Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
ketika takdir membukakan pintu kedua
0
Suka
245
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Malam itu rembulan menggantung seperti lentera yang digantungkan Tuhan di langit Jember. Cahaya putihnya menetes perlahan ke alun-alun, menyapu wajah para santri yang berkerumun mengikuti musabaqah qira'atil kutub. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan suara pepohonan yang seakan ikut bertasbih, memohonkan keberkahan bagi para pencari ilmu.

Di tengah riuh itu, seorang santri memilih menjauh. Falih Yahya Al-Khawarizmi, pemuda alim yang namanya sering disebut dalam daftar juara, duduk bersandar pada batang pohon pohon tua. Di tangannya terbuka kitab I'anatut Thalibin, namun matanya tak benar-benar membaca. Huruf-huruf itu menari tanpa makna, seperti enggan disentuh oleh pikiran yang sedang kacau.

Ia menarik napas panjang.

Ada sesuatu yang lebih berat dari kitab itu di dadanya.

Cinta.

Cinta yang tumbuh diam-diam, seperti akar kecil yang menyelinap di bawah tanah pesantren. Cinta kepada Ning Zia, putri bungsu KH. Munawwirul Anam. Cinta yang ia tahu tak terlarang, tapi tetap terasa jauh. Ia santri dari keluarga sederhana, sementara Ning Zia adalah putri seorang pengasuh pesantren besar.

Ia menunduk, memejamkan mata, dan bertanya pada dirinya sendiri:

"Pantaskah aku mengharapkannya...?"

Pertanyaan itu menggema seperti adzan yang tak kunjung selesai.

Tiba-tiba pengeras suara memecah malam.

"Peserta selanjutnya... Falih Yahya Al-Khawarizmi, delegasi dari Pondok Pesantren Al-Furqan Bondowoso!"

Lamunannya pecah. Ia menutup kitab, berdiri, dan melangkah menuju panggung. Namun pertanyaan itu tetap menggantung di belakangnya, mengikuti langkahnya seperti bayang-bayang yang tak mau pergi.

#

Keesokan paginya, matahari muncul malu-malu dari balik pepohonan. Pesantren mulai hidup, suara sapu lidi, denting gelas kopi, dan lantunan nadzom dari berbagai sudut. Falih duduk di depan asrama, secangkir kopi hitam mengepul di sampingnya. Aroma kopi itu mengingatkannya pada rumah, pada ayahnya yang selalu meracik kopi dengan penuh kesabaran, seperti sebuah meracik harapan.

Dari kejauhan terdengar suara terompah mendekat.

Keletak... kelotok... keletak... kelotok...

Falih menoleh. Seorang gadis berjilbab krem berjalan pelan, membawa sebuah kado kecil yang dibungkus rapi. Lesung pipinya muncul setiap kali ia menunduk.

Ning Zia.

"Eh... Ning Zia, mau ke mana kok bawa kado?" tanya Falih, mencoba terdengar santai meski jantungnya berdebar.

Ning Zia menggigit bibir, wajahnya memerah. Ia menyerahkan kado itu dengan tangan gemetar.

"Selamat ya... ini buat kamu."

Hanya itu. Lalu ia pergi, langkahnya cepat, seolah takut keberaniannya akan runtuh jika ia tinggal lebih lama.

Falih memandang punggungnya yang menjauh. Pipinya ikut memerah.

Kado itu terasa lebih berat dari ukurannya, karena di dalamnya ada sesuatu yang tak bisa ia buka dengan tangan, hanya dengan hati.

#

Seminggu kemudian, langit menagis. Rintiknya jatuh seperti doa yang tak selesai. Ning Zia dipanggil Abuya ke ruang tamu. Sorban hijau dan kopiah putih Abuya tampak lebih teduh dari biasanya.

"Bhing... dulu waktu kamu kecil, Buya sudah menjodohkanmu dengan anak sahabat Buya. Besok dia akan melamarmu."

Kata-kata itu jatuh seperti petir yang tak bersuara.

Ning Zia menunduk. Air matanya menggenang, tapi ia menahannya.

"Eng....engghi... kalau itu keinginan Buya, Zia ikhlas."

Ikhlas. yaa kata itu yang terlontar dari mulutnya, sebuah kata yang guru-guru kita tak tahu persis artinya bahkan baginda kita hanya mengetahui bahwa itu Rahasia.

Ia tahu Falih akan terluka. Ia tahu hatinya sendiri sedang retak. Tapi ia juga tak pernah lupa bahwa menjadi anak seorang kyai berarti belajar merelakan bahkan sebelum diminta.

#

Pagi itu sinar matahari membelah tirai kamar Ning Zia, tapi tetap tak mampu menerangi hatinya yang gelap. Sebelum tamu lamaran datang, ia memberanikan diri menemui Falih. Pemuda itu sedang duduk dengan nadzom Alfiyah terbuka di depan mukanya, pemuda itu tak sedang membaca atau menghafal, ia hanya sedang melihat jauh ke dalam sanubarinya sendiri. Ya.. kabar itu terlebih dahulu sampai kepada telinganya yang kemudian merambat membelah hatinya.

"Falih... sini bentar."

Falih bangkit, mendekat.

"ada apa?. Saya sudah berusaha ikhlas kok"

Ning Zia menarik napas panjang.

"Saya minta maaf......" air matanya menggenang.

Falih hanya menunduk dan berkata:

"Kalau itu keinginan Buya... saya ikhlas. Dan kamu harus sabar, buya tak mungkin mendorongmu ke jurang, beliau tahu apa yang terbaik untuk anak gadisnya"

Ning Zia menunduk, air matanya tak mampu ia bendung lagi, lalu pergi.

Falih berdiri mematung, seperti pohon yang baru saja kehilangan daunnya.

#

Hari-hari berikutnya, Falih mencoba belajar, tapi huruf-huruf kitab tak lagi menenangkan, tak lagi membuatnya tertantang.

Suatu sore di saat langit sedang menunjukkan wajah terbaiknya, pemuda itu menatap langit dan berbisik:

"Ya Allah... ajari aku merelakannya."

Sedangkan di kamarnya, Ning Zia membuka buku hariannya, berencana menumpahkan isi hatinya. Ternyata di dalam ada secarik kertas yang pernah Falih kirimkan dulu:

"Semoga Allah menjagamu, meski bukan aku yang mendampingimu."

Air matanya jatuh, membasahi tulisan itu.

#

Hari-hari menjelang pernikahan Ning Zia. Berubah menjadi hiruk-pikuk yang tak pernah berhenti. Undangan sudah disebar ke berbagai kota, dari Jember hingga Bondowoso. Para tamu mulai mengirimkan doa dan ucapan selamat. Di pesantren, para santri putri sibuk menyiapkan dekorasi sederhana, sementara ibu-ibu kampung menumbuk bumbu untuk hajatan besar.

Di tengah semua itu, Ning Zia berjalan seperti bayang-bayang dirinya sendiri, senyumnya hadir, tapi tidak pernah penuh. Ia menjalani setiap prosesi dengan patuh, namun hatinya seperti daun kering yang terombang-ambing angin.

Falih menyaksikan semua itu dari kejauhan. Ia mencoba merelakan, mencoba mengikhlaskan, mencoba meyakinkan dirinya bahwa cinta tak selalu harus memiliki. Tapi setiap kali ia melihat Ning Zia menunduk, ada sesuatu di dadanya yang seakan runtuh.

Namun hidup sering kali bergerak dengan cara yang tak terduga.

Tiga hari sebelum akad nikah, kabar itu datang seperti petir yang menyambar tanpa suara.

Calon suami Ning Zia mengalami kecelakaan di perjalanan menuju Pesantren. Mobil yang ia tumpangi tergelincir di tikungan basah. Para saksi mengatakan hujan turun terlalu deras, jalan terlalu licin, dan takdir terlalu cepat mengambil keputusan.

Ia meninggal dunia sebelum sempat sampai.

Kabar itu menyebar cepat. Pesantren mendadak sunyi. Undangan yang sudah tersebar menjadi saksi bisu dari rencana yang tak pernah terjadi. Di kamarnya, Ning Zia menangis tanpa suara, memeluk mukena yang masih terlipat rapi untuk akad yang tak akan pernah datang. Dikala dirinya sudah mulai ikhlas dan menerima hal yang tak pernah ia harapkan. Kabar itu datang, menyayat-nyayat hatinya.

Abuya duduk lama di ruang tamu, memandang dinding yang kosong. Sorban hijaunya tampak lebih kusut dari biasanya. Ia bukan hanya kehilangan calon menantu, tapi juga kehilangan sahabat lama yang kini berduka karena putranya pergi mendadak.

Malam itu, pesantren seperti menahan napas.

#

Keesokan harinya, ketika matahari merayap naik dari balik punggung Gunung Argopuro, seperti seorang guru tua yang kembali membuka kitab pelajaran hidup, cahaya lembutnya menaburkan benih-benih harapan ke udara yang masih menggigil oleh sisa malam. Embun menggantung di ujung-ujung daun, bagai doa-doa yang belum sempat diucapkan, sementara angin pagi menyusup pelan, membawa aroma tanah basah yang terasa seperti halaman pertama dari sebuah keputusan besar.

Di tengah kesunyian yang menyerupai jeda panjang antara pagi dan petang, Abuya memanggil Falih. Suaranya berat, berat seperti pintu kayu tua yang dibuka perlahan setelah lama dipertimbangkan, namun matanya jernih, sebening telaga yang baru saja disentuh cahaya pertama. Ada keteguhan di sana, keteguhan seseorang yang telah menenggelamkan seluruh gelisahnya dalam sujud yang panjang, lalu bangkit dengan hati yang telah memilih jalan yang tak bisa lagi ditarik kembali.

"Falih... duduklah."

Falih duduk dengan gugup. Ia tidak tahu apa yang akan dibicarakan, tapi ia merasakan sesuatu yang berbeda di udara.

Abuya menatapnya lama, seolah sedang membaca isi hati pemuda di hadapanya.

"Bhing Zia... sedang rapuh. Rencana pernikahan itu sudah terlanjur diumumkan. Orang-orang sudah tahu. Keluarga besar sudah bersiap. Tapi yang lebih penting dari itu semua..." Abuya berhenti sejenak, menarik napas panjang.

"...hatinya sedang kosong. Dan ia butuh seseorang yang bisa menjaganya."

Falih menunduk. Ia tidak berani menebak arah pembicaraan ini, hatinya berdegup kencang, kakinya mulai gemetar.

Abuya melanjutkan, suaranya lebih pelan namun tegas.

"Falih... selama ini Buya memperhatikanmu. Ilmumu, akhlakmu, kesungguhanmu. Dan Buya tahu... kamu menyayangi Zia dengan cara yang tidak banyak laki-laki bisa lakukan, dengan diam, dengan doa, dengan menjaga batas."

Falih merasakan dadanya bergemuruh.

"Kalau kamu bersedia," lanjut Abuya, "Buya ingin kamu yang menikahi Zia."

Kata-kata itu jatuh seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Tidak keras, tidak memaksa, tapi menyentuh tanah hati yang paling dalam.

Falih mengangkat wajahnya perlahan.

"Buya... saya... saya takut tidak pantas."

Abuya tersenyum tipis.

"Tidak ada manusia yang benar-benar pantas. Yang ada hanya manusia yang mau belajar memantaskan diri."

Hening sejenak.

Lalu Falih menunduk, air mata jatuh tanpa ia sadari.

"Kalau itu yang Buya kehendaki... dan kalau itu yang bisa membuat Ning Zia terjaga...Insyaallah saya siap."

#

Sore itu, ketika matahari mulai turun dan langit berubah jingga, Ning Zia dipanggil ke ruang tamu. Ia duduk dengan mata sembab, namun wajahnya tetap teduh.

Abuya memegang tangannya dengan lembut.

"Bhing... Buya tidak ingin kamu menjalani hidup sendirian dalam luka. Buya sudah bicara dengan Falih."

Ning Zia menahan napas.

"Kalau kamu ridha... Buya ingin Falih yang menggantikan calonmu."

Air mata Ning Zia jatuh, bukan karena terkejut, tapi karena hatinya yang selama ini ia tekan tiba-tiba menemukan ruang untuk bernapas.

"Bu....buya... apa Falih... bersedia?"

Abuya tersenyum.

"Dia tidak hanya bersedia. Dia siap."

Ning Zia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Di balik tangisnya, ada sesuatu yang lama hilang kini kembali, harapan.

#

Malam itu, Falih berjalan melewati pagar bambu yang dulu menjadi saksi pertemuan mereka. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan doa-doa yang tak pernah putus.

Di ujung jalan, Ning Zia berdiri.

Jilbabnya tertiup angin, matanya masih sembab, tapi ada cahaya baru di sana, cahaya yang dulu pernah padam.

Mereka saling menatap.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada janji manis.

Hanya dua hati yang pernah retak, kini dipertemukan kembali oleh takdir yang lebih besar dari keduanya.

Falih mendekat, lalu berkata pelan:

"Ning... kalau kamu ridha... aku akan menjagamu. Bukan karena aku merasa pantas, tapi karena aku ingin belajar pantas bersamamu."

Ning Zia mengangguk, air mata jatuh lagi, kali ini bukan karena kehilangan, tapi karena ditemukan.

Dan di bawah langit pesantren yang tenang, takdir menulis ulang kisah mereka.

Bukan sebagai cinta yang dipaksakan, bukan sebagai pelarian dari duka, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya dipertemukan pada waktu yang tepat..................................................................................................yeee tamat

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Gold
ADIBA
Noura Publishing
Novel
Setiap Momen adalah Kamu
Jane Lestari
Novel
Faith and Beats
Shabrina Farha Nisa
Skrip Film
REIN: A Dreamlove Story
Bihar Jafarian
Cerpen
Bronze
Di Desanya Cinta Juga Begitu
Lian lubis
Cerpen
ketika takdir membukakan pintu kedua
Farhan Bashori Hasan
Novel
Bronze
My Introvert Girl
EvaaDyani
Novel
Bronze
L.E.O
Septiani Nurhayati Effendi
Novel
Bronze
Cin-Cin di Ujung Lorong
Mahtawati Purba
Cerpen
Bronze
sebelum garis dimensi menutup
Venesia Laura
Novel
Bronze
Pengantin Cadangan
Jayanti Yusuf
Cerpen
Antara Bumi & Angkasa
Sayidina Ali
Novel
Utuh tak Berjeda
Innuri Sulamono
Novel
jikd
indah ika
Novel
Gold
Hujan Merah Jambu
Mizan Publishing
Rekomendasi
Cerpen
ketika takdir membukakan pintu kedua
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bronze
awal mula kaidah syafii, kok nguping
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Fatamorhana Arunika, senja Devina
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
ketika harapan ayah tumbang dihadapan anak
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
suara azan setan
Farhan Bashori Hasan