sus menunjukan kuku dan jarinya yang mulai rusak karena terinjak-injak. Si Sus pun mempertanyakan kenapa manusia itu tidak lagi menganggapnya ada, kali ini cerita Si Sus cukup mendramatisir.
Setelah si Uyul dan si Sus bercerita rumah tua itu hening sementara, mereka merenungi apa yang telah terjadi. Si Uyang tiba-tiba mengatakan kalau dia punya ide, semua mata hantu-hantu dirumah tua tertuju pada si Uyang. Lalu dia mengatakan bahwa keempat teman hantunya harus mencoba cara lain untuk menakuti manusia, namun saat si Cong bertanya apa cara barunya kepada si Uyang, si Uyang menjawab dengan jawaban "ya tidak tahu", jelas saja ini malah membuat hantu-hantu lain kesal dengan si Uyang, dan menyorakinya bersama-sama.
Suasana kembali hening setelah semua ramai-ramai menyoraki si Uyang yang hanya menyampaikan ide kosong. Akhirnya si Uwo menyampaikan idenya yang bisa dicoba oleh empa hantu yang sedang sedih ini. Ide si Uwo adalah bertukar kostum atau dikolaborasikan kostum yang lama dengan kostum yang baru. Si Uwo pun menyarankan mereka berempat untuk berdiskusi bagaimana pertukaran atau kolaborasi kostum yang akan dilakukan dan disepakati bersama. Si Unyil, Cong, Kunti, dan si Sus saling memandang satu sama lain, awalnya mereka ragu. Namun karena mereka tidak memiliki ide sama sekali dan mereka ingin segera mengembalikan Marwah mereka sebagai hantu yang menyeramkan dan ditakuti oleh manusia maka akhirnya mereka mengatakan setuju untuk mencoba ide baru tersebut. Si Uyang dan si Uwo tidak ikut berdiskusi karena mereka tidak merasa ada masalah dengan ketakutan manusia pada mereka, lagi pula siapa yang mau dan bisa bertukar dengan kostum si Uyang jelas dia tidak menggunakan kostum apapun.
Si Cong, si Kunti, si Uyul dan si Sus pun akhirnya berdiskusi dan sepakat bahwa mereka akan melakukan kolaborasi kostum. Setelah berbagai macam usul dan berbagai macam pertimbangan akhirnya mereka mendapat keputusan akhir dari ide kolaborasi kostum ini. Si Sus akan ngesot dengan kostum si Cong, si Uyul akan menggunakan kostum perawat, si Cong akan menggunakan rambut panjang seperti rambut Kunti, dan Si Kunti akan menjadi Kuntilanak botak, ya dia akan mencukur habis rambut indahnya. Mereka bersepakat dan berharap mencoba ide baru ini untuk bisa mengembalikan harga diri mereka sebagai hantu hingga mereka bisa kembali ditakuti oleh manusia.
Satu persatu sibuk mencoba kostum kolaborasi yang telah disepakati sebelum nantinya akan mereka gunakan untuk dinas malam. Si Uyul mencoba seragam perawat yang ternyata baru dia pakai bajunya saja sudah menutupi dari badan sampai lutut dengan ukuran tubuhnya yang pedek, akhirnya dia hanya menggunakan baju perawat dan kolor. Sebenarnya dia merasa agak aneh menggunakan kostum baru ini namun dia menanamkan dalam hatinya agar tetap semangat demi bisa kembali ditakuti oleh manusia.
Lanjut dengan Si Sus yang kerepotan dengan kostum pocong dengan empat ikatan tali kebawahnya dilepas agar Si Sus tetap bisa ngesot dengan baik, dia sebenarnya agak khawatir akan kerepotan saat ngesot dengan kostum barunya namun demi mengembalikan harga dirinya sebagai hantu dia rela melakukan ini semua.
Kini giliran si Cong, dia tidak begitu repot karena hanya menabahkan rambut panjang diujung ikatan pocongnya saja, namun ternyata saat digunakan untuk melompat si Cong merasa risih dengan beberapa helai rambut yang terus menerus mengenai wajahnya, tapi tak apa baginya itu belum seberapa dari pada harus disebut sebagai hantu lontong atau pocong gendut, dia pun bertekad untuk bisa kembali ditakuti manusia.
Terakhir adalah si Kunti, kolaborasi kostum dialah yang cukup penuh drama, karena diantara hantu lain hanya dia yang benar-benar menghilangkan bagian tubuhnya yaitu rambut agar bisa seperti tuyul, saat pemotongan rambut itu Si Kunti terus menerus meneteskan air mata sambil menahan mulutnya agar dia tidak menangis ditengah hari bolong dan membuat heboh warga sekita seperti kemarin. Dengan berat hati Si Kunti memotong habis rambutnya, namun dia sudah lelah terus di goda karena rambut cantiknya itu, dia pun berharap setelah ini marwah kehantuannya bisa kembali seperti semula.
Malam ini adalah malam pertama empat hantu dirumah tua itu melakukan dinas malam dengan perubahan kostum. Saat jam dinding telah menunjukkan pukul 9 malam mereka bersiap menuju tempat dinas, dan saling menyemangati satu sama lain. Tidak lupa si Uwo dan si Uyang juga ikut memberikan semangat dan dukungan kepada empat teman hantu mereka. Mereka membulatkan tekat dan tujuan untuk mengembalikan harga diri dan marwah kehantuan mereka hingga bisa kembali ditakuti oleh manusia.
Si Uyul dan si Sus menuju ke RS terdekat dengan penuh percaya diri, tentu dengan kostum baru yang mereka gunakan. Meski Si Sus agak kerepotan ngesot dengan kain putih yang terlalu panjang hingga dia berulang kali meminta si Uyul untuk berjalan lebih pelan dan menunggunya, sedangkan si Uyul dengan santainya berjalan cepat seperti biasa dengan menggunakan baju perawat beserta topinya.
Disisi lain si Cong sibuk melompat menuju TPU (Tempat Pemakaman Umum) sambil beberapa kali mengibaskan rambutnya yang menghalangi mukanya karena terkena hembusan angin dan guncangan saat dia melompat dengan perasaan gugup. Lain lagi dengan si Kunti yang sedang menuju pohon besar pinggir jalan dengan kostum seperti biasa namun kali ini tanpa ada rambut hitam panjang yang menghiasi kepala si Kunti, perasaan si Kunti masih campur aduk antara sedih, dan ragu namun dia tetap berusaha mengumpulkan semangat untuk bisa kembali menakuti manusia.
Tidak disangka-sangka ternyata semua berjalan sesuai rencana, semua manusia yang melihat keempat hantu penghuni rumah tua dengan kostum baru mereka selalu kaget dan langsung lari, tentu saja hantu menggap bahwa mereka lari karena ketakutan mereka tak tahu bahwa manusia itu lari karena kaget dengan keanehan yang mereka lihat. Tapi apapun yang menjadi alasan manusia itu lari itu tidak lagi penting untuk para hantu, yang mereka tau adalah kini tidak ada lagi ucapan hantu lontong, tidak ada lagi sebutan hantu botak atau bocil, tidak ada jagi yang menggoda hantu dengan sebutan mba atau tante, dan tidak ada lagi hantu yang dibaikan hingga tangan dan kukunya terinjak-injak. Mereka berempat pulang dengan membawa cerita bahagia, saat siang hari mereka menceritakan kejadian dinas malam dengan penuh semangat. Si Cong bercerita tentang menusia yang langsung berlari saat melihatnya tanpa perlu effort melompat-lompat terlebih dahulu, bahkan ada manusia yang berlari padahal Si Cong belum menakuti-nakutinya. Si Kunti bercerita dengan air mata kebahagiaan karena ia tidak lagi dipanggil mbak atau Tante karena rambut panjangnya, dia terharu karena mencukur habis seluruh rambutnya tidak menjadi sia-sia. Setelah itu Si Sus bercerita tentang suksesnya ia membuat manusia lari terbirit-birit tanpa harus merusak kuku cantiknya, juga tanpa memasang wajah paling juteknya, bahkan manusia yang melihatnya dari kejauhan saja sudah ketakutan. Terakhir cerit dari Si Uyul, dia bercerita bahwa manusia yang pertama ditakuti tidak langsung kabur namun terdiam sambil bertatap-tatapan dengan Si Uyul selama beberapa detik, setelah itu manusia itu balik badan dan berlari sambil teriak ketakutan. Si Uyul merasa puas, tentu ini mengembalikan kepercayaan dirinya sebagai hantu yang menakutkan.
Malam-malam berikutnya enam hantu penghuni rumah tua sudah kembali bersemangat untuk dinas malam, dua personil dengan kostum yang sesungguhnya sedangkan empat hantu lainnya dinas malam dengan kostum modifikasi. Mereka kini berhasil mengembalikan marwah Mereka sebagai hantu yang semestinya yaitu ditakuti oleh manusia, kepercayaan diri Mereka kita telah kembali. Mereka menyadari bahwa terkadang perlu ada ide baru di coba dalam sebuah perjalanan. Meskipun mereka tidak tahu ide baru ini akan bertahan berapa lama namun yang pasti mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencoba.