Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
KEPINGAN KACA
0
Suka
628
Dibaca

Pasar tua di pinggiran kota itu tidak pernah benar-benar tidur, namun ia selalu bersembunyi dari cahaya matahari. Di ujung lorong yang paling lembap, di mana aroma kayu cendana tua beradu dengan bau anyir lumpur dari selokan yang tersumbat, berdirilah sebuah kedai kecil tanpa papan nama.

Orang-orang menyebutnya "Toko Pak Aris", meski tak pernah ada yang benar-benar tahu sejak kapan bangunan itu ada di sana, berdiri diam seolah menjadi bagian dari bayangan waktu itu sendiri.

Di depan pintu kayu jati yang sudah mengelupas catnya, Agung berdiri diam. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan getaran halus yang menjalar di jemarinya.

Di saku jaketnya yang usang, sebuah amplop berisi tagihan rumah sakit adiknya terasa seberat batu bata, menekan dadanya dengan rasa cemas yang nyata. Sudah dua minggu berlalu sejak Siska, adiknya, terbaring lemah di ruang ICU yang dingin, tubuhnya dibelit selang-selang yang terasa seperti rantai tak kasat mata.

Tabungan Agung telah habis tak bersisa, dan kini, satu-satunya hal berharga yang tersisa bersamanya hanyalah ingatan tentang hari terakhir ibunya—sebelum kecelakaan mengerikan itu merenggut nyawa wanita itu dua puluh tahun silam.

Agung tidak pernah membayangkan harus melepaskan kenangan itu, namun di hadapan nyawa adiknya, ia sadar tak punya pilihan lain. 

Ting.

Lonceng kecil di atas pintu berdentang nyaring, memecah kesunyian lorong yang berembun. Langkah kakinya melangkah masuk, dan seketika itu pula suasana di dalam menyambutnya: ruangan itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.

Rak-rak kