Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Ketika Kunti Punya Idol
1
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

"Ah capek banget hari ini!" desah Amin sambil menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Tasnya tergeletak begitu saja di lantai.

"Ya mau gimana? Kita harus terus latihan menjelang konser sebulan lagi," timpal Uchun lalu duduk di sebelah Amin.

"Eh tapi yang dibilang Amin, benar lho! Hari rasanya berat banget latihannya. Capeknya dobel," imbuh Jun yang sudah duduk di sofa tunggal di sebelah mereka.

"Maklum saja! Hari ini ada koreografi baru yang harus kita pelajari. Jadi wajar capek," balas Uchun.

Mendengar perkataan Uchun, Amin mengernyitkan dahinya. "Sejak kapan kau sebijak ini, Chun? Biasanya kan yang bijak itu Bang Yono, bukan kau. Kau mah biasanya mesum mulu."

"Heh? Aku nggak gitu ya!"

"Nggak sadar diri!"

"..."

"..."

Ketiga pemuda itu terus berdebat tanpa menyadari seseorang sudah berdiri di belakang sofa yang diduduki Amin dan Uchun. "Kalian ini! Katanya capek tapi masih aja berdebat. Istirahat sana biar besok udah fit lagi!" ujar orang itu, yang tidak lain tidak bukan adalah Yono— leader boygroup mereka.

Mereka berlima tergabung dalam boygroup AKTF yang sedang naik daun di Indonesia. Bulan depan mereka akan mengadakan konser untuk pertama kalinya.

"Ah nggak asyik! Besok kan libur Bang! Jadi malam ini bebas dong!" seru Amin.

"Iya, benar itu Bang! Aku mau nonton film ini. Mumpung ada waktu dan besok libur. Aku mau ngajak Bang Jeje nonton," ujar Jun sambil celingak-celinguk mencari satu anggota AKTF lagi. "Eh Bang Jeje mana?" tanyanya bingung. Perasaan tadi temannya itu berjalan paling belakang. Cepat sekali hilangnya.

"Jeje udah ke atas! Mau tidur katanya," sahut Yono.

"Yah! Padahal udah janjian tadi buat nonton, aku bangunin ah!"

Jun hendak beranjak untuk membangunkan Jeje tapi suara tegas Yono menghentikannya. "Biarkan Jeje istirahat. Jangan diganggu!"

"Ih abang mah, nggak seru kalau nonton sendiri tuh," decih Jun sambil menekuk wajahnya.

"Ya udah Jun! Aku temani nonton," seru Amin.

"Aku juga, mumpung belum ngantuk," imbuh Uchun. "Abang ikut juga?" tanyanya ke Yono.

Pemuda yang paling tua itu menggeleng. "Kalian saja, aku mau tidur! Tapi ingat, jangan begadang."

"Siap Bang!" jawab mereka kompak. Sedangkan Yono hanya menggeleng pelan melihat kelakuan teman-temannya sebelum naik ke lantai dua untuk istirahat. Tidak habis pikir, dapat energi darimana mereka setelah beraktifitas seharian?

Sepeninggal Yono, ketiganya kembali ribut berdiskusi film apa yang akan mereka tonton. Jun yang awalnya ingin menonton film komedi harus mengalah setelah kalah suara dari kedua temannya yang lebih memilih film horor. Ah sial sekali!

Amin dan Uchun memilih menonton film horor tentang kuntilanak yang sedang populer dan viral di sosial media. "Aku ambil cemilan dulu di dapur," ujar Amin seraya langsung berlari ke arah dapur.

"Ambil yang ini, ini dan ini," gumamnya sambil memilih beberapa cemilan di kulkas. "Kok dingin ya?" ujarnya sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merinding. Ia menoleh dan menemukan pintu belakang terbuka. "Kok terbuka? Ini pasti Jun lupa lagi menutup pintu. Dasar pelupa." Ia menutup pintu itu lalu kembali ke ruang tengah. Tanpa menyadari sekelebat bayangan masuk ke dapur melalui pintu belakang yang baru saja ia tutup.

"Nah sekarang kita bisa nonton," seru Amin.

"Dasar food monster," decak Jun melihat cemilan berbagai rasa di atas meja. Kebiasaan Amin yang suka ngemil sampai dijuluki 'food monster' oleh teman-temannya.

Tiga puluh menit pertama suasana biasa saja, tapi menit berikutnya berubah sedikit mencekam saat Jun berteriak takut menyaksikan di layar sesosok perempuan berambut panjang dengan gaun putih lusuh muncul tertawa melengking di atas pohon.

"Hihihi!"

"Ih apaan itu! Aku nggak suka suara ketawanya," keluh Jun sambil memeluk bantal.

Amin tertawa kecil. "Suaranya mengingatkan dengan suaramu ya?"

"Suaraku bagus! Nggak kayak si Mbak Kunti itu, melengking, jelek!" pungkas Jun tidak terima.

Uchun hanya menggeleng mendengar perdebatan itu. Sudah biasa kalau Amin dan Jun berada di satu tempat, suasana pasti jadi ramai.

"Lebih bagus suaraku, iya kan Chun?"

"Aku yang lebih ..."

"Kalian mau menonton atau terus berdebat?" seru Uchun akhirnya menengahi. Sudah lelah mendengar perdebatan tidak penting teman-temannya. Kapan mereka nonton kalau terus seperti ini?

Amin dan Jun akhirnya diam. Kembali fokus menonton lagi. Film terus berjalan dengan suara musik mencekam memenuhi ruangan. Mereka menikmati film sampai sebuah suara membuat fokus mereka teralihkan.

Ctak!

Lampu dapur di pojok ruangan berkedip. Sebentar menyala, lalu padam, kemudian menyala sebelum padam lagi. Begitu seterusnya membuat suasana semakin mencekam.

Ketiganya terdiam. Jun perlahan menoleh ke arah dapur. "Chun, kau juga lihat, kan? Lampu dapur itu berkedip-kedip," ujarnya seraya menggenggam lengan Uchun yang duduk di sampingnya. Wajahnya mulai tampak ketakutan.

Uchun ikut menoleh, lalu mengangguk. "Iya aku lihat!"

"Alah paling saklarnya yang kendor atau kabelnya yang udah mulai rusak itu," timpal Amin santai sambil mengambil keripik lalu memakannya. Namun, tidak lama setelah ia berkata begitu, lampu dapur kembali berkedip berulang kali.

Kali ini bukan hanya Jun yang mulai merinding, tapi Uchun juga. "Jangan bilang ..." Ia menelan ludah. Takut menyuarakan isi kepalanya. Takut itu jadi kenyataannya.

"Kayaknya benar kabelnya mulai rusak itu," ucap Amin. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri yang mulai merinding. Bahkan ia sampai menghentikan film yang belum selesai itu.

"Kalau kabelnya rusak, kenapa harus tepat kita nonton film kuntilanak?" bisik Jun.

Amin mencoba tertawa, menenangkan dirinya sendiri. "Kebetulan itu!"

"Terlalu kebetulan, nggak mungkin terjadi."

Lampu itu terus berkedip beberapa lama sebelum akhirnya mati total dengan suara yang lebih keras.

Ctak!

Suasana langsung menjadi gelap di area dapur. Ketiganya saling berpandangan. Rasa penasaran yang semakin besar akhirnya mengalahkan rasa takut mereka.

"Apa kita periksa saja?" tanya Amin.

Uchun mengangguk pelan. Sedangkan Jun semakin mengeratkan genggaman tangannya di lengan Uchun. Ia ingin ingin menolak, tapi tidak mungkin membiarkan kedua temannya pergi sendirian. Lagi pula sebenarnya ia takut juga ditinggal di ruang tengah sendirian. Pada akhirnya ia mengangguk juga.

Dengan langkah perlahan, mereka menuju dapur. Hawa dingin entah mengapa terasa lebih menusuk. Begitu masuk area dapur, Amin menyalakan lampu. Mereka melihat ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di sana. Tidak ada orang. Kucing tetangga yang biasa masuk ke dapur mereka pun tidak kelihatan di sana. Tidak mungkin Yono dan Jeje, kan? Keduanya sudah tidur di lantai atas. Mereka sendiri melihat Yono naik tangga tadi. Lagi pula saat Amin ke dapur sebelumnya tidak ada apa-apa. Masih aman terkendali, kecuali pintu yang lupa ditutup.

Ketiganya saling berpandangan. "Kosong ..." gumam Uchun.

