Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
KEPINGAN KACA
0
Suka
879
Dibaca

Pasar tua di pinggiran kota itu tidak pernah benar-benar tidur, namun ia selalu bersembunyi dari cahaya matahari. Di ujung lorong yang paling lembap, di mana aroma kayu cendana tua beradu dengan bau anyir lumpur dari selokan yang tersumbat, berdirilah sebuah kedai kecil tanpa papan nama.

Orang-orang menyebutnya "Toko Pak Aris", meski tak pernah ada yang benar-benar tahu sejak kapan bangunan itu ada di sana, berdiri diam seolah menjadi bagian dari bayangan waktu itu sendiri.

Di depan pintu kayu jati yang sudah mengelupas catnya, Agung berdiri diam. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan getaran halus yang menjalar di jemarinya.

Di saku jaketnya yang usang, sebuah amplop berisi tagihan rumah sakit adiknya terasa seberat batu bata, menekan dadanya dengan rasa cemas yang nyata. Sudah dua minggu berlalu sejak Siska, adiknya, terbaring lemah di ruang ICU yang dingin, tubuhnya dibelit selang-selang yang terasa seperti rantai tak kasat mata.

Tabungan Agung telah habis tak bersisa, dan kini, satu-satunya hal berharga yang tersisa bersamanya hanyalah ingatan tentang hari terakhir ibunya—sebelum kecelakaan mengerikan itu merenggut nyawa wanita itu dua puluh tahun silam.

Agung tidak pernah membayangkan harus melepaskan kenangan itu, namun di hadapan nyawa adiknya, ia sadar tak punya pilihan lain. 

Ting.

Lonceng kecil di atas pintu berdentang nyaring, memecah kesunyian lorong yang berembun. Langkah kakinya melangkah masuk, dan seketika itu pula suasana di dalam menyambutnya: ruangan itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.

Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, dipenuhi ribuan botol kaca bening dalam berbagai ukuran.

Di dalam setiap botol itu, kabut tipis menari-nari memancarkan warna yang beragam—ada yang kuning cemerlang seperti sinar matahari pagi, ada yang biru pucat seperti genangan air hujan, dan ada pula yang merah pekat, hampir menyerupai darah yang membeku perlahan.

"Kau terlambat, Agung," sebuah suara parau tiba-tiba terdengar, memecah lamunannya.

Di balik meja kayu besar yang tergores usia, duduk seorang lelaki tua dengan kacamata berlensa tebal, sedang mengelap sebuah botol kecil dengan kain sutra lembut. Itu Pak Aris.

Wajahnya penuh keriput yang mencer...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
KEAJAIBAN TETANGGA KOMPLEK
R Hani Nur'aeni
Cerpen
Bronze
Best Independent Models in Delhi
Juicy Glamour
Cerpen
Beruntungnya
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Keluarga bahagia dibalik senyum sederhana
Ryan Wijayanto
Cerpen
Harapan
Cassandra Reina
Cerpen
Pengantar Maut
zain zuha
Cerpen
SEPULUH
Muhammad Sapril
Cerpen
Wajah yang Berbeda di Setiap Cermin
Nursan
Cerpen
Bronze
Patok Merah
Fajar Muharram
Cerpen
Bronze
Tumbler Yang Tertukar
Novita Ledo
Cerpen
Bronze
Rindu Suara Azan
aksara_g.rain
Cerpen
Bronze
Asih
Yona Elia Pratiwi
Cerpen
Bronze
Peneliti Negeri Sipil
spacekantor
Cerpen
Bronze
Uncanny Valley
Damia Nur Shafira
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty