Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 4
0
Suka
18
Dibaca

Lamunan dan kepingan memori tadi seketika menghilang ketika tubuh Ben tiba-tiba diterjang oleh dua orang laki-laki dari pemukiman kumuh tersebut. Ben yang tidak bersiaga akan serangan sebelumnya, terjatuh ke tanah dengan keras dalam keadaan telungkup.

“Hey bodoh! Mundur atau kutembak!” Bentak Jamal serius sambil menodongkan senjatanya ke dua orang tersebut. Seakan tak gentar, keduanya menggerayangi tubuh Ben, berusaha membuka pengait yang mengikat karung bahan pangan di punggungnya dan segera menariknya. Ben berusaha melepaskan diri sekuat tenaga, namun beberapa orang yang tadinya hanya mengawasi dari kejauhan, kini mulai berlarian ke arahnya dengan raut muka yang beringas. Ben seperti daging yang dilemparkan ke sungai, di mana para ikan Piranha segera menerkamnya secara bergerombol. Jamal tidak berani menembak karena posisi Ben terus berpindah di tengah kerumunan orang yang mulai brutal untuk berebut karung pangan dari punggung Ben, ia takut salah sasaran dan malah melubangi kepala temannya nanti, begitu pula rekan satunya yang mungkin juga panik dan hanya menodongkan senjata tanpa mengeluarkan sepatah kata sedikitpun.

Ben berhasil melepaskan diri dari kerumunan, ia segera berlari ke arah Jamal dan rekannya yang satu lagi. Mereka bertiga seperti terkepung di teritori Hyena, makin lama makin banyak orang yang datang dan ingin mencuri karung pangan yang tersisa. “Orang-orang ini seperti Binatang! Apa kau akan biarkan mereka memangsamu begitu saja? Bisakah kau gunakan senjatamu?” Teriak Jamal yang mulai panik. Mereka bertiga saling memunggungi satu sama lain untuk berjaga dari serangan yang akan datang dari berbagai arah. Ben mulai menodongkan senjatanya yang sebelumnya tak ingin dia sentuh dengan nafas tersengal-sengal.

“Apa boleh kita tembak?” Tanya rekannya yang satu lagi, yang Ben tidak tahu namanya, yang akhirnya mengeluarkan kata-kata setelah sekian lama mereka berjalan bertiga. “Jangan! Perintahnya tidak seperti itu kan!” Bela Ben. “Naif sekali kau, padahal barusan hampir mati oleh mereka, apa sih yang kau pikirkan?” Jamal kesal dan sedikit mengerling Ben. Kerumunan orang tadi saling tarik menarik karung Ben yang telah dirampas sampai pecah, bahan pangan yang bentuknya seperti sereal tersebut berhamburan di tanah, mereka lalu memakannya dengan nafsu yang tinggi, beringas, seperti belum makan selama berminggu-minggu. Beberapa orang saling sikut hingga terjatuh demi mendapat segenggam sereal tersebut untuk dimakan.

“Kita tidak mungkin memotretnya untuk laporan bukan?” Tanya Ben untuk mencairkan suasana yang sebelumnya tegang. Jamal menggeleng, “Kita bergerak, ayo lari ke kanan!” Perintahnya. Mereka bertiga segera berlari ke jalanan sempit di pojok kanan. Jamal di depan, diikuti oleh Ben, lalu rekannya yang lain. Orang-orang tadi mengejar mereka sambil berteriak-teriak marah, mereka memerintahkan tim Ben untuk berhenti dan menyerahkan karung-karung itu, sebagian membawa sebilah kayu, golok, bahkan batangan besi. Bahaya kini mulai mengintai tim Ben dalam misi pendistribusian bantuan pangan yang tidak pernah terpikirkan oleh Ben sebelumnya.

Setelah agak jauh dari kerumunan massa yang sepertinya akan mengamuk, Ben terhenti di depan sebuah rumah yang sudah setengah ambruk, ia memandang sebuah poster yang lusuh dengan gambar Supreme Leader dengan jas kebanggaannya, logo burung Phoenix merah jadi latar poster, lalu tulisan besar jadi semboyan bertuliskan “KITA PERCAYA SUPREME LEADER”. Ben segera meludahi poster itu, dan tiba-tiba suara tembakan dari jarak satu kilometer terdengar, memecah keheningan yang tengah diresapi Ben setelah puas melampiaskan kekesalannya. Saat itu pula pikiran Ben terlempar ke pecahan memori selanjutnya. Ia kembali ke tubuh anak kecil tadi, melanjutkan ingatannya yang tengah berada di kerumunan kawanannya. 

Di langit, muncul sebuah portal raksasa berbentuk lingkaran plasma berwarna biru tua, lalu dari lingkaran tersebut muncul kapal udara berwarna perak yang Ben lihat di memori lainnya saat berada di kota bangsa kulit putih. Kapal udara besar tersebut muncul perlahan hingga seluruhnya berada di langit bumi, tepat di atas kepala kerumunan. Dari bagian bawahnya, sebuah pintu berbentuk lingkaran terbuka dan sinar putih turun menjangkau tanah. Sinar itu bukan sinar biasa, ia bekerja seperti gravitasi, menarik objek yang ada di bawahnya untuk naik ke atas dan masuk ke dalam.

Beberapa orang kini mulai terangkat satu persatu dan masuk ke dalam kapal udara dengan panik maupun gembira. Sepertinya sebagian dari mereka sudah tahu bahwa kapal itu milik bangsa kulit putih, yang pada akhirnya diutus untuk menyelamatkan mereka di bumi, atau mungkin mereka sudah menantinya sejak lama. Kerumunan makin sesak karena semuanya berbondong-bondong menuju cahaya tersebut agar bisa naik ke kapal demi meninggalkan kehidupan yang penuh kesengsaraan di tempat tandus dan terbuang ini, termasuk Ben dan wanita yang menggenggam tangannya erat dan menuntunnya. Orang-orang mulai bersukacita saat portal kedua dan ketiga muncul, lalu kapal udara selanjutnya keluar dan melakukan hal yang sama, menarik orang-orang dari kawasan kumuh yang mereka anggap neraka kehidupan, menuju masa depan yang lebih baik.

Bukan munafik rasanya ketika mereka berusaha meninggalkan bumi yang sudah mati ini, tidak ada harapan untuk melanjutkan hidup, tidak ada sumber daya untuk diolah, dan tidak ada harapan untuk pemerintah yang dipimpin oleh seorang Supreme Leader dan kroco-kroconya. Sepanjang hidup mereka tidak pernah merasakan kebahagiaan, kecukupan, dan kemakmuran, hanya ada derita yang tak berkesudahan sementara mereka tahu bahwa di balik dinding besar yang menjulang di ujung sana, Supreme Leader beserta para penjilatnya sedang hidup makmur menikmati sisa sumber daya yang ditinggalkan bangsa kulit putih, sementara sistem pemerintahan tidak bekerja dan hanya membuat propaganda kemakmuran semu yang diagung-agungkan oleh mereka sendiri.

Walaupun tiga kapal udara perak tersebut milik musuh, tapi mereka menganggapnya seperti malaikat penyelamat. Bahkan berpaling ke sisi satunya adalah keputusan paling tepat ketimbang menjadi tulang belulang tanpa arti di bumi ini. Mereka tidak tahu dimana dan kemana kapal tersebut akan membawa mereka, karena ketika memasuki pintu bulat tersebut, kesadaran orang-orang akan hilang dan semuanya akan terasa gelap. Kini Ben dan wanita tersebut mulai mendekati barisan terluar cahaya lingkaran, mereka sudah bisa menghitung menit sebelum naik ke pesawat penyelamat mereka. 

Tepat dua baris sebelum Ben dan wanita tersebut menyentuh cahaya itu, desing suara puluhan helikopter terdengar mendekat. Angin kencang menyapu terbang tanah kering yang menjadi debu di udara, beberapa helikopter mulai melancarkan serangan ke kapal dengan senjata mesin, suara tembakan bergemuruh di atas mereka. Warga kaget dan seketika panik lalu berhamburan, sebagian lagi menunduk dan tiarap. Ratusan peluru ditembakkan ke arah depan kapal perak namun sia-sia, karena ada lapisan perisai pelindung tak kasat mata yang mengelilingi kapal tersebut, sehingga peluru-peluru tersebut tidak dapat menyentuh badan kapal sedikitpun.

Tak habis ide, helikopter lainnya menembakkan peluru ledak untuk menghancurkan perisai, namun tak berhasil juga. Walaupun kapal perak tak tergores sama sekali, namun daya ledak tersebut melukai beberapa warga yang berada dalam jangkauan dekat. Kepanikan sebagian dari mereka sedikit berkurang begitu mengetahui bahwa kapal perak tak bisa diserang, mereka kembali berlarian menuju cahaya, terangkat ke atas dan melayang-layang dengan perlahan menuju pintu masuk kapal dengan ekspresi gembira.

Ben dan wanita yang sekarang ia pikir adalah ibunya tengah tiarap tak jauh dari lingkaran cahaya, mereka menunggu momen aman karena ledakan demi ledakan terus bermunculan. Tangis anak-anak lain yang ketakutan bersahut-sahutan, namun Ben kecil tidak menangis, ia mengikuti gerakan ibunya yang mulai merangkak menuju sumber cahaya. Suara Supreme Leader tiba-tiba terdengar keras dari speaker yang dipasang di badan helikopter, memperingatkan musuh agar kembali ke tempat asalnya, meninggalkan bumi, atau armada lain akan terus berdatangan dan menyerang kapal mereka. 

Kapal udara itu tidak menggubris sama sekali, bahkan tidak menyerang balik dan terus melanjutkan ekstraksi, mengangkut sebanyak-banyaknya manusia dari bawah neraka. Suara Supreme Leader tambah geram, karena serangannya tidak mempan sama sekali, teknologi yang dirampasnya dari bangsa kulit putih tidak bisa menandingi teknologi terbaru mereka. Supreme Leader malah berbalik mengancam warganya untuk tidak naik ke kapal udara atau mereka akan ditembak di tempat, senjata-senjata yang tadinya diarahkan ke kepal udara kini diarahkan ke manusia-manusia yang tengah berkumpul di bawahnya. Tak ada yang berani bergerak saat itu juga, termasuk Ben dan ibunya. 

Kilasan memori tersebut berhenti seketika, Ben kembali ke tubuh aslinya yang tengah menatap poster Supreme Leader. Jamal mengawasinya dari jarak 5 meter, menaruh curiga dengan tatapan tajamnya kepada Ben. “Kenapa kau berhenti Ben?” Tanyanya datar, “—apa yang mengganggumu saat ini?”. Ben bernafas dengan tak beraturan, ia menyadari bahwa yang tadi itu bukan sekedar kilasan memori, namun itu adalah kejadian yang akan terjadi beberapa saat lagi, tepat di hari ini saat Ben dibuang dari ruang eksperimen untuk kembali ke masa lalu oleh bangsa kulit putih. Ben tahu bahwa ia diutus untuk menyelesaikan penderitaan ini dengan cara apapun, makannya ia berada di tubuh pasukan Supreme Leader, agar ia bisa menyelesaikan konflik dari dalam, bukan dari luar. Namun dengan apa? Persuasif? Pembelotan? Atau pembunuhan berencana terhadap Supreme Leader? Ia tak tahu. Yang jelas, kalau ketahuan, dirinya mungkin akan dibantai seperti antek asing di depan monumen saat parade, atau disiksa sampai mati seperti ratusan korban lainnya yang diceritakan Jamal. 

Karena kilasan memori yang begitu banyak, Ben jadi tahu seluk beluk pemukiman ini, karena sekarang, sosok kecil dirinya sedang berada di tengah pemukiman, entah bermain, atau malah menuju lapangan tempat ekstraksi akan berlangsung. “Ben!—“ bentak Jamal, “kau dengar aku? Kau mau diam saja di tempat ini? penduduk sekitar akan menemukan kita, sebaiknya kita jalan sekarang”. Ben hanya mematung tanpa menoleh ke arah Jamal, ia masih mencerna semua hal dengan kepala yang terasa berat. Jamal dan rekannya yang satu lagi menunggu jawaban Ben di pojok sebelum gang yang agak lebar menuju jalan kembali ke helikopter. 

Saat Ben perlahan menoleh, ia melihat sesosok warga yang membawa golok sambil mengendap-endap dari arah gang belakang Jamal. Orang itu langsung menebas leher rekannya yang berdiri di samping Jamal dengan sangat cepat. Kepalanya terputus dan melayang di udara, darah mengucur deras dan terciprat ke arah Jamal yang berdiri tak jauh dari badan rekannya. Ben tak sempat berkata-kata, Jamal langsung terloncat seketika, menjauhi tubuh tanpa kepala yang jatuh ke tanah, sekaligus menghindari hempasan golok ke arahnya. Dengan reflek cepat, Jamal mengarahkan senjatanya, melancarkan beberapa tembakan tepat ke dada orang tersebut yang akhirnya membuatnya terpental ke belakang dan tewas seketika. 

Suara tembakan tadi mengundang perhatian, membuka lokasi keberadaan persembunyian mereka, dan segera, gemuruh derap kaki warga berlarian terdengar oleh Ben dan Jamal. Ben sudah memutuskan pilihannya, ia akan mencari dirinya yang masih anak-anak dan pergi meninggalkan pasukan Supreme Leader sebelum proses ekstraksi berlangsung. Ia langsung berlari menjauhi Jamal agar misinya tidak ketahuan, namun Jamal malah mengikuti dari belakang dengan kebingungan, mereka tidak kembali ke arah helikopter. Dengan sekuat tenaga Ben berlari menyisiri pemukiman tersebut, melintasi para warga yang ingin memburunya, melompati beberapa rintangan di tengah jalan, menaiki atap rumah-rumah reyot dan mengerling sekitar, serta menjaga jarak aman dari kejaran Jamal maupun warga.

Entah berapa banyak musuh yang ia hantam dengan tinjunya, bahkan sesekali ia tak ragu untuk menodongkan senjatanya demi menggertak mereka yang menghalangi jalannya. Jamal tetap mengejar Ben walaupun jaraknya cukup jauh, ia memastikan Ben tak luput dari penglihatannya sembari sesekali meneriaki namanya dengan marah. Ia penasaran kenapa Ben tidak kembali ke titik penjemputan dan malah berlari ke arah sebaliknya. Keduanya semakin jauh memasuki jantung pemukiman, Ben kini bisa melihat betapa menyedihkannya kehidupan di luar dinding benteng kota, kemiskinan bukan kata yang tepat, karena bisa dibilang mereka tidak punya harta apa-apa selain nyawa dan makanan yang sangat terbatas di bawah kontrol pemerintah.

Beberapa bunyi tembakan mulai terdengar lagi dari titik yang berbeda, Ben tahu bahwa misi pendistribusian makanan tersebut tidak berjalan lancar, pasti ada korban yang berjatuhan karena berusaha menjarah makanan dari tim lain. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa fokus ke tujuan utamanya sekarang. Sepuluh menit mencari dari rumah ke rumah, menyisiri gang-gang sempit, hingga naik ke atap tak membuahkan hasil, Ben masih tidak menemukan dirinya yang lain. Ia lalu berhenti dan memanjat ke atas sebuah bangunan yang cukup tinggi untuk memantau situasi, ia juga menerka apakah waktu saat ini sudah sesuai dengan waktu yang ada di penglihatannya tadi dari arah matahari, namun ia tak melihat portal terbuka di langit, ataupun tanda-tanda akan terjadi kekacauan hebat seperti di penglihatannya. 

Jamal masih berlari mencari Ben yang cukup jauh di depannya, kini ia dibuntuti oleh sekelompok warga yang mengincar karung berisi bahan pangan yang dibawanya. Ia berlari dengan perasaan ketakutan namun tetap berusaha untuk waspada, karena satu anggota timnya baru saja kehilangan kepala di depan matanya sendiri, sementara yang lainnya lari entah kemana. Jamal tak ragu untuk menembak orang-orang yang menghadangnya, pria ataupun wanita, bahkan segerombolan anak jalanan yang dianggap mencurigakan juga ia tembak di tempat. Lebih baik mereka yang tewas ketimbang dirinya sendiri.

Suara tembakan dari Jamal menarik perhatian Ben, ia merasakan bahwa sebentar lagi Jamal akan sampai ke sini dan itu bukanlah hal yang bagus. Entah kenapa tiba-tiba kepala Ben dilanda nyeri yang sangat hebat, seperti dipukul oleh palu dari dalam, ia tak kuasa untuk berdiri dan akhirnya duduk untuk menenangkan diri. Nyeri kepala itu diiringi oleh penglihatan lain yang benar-benar mengerikan. Dalam penglihatannya, ia melihat kelanjutan peristiwa yang terjadi, helikopter-helikopter itu menyerang warga yang ada di bawahnya, dengan menggunakan flamethrower yang mengobarkan lidah api yang sangat besar ke pemukiman. Seketika api menyulut ke sana kemari, membakar rumah-rumah yang terbuat dari kayu yang begitu rapuh, rintihan para ibu bergema ketika mereka tak bisa menyelamatkan anak-anaknya yang terpanggang seketika, badan yang kurus kering itu sekarang menghitam layaknya ujung korek api yang telah habis terbakar, asap dan abu mayat mereka beterbangan di udara.

Ben berada di tengah kerumunan yang panik dan berlari menuju cahaya yang mengangkat orang-orang menuju kapal perak. Jantungnya berdegup tak beraturan dengan begitu cepat dikarenakan hujaman peluru yang bertubi-tubi menyasar ke sekitarnya, menumbangkan orang-orang yang berlari di kanan dan kirinya satu per satu dengan begitu mengenaskan. Sementara di langit, desingan baling-baling helikopter yang mengganggu kini ditimpali oleh suara Supreme Leader dari arah speaker yang memerintahkan untuk memusnahkan semua yang ada di sana. Tak boleh ada yang tersisa ataupun dibawa oleh bangsa kulit putih yang mereka tuduh merampas aset sumber daya manusia dari bumi.

“Lebih baik binasakan semua, daripada satu kepala dirampas oleh musuh! Bakar habis!”

Ben kembali ke tubuh aslinya. Kini dari kejauhan, ia melihat sebuah titik hitam yang perlahan berubah jadi portal dimensi di langit. Jaraknya sekitar 10 km dari tempatnya berdiri sekarang. Ben segera bergegas berlari ke sana karena ia tahu inilah permulaan dari semua fragmen-fragmen peristiwa yang terlintas di pikirannya. Tak lama setelah Ben pergi, Jamal sampai di lokasi Ben sebelumnya, ia menganalisa sekitar dan memperhatikan arah perginya jejak sepatu Ben.

Jauh di lubuk hati Ben ia merasa memiliki beban besar yang harus dipikul. Semua penglihatan dan situasi ini serasa tanggungjawab yang harus ditunaikannya. Padahal seharian ini saja dia masih kebingungan untuk mengenali dirinya sendiri. Tak mau ambil pusing, kini ia melesat begitu cepat dan menit demi menit menjadi lebih dekat dengan portal di langit itu.

Kapal udara perak dari dunia seberang telah muncul sedikit demi sedikit, keluar dari portal dan mengambang di atas pemukiman warga. Melati dan kawanan lainnya yang sedang bersiaga di titik penjemputan mendapat misi langsung dari Supreme Leader untuk menyerang objek tak dikenal tersebut. Tak berselang lama, di bawah komando Melati, seluruh helikopter mulai lepas landas dari titik penjemputan menuju ke arah portal dimensi raksasa yang berjarak berkilo-kilo meter jauhnya. Sementara Ben harus segera bergegas menemukan dirinya yang masih anak-anak untuk menyelesaikan sesuatu yang telah terlintas di benaknya sejak tadi, untuk memperbaiki masa lalu demi masa depan yang lebih baik.

Bersambung…

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 4
Daffa Amrullah
Cerpen
Bronze
The City of Night Eyed People
Silvarani
Flash
Bronze
LEGION
Delta
Novel
Elang Angkasa: The Beginning
Kingdenie
Cerpen
Bronze
Bungkamnya Kebenaran
Toni Al-Munawwar
Flash
Sial
Yuliani
Flash
mata luka sengkon karta
pena aksara
Cerpen
Lautner!
Kirani Fitri
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 2
Daffa Amrullah
Novel
Bronze
BACK TO 18 AGAIN
Safinatun naja
Cerpen
Operasi Phantom: Jejak di Tengah Bayangan
Penulis N
Cerpen
Bronze
Tentang Kawanku Bob Si Anak Pasar
Habel Rajavani
Novel
Black Coffee
rizky al-faruqi
Flash
Youth
Yaz
Skrip Film
The good detectiv
fasya aditya
Rekomendasi
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 4
Daffa Amrullah
Cerpen
Bronze
Tuhan, Aku Hanya Ingin Naik Haji.
Daffa Amrullah
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera part 1
Daffa Amrullah
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 2
Daffa Amrullah
Skrip Film
Telepon Yang Tak Pernah Berdering
Daffa Amrullah
Cerpen
The Black Circle
Daffa Amrullah
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 3
Daffa Amrullah