Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Kinasih
0
Suka
1,619
Dibaca

Kinasih mengangkat tubuh ringkihnya dari ranjang. Tangan keriputnya menggeser gorden pelan-pelan, sedetik kemudian pemandangan menyegarkan terpampang di depan mata. 

"Selamat pagi, Kinasih." Seorang lelaki seusianya menyapa dari jendela yang terhalang teralis besi itu. Dia bernama Nyoman. Tampak seorang suster mengajak Nyoman untuk kembali ke aktivitasnya

"Kamu mau pulang?" Setelah Nyoman melenggang, Diah datang. Kali ini rambutnya tidak awut-awutan lagi, sepertinya suster yang merapikannya.

"Ya, Kasa akan menjemputku pulang," jawab Kinasih, di matanya ada binar senang karena akan kembali berkumpul dengan suami dan anak-anaknya.

"Kamu baik-baik saja?" Diah memilin kausnya, saat Kinasih mengangguk, perempuan berusia 30 tahun-an itu menghela napas berat.

"Syukurlah, aku harap kamu bisa mengunjungi kami sesekali," bisik Diah, seiring dengan tangannya melambai, lalu ikut bergabung dengan orang-orang di lapangan.

"Pasti." Kinasih menyeringai senang.

Barang-barang Kinasih tidak terlalu banyak. Satu tas berisi pakaian, dan satu lagi berisi koleksi buku dan karya tangan jeniusnya—lukisan. 

Putra pertamanya datang menjemput setelah matahari merambat naik, ia tidak sendiri, tetapi istrinya yang sedang mengandung itu ikut serta.

Tidak banyak yang Kinasih bicarakan sewaktu di mobil, karena ia sibuk mengamati jalanan, manusia yang tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing atau pohon melambai yang membuat bayangan di aspal. Semua tidak luput dari mata tuanya. 

"Kita mampir ke toko roti dulu, ya, Mas. Beli roti isi kelapa kesukaan Bapakmu," ujar Kinasih, sembari melirik Kasa yang fokus menyetir.

Kasa dan Lulu saling memandang, kemudian keduanya mengangguk. 

"Mas, Ibu mau pinjam dulu uang untuk bayar UKT Binar. Kasihan adik bungsumu itu harus kerja part time buat bayar kuliah," lanjut Kinasih, mata teduhnya sedikit berembun.

"Sudah Mas Kasa bayar, Bu. Jangan khawatir, ya." Lulu menganggukan kepala sekali lagi.

"Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Nanti Ibu ganti uangnya." 

Perjalanan pulang terasa tidak asing bagi Kinasih. Namun, ia merasa ada sesuatu aneh yang menggelenyar di hati. Dan saat berdebar, menyisakan pikiran-pikiran buruk yang melompat ke otak. 

"Apakah dunia sudah berubah?" bisik Kinasih kepada dirinya sendiri. 

Pasalnya, sejak ia menyapukan mata di sepanjang perjalanan, semuanya tidak sama seperti dulu saat pertama kali ia pergi ke luar. Meski bayangan itu samar-samar.

"Padahal baru kemarin," gumam Kinasih di dalam hati. 

Lulu menggandeng tangan Kinasih masuk menuju rumah. Sementara Kasa mengekor dari belakang, memerhatikan langkah istri dan ibunya sampai benar-benar masuk. Setelah itu, ia menyeka air matanya. 

"Assalamualaikum." Kasa menyimpan dua tas besar ibu, lalu ia menyusul istrinya yang sudah duduk di kursi ruang keluarga.

"Ibu." 

Kinasih menoleh pada tangga, di mana putri bungsunya berdiri dengan kaku di sana. Beberapa detik pertama Binar termangu penuh ketidakpercayaan, lantas ia menghambur ke pelukan perempuan yang dipanggilnya Ibu tersebut.

"Bi, Ibu kan cuma pergi dua hari lho ke rumah Mas Kasa, kok kamu kayak rindu banget gitu lho?" Kinasih terkekeh, melihat Binar yang berkaca-kaca

"Bu, Binar sekarang bisa masak." Binar menundukkan kepala. 

"Beneran?" Kinasih menggoyangkan bahu Binar, tidak percaya.

"Iya, Bu, sup buatan Binar enak banget. Ayo makan dulu!" Kasa mengusap punggung renta ibunya. 

Kinasih beranjak dari posisi duduknya, karena aneka perabotan yang ada di dapur terasa mengganggu. Ingatannya yang serupa kaset rusak perlahan membaik, dan Kinasih tidak bisa menahannya lebih lama lagi.

