Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
KETIKA TANAH BERHENTI MENJADI RUMAH
Ada tanah yang menyimpan benih.
Ada tanah yang menyimpan makam.
Ada tanah yang menyimpan jejak kaki anak-anak pulang sekolah.
Namun di Sidoarjo, ada tanah yang suatu hari berhenti menjadi tanah.
Ia berubah menjadi lumpur.
Dan ketika lumpur itu datang, ia tidak hanya menenggelamkan rumah.
Ia membawa serta alamat, halaman masa kanak-kanak, suara azan dari surau kecil, pohon jambu di belakang dapur, dan nama-nama yang pernah ditulis dengan kapur di dinding.
Namaku Arif. Aku lahir di sebuah kampung di Porong, Sidoarjo, pada sebuah rumah sederhana yang sekarang tidak lagi memiliki alamat. Kalau ada orang bertanya kepadaku tentang rumah masa kecilku, aku masih dapat menggambarkannya dengan mata terpejam. Catnya hijau muda. Terasnya sempit. Di samping pintu ada kursi kayu yang dibuat Bapak dari papan bekas. Di belakang rumah tumbuh pohon jambu air. Pohon itu tidak terlalu besar, tetapi setiap musim berbuah begitu lebat sehingga Ibu sering mengomel karena buah-buahnya jatuh memenuhi halaman.
“Kalau nanti kamu punya rumah sendiri,” kata Ibu suatu sore, “tanamlah pohon.” Aku yang saat itu masih dua belas tahun hanya tertawa.
“Kenapa harus pohon, Bu?” Ibu sedang menyapu halaman.
“Supaya rumahmu punya sesuatu yang tumbuh bersamanya.”
Aku tidak memahami kalimat itu. Bagiku rumah hanyalah tempat tidur, meja makan, televisi t...