Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Religi
ketika harapan ayah tumbang dihadapan anak
1
Suka
360
Dibaca

Dalam kitab Alfawaid Almuhtaraoh Lisulukil Akhiroh Karya Aly Abu Hasan Baharun diceritakan tentang seorang santri pemalas:

.....جاء رجل من (جاوة) إلى رباط (سيون) لطلب العلم لكنه كسلان، وكان أبوه في (جاوة) يتمنى أن يكون ولده عالما، فأرسل إليه مالا كثرا إعانة له على طلب العلم. واستعمل ولده ذلك المال للأكل والشرب، وكان أبوه يظن أن ولده قد قرأ «كواكب» ثم «قطر الندى» ثم «الفية» وهكذا، فلما مضى حمسن سنين أو أكثر رجع الولد، وعقد أبوه ضيافة لقدومه ودعا الناس إليها، فأمروا أن يكتلم فلا يقدر، وقدموا إليه مسألة فلا يدري جوابها، فعرفوا حينئذ أنه جاهل وافتضح أبوه ومرض ومات بسبب ذلك، أو ما هذا معناه......

Suatu ketika, pergilah seorang pemuda dari tanah Jawa. Ia berangkat ke sebuah pesantren besar di Sumun, tempat yang terkenal melahirkan para ulama dan cendekiawan besar. Ayahnya adalah seorang petani sederhana namun berhati mulia, mengantarnya dengan penuh harapan.

“Joko,” kata sang ayah sambil menggenggam bahu anaknya, “di sana kau akan belajar kitab kawakib, qotrun nadaa, alfiah, dan banyak fan ilmu lainnya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Ayah sudah menabung bertahun-tahun demi perjalananmu.”

Joko hanya mengangguk. Senyumnya tipis, matanya berkilat, namun bukan karena semangat, melainkan karena membayangkan kebebasan jauh dari kampung, jauh dari kekangan orang tuan.

Hari-hari pertama di Sumun, ia memang masuk kelas, duduk di antara santri lain, mendengar suara guru yang melantunkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik. Namun hatinya kosong. Ia lebih sibuk menghitung uang kiriman ayahnya setiap bulan. Uang itu ia gunakan untuk makan enak di warung, membeli minuman manis, dan sesekali berfoya bersama teman-temannya.

“Jok, kau sudah belajar kawakib gak, yang buat materi besok?” tanya sahabatnya, Gibran, di suatu malam.

“Ah, nanti aja. Kitab itu tebal bangat. Lagi pula, ayahku selalu kirim uang. Jadi aku tak perlu repot-repot.”

Gibran menghela napas panjang. “Ilmu itu bukan sekadar duduk di kelas. Kau harus meneguknya, mengunyahnya, baru bisa jadi bekal hidup.”

Joko tertawa kecil. “Bekal hidupku ya uang ayahku lah... Kamu lihat aja nanti.”

#

Di sisi lain, ada Wowo, teman pemalas yang suka berfoya-foya. Ia sering mengajak Joko keluar malam, mukbang, atau sekadar duduk di kantin pesantren hingga larut.

“Jok, hidup itu kudu dinikmati. Kitab bisa nanti-nanti. Lihat kan, uangmu cukup untuk traktir kita semua. Joko ini bos sengol dong!” kata Wowo sambil menepuk bahu sahabtnya.

Joko tersenyum bangga, merasa dirinya adalah raja kecil di Sumun.

Waktu terus merangkak. Lima tahun sudah Joko tinggal di Sumun namun adanya kayak tidak ada. Ia memang hadir di pesantren, namun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Wowo di kantin, bercengkerama, atau tidur panjang. Kitab-kitab yang seharusnya ia pelajari hanya berdebu di rak buku.

#

Tat kala genap lima tahun, Joko akhirnya boyong. Ayahnya menyambut dengan wajah penuh bangga.

“Anakku sudah jadi alim!” teriak semangat sang ayah kepada tetangganya. “Ia sudah belajar kawakib, qotrun nadaa, alfiah, dan banyak kitab lainnya. Mari kita adakan jamuan besar untuk menyambutnya.”

Orang-orang kampung pun datang. Rumah sederhana itu dipenuhi tamu. Ayam kampung disembelih, nasi tumpeng disajikan, dan suara riang terdengar di setiap sudut.

Ayahnya berdiri dengan penuh kebanggaan. “Joko, anakku, berdirilah di depan. Sampaikan ilmu yang kau bawa dari Sumun.”

Joko maju dengan langkah ragu. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia menatap wajah-wajah penuh harap: para tetangga, kerabat, sahabat ayahnya.

“Silakan, Nak,” kata seorang ustaz. “Jelaskan kepada kami tentang makna bait Alfiyah ini

واَلأَمْرُ إنْ لَمْ يَكُ لِلنُّونِ مَحَلْ……فِيهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ........”

Joko terdiam. Bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang keluar.

“Kalau begitu,” sahut yang lain, “apa hukum orang yang lupa membaca doa basmalah pada fatihah salat?”

Joko menunduk. Hatinya berdegup kencang. Ia tak tahu jawabannya.

Pertanyaan demi pertanyaan datang, namun ia tak mampu menjawab satu pun. Orang-orang mulai berbisik.

“Apakah benar ia belajar di Sumun?”

“Lima tahun di sana, tapi tak bisa menjawab hal sederhana?”

“Jangan-jangan ia hanya berfoya-foya.”

Ayahnya menatap dengan mata berkaca-kaca. Senyum bangga yang tadi merekah kini runtuh.

Jamuan itu berubah menjadi aib. Orang-orang pulang dengan kecewa. Ayahnya duduk di sudut rumah, wajahnya pucat.

“Joko…” suaranya lirih, “apa yang kau lakukan di Sumun selama ini?”

Joko tak mampu menjawab. Ia hanya menunduk, menatap lantai tanah.

“Ayah mengirim uang, berharap kau jadi penerus ilmu. Tapi ternyata kau hanya makan dan minum. Kau menipu ayahmu sendiri.”

Air mata jatuh dari mata sang ayah. Malam itu ia jatuh sakit. Tubuhnya lemah, hatinya hancur.

 Hari-hari berikutnya ia hanya berbaring, menolak makan, menolak bicara.

Joko mencoba merawatnya, namun rasa bersalah menjerat.

“Yah, maafkan aku…” bisiknya suatu malam. “Aku salah. Aku bodoh. Aku tak pernah belajar.”

Ayahnya hanya menatapnya kosong, lalu memalingkan wajah.

Tak lama kemudian, sang ayah meninggal. Kampung berduka. Namun di balik duka itu, mak-mak berbisik tentang kebodohan Joko, tentang harapan yang hancur.

#

Joko berdiri di tepi makam ayahnya. Angin sore berhembus, membawa aroma tanah basah yang menusuk kenangan. Di hadapan nisan sederhana itu, ia merasa kecil, rapuh, dan tak berdaya. “Yah…” suaranya pecah, “aku telah mengkhianati harapanmu. Aku pulang bukan sebagai alim, melainkan sebagai pecundang. Kini kau pergi, meninggalkan aku dengan dosa yang tak terhapus.” Kata-kata itu jatuh seperti batu, menghantam dadanya sendiri.

Gibran, sahabatnya dari Sumun, datang menghampiri. Ia menepuk bahu Joko dengan lembut. “Jok, penyesalanmu tak akan menghidupkan ayahmu. Tapi kau masih bisa menebusnya. Belajarlah sungguh-sungguh, meski terlambat. Jangan biarkan kebodohanmu jadi warisan.”

Joko menatapnya dengan mata merah, penuh air yang tertahan. “Apakah masih ada jalan bagiku?” tanyanya lirih.

“Ilmu selalu terbuka bagi siapa saja yang mau meneguknya. Kau harus mulai dari nol, dari huruf alif. Jangan malu. Malulah jika kau mati tanpa pernah belajar,” jawab Gibran tegas.

Hati Joko bergetar. Ia tahu jalan itu panjang, penuh duri, namun ia tak punya pilihan selain menapakinya.

#

Berikut versi yang lebih panjang, lebih deskriptif, dan lebih menyentuh:

Sejak hari itu, Joko kembali ke pesantren dengan langkah yang berbeda. Tak ada lagi kesombongan yang dulu menghiasi wajahnya, tak ada lagi tawa kosong yang dihabiskannya tanpa makna. Ia berjalan melewati gerbang pesantren dengan hati yang dipenuhi sesal, seakan setiap langkah yang ia ayunkan sedang mengantarkannya menuju pengadilan nuraninya sendiri.

Di ruang pengajian, ia memilih duduk di barisan paling depan. Tempat yang dahulu selalu ia hindari kini menjadi tempat yang paling ia cari. Ia ingin menebus setiap pelajaran yang pernah ia sia-siakan, setiap nasihat yang pernah masuk dari satu telinga lalu keluar dari telinga yang lain. Kitab-kitab yang selama ini hanya menjadi penghuni rak kini ia buka satu demi satu. Debu yang menempel di sampulnya seakan menjadi saksi betapa lama ia pernah berpaling dari ilmu.

Malam-malam yang dulu dihabiskan dengan bercanda di kantin kini berubah menjadi malam-malam yang sunyi dan penuh perjuangan. Di bawah cahaya lampu minyak yang redup, Joko duduk bersila dengan kitab di pangkuannya. Matanya menelusuri bait demi bait Alfiyah Ibnu Malik. Bibirnya bergerak perlahan mengulang setiap nadzam, sementara jemarinya menari di atas kertas, menuliskan catatan kecil agar tak ada ilmu yang kembali terlewat. Berkali-kali ia mengulang pelajaran hingga tenggorokannya terasa kering dan matanya memerah karena kantuk.

Meski demikian, perubahan itu tidak serta-merta menghapus masa lalunya. Orang-orang kampung masih mengingat peristiwa yang membuat ayahnya menanggung malu. Bisik-bisik itu terkadang masih terdengar ketika ia pulang. Namun kini Joko tidak lagi marah ataupun tersinggung. Ia menerima semuanya sebagai bagian dari hukuman yang pantas ia tanggung.

Yang paling berat bukanlah omongan manusia, melainkan bayangan ayahnya sendiri. Setiap kali ia membuka kitab, wajah lelaki tua itu selalu hadir dalam ingatannya. Ia teringat tangan yang kasar karena bekerja keras, keringat yang menetes demi membiayai pendidikannya, serta harapan besar yang pernah bersinar di mata ayahnya. Harapan yang dahulu ia khianati dengan kemalasan dan kelalaian.

Sering kali, di penghujung malam, ketika seluruh santri telah terlelap, Joko menengadahkan kedua tangannya. Air mata mengalir membasahi pipinya.

“Yah,” bisiknya lirih, “aku belajar bukan untuk mencari pujian manusia. Aku belajar bukan untuk gelar dan kebanggaan. Aku belajar untuk menebus luka yang pernah kuberikan kepadamu. Semoga Allah mengampuni dosaku, mengampuni dosamu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Nya.”

Hari-hari pun terus berlalu. Sedikit demi sedikit, Joko berubah. Ilmu yang dahulu terasa berat kini menjadi sahabat yang menenangkan hatinya. Ia mulai memahami bahwa penyesalan memang tidak mampu menghidupkan orang yang telah tiada. Namun penyesalan yang diiringi taubat dan kesungguhan dapat melahirkan manusia baru yang lebih baik dari dirinya yang dulu.

Dari seorang pemuda yang tenggelam dalam kemalasan, Joko perlahan tumbuh menjadi santri yang benar-benar haus akan ilmu. Baginya, pesantren bukan lagi tempat pelarian untuk memenuhi keinginan orang tua, melainkan jalan panjang menuju ridha Allah dan bakti yang terlambat kepada ayahnya.

Dan renungkanlah kisah ini. Betapa banyak di antara kita yang masih memiliki orang tua, tetapi menunda untuk membahagiakan mereka. Betapa sering kita menyia-nyiakan kesempatan yang masih terbuka, hingga akhirnya penyesalan datang ketika semuanya telah terlambat. Sebab ada luka yang bisa disembuhkan dengan kata maaf, tetapi ada pula luka yang hanya dapat ditemani oleh air mata penyesalan sepanjang hayat. Maka selama kesempatan itu masih ada, berbaktilah. Karena ketika orang tua telah tiada, yang tersisa hanyalah kenangan, doa, dan harapan agar Allah menerima segala amal yang kita persembahkan untuk mereka.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Cerpen
ketika harapan ayah tumbang dihadapan anak
Farhan Bashori Hasan
Novel
Hujan Paling Jujur Di Matamu
Hadis Mevlana
Flash
Senandika di Peron Dua Belas
Ravistara
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Flash
Bronze
Iblis tak bisa menyesatkan, Nabi tak bisa memberi hidayah
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
Bronze
Gadis Kolong Sampah
Kuni 'Umdatun Nasikah
Novel
MEGHANMORPHOSELF
Salmah Nurhaliza
Skrip Film
Rumah Dijual Tanpa Perantara
Makrifatul Illah
Novel
Bronze
Kita Bertemu di Korea
LeeNaGie
Novel
Bronze
Jodoh itu Dekat
Ahmad jimi
Novel
Bronze
365 Hari Bersama Sahabat Nabi
Biru Tosca
Novel
Srengenge
Nikodemus Yudho Sulistyo
Skrip Film
Mengapa Aku Berbeda?
Imajinasiku
Novel
Bronze
Akulah Sity Maryam Indonesia
Donto Hade
Flash
Bronze
Kuikuti Kau di JalanNya
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
ketika harapan ayah tumbang dihadapan anak
Farhan Bashori Hasan
Novel
Jalan Pulang
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Misi Pencurian Ilmu
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bronze
culture shock
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bandawasa
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bronze
suara azan setan
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
ketika takdir membukakan pintu kedua
Farhan Bashori Hasan
Cerpen
Bronze
Fatamorgana Arunika, senja Devina
Farhan Bashori Hasan