Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Namaku Lara. Dan aku sedang jatuh cinta pada seorang lelaki yang sedang membangun kembali dunianya yang hancur. Namanya Reza. Aku bertemu dengannya di sebuah kedai kopi enam bulan lalu, matanya menatap kosong ke luar jendela, secangkir kopinya tak tersentuh. Ada kerapuhan dalam dirinya yang membuatku ingin mendekat, memeluknya, dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan itulah yang kulakukan. Perlahan, aku masuk ke dalam hidupnya. Aku mengisi keheningan di apartemennya dengan tawa. Aku mengganti aroma kopi basi dengan wangi sup ayam buatanku. Aku melihat warna kembali ke matanya yang dulu kelabu. Aku pikir, aku sedang menyembuhkannya. Aku pikir, aku adalah mataharinya setelah badai panjang.
Reza bisa menjadi lelaki yang paling hangat di dunia. Ia akan pulang kerja dan memelukku dari belakang saat aku sedang memasak, menyandarkan dagunya di bahuku, dan berbisik, “Capek banget hari ini, tapi pas lihat kamu, semuanya hilang.” Ia akan menggenggam tanganku saat kami berjalan, seolah aku adalah benda paling berharga yang takut ia lepaskan.
Di saat-saat seperti itu, aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia. Aku mengabaikan hal-hal kecil. Seperti saat ia kadang terdiam lama, matanya menerawang jauh. Atau saat ia tanpa sadar menyenandungkan lagu yang bukan lagu favorit kami. Atau saat pertama kali ia menggumamkan nama itu dalam tidurnya.
“Dina …”
Aku terbangun. Kulihat wajahnya yang damai di bawah cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari jendela. Ia hanya mengigau. Hanya mimpi tentang masa lalu. Aku meyakinkan diriku, lalu kembali tidur sambil memeluknya lebih erat, seolah dengan begitu aku bisa menghapus mimpi-mimpinya.
***
Kebahagiaan kami terasa nyata, hingga suatu sore, saat kami duduk di sofa, menonton film yang tak terlalu menarik. Hujan turun di luar, menciptakan melodi yang menenangkan. Reza membelai rambutku, tatapannya lembut.
“Aku sayang kamu, Dina,” ucapnya, sambil menggenggam tanganku lebih erat.
Jantungku berhenti seketika. Seluruh kehangatan di tubuhku membeku menjadi es. Suara hujan di luar tiba-tiba terdengar seperti raungan badai. Dina. Bukan Lara. Dina. Nama mantan kekasihnya yang meninggalkannya setahun sebelum aku datang. Nama yang menjadi alasan mengapa dunianya pernah hancur.
Aku ingin menarik tanganku. Aku ingin berteriak, “Namaku Lara!” Aku ingin menangis dan menuntut penjelasan.
Tapi aku melihat wajahnya. Wajah yang begitu tulus, begitu penuh kasih sayang saat itu. Jika aku merusak momen ini, aku takut kehangatan itu akan hilang selamanya. Jadi, aku melakukan hal yang paling pengecut.
Aku hanya tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya, dan pura-pura tidak mendengar.
Tapi sejak saat itu, aku mulai mendengar segalanya.
Nama ‘Dina’ menjadi hantu yang tak kasat mata di rumah kami. Ia muncul saat Reza lelah, “Din, tolong ambilin minum.” Ia muncul saat Reza senang, “Kamu harus lihat ini, Din! Lucu banget!” Ia bahkan muncul di saat paling intim, sebuah bisikan lirih di tengah kegelapan yang seharusnya hanya menjadi milik kami berdua.
Setiap kali nama itu terucap, rasanya seperti seribu pisau es menusuk langsung ke jantungku. Sakitnya begitu tajam, begitu nyata, hingga napasku tercekat. Tapi di luar, aku tetap Lara yang tersenyum. Lara yang pengertian. Lara yang menyiapkan sarapan untuknya keesokan paginya seolah tak ada yang terjadi.
Aku mulai hidup dalam dua dunia. Di dunia nyata, aku adalah kekasihnya. Di dunia batinku, aku adalah seorang aktris yang memainkan peran utama dalam sebuah tragedi yang kutulis sendiri. Malam-malamku penuh dengan air mata yang kutelan kembali, membasahi bantal dalam sunyi agar tak membangunkannya. Aku menangisi diriku sendiri, menangisi cinta yang kuberikan pada lelaki yang hatinya masih ditinggali orang lain.
***
Suatu hari, sahabatku, Maya, datang berkunjung. Reza sedang bekerja. Maya menatapku lekat-lekat.
“Ra, kamu kurusan,” katanya. “Dan mata kamu … kelihatan capek banget. Kalian baik-baik aja?”
Aku memaksakan tawa. “Baik, kok. Cuma lagi banyak kerjaan aja.”
Maya tidak percaya. Ia adalah satu-satunya orang yang tahu betapa dalamnya lukaku. “Dia masih …?” Maya tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Aku hanya mengangguk pelan. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku.
“Lara, sampai kapan?” desak Maya, suaranya penuh frustrasi dan kepedulian. “Kamu pantas dicintai sebagai dirimu sendiri! Bukan sebagai bayang-bayang orang lain! Pergi, Ra. Selamatkan dirimu sendiri selagi bisa.”
“Aku nggak bisa, May,” bisikku. “Aku sayang dia.”
“Itu bukan cinta, itu penyiksaan diri!”
Aku tahu Maya benar. Tapi cinta tidak selalu logis. Cintaku adalah sebuah candu. Aku rela menahan sakitnya, demi merasakan sedikit kebahagiaan sesaat yang ia berikan.
Beberapa minggu kemudian, aku menemukan sebuah kotak tua di bagian atas lemari saat sedang membersihkan kamar. Kotak berisi kenangan. Kotak Pandora milik Reza. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Di dalamnya, ada tumpukan foto. Reza dan Dina di pantai, tertawa. Reza dan Dina di acara ulang tahun, meniup lilin bersama. Reza dan Dina, saling menatap dengan cinta yang begitu dalam, begitu nyata, hingga aku merasa sesak napas. Mereka tampak begitu sempurna. Di setiap foto, Reza terlihat begitu hidup, dengan cara yang belum pernah kulihat selama bersamaku.
Aku bukan mataharinya. Aku hanyalah lampu darurat yang menyala saat listrik padam.
Aku sedang memegang sebuah foto saat Reza pulang kerja. Ia melihatku, melihat kotak yang terbuka, dan wajahnya langsung menegang.
“Kamu ngapain?” tanyanya, nadanya dingin.
“Aku … aku cuma bersih-bersih,” jawabku gugup.
Ia berjalan cepat, merebut foto itu dari tanganku dan memasukkannya kembali ke dalam kotak dengan kasar. “Itu cuma masa lalu, Lara. Nggak ada artinya lagi.”
Ia menyebut namaku. Lara. Ia selalu menyebut namaku dengan benar saat sedang marah atau menjaga jarak. Ironis. Aku hanya dianggap ada saat aku dianggap sebagai masalah.
Malam itu, ia tidur memunggungiku. Dan di tengah malam, aku mendengarnya lagi, lebih jelas dari sebelumnya. Sebuah igauan yang penuh penderitaan.
“Jangan pergi, Din … Aku mohon … jangan tinggalin aku lagi …”
Aku berbaring di sampingnya, tak bergerak, membiarkan air mata mengalir tanpa suara. Malam itu aku sadar, aku tidak sedang bersaing dengan kenangan. Aku sedang bersaing dengan hantu yang masih hidup, yang menempati setiap bilik di hatinya. Dan itu adalah sebuah pertarungan yang tidak akan pernah bisa kumenangkan.
***
Hari ini adalah ulang tahunku. Aku bangun dengan sebersit harapan bodoh. Mungkin hari ini akan berbeda. Mungkin di hari spesialku, ia akan benar-benar melihatku. Hanya aku.
Aku memasak makanan favoritnya, mengenakan gaun yang ia bilang ia suka. Aku ingin semuanya sempurna.
Malamnya, ia mengajakku makan malam di sebuah restoran mewah di puncak gedung. Pemandangan kota yang gemerlap terhampar di bawah kami. Semuanya terasa seperti dongeng.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Di dalamnya, sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk bulan sabit. Indah sekali.
“Selamat ulang tahun, Sayang,” bisiknya, suaranya hangat.
Jantungku berdebar penuh harap. Ia bangkit dan berjalan ke belakangku untuk memasangkan kalung itu. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di leherku saat ia memasang pengaitnya. Aku memejamkan mata, menikmati momen itu.
Lalu, ia berbisik tepat di telingaku. Sebuah kalimat yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaanku, namun malah menjadi vonis matiku.
“Aku harap kamu suka. Kamu pantas mendapatkan segalanya, Dina.”
Waktu berhenti. Suara denting piano dan obrolan para tamu di sekitar kami mendadak lenyap. Yang tersisa hanyalah suara gemuruh di telingaku, suara duniaku yang runtuh berkeping-keping.
Di hari ulang tahunku. Di momen yang seharusnya menjadi milikku. Ia tetap memberikannya pada Dina.
Aku tidak tahu dari mana kekuatan itu datang. Tapi aku berdiri, menatapnya dengan tatapan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Tatapan kosong yang tak lagi menyimpan harapan.
“Namaku Lara,” kataku, suaraku tenang namun bergetar hebat.
Wajah Reza memucat. Kepanikan yang nyata terlihat di matanya. “Lara … Sayang … maaf, aku … aku salah bicara, aku cuma …”
“Namaku Lara,” ulangku lagi, lebih tegas.
“Aku tahu! Tentu saja aku tahu!” katanya, suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa meja di sekitar kami. “Aku cuma… kecapean. Maaf, Ra. Sumpah, aku minta maaf.”
Permintaan maafnya terasa hampa. Ia tidak panik karena telah menyakitiku. Ia panik karena sandiwaranya terbongkar.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku berbalik, berjalan meninggalkan restoran itu, meninggalkan kalung yang masih menggantung di leherku, meninggalkan Reza yang mematung di tengah keramaian.
***
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sampai di apartemen. Yang kuingat hanyalah langkah kakiku yang terasa berat dan tatapan orang-orang yang penuh tanda tanya.
Reza tiba beberapa saat kemudian. Ia mencoba memelukku, mencoba menjelaskan, mencoba meminta maaf lagi. Tapi aku hanya diam. Aku sudah kehabisan kata-kata, kehabisan air mata, kehabisan tenaga untuk berpura-pura.
Malam itu, kami tidur di ranjang yang sama, tapi dengan jarak sejauh samudra di antara kami. Aku menatap langit-langit, memutar ulang setiap momen, setiap kali ia salah menyebut namaku, setiap kali aku memilih untuk menelan kepahitan itu.
Orang bilang cinta itu buta. Tapi mungkin cintaku lebih dari sekadar buta, cintaku tuli, karena aku menolak mendengar kebenaran yang diucapkan berulang kali. Cintaku bisu, karena aku tak pernah sanggup menyuarakan rasa sakitku. Dan cintaku bodoh, karena aku terus berharap pada sesuatu yang tak pernah ada untukku.
Aku tahu aku tidak dipanggil dengan namaku, tapi aku memilih tetap tinggal. Selama ini aku pikir alasannya adalah karena aku terlalu mencintainya.
Tapi malam ini, di puncak kehancuranku, aku akhirnya mengerti alasan yang sebenarnya. Alasan yang jauh lebih menyedihkan dan memalukan.
Aku menoleh, menatap punggung lelaki yang tidur di sampingku. Lelaki yang hatinya tak pernah menjadi milikku.
Karena aku takut.
Aku takut, jika aku pergi …
… maka aku benar-benar takkan pernah dipanggil lagi. Sama sekali. Oleh siapa pun.