Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Ketika Meja Itu Kosong
3
Suka
414
Dibaca

Senin selalu datang tepat waktu.

Tanpa aba-aba.

Tanpa peringatan.

Tanpa karpet merah.

Kebanyakan orang merasa terganggu dengan hari Senin. Tapi itu tidak pernah berlaku untukku. Ada sesuatu tentang hari Senin yang selalu kunikmati.

Jadwal meeting yang menumpuk di kalender digital. Deadline laporan yang menunggu tanpa suara. Dan segala rutinitas lain yang sudah kulakukan ribuan kali di meja kubikel itu.

Hari Senin itu sibuk.

Seperti biasanya.

Namun pagi itu terasa sedikit berbeda.

Meja kubikel itu kosong. Hanya menyisakan layar monitor yang tidak lagi menyala, dan kursi kantor yang terdorong rapat di bawahnya. Tidak ada lagi cermin kecil di depannya. Tidak ada lagi botol minum dua liter merah jambu di sampingnya. Tidak ada lagi suara laptop yang berbunyi ketika jari-jariku sibuk menari di atas keyboard

Meja itu… akhirnya tidak lagi menunggu siapa pun.

***

Pagi itu belum benar-benar sibuk ketika suara itu tiba-tiba muncul dari arah pintu ruangan yang tidak jauh dari meja kubikelku.

“Semua ke ruangan saya sekarang. Kita meeting,” panggil Bu Sherly. “It’s urgent!

Aku cukup familiar dengan nada bicara seperti itu. Biasanya, itu hanya muncul ketika sesuatu yang besar akan terjadi.

Tanpa banyak pikir aku beranjak dari kursi, mencabut konektor dari laptop, dan melangkah cepat menuju ruangannya. Laporan mingguan yang sedang aku kerjakan, kutinggalkan begitu saja.

Ruangan itu sudah penuh ketika aku masuk. Beberapa orang duduk, sebagian lain berdiri, semuanya menghadap ke meja kerja Bu Sherly.

“Mr. Luke Henderson, client kita dari Amerika, beliau akan datang ke Jakarta dua hari lagi.” Ia membuka meeting dengan wajah serius. “Ini pertama kalinya beliau ke Jakarta. Dan sudah pasti akan visit ke kantor kita.”

“Kok datangnya dadakan sih, Bu?” tanya Sonny sedikit panik.

“Mana saya tahu. Masih mending kita dikabarin dari sekarang, bukan yang tiba-tiba datang kayak orang lagi sidak tahunan,” jawab Bu Sherly sambil melirik ke arah Sonny yang berdiri tidak jauh dariku.

“Saya minta masing-masing divisi bikin ringkasan laporan bulan ini. Satu-dua slide aja cukup. Semua file harus sudah masuk ke email saya paling lambat besok jam sepuluh pagi,” perintahnya dengan nada datar, tapi tegas. “And no delay, please.

Semua mengangguk hampir bersamaan. 

“Satu lagi… Facility team pasti nggak akan happy sama last minute request begini.” Kali ini Bu Sherly melirik ke arahku.

So… Tika, saya yakin kamu punya cara buat menangani mereka.” Ia mengatakannya seolah jawabanku sudah pasti iya.

You have a strong connection with them.” Ia tersenyum sedikit lebih lebar. Lipstik merahnya tampak mencolok di bawah lampu ruangan.

“Baik, Bu Sherly. Nggak masalah,” jawabku tanpa ragu. 

Good. I know you will never disappoint me. Kalo gitu saya percayakan semuanya sama kamu.”

***

Pagi itu kantor terasa lebih sibuk dari biasanya. Masing-masing kepala divisi keluar-masuk ruangan Bu Sherly secara bergantian—membawa laptop atau beberapa lembar dokumen penting di tangan.

Jam di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 08:10. Hampir semua orang datang lebih awal hari ini, jauh sebelum jam masuk kantor yang sebenarnya.

Menurut informasi terakhir, Mr. Henderson dan asistennya akan tiba pukul sepuluh. Masih ada waktu hampir dua jam—cukup untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.

Aku sempat menoleh ke arah cermin kecilku, sekadar memastikan riasanku masih terlihat rapi.

Aku menyalakan laptop, menghubungkannya ke monitor tambahan, lalu memeriksa kembali email dan laporan yang sudah kuselesaikan semalam.

Hari itu hanya ada satu agenda: kunjungan Mr. Luke Henderson, dari pukul 10:00 pagi sampai 16:30 sore. Sebagai asisten pribadi Direktur, aku harus memastikan semua jadwal Bu Sherly tersusun dengan sempurna. Tekanan seperti ini justru membuatku bekerja lebih tenang.

Aku menoleh ke arah ruangan Bu Sherly. Pak Damar—kepala divisi Marketing—baru saja keluar dari ruangannya. Aku mengambil buku catatanku dari dalam tas lalu melangkah menuju ruangan Bu Sherly. 

“Permisi, Bu.” Aku mengetuk pintu pelan. 

Come in,” suaranya terdengar dari balik pintu.

“Pagi, Bu Sherly,” sapaku dengan sopan sambil berjalan masuk. “Untuk update rincian agenda hari ini sudah saya kirim di email. Jadwal meeting one-on-one sama Mr. Henderson juga sudah saya pindah ke jam dua siang ya, Bu.” 

Good,” sahutnya singkat tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. Tidak lama, ia mengangkat kepala dan menatapku. “Semuanya sudah ready, kan?”

“Sudah, Bu,” jawabku mantap. “Ruang meeting juga sudah saya booking.”

Excellent! Dan… menu lunch kita nanti apa?”

“Nasi Padang Salero Bundo, Bu,” jawabku sambil tersenyum.

Good choice, Kartika!” Ia mengacungkan kedua jempolnya ke arahku.

Kartika. 

Aku tahu betul, setiap kali beliau memanggilku dengan nama itu—bukan Tika—selalu ada sesuatu yang sedang ia rasakan. Dan kali ini, aku cukup yakin itu pertanda puas.

***

Sore itu terasa lebih lengang dari biasanya.

Kunjungan Mr. Henderson berakhir lebih awal dari jadwal. Meskipun beberapa agenda sempat berubah secara realtime karena meeting tambahan yang muncul mendadak.

Aku duduk bersandar di kursi kantin. Aroma kopi susu instan yang masih panas naik pelan bersama uap tipis di atas cangkirku. Aku menyesapnya sedikit, sekadar menenangkan kepalaku yang sejak pagi belum benar-benar istirahat.

“Mbak Tika, dicariin Bu Sherly. Katanya meeting di ruangannya.” Fitri muncul dari lorong pintu kantin.

“Oh… okay. Makasih Fitri.” Aku menyesap sedikit lagi kopi susuku sebelum beranjak dari bangku, meletakkan cangkir itu di bak cuci piring, lalu melangkah sedikit lebih cepat menuju ruangannya.

Semua sudah berkumpul saat aku tiba.

Okay. Kita debrief dulu ya,” ia memulai. “Akhirnya kunjungan dadakan client kita selesai juga. Thank you banget semuanya yang sudah bantu saya. Semua laporan lengkap. Our client was happy, no issue.” Ia tersenyum kecil.

“Ada challenge atau keluhan yang perlu saya acknowledge?” tanyanya sambil menggeser mouse.

Masing-masing kepala divisi saling berpandangan lalu menggeleng pelan. 

“Untuk sekarang belum ada, Bu,” jawab Pak Damar. 

“Oh ya, good job buat Tika. Pilihan kamu untuk menu lunch hari ini juara! Mr. Luke berkali-kali kasih komen lho,” katanya sambil menatapku dengan senyum puas.

Aku tersenyum. “Terima kasih, Bu. Itu memang tugas saya.”

“Dan bukan cuma itu,” lanjutnya. “Flow hari ini rapi banget. Saya nggak perlu ngejar-ngejar apa pun. Good coordination.”

Ia berhenti sebentar, lalu menatapku lagi. “Jangan sampai kamu resign ya, Kartika. Saya bisa kelimpungan kalau nggak ada kamu.”

Aku tidak menjawab apa-apa. Hanya mengangguk kecil.

Tapi ada sesuatu yang terasa hangat di dalam dadaku.

Mungkin… ini alasan kenapa aku tetap bertahan.

Untuk pertama kalinya, aku tidak mempertanyakan pilihanku untuk tetap di sini.

***

Beberapa hari setelah kunjungan itu, kantor kembali berjalan seperti biasa.

Kegiatanku masih sama. Mengatur jadwal Bu Sherly, memastikan semua agenda berjalan sebagaimana mestinya, dan mendampinginya saat meeting. Kadang aku bekerja lembur karena harus mengikuti aktivitasnya di luar kantor.

Sore itu, aku membawa tumbler merah jambu kesayanganku ke kantin untuk mengisinya ulang. Aku mendapati beberapa karyawan duduk melingkari meja. Sonny juga ada di sana. Tidak ada satu pun yang bersuara. Bahkan suara sendok yang biasanya beradu dengan gelas pun tidak terdengar.

“Sepi amat,” sapaku sambil menghampiri mereka. “Kenapa pada galau gitu sih?”

Sonny menghela napas lebih panjang dari yang seharusnya. “Pusing gue. Sekarang cari kerjaan baru susah, Tik.” 

“Kerjaan baru…? Lu mau resign?” tanyaku kaget. 

“Lho, memang lu nggak tahu?” jawab Sonny sedikit bingung. “Katanya kantor kita mau ada pengurangan karyawan…” ia menambahkan. 

“Hah? Lu tahu dari mana?” Aku tersentak. “Bu Sherly nggak ada ngomong apa-apa tuh sama gue.”

“Kemarin ada yang nggak sengaja dengar obrolan Pak Damar sama Bu Sherly di bawah,” Sonny mulai menjelaskan. “Katanya Mr. Luke sudah nggak mau pakai jasa kita lagi. Artinya kita bakal kehilangan client paling besar.”

Aku diam. Ada sesuatu yang mendadak mengganjal di dadaku.

“Lu tau sendiri lah. No client, no money for the company.”

“Tapi itu kan baru katanya. Belum tentu benar.” 

“Yaa… lu kan anak kesayangannya Bu Sherly. Kenapa nggak lu tanya sendiri?” 

Aku hanya terdiam.

Aku mencerna ulang ucapan Sonny. Rasa tidak percaya masih memenuhi dadaku.

Pengurangan karyawan? Itu nggak mungkin. Bukannya kunjungan Mr. Henderson kemarin baik-baik saja?

***

Pengurangan karyawan.

Dua kata itu terus berputar di kepalaku setelah percakapan di kantin berakhir. Biasanya aku tidak akan terpengaruh kabar burung yang beredar di kalangan karyawan. Tapi kali ini, hal itu cukup untuk mengacaukan fokusku sore itu.

Aku beranjak dari kursiku dan memaksa langkahku tetap tenang menuju ruangan Bu Sherly. Begitu aku masuk, Bu Sherly sedang duduk membelakangi mejanya, menghadap ke jendela. Langit Jakarta menjelang senja selalu membuatku terdiam sejenak.

“Permisi, Bu Sherly. Saya boleh ganggu sebentar?” tanyaku hati-hati. 

“Oh, Tika. My next appointment ya?” ia membalikkan kursinya menghadapku. 

“Bukan, Bu. Ada hal lain yang mau saya tanyakan.”

What is it?” tanyanya singkat, dengan alis sedikit terangkat.

“Saya dengar gosip soal… pengurangan karyawan. Apa benar, Bu?” tanyaku ragu-ragu. “Maaf ya, Bu, kalau saya lancang.” 