"Kan sudah kubilang kabelnya yang bermasalah," kata Amin meski suaranya tak yakin seperti sebelumnya.

Jun mulai menggosok kedua lengannya. "Kalian merinding nggak?"

Uchun mengangguk pelan. "Sedikit."

Amin menghela napas. "Mungkin karena nonton film horor."

Ketiganya mencoba tertawa, menyakinkan diri mereka. Namun tawa mereka segera hilang saat terdengar suara langkah kaki menaiki tangga.

Tak! Tak! Tak!

Suara entakan kaki itu terdengar jelas. Ketiganya kembali membeku. Wajah mereka kembali memucat. Terutama Jun yang jantungnya berdebar kencang. Tanpa sadar ia semakin meremas lengan Uchun. "Itu ... Itu suara apa?" tanyanya terbata.

"Sakit Jun! Astaga!" Uchun memekik sakit sambil melepaskan genggaman tangan Jun dan mengusap lengannya yang memerah.

"Eh maaf! Maaf! Nggak sengaja!"

Uchun hanya menghela napas pelan. Sifat Jun yang satu ini memang susah sekali dihilangkan. Syukur hanya lengannya yang diremas. Bagaimana jika bagian tubuh lain yang diremas? Bisa bahaya nanti!

Amin yang sedari tadi melihat, terkekeh pelan. Tapi lagi kekehan itu tidak berlangsung lama saat suara entakan kaki kembali terdengar. "Chun! Ayo kita cek!" ujar Amin akhirnya.

"Nggak usah! Kalau itu kuntilanak beneran gimana?" seru Jun dengan memelas.

"Kalau nggak dicek, kita akan terus ketakutan gini, Jun. Kalau nggak mau ikut, biar aku dan Uchun yang cek. Kau tunggu di sini."

"Nggak mau sendiri," balas Jun. Wajahnya tertekuk saat Amin menyuruhnya menunggu. "Aku ikut."

"Ya udah ayo!"

Mereka akhirnya berjalan ke arah tangga. Beberapa kali mereka menahan napas saat berjalan. "Itu mungkin Bang Yono," ujar Uchun yang berjalan paling depan.

"Bang Yono kalau berjalan nggak mengentak kayak kuda."

Jun hampir menangis, bisa-bisanya kedua temannya becanda di saat seperti ini. "Kalian jangan bercanda sekarang."

Amin ingin menyanggah tapi Uchun menahannya. Yang dikatakan Jun benar. Akhirnya ketiganya perlahan mendekati tangga. Mereka melihat ke atas. Lagi-lagi tidak ada orang. Mereka saling berpandangan sebelum menghela napas lega.

"Sudahlah mungkin hanya perasaan kita saja," ujar Uchun.

"Iya ..."

Jun hendak menimpali tapi sekelebat bayangan yang ia lihat di ujung tangga membuat suaranya tertahan di ujung lidah. Di ujung tangga, ia melihat kain putih berkibar. Meski hanya sesaat, tapi ia cukup jelas melihat. Wajahnya kembali pucat dengan mata membeliak kaget.

"Kun ... Kun ..."

Suara Jun terbata, tangannya gemetar menunjuk ke arah atas tangga. Amin dan Uchun menoleh. Mengikuti arah yang ditunjuk oleh Jun. "Kun ... Apa?" tanya Amin.

"KUNTILANAK!"

"Mana?"

"Di sana! Di ujung tangga, aku lihat tadi," tunjuk Jun lagi sambil memejamkan matanya. Tidak berani melihat ke atas.

Amin refleks mengangkat sapu yang entah sejak kapan berada di tangannya. Ia dan Uchun mendongak, melihat ke arah ujung tangga. Namun, tidak ada apa pun. Hanya lorong panjang dan lampu redup.

"Nggak ada apa-apa," ujar Amin sembari menurunkan sapu yang ia pegang.

"Tapi tadi aku beneran melihat bayangkan kain putih di sana," seru Jun pelan. Matanya berkaca-kaca, tidak ingin dianggap berbohong.

Uchun mengusap wajahnya. "Mungkin itu hanya halusinasi setelah nonton film horor tadi."

"Halusinasi?" gumam Jun.

Amin mengangguk. "Iya! Betul! Halusinasi!"

"Sebaiknya kita tidur saja, nggak usah lanjut nonton filmnya," ujar Uchun.

Jun langsung mengangguk cepat. Sangat setuju dengan usulan Uchun. Begitupun dengan Amin. Meski sebenarnya ia masih ingin menonton film itu sampai akhir. Tanggung! Tapi mau bagaimana? Keadaan tidak mendukungnya.

Mereka naik ke lantai dua bersama-sama. Jun masih berpegangan pada lengan Uchun. Sedangkan Amin berjalan di belakang.

Saat melewati kamar Jeje yang pintunya sedikit terbuka, Jun tanpa sengaja melihat ke dalam. Ia langsung berhenti. Wajahnya kembali berubah pucat.

Uchun dan Amin ikut berhenti. Amin bahkan menabrak punggung Uchun karena Jun tiba-tiba terdiam. "Kenapa?" tanyanya.

Jun hanya menunjuk dengan tangan gemetar. Uchun menoleh ke arah yang ditunjuk Jun, dan seketika wajahnya kehilangan warna.

Di samping tempat tidur, terlihat sosok wanita berambut panjang. Memakai gaun putih menjuntai sampai kaki. Wanita itu membungkuk, sedang mencium Jeje. Melihatnya langsung, Uchun menjerit.

"KUNTILANAK!"

Jun ikut berteriak. "KUNTILANAK CIUM BANG JEJE!"

Amin menerobos masuk diikuti Jun dan Uchun. Amin langsung mengacungkan sapu yang masih dibawanya, untuk berjaga-jaga tadi. "Heh! Kunti lepaskan Bang Jeje kami!"

Sosok wanita itu perlahan menoleh. Rambut panjang menutupi sebagian wajahnya. Kulitnya pucat dengan bibir yang merah merona. Wanita itu tersenyum cerah dan mengangkat dua jarinya. "Peace!"

Ketiganya membeku dan berkedip. Mencerna apa yang baru saja mereka lihat. Ketiganya berseru bersamaan.

"Eh?"

Wanita itu tertawa pelan sambil melambaikan tangan. "Hai!"

Ketiganya memandang wanita itu. Lalu memandang orang yang dicium—Bang Jeje. Anggota grup mereka yang paling banyak penggemar. Pemuda berwajah androgini itu terbangun, "Berisik sekali sih!" keluhnya sambil mengucek matanya.

Setelah kesadarannya kembali, begitu melihat seorang wanita asing berada sangat dekat dengan wajahnya, Jeje langsung berteriak dan melompat dari tempat tidur. "Aaa!"

Amin, Jun dan Uchun yang sedari tadi sempat terdiam langsung sadar. Wanita itu bukan kuntilanak seperti yang mereka kira, tapi benar-benar seorang wanita. Teman mereka baru saja dicium wanita tak dikenal. Dan lagi, ekspresi Jeje benar-benar seperti orang yang baru melihat hantu.

Amin tak sanggup menahan diri. Ia tertawa sampai terduduk sambil memukul sapu yang ia pegang ke lantai. Tawa itu menular ke Uchun. Bahkan Jun yang tadi hampir pingsan sekarang tertawa sampai sesak napas.

"Hahaha! Bang Jeje dicium kuntilanak!"

Jeje cemberut sambil mengusap pipinya yang tadi dicium. "Ini nggak lucu!"

Yono yang keluar dari kamar sebelah dengan rambut berantakan juga terkejut. "Kenapa ramai ..." Pertanyaan yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokan begitu melihat wanita berbaju putih duduk santai di tempat tidur Jeje, Ia melongo. "Siapa itu?"

Bukan anggota grupnya yang menjawab, melainkan wanita yang tersenyum malu sambil memandang ke arah mereka. "Aku fans kalian."

Kelima anggota AKTF hanya mampu menatapnya dengan wajah tidak percaya. Tidak menyangka ada fans mereka senekat ini.

Setelah diinterogasi oleh Uchun dan Yono, akhirnya mereka tahu ternyata suara langkah kaki berasal dari wanita itu. Lampu dapur berkedip karena ia sempat mencari ponselnya yang terjatuh di sana. Takut ketahuan ia memilih memainkan saklar sambil melihat ke lantai dapur mencari ponselnya. Sedangkan kain putih yang dilihat Jun adalah ujung bajunya saat ia mencoba bersembunyi. Mereka benar-benar tak habis pikir dan yang paling membuat mereka merinding ternyata wanita itu sudah sering menyelinap masuk ke rumah selama dua minggu ini. Pantas saja, suasana rumah jadi berubah. Barang-barang mereka ada yang berpindah tempat dan hilang. Meski bukan barang mewah tapi tetap saja itu mengganggu mereka.

Di tengah keterpakuan mereka, Jeje mendengar gumaman wanita yang masih tersenyum manis. "Jeje, i love you!"

Jeje menjerit takut! "Polisi panggil polisi!"

Yono dengan sigap menghubungi polisi. Tiga puluh menit kemudian polisi datang. Mereka duduk di ruang tamu dengan wajah kusut.

Wanita itu tampak tenang. Bahkan sesekali melambaikan tangan kepada mereka dan terus menatap ke arah Jeje yang langsung bersembunyi di belakang Yono.

"Apa maksudnya dia menciumku?"

Polisi yang menangani kasus itu hanya menghela napas. "Tenang!"

"Tenang bagaimana, Pak?" kata Yono. "Dia masuk rumah, menguntit dan mencium Jeje!" pungkasnya.

"Dia bikin kami hampir mati jantungan!" imbuh Jun.

Polisi itu tersenyum kecil. "Ah, anak muda! Wanita ini cuma fans kalian. Dia tidak membawa senjata. Dia bilang hanya ingin bertemu idolanya. Itu normal, kan? Seorang fans yang ingin dekat dengan idolanya."

Kelima anggota itu membeku. Jeje sampai menunjuk dirinya sendiri. "Dicium tanpa izin itu normal?"

Polisi itu mengangkat bahu. "Anggap saja bonus sebagai idol."

Kelima anggota AKTF shock. Mereka bahkan lebih ketakutan mendengar jawaban itu daripada saat mengira melihat kuntilanak. Akhirnya wanita itu hanya diberikan peringatan dan dibebaskan begitu saja. Sebelum pergi, ia berhenti di depan mereka.

"Abang-abang sekalian, aku akan selalu mendukung kalian. Semangat untuk konsernya bulan depan," ujarnya lalu pergi sambil tersenyum. Seketika anggota AKTF merinding dibuatnya.

Sejak malam itu, AKTF memasang kamera keamanan di seluruh rumah. Mereka mulai tenang, sampai seminggu kemudian saat Jun mengambil air minum, lampu dapur mendadak berkedip-kedip lagi. Bukan hanya itu, suara langkah kaki dari tangga juga terdengar lagi. Jun memucat, memanggil satu persatu temannya, tapi tak ada jawaban. Berarti itu bukan salah satu dari teman-temannya. Ia buru-buru ke lantai atas memanggil semua anggota AKTF.

Lima menit kemudian mereka berkumpul di ruang tengah. "Jun, jangan nangis!" bujuk Uchun.

"Aku belum menikah, Chun!" pekik Jun ketakutan.

"Yang bilang udah siapa?"

"Sudah-sudah! Jangan ribut lagi," ujar Yono menengahi. "Jun tenangkan diri dulu," imbuhnya.

Setelah tangis Jun berhenti, Yono kembali bicara. "Benar lampu dapur tadi berkedip lagi? Lalu di mana suara yang kau bilang tadi itu."

"Iya, aku mau ambil minum di dapur. Aku lihat lampunya berkedip-kedip lagi. Suara itu terdengar juga, makanya aku memanggil kalian. Aku takut!" jelasnya.

Yono mengangguk, ia melangkah ke dapur tapi tidak menemukan kejanggalan seperti yang dibilang Jun. Ia kembali duduk di tempatnya tadi. "Nggak ada apa-apa di dapur. Mungkin itu perasaanmu saja," ujarnya pada Jun.

"Iya mungkin benar. Kau kan penakut," imbuh Amin.

"Siapa yang tidak takut kalau diteror seperti kemarin," sanggah Jun.

"Kalian kenapa ribut mulu sih? Berisik tahu. Udahlah, udah nggak ada apa-apa, kan? Sebaiknya kita tidur lagi," tukas Jeje yang mulai jengah dengan perdebatan Amin dan Jun.

"Yang dibilang Jeje benar. Sebaiknya kita istirahat lagi," ujar Yono. Ia hendak beranjak sebelum suara langkah kembali terdengar di ujung tangga. Kali ini bukan hanya Jun yang mendengarnya tapi keempat anggota AKTF lainnya juga. Mereka saling berpandangan, seolah bicara tanpa suara.

