Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
Bronze
Kidung Rembulan di L
0
Suka
37
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pertemuan pertama yang mengubah segalanya di hamparan ladang gandum keemasan di bawah naungan sinar rembulan purnama panen raya. Dua jiwa yang sunyi dipertemukan oleh desiran angin malam yang hangat, menyadari bahwa takdir telah menyatukan mereka dalam sebuah kisah cinta suci yang tertulis di bintang-bintang—cinta yang terasa seperti pelukan hangat yang menenangkan jiwa saat dunia sedang terasa dingin.

----------------------------------------------------------------------------------------------

TOKOH UTAMA:

- Bayu Anggoro (Perjaka Desa & Penjaga Ladang Gandum): Pemuda bersahaja berjiwa teguh, jujur, dan berhati teduh yang mengabdikan hidupnya menjaga warisan tanah leluhur dengan segenap keringat dan kasih.

- Kirana Laksmi (Gadis Penenun dari Seberang Kali): Gadis desa bermata telaga jernih dengan senyum menyejukkan, penenun kain sutra dan pemetik bunga malam yang memiliki ketabahan hati tiada tara.

LATAR: Lembah Arga Wilis di bawah cahaya rembulan purnama panen raya, di antara desiran jutaan bulir gandum keemasan yang terhampar luas.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀

Bagian I: Desau Angin dan Hamparan Emas di Ujung Senja

Ketika aroma bulir matang memanggil langkah-langkah yang rindu ketenangan

─── 🌹 ───

Kutipan: "Di tanah tempat akar-akar merengkuh bumi, angin senja selalu meniupkan kabar tentang sesuatu yang sedang dinantikan oleh jiwa yang sunyi."

  Musim kemarau telah mencapai puncaknya di Lembah Arga Wilis. Langit senja menggantung seperti bentangan kain beledu yang dicelup dalam lelehan tembaga, jingga menyala, dan lembayung tua yang anggun, perlahan-lahan menepis sengatan terik matahari yang seharian penuh memanggang ubun-ubun bumi pertiwi. Di bawah kubah cakrawala yang begitu lapang dan tak bertepi, terhampar permadani ladang gandum keemasan yang membentang seluas mata memandang, menuruni undakan perbukitan dan meliuk mengitari aliran sungai berbatu di kaki lembah. Setiap bulir gandum itu kini telah montok, ranum, dan menunduk berat oleh berkah kematangan, seakan-akan merunduk khusyuk menghaturkan sembah syukur kepada sang pencipta alam. Di antara jutaan batang yang saling bergesekan, udara mengembuskan wangi khas tanah kering yang berpadu dengan manisnya getah bulir gabah masak—sebuah aroma kemakmuran yang bagi orang-orang desa terasa jauh lebih berharga daripada timbunan intan permata manapun di muka bumi.

  Bayu Anggoro berdiri mematung di pematang tertinggi, menyandarkan kedua lengannya yang legam dan berotot terpanggang matahari pada sebatang tongkat kayu jati tua warisan kakeknya. Topi caping anyaman daun pandan telah ia tanggalkan dan ia selipkan di pinggangnya, membiarkan angin lembah yang sejuk membelai keningnya yang masih bersimbah peluh dan mengacak-acak rambut hitamnya yang ikal tebal. Usianya baru genap dua puluh dua tahun, namun gurat-gurat ketegaran dan kedewasaan telah terpahat dengan sangat nyata pada rahangnya yang kokoh dan sepasang alisnya yang tebal menaungi mata cokelatnya yang teduh. Sebagai perjaka tertua di keluarganya, dialah yang kini memikul tanggung jawab penuh atas belasan petak ladang pusaka peninggalan almarhum ayahnya. Selama berbulan-bulan yang panjang, Bayu telah menyirami tanah kapur ini dengan cucuran keringat dari fajar hingga senja, melindunginya dari serbuan kawanan burung pipit liar dengan membuat puluhan orang-orangan sawah, serta berjaga berjam-jam saat embun upas yang dingin mengancam pucuk-pucuk tunas muda pada awal musim tanam lalu.

  Kini, segala jerih payah dan letih yang membakar otot-ototnya terbayar lunas tanpa cela. Gandum di hadapannya telah menguning sempurna, berkilauan laksana samudra emas cair yang bergulung-gulung pelan mengikuti irama napas semesta yang tak pernah tergesa-gesa. Namun, anehnya, di tengah kepuasan panen raya yang su...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bronze
Boyfriend Hunting
Stella
Cerpen
Bronze
Kidung Rembulan di L
Amrullah Ibrahim
Flash
Bronze
The Galaxy In Our Room
Farah
Cerpen
Bronze
Rantau (Aku Bukan Pelakor)
Iena_Mansur
Novel
Midwife Love Story
Rosalina Vega
Flash
KoiN
Art Fadilah
Flash
Bronze
Jejak
lidia afrianti
Komik
Sisters of The Popular
Mentari Nurtriszkianny
Cerpen
Bronze
Sang Pemikul Rindu
Panji Pratama
Novel
Bronze
Dua Jingga
Nurmalasari
Novel
Bronze
Cinta di balik layar
BLASSIUS Nimus
Flash
Yang Terlewat di Halte Bus
Listian Nova
Novel
Bronze
Love story
Ciplukzz
Novel
Bronze
Fat, Hope, Love
Lily Zhang
Novel
I Love My Enemy
Melfa Xiv
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kidung Rembulan di L
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Pulang Menuju Pelukan
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Bisik Senja di Ruang Kerja
Amrullah Ibrahim
Novel
GUNTARA, Fajar di Puncak Hening
Amrullah Ibrahim
Novel
Tit Tak Sempurna
Amrullah Ibrahim
Novel
Takdir di Balik Cadar dan Jas Mewah
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Sang Kembang Desa
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
CINTA KEPADA REKAN KERJA
Amrullah Ibrahim
Novel
MUSTIKA RANAU: TAKDIR PANCA ELEMEN
Amrullah Ibrahim
Flash
Sentuhan di Mushola Teluk Betung
Amrullah Ibrahim
Flash
Tawa Misterius di Tepi Sungai Lubai
Amrullah Ibrahim
Cerpen
Bronze
Pedang Legendaris Teratai
Amrullah Ibrahim
Novel
Tahukah Anda...?
Amrullah Ibrahim
Novel
Titik Temu
Amrullah Ibrahim
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim