Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Aksi
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 3
0
Suka
2
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

“Kau punya istri?” Tanya Jamal, “tidak” jawab Ben singkat, “Anak?” Lanjut Jamal, “Tidak juga” 

“Di usia sepertimu? Apa pertimbangannya?” Jamal terlihat sangat penasaran. Namun Ben sebisa mungkin menjawabnya dengan logis tanpa menunjukkan rasa gugupnya, “Aku hanya tidak suka berada dalam sebuah hubungan, itu saja”.

Mereka berdua mengenakan pakaian khusus untuk proteksi sebelum memasuki helikopter yang didesain untuk tempur tersebut, tidak lupa mengambil sebuah senjata laras panjang dan sekotak peluru di barak terdekat. Kemudian rombongan kembali berbaris untuk menaiki helikopter mereka masing-masing. Ben dan Jamal naik ke helikopter yang sama, cukup di tengah dan tidak terlalu dekat dengan bagian pojok sisi kanan dan kiri yang tak berpintu, mereka duduk berhadapan dan memasang sabuk pengaman sementara pilot sudah menyalakan mesin dan baling-baling sudah mulai berputar yang menyebabkan angin berhembus kencang di sekitarnya. Sesaat sebelum lepas landas dan desing suara mesin mulai bertambah keras, seorang wanita berlari dan bergegas masuk ke dalam helikopter yang dinaiki oleh Ben dan Jamal.

“Maaf aku terlambat—“ wanita tersebut menundukkan kepala kepada anggota yang lain tanda menyapa kecil, “Hai Jamal, bagaimana kabarmu?” sapanya dengan singkat sambil tersenyum. “Melati?—” Jamal kaget sedikit sambil memastikan bahwa yang dilihatnya benar “ku kira kau sudah..”, “Mati? Tentu saja tidak, bodoh!, kau pikir semudah itu?” potong Melati dengan santai. “Tapi rumor yang beredar mengatakan bahwa kau ditugaskan pada sebuah misi yang sangat rumit dan berbahaya, bagaimana bisa?” Jamal seperti melihat hantu di depannya, sementara Ben penasaran, siapakah gerangan wanita tersebut. Tampangnya begitu tegas, memukau, dan sepertinya cukup cerdas, berbeda sekali dengan Jamal.

“Aku tidak mau membicarakannya sekarang, lagi pula misi ini sangat rahasia, kau tidak bisa begitu saja mendengar semua pengalaman menakjubkan yang telah kualami. Lebih baik kita fokus ke program ini” sanggah Melati, “Sebagai penanggung jawab tim ini aku ingin kalian fokus! Saat kita mendarat nanti, segera tentukan titik distribusi pangan, bagikan secukupnya, awasi sekitar. Apabila melihat tanda-tanda yang mencurigakan, segera lapor. Kalau tiba-tiba portal dimensi dan pesawat musuh muncul, segera eksekusi!” Tegas Melati kepada seluruh anggota yang ada di dalam helikopter. Mendengar rumor mengenai misi yang telah dijalankan oleh Melati, Ben langsung menduga bahwa dia merupakan seseorang yang memiliki posisi di pemerintahan. Tapi ia tak bisa menebak apakah itu hanya sekedar posisi belaka, ataukah Melati memang seseorang yang memiliki skill khusus yang tak bisa diremehkan. Kalau benar, maka Ben harus ekstra hati-hati terhadapnya, karena mungkin Melati punya kepekaan yang lebih kuat untuk mendeteksinya sebagai seorang antek-antek asing.

Rombongan helikopter terbang lumayan tinggi melintasi langit kota. Pemandangan gedung-gedung dan kota modern yang begitu tertata kini berada di bawah kaki Ben. Sekitar sepuluh menit kemudian, Ben mulai melihat sebuah pemandangan yang membuat jantungnya begitu berdebar. Sebuah dinding raksasa terbentang mengitari kota yang ada di bawahnya. Dinding megah tersebut sepertinya merupakan benteng yang melindungi kota dari ancaman dunia luar, namun dalam benak Ben, apakah ancaman tersebut? Dan seberapa besar sehingga pemerintah membangun sebuah benteng raksasa yang dirasa dapat melindungi mereka.

Atensinya makin tinggi ketika helikopter telah melintasi benteng raksasa itu dan muncullah apa yang sebenarnya dibatasi dan berada di luar dinding tersebut. Hati Ben langsung mencelos, kakinya terasa begitu lemas ketika kedua matanya mendapati pemandangan yang ada di depan atau bisa dibilang juga di bawah kakinya. Para penumpang lain tak berubah ekspresinya, kecuali Melati yang sedikit mengernyitkan alisnya yang begitu presisi. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ben melihat ke luar dengan sedikit melongok. 

Sebuah hamparan pemukiman yang sangat kumuh membentang tanpa batas di bawah helikopter Ben yang melaju lurus dengan desingan mesin yang keras. Pemukiman tersebut dibangun dengan sisa-sisa bahan material bekas yang bahkan sudah tak layak, seperti kayu, besi berkarat, dan batu-batuan yang telah retak. Di bawahnya, Ben bisa melihat tanah yang begitu rusak, gersang, dan berwarna coklat keputihan, sepertinya tanah sudah kehilangan kesuburan dan nutrisinya sehingga hanya menyisakan debu dan bongkahan padat yang bercelah untuk dipijaki oleh manusia yang berada di atasnya. Tak ada pepohonan hijau sedikitpun, hanya gerombolan manusia yang terlihat begitu kurus dan kelaparan, dengan kulit kusam terbakar matahari dan baju compang-campingnya yang berdebu.

Belum sempat menelaah semua yang ia lihat, tiba-tiba kepala Ben merasakan sengatan dahsyat yang membuat tubuhnya terguncang. Ia menyandarkan diri ke kursi sembari menahan sakit yang makin lama makin parah. Entah sadar atau tidak, ia sekilas melihat sebuah cuplikan kejadian yang terjadi di bawah sana, rasanya ia seperti berkeliling berlarian menelusuri jalan-jalan sempit di pemukiman kumuh tersebut. Bagi Ben, semuanya terlihat nyata, seolah-olah itu bukan rekaman yang ditampilkan untuk ditonton begitu saja, melainkan merupakan kejadian nyata yang dialami oleh dirinya sendiri.

“Kau tidak apa-apa Ben?” Tanya Jamal dengan heran ketika melihat Ben memegangi dahinya. “Aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit kepala biasa, sepertinya karena kurang tidur” jawab Ben singkat. Namun Melati masih memperhatikan gerak-gerik Ben dengan curiga. “Kau terlihat sangat kacau, apakah kau masih bisa melanjutkan program ini?” Sahut Melati kepada Ben. “Ya—“ Ben mencoba menahan sakit dan menurunkan jemarinya dari dahi “tentu saja, aku bisa”. 

Mata Ben seolah terbelah, ia mendapat dua penglihatan yang berbeda saat itu, seperti sedang berada di dua tubuh yang sama-sama hidup namun berbeda lokasi. Yang pertama ia bisa melihat wajah Melati, Jamal, dan anggota lainnya di helikopter, sementara penglihatan keduanya yang sekelibat masih berlarian menyusuri jalanan pemukiman kumuh yang ada di bawahnya. Ia bisa melihat sekilas aktifitas manusia yang ada di sana. Beberapa orang anak laki-laki yang saling adu jotos di sudut gang secara sembunyi-sembunyi, pria tua sedang menyetubuhi wanita kurus yang tengah hamil besar dengan wajah kesakitan di dalam rumah reyot yang pintunya tidak ditutup, sebuah mayat yang tengah digerogoti banyak belatung di pinggir jalan, dan debu-debu jalanan yang beterbangan karena hempasan angin kencang. 

Semua pemandangan tadi sangat berbanding terbalik dengan keindahan kota yang dua jam lalu Ben singgahi. Amarahnya mulai bergejolak ketika ia kembali mengingat isi pidato yang dibawakan lantang oleh Supreme Leader mengenai kesejahteraan rakyatnya yang begitu baik, kualitas hidup yang tinggi, dan swasembada pangan yang membuat tak seorangpun kelaparan selama ia menjabat sebagai pemimpin mereka. Kini Ben menyadari maksud dari para dokter yang mengirimnya ke tempat ini, tentang kekacauan di bumi, dan misi yang diberikan kepadanya untuk memperbaiki keadaan untuk mengubah masa depan agar jadi lebih baik. Namun pertanyaannya adalah bagaimana sekarang? Apa yang harus Ben lakukan dengan ketimpangan yang terjadi, apa langkah yang harus diambilnya untuk menjadikan bumi kembali normal, atau setidaknya menggulingkan pemerintah yang korup dan munafik ini. 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut hilir mudik di benak Ben. Ia meragukan dirinya sendiri yang kini sedang duduk dengan… bisa dibilang musuh-musuhnya atau malah kaumnya sendiri, mengingat misi ini diberikan oleh bangsa kulit putih yang berada entah dimana sekarang. Setelah kurang lebih lima belas menit berputar di atas pemukiman, helikopter sedikit turun “Semuanya bersiap untuk mendarat!” Perintah Melati kepada semua anggota yang langsung menyiapkan senjata laras panjangnya. “Kita akan mendarat di sekitar sini, masing-masing akan berpencar dalam regu berisi 3 orang. Jangan lupa untuk membawa beberapa karung bahan pangan yang sudah disediakan di belakang. Ingat, bagikan kepada beberapa kepala keluarga, ambil gambar dengan pose sebaik mungkin untuk dikirim ke pusat, jangan sampai kondisi masyarakat di sana terlihat buruk. Setelahnya langsung kembali ke titik kumpul” lanjut Melati. “Dan waspadalah terhadap antek-antek asing!” Tambah Jamal dengan senyum mengejek. Melati mengerling ke arahnya dengan tatapan sedikit sinis.

Ben mendengar instruksi tersebut, namun pikirannya masih belum fokus, karena sekelebat penglihatan itu masih mondar-mandir di kepalanya. Begitu helikopter mendarat, mereka segera turun dengan berpasangan. Jamal langsung menempel dengan Ben, diikuti oleh seorang lainnya yang tidak menyapa sejak awal naik ke helikopter. Mereka kemudian mengambil masing-masing tiga karung bahan pangan per orang dan diikat di bagian punggung layaknya membawa tas besar untuk berkemah. 

Penglihatan Ben yang lain kini membawanya ke sebuah tanah lapang yang tandus di sekitar area pemukiman, dimana orang-orang tengah berkumpul dan berdesak-desakan. Ia berjalan mengikuti seorang wanita yang menggandeng tangannya dengan erat. Ben menduga bahwa tubuh yang memberinya penglihatan tersebut merupakan seorang anak laki-laki berusia 10 tahunan karena postur tangan dan kakinya yang cukup kecil. Mereka seperti sedang terburu-buru untuk mengejar sesuatu di kerumunan orang yang riuh.

Kembali ke tubuh aslinya, Ben, Jamal, dan si orang lain itu kini berjalan ke arah pemukiman, dimana dari kejauhan warga saling berkerumun sambil berteriak-teriak mengharap merekalah yang dapat jatah pangan dari tim Ben. Saat mereka mulai tak terkontrol dan mendekat ke arah tim Ben dengan kasar, Jamal mengarahkan senjatanya ke mereka sembari menggeretak untuk mundur dan menjauh. Tentu saja mereka ketakutan, karena Ben tahu benar bahwa Jamal tak segan-segan untuk menembak mati mereka apabila berani menyentuh sedikit saja lapisan terluar pakaian khususnya. 

Tim Ben berjalan sejauh 2 kilometer, berbelok ke kanan, lalu ke kiri jalanan sempit yang berbau busuk. Entah apa yang diciumnya tapi Ben merasa aroma itu merupakan campuran dari kotoran manusia, urin, daging yang membusuk, dan tanah kering, aroma itu menyebar dan membuatnya agak mual. “Kenapa mereka begitu mengharap makanan ini? Kenapa tidak bertani atau beternak saja ketimbang harus menunggu bantuan dari kota?” Ben memberanikan diri untuk bertanya ke Jamal. Mulanya Jamal tertawa mengejek, entah benar mengejek atau tidak, tapi irama tawanya memang seperti itu sejak awal. “Kau buta? Dengan tanah yang seperti ini, mana bisa! Sudah tidak ada harapan untuk bercocok tanam. Dan sepertinya hewan terakhir yang hidup sudah mati puluhan tahun lalu.” Jawab Jamal dengan ketus. “Kalau Supreme Leader tidak berbaik hati dengan mengirimkan bantuan seperti ini juga mereka akan mati dalam hitungan hari.” Nadanya meninggi dan agak sombong sekarang.

Hati Ben mencelos begitu mendengar omongan Jamal barusan. Tak bisa dibayangkan betapa mengerikannya kehidupan orang-orang di sini selama puluhan tahun, sementara kehidupan di kota berbanding terbalik dengan mudahnya. Tak hanya itu, ia juga semakin muak ketika Jamal terus menerus memuji Supreme Leader sepanjang perjalanan. Ingin sekali ia meninju wajah Jamal berkali-kali sampai rahangnya patah. Sejak awal sepertinya Jamal memang pantas untuk dibungkam, kalau saja Ben tahu kapan situasi yang tepat, mungkin ia akan melakukannya.

Mereka bertiga masih terus berjalan tanpa arah pasti. “Tidak ada lokasi yang lebih baik kah? Semua terlihat begitu kumuh!” Jamal mengamati situasi, mencari rumah mana yang pantas untuk diberikan bantuan pangan, kendati hampir semua rumah di sekitar mereka sama saja, tak layak huni dan hampir roboh. Tatapan warga seakan memburu mereka bertiga, seolah-olah mereka bertiga kambing dalam kandang singa yang siap diterkam kapanpun tanpa aba-aba. Senjata Jamal dan si orang lain ini masih teracung lurus ke sekeliling, hanya senjata Ben yang tidak disentuh dan tergantung santai begitu saja.

Makin jauh mereka berjalan, kaki Ben makin terasa berat. Ia mendapat kembali penglihatan yang bercampur dengan penglihatan satunya, jadi sekarang ada tiga penglihatan berbeda (yang utama adalah apa yang dilihat Ben sekarang di dunia nyata) yang silih berganti dalam beberapa menit. Penglihatan baru ini masih terasa sama, Ben berada di tubuh anak kecil tadi, menjalani hari-hari di sebuah kota yang benar-benar maju, tapi bukan di kota yang baru disinggahinya tadi. Kota tersebut dikelilingi oleh berbagai teknologi canggih, mobil terbang tanpa asap polusi hilir mudik tanpa kemacetan, kereta dengan kecepatan tinggi melintas pada rel-rel yang berseberangan, pepohonan teduh yang tertata di pedestrian dengan daun lebat yang berwarna hijau zamrud, langit biru cerah tanpa awan, gedung-gedung menggantung di langit tanpa pijakan ataupun tali pengait, dan kapal udara berbentuk kapsul yang melayang searah ke suatu tujuan.

Ben merasa penglihatan barunya memperlihatkan sebuah peristiwa dalam jangka waktu yang lama, karena cuplikan-cuplikan yang terus berganti dengan cepat dalam sekali kedipan. Ia mencerna banyak peristiwa, memahami dan merasakannya seolah-olah mata itu miliknya sendiri. Ia mulanya merasa asing dengan tempat yang dilihatnya, beberapa orang dengan kulit berwarna, sama seperti dirinya berkerumun di kota tersebut. Namun mayoritas penduduk yang menempati gedung-gedung dan menaiki transportasi canggih tersebut berkulit putih, sama seperti para dokter yang ada di ruang eksperimen. Mereka memandang Ben dan kawanannya yang berkulit gelap dengan sinis, pandangannya seperti kesal bercampur jijik yang teramat sangat.

Ben lanjut ke sebuah peristiwa dimana kerumunan warga dengan kulit berwarna semakin banyak populasinya dan mulai merajalela di kota. Terjadi penjarahan, pengancaman dengan senjata tajam, dan kekacauan massal yang disebabkan bangsanya di kota tempat warga kulit putih tinggal. Ketenangan dan keindahan yang Ben lihat di awal perlahan berganti menjadi lebih mencekam dan begitu depresif. Beberapa tentara kulit putih berbaris siaga untuk berjaga di sudut jalan sembari membawa senjata laras panjang. Anak-anak kulit putih dipaksa orang tuanya masuk ke rumah untuk menghindari kericuhan yang disebabkan warga kulit berwarna. Terjadi bentrokan, baku hantam, penangkapan, hingga adu tembak di kota. 

Ben bisa melihat pantulan dirinya di kaca jendela sebuah toko yang setengahnya sudah pecah, serpihannya berhamburan di trotoar jalan, sebagian terinjak oleh pejalan kaki yang lewat tanpa mengenakan alas kaki, dan tentu saja itu kaumnya sendiri, bukan warga kulit putih. Ia melihat tubuhnya dalam bentuk sama seperti yang sekarang, dengan rambut dan brewok semrawut di tengah kerumunan massa yang memberontak dan mulai merusak kota. Ia sadar, fragmen-fragmen visual yang dilihatnya bukanlah sebuah ide yang ditanamkan seseorang kepadanya, melainkan itu semua merupakan ingatan dari kejadian yang pernah dialaminya. Kini perasaannya menjadi kosong, kehampaan memenuhi dadanya ketika tahu bahwa dirinya merupakan sosok anak kecil yang dulunya tinggal di sini, di kawasan kumuh yang begitu mengerikan, lalu tiba-tiba berada di sebuah kota modern yang dibangun oleh bangsa kulit putih.

Bersambung…

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 3
Daffa Amrullah
Flash
KUMPULAN TATIKA
Citra Rahayu Bening
Novel
Bronze
Sholat Yo
Hermawan
Novel
Rama's Story : Gita Chapter 4 - Flight 411
Cancan Ramadhan
Novel
Langkah Awal Menuju Dunia
Andhika Tulus Pratama
Novel
Gold
HYPNOSIS FOR CAREER
Mizan Publishing
Novel
Bertahan di tengah langkah
Andhika Tulus Pratama
Cerpen
Pertarungan Antara Kebaikan dan Kejahatan
Luiz Fernando
Novel
Kelompok Sagitarius
Topan We
Novel
Bronze
Subhaanalloohi (Sutasoma)
Hermawan
Novel
Bronze
Candy
Rama Sudeta A
Flash
Cahaya memudar di lantai
Lukitokarya
Flash
Goat
Rena Miya
Novel
Mengapa amang berkhianat epesode 2
Rahmatullah
Flash
Monster
Rena Miya
Rekomendasi
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 3
Daffa Amrullah
Skrip Film
Telepon Yang Tak Pernah Berdering
Daffa Amrullah
Cerpen
Bronze
Tuhan, Aku Hanya Ingin Naik Haji.
Daffa Amrullah
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera Part 2
Daffa Amrullah
Cerpen
Ketika Surga Dipimpin Oleh Sekawanan Kera part 1
Daffa Amrullah
Cerpen
The Black Circle
Daffa Amrullah