"Apa kubilang ...." seru Jun tiba-tiba. "Aku nggak bohong!"

Jun semakin memeluk erat lengan Uchun. Amin sudah siap dengan kemoceng di tangannya. "Pasti fans gila itu lagi!"

Jeje mengangguk panik. "Tolong jangan cium aku lagi!"

Hanya Yono yang terlihat sedikit santai, tapi tatapannya terlihat waspada. Tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi.

Suara itu semakin terdengar jelas dan mendekat diikuti suara tawa wanita.

"Hehehe ..."

Tidak lama kemudian sesosok wanita berambut panjang berpakaian putih menjuntai muncul di ujung tangga. Kepalanya tertunduk. Rambutnya menutupi wajah. Saat sosok itu mengangkat kepalanya. Terlihat wajahnya yang pucat. Matanya hitam pekat. Dengan suara lirih ia berkata, "Aku tersesat! Bang Poci bilang ini rumah TVXQ!"

Kelima anggota AKTF itu membeku, mereka yang awalnya ketakutan menjadi bingung setelah mendengar nama boygroup Korea Selatan yang terkenal itu. Untuk apa wanita ini mendatangi mereka jika yang dicari itu TVXQ? Apa wanita ini salah orang? Bisa-bisanya, padahal jelas mereka ada di Indonesia bukan di Korea Selatan. Memikirkan hal itu membuat mereka menjadi kesal.

"TVXQ? Kami ini AKTF bukan TVXQ!

"Iya, lagi pula TVXQ itu tinggal dua orang. Sementara kami ini berlima, kecuali kalau yang kau maksud itu TVXQ dua puluh tahun lalu, baru benar anggotanya lima orang," jelas Uchun.

Sosok itu tidak peduli dengan ucapan Amin dan Uchun. Ia mengeluarkan photocard dari balik rambutnya. "Aku fans baru. Aku mau minta tanda tangan ..."

Jun yang mulai menyadari keanehan sosok di depannya mulai menangis. "Itu ... itu kuntilanak beneran."

"Mana ada kuntilanak jadi fans boygroup. Boygroup Korea Selatan pula? Harusnya sukanya dengan lagu Lingsir Wengi!" seru Amin masih kesal. Tidak peduli dengan fakta yang baru dikatakan oleh Jun. Perkataannya diangguki teman-temannya. Ia lalu beranjak pergi dan menarik lengan Jun yang masih menangis. Langkahnya diikuti teman-temannya yang juga menggerutu.

"Salah orang woy!"

"Kuntinya buta arah!"

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, kuntilanak merasa sedih karena idolanya tampak kesal dan mengabaikan fans yang minta tanda tangan. Sang kuntilanak hanya berdiri di sana. "Aku bahkan sudah beli lightstick resmi," lirihnya tanpa tahu ia salah orang dan salah alamat.

***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Ketika Kunti Punya Idol
Asihdias
Komik
Bukan Komikus
Novellette
Cerpen
Bronze
Kopi
syaifulloh
Cerpen
Bronze
Pacaran bohongan, baper beneran
Fitriani
Komik
Bronze
HIRO
Ady Setiiawan
Flash
Undangan Rapat Akbar
Lia Heliana
Flash
Bronze
Sepiring Nasi Pare
Silvarani
Cerpen
Bronze
Kisah Tragis Vampire Penghisap ASI [Cerpen Penawar Kesepian]
Andi Resnadi
Flash
Antropologi
Keita Puspa
Cerpen
Bronze
Apakah Dunia Sekecil Gue?
Silvarani
Komik
Hell Boi
Yohana Decinta
Flash
Bronze
Pesta Pernikahan
Afri Meldam
Cerpen
Ngajarin Boomer Pake Smartphone
cahyo laras
Flash
Bronze
Generasi Keempat Tukang Sapu Rumah Sakit Jiwa
Silvarani
Komik
Gold
Si Jenaka Nasrudin
Kwikku Creator
Rekomendasi
Cerpen
Ketika Kunti Punya Idol
Asihdias
Novel
Rumah (Bukan) Tempat untuk Pulang
Asihdias
Flash
Maafkan Aku, Tuhan!
Asihdias