Kini ia memilih menyusuri lorong rumah. Mencoba mencari tahu apa saja yang mungkin ia lewatkan di rumahnya sendiri. 

Langkahnya berhenti di depan pigura ruang tengah. Kinasih meraihnya hati-hati, kernyitan di keningnya semakin terlihat jelas, tatkala ia menyadari putri bungsunya yang terpajang di sana. 

Binar mengenakan pakaian wisuda. Dia didampingi ketiga kakak dan ayahnya. Mereka tersenyum ke arah kamera. 

Kinasih menaruh pigura di tempat asalnya. Tangannya beralih pada kalender di dinding. 

2025

"Ibu, Lita kangen banget sama Ibu," desah Lita—putri Kinasih nomor dua. 

Kinasih menutup matanya. Bulir bening menjatuhi pipi keriputnya. Dia bisa benar-benar tahu apa yang terjadi sekarang.

Sudah dua tahun berlalu sejak Kasa membawanya pergi dari rumah ini. Kala itu ia jatuh sakit selama berhari-hari karena kelelahan mengurus rumah.

"Ibu sakit ... parah!" Kasa mengepalkan tangan, ia terlihat sangat murka pada adik-adik dan ayahnya yang terdiam di meja makan. Kinasih mengintip dari balik kamar. 

"Semua ini karena kalian," gumam Kasa, menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang meluap-luap.

"Ibu harus dibawa ke profesional. Dia sakit, sering halusinasi dan lupa. Kalian tidak menyadari itu?" Kasa menunjuk Lita, Dhani dan Binar yang menggigil di meja.

"Sebenarnya kalian menganggap Ibu itu apa? Ibu sudah tua, sering sakit-sakitan, tapi beliau masih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah." 

Lita menggigit bibirnya di sela menyuapi Kayla.

"Ta, kamu tega nitipin anak kamu yang masih boc4h sama Ibu," ujar Kasa, pelan, tapi penuh penekanan.

Dhani berjingkat dari kursi, "Semua ini salahku, Mas." 

"Ya memang salahmu, uang tabungan haji Ibu dan Bapak kamu ambil buat usaha, tapi gagal kan? Uangnya gak balik." Binar menyemprot dari kursinya. Cukup sudah ia bersabar karena kakaknya itu.

"Emang gagal keinginan aku, Dek? Gak ada yang tahu kalau harga sahamnya anjlok." Dhani mendecak, jengkel.

Lita menyambar setelah mengantarkan anaknya ke kamar.

"Ya lagian lo pake main saham, kocak. Binar yang harusnya masih jadi tanggung jawab Bapak dan Ibu malah pontang panting nyari duit sendiri buat bayar kuliah!" 

Bapak menekan puntung rokok ke asbak, lantas menggebrak meja, membuat suasana berubah menjadi lebih menegangkan.

"Bawa Ibumu pergi, Mas. Maaf selama ini Bapak tidak bisa menjaga amanah yang Allah titipkan," imbuh Bapak.

Kinasih mengusap air mata yang merambat di pipinya. Matanya menatap nyalang pada langit-langit kamar.

Ternyata hari itu adalah hari terakhir Kinasih berada di sana. Setelah Kasa membawanya pergi, tidak pernah dia diizinkan untuk kembali. 

Kinasih dibawa pergi ke dokter, konseling ke psikolog, lalu terakhir ia diharuskan tinggal di rumah sakit jiwa. 

Kinasih menjalani hari-hari dengan baik, meski depresinya kadang-kadang kumat, tetapi ia bisa lekas menurut apapun perkataan suster dan dokter yang menanganinya. 

Dua minggu sekali Kasa datang menjenguk, bergantian dengan istrinya. Kadang Binar juga datang. Sayangnya tidak setiap pertemuan mereka bisa berbincang dengan Ibu. 

Sampai akhirnya dokter melarang anak-anak Kinasih mengunjungi, karena setiap selesai mereka berkunjung, Kinasih akan berhalusinasi dan tantrum. 

"Saya hanya mengizinkan Pak Kasa untuk menemui Ibu, karena beliau hanya benar-benar nyaman dengan Anda, Pak." Begitu perkataan dokter sewaktu Lita, Dhani dan Binar ingin menjenguk Ibu. 

Bapak tidak pernah berkunjung sama sekali. Dia terlalu malu dengan dirinya sendiri. Bapak berupaya untuk menebus kesalahannya karena tidak memperlakukan Ibu dengan baik. 

Bapak melakukan apa-apa sendiri, berhenti merokok dan fokus untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Agar saat ia bertemu lagi dengan Kinasih, Bapak bisa merasa pantas mendampinginya.

Namun, belum sempat Bapak bertemu Ibu, Tuhan memanggilnya terlebih dahulu. Setelah tiga bulan pasca jatuh di kamar mandi, Bapak wafat. 

Ibu tidak mungkin untuk diberitahu. Dia bisa sangat drop, setidaknya begitu perkataan dokter. Sehingga anak-anaknya memilih untuk menyembunyikan kabar meninggalnya Bapak.

Hari ini Ibu kembali, dengan setengah ingatan yang masih samar. Semua sudah berubah. Putri bungsunya tak lagi kuliah. Dhani bekerja di luar negeri untuk membayar hutangnya pada Ibu. Sementara Lita memilih rujuk dengan Indra, lalu pindah ke rumah warisan mertuanya.

"Maafkan Ibu sudah membuat kalian kesulitan." Kinasih menatap semua orang yang berkumpul di sana.

"Nggak, Bu. Justru kita yang seharusnya meminta maaf." Binar mencium tangan ibunya dibarengi isak haru.

"Siapa yang membayar kuliahmu, Bi?" Kinasih mengusap punggung Binar.

"Mbak, Indra memperlakukanmu dengan baik? Kayla dan Kenzie betah tinggal sama neneknya?" Lagi Kinasih bertanya penuh kekhawatiran.

"Dhani ... kenapa dia pergi bekerja ke luar negeri? Hutang pada Ibu tidak perlu dibayar, Ibu ikhlas, Nak." 

Kasa merangkul Ibu beserta kedua adiknya. Hangat sekali, meski kesedihan sedang mengaliri mereka.

"Bapak bagaimana? Siapa yang membuatkan dia sarapan? Bagaimana dia bisa jatuh di kamar mandi? Bapak kapan pergi, Mas?" 

Kinasih diantarkan anak-anaknya mengunjungi makam sang suami. Di hari selanjutnya ia datang, seakan tidak pernah bosan. Kadang hanya duduk diam, kadang bersenandung menyanyikan tembang kenangan. 

Hari ini Kinasih datang lagi, menaruh bunga di atas pusara terakhir suaminya. Kinasih duduk di atas tikar yang sengaja ia bawa dari rumah, dari dalam tas lusuh berwarna coklat itu, Kinasih mengeluarkan buku kecil yang berisi doa dan harapan-harapannya.

Telinganya seakan menangkap suara Edi di suatu tempat, puluhan tahun yang lalu, saat keduanya berteduh karena kehujanan.

"Saya selalu percaya, kalau kita menulisnya, maka hal itu akan terwujud. Dulu saya pernah menulis ingin berkuliah di kota ini, dan sekarang kesampaian." 

Kinasih muda terkekeh, membiarkan Edi bercerita dengan nyaman.

"Mau mencoba?" Edi menyodorkan buku catatan dari saku kemejanya.

Kinasih muda menggenggam pena dengan canggung. Mereka kemudian tertawa bersama di sana.

Cukup sudah Kinasih bermain dengan pikirannya sendiri. Dia tidak ingin terlalu jauh. 

"Keinginan saya hari ini ... saya hanya ingin dijemput, Mas, biar bisa kembali berkumpul bersamamu." 

Kinasih menautkan kedua tangannya di dada. Doa-doa ia lantunkan dalam hati untuk keselamatannya, dan untuk kebaikan anak-anak serta para cucunya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
Perfect Strangers - Script
Elvira Natali
Flash
Sebentar, Nak, Ada yang Belum Pulih
Atsuka D
Cerpen
Kinasih
Maisa
Novel
Jiwaku
Vira Yulianti Lestari
Novel
My List Boyfriends
Allena Moria
Novel
RINAI
RinaiAksa
Komik
C'est La Vie
Yobel Renaldo Paparang
Skrip Film
Fireworks
Ade Pramoedya Ananta
Flash
Langit Kelabu Pun Hujan Tak Kunjung Datang
winda aprillia
Novel
Darkpunzel
Art Fadilah
Novel
Ranum
Merta Merdiana Lestari
Novel
Semesta Putus Asa
Kata tanpa suara
Flash
Atlantis Hanya Endapan
Siti Qoimah
Novel
Gold
KKPK The Melody of Twin
Mizan Publishing
Komik
Bronze
Taman Bintang
Mauli
Rekomendasi
Cerpen
Kinasih
Maisa
Cerpen
Amor fati
Maisa
Cerpen
GETIR
Maisa
Cerpen
Talk to who?
Maisa
Cerpen
Sunyi, senyap, sendiri
Maisa
Cerpen
LANA: Gadis Pemberani
Maisa