“Wow… cepat banget ya kabarnya nyebar,” jawabnya pelan.

“Jadi, itu semua benar, Bu?”

Well… Ini masih didiskusikan secara internal oleh pihak manajemen. But don’t worry, Tika. I still need you here.

Aku diam beberapa detik. Dadaku mengendur pelan.

Dan seperti biasanya, aku memilih percaya pada kata-katanya.

***

Jumat biasanya jadi hari terakhir untuk menuntaskan semuanya sebelum akhir pekan. Namun, ada sesuatu yang berbeda hari itu. Kantor terasa lebih gaduh dari biasanya. Kabar pengurangan karyawan semakin ramai diperbincangkan.

Ada yang bisik-bisik di ruangan. 

Ada yang blak-blakan di kantin.

Ada yang mengeluh berlebihan di dalam toilet.

“Kita aman nggak ya? Mana gue baru mau nikah bulan depan…”

“Anak-anak gue juga masih sekolah…”

“Cicilan mobil gue gimana ini, aduh Gusti!”

Tak satu pun terdengar seperti keluhan biasa.

Sepertinya perusahaan memang sedang tidak baik-baik saja. Biasanya, Bu Sherly masih menyuruhku mengurus hal-hal kecil. Kali ini aku lebih banyak duduk di kubikelku sambil tetap mengerjakan tugas-tugasku.

Hari sudah semakin sore.

Tidak lama, satu pesan baru masuk di emailku.

Meeting Invitation.

Kubuka email itu. Meeting pukul empat sore.

Aku melirik pojok layar.

15:43.

Masih ada sedikit waktu.

“Beresin ini dulu deh… nanggung,” gumamku pelan. Jari-jariku menari cepat di atas keyboard.

Begitu laporanku selesai, aku meregangkan bahu, lalu beranjak menuju ruang meeting. Aku melirik sekilas ke ruangan Bu Sherly. Namun, ruangan itu masih kosong.

Tidak banyak yang kupikirkan saat itu. Tujuanku hanya menghadiri meeting sebelum jadwalku berakhir hari ini. Jadi, besok aku bisa menikmati libur akhir pekanku.

Aku mengetuk pelan pintu ruangan lalu mendorongnya sedikit agar terbuka. Di sana aku mendapati Bu Sherly sudah duduk di kursi tengah. Di kanan Bu Sherly, Pak Guntur duduk dengan beberapa map cokelat di hadapannya. Di sisi satunya, seorang pria yang tidak kukenal menatap lurus ke depan.

Tak seorang pun bicara.

Ada sesuatu yang mendadak mengencang di tengkukku.

Jam di layar ponselku menunjukkan pukul 15:58.

“Duduk, Tika.”

Suara Bu Sherly memecah keheningan yang menggantung sejak aku masuk. Ada senyum kecil yang terasa dipaksakan di wajahnya.

“Baik, Bu.” Aku menurut.

“Jadi gini, Tika. Saya yakin kamu sudah dengar, ya.” Ia memulai. “Perusahaan memang lagi dalam masa sulit sekarang.”

Aku diam.

“Mr. Luke sudah menghentikan kemitraannya dengan kita. Itu artinya sebagian besar revenue perusahaan ikut hilang.”

Aku masih diam, menunggu bagian yang belum ia ucapkan.

“Pada akhirnya, perusahaan harus mengurangi sekitar enam puluh persen karyawan yang ada. You know… it’s about cost efficiency.

Ruangan kembali sunyi.

Bu Sherly menarik napas panjang sebelum akhirnya menatapku lagi.

“Setelah diskusi panjang dan penuh pertimbangan, unfortunately… you’re part of that sixty percent I should let go today.” Bu Sherly berhenti bicara.

Aku tidak menjawab. Otakku seperti terlambat menangkap maksud kalimatnya.

“Maksud Ibu… saya dipecat?” tanyaku pelan. Hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kuucapkan. 

Sadly, yes, Kartika.”

“Tapi kemarin Ibu bilang… Ibu masih perlu saya di sini.”

Tatapan kami terkunci beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bibirnya bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu berhenti.

That’s true,” jawabnya singkat. “Tapi saya nggak bisa gaji kamu lagi.”

Ia memalingkan wajahnya ke arah Pak Guntur.

“Kami sangat menyesal, Kartika. Keputusan pihak manajemen sudah bulat.” Suara Pak Guntur terdengar berat dan datar. “Ini Termination Letter kamu. Di sini sudah ada rincian apa saja yang akan kamu terima malam ini.”

Ia mengeluarkan selembar kertas dari salah satu map cokelat lalu menyodorkannya padaku. Namaku terpampang nyata di sana.

Mendadak kepalaku terasa penuh.

Ini tidak mungkin. 

***

Aku memasukkan semua barangku; tumbler merah jambu, cermin kecil persegi panjang, mousepad, squishy berbentuk stroberi, dan beberapa lembar foto Polaroid ke dalam paperbag.

“Lho… mau kemana lu, Tik?” Sonny tiba-tiba muncul dari arah belakang.

Aku tidak menjawab. Tanganku tetap sibuk merapikan barang-barang terakhir. Sonny hanya berdiri diam di samping kubikelku.

Aku menatap lelah ke arahnya.

“Gue bukan anak kesayangan Bu Sherly lagi.” Aku menghela napas panjang. “Gue duluan ya.” 

Aku pergi meninggalkannya yang masih berdiri tanpa kata.

Begitu melangkah keluar dari gedung kantor, aku disambut langit Jakarta yang mulai redup. Sisa cahaya senja di langit seolah mengerti suasana hatiku saat itu.

Ternyata, semua rasa aman itu bisa hilang hanya karena satu kata: revenue.

Kakiku kembali melangkah tepat saat azan Magrib mulai dikumandangkan.

***

Senin selalu datang tepat waktu.

Tanpa aba-aba.

Tanpa peringatan.

Tanpa karpet merah.

Namun, kali ini aku tidak sedang diburu apa pun.

Aku melangkah pelan ke ruangan itu. Untuk menyerahkan kembali atribut kantor yang sempat kubawa pulang demi pekerjaanku.

Pandanganku terhenti ke satu meja kubikel yang pernah menjadi singgasanaku. Tiga tahun terakhir, hampir seluruh hidupku berpusat di sana.

Kini meja itu kosong.

Tidak lagi menunggu siapa pun.

Barangkali sejak awal, meja itu tidak pernah benar-benar jadi milikku.

Dan untuk pertama kalinya, kehilangan itu tidak terdengar seperti akhir—melainkan panggilan untuk pulang.

*****

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Ketika Meja Itu Kosong
RA Senja
Cerpen
Bronze
Pertemuan dengan Takdir
Titin Widyawati
Cerpen
The Lost's Neighborhood Serenity
Hafizah
Cerpen
Bronze
Submerge
Faisal Susandi
Cerpen
He's not just a green flag but teal green
Firlia Prames Widari
Cerpen
Jejak Lembut di Lantai Gelap
Astri Rahmawati Dewi
Cerpen
Bronze
Warung Alina
Titin Widyawati
Cerpen
HALTE
Billy Yapananda Samudra
Cerpen
Bronze
SAATNYA KEMBALI
Citra Rahayu Bening
Cerpen
Bronze
Persahabatan Antar Planet
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
KOTA MATINYA EMPATI
Toni Al-Munawwar
Cerpen
Tetangga Depan Rumah
ken fauzy
Cerpen
Bronze
Skripsi oh Skripsi
Nuel Lubis
Cerpen
Buku Ini tidak Laris
Jie Jian
Cerpen
Rumah-Rumah yang Pernah Menolak Kami
Septia Arya Nugraha
Rekomendasi
Cerpen
Ketika Meja Itu Kosong
RA Senja
Cerpen
Catatan Masa Percobaan
RA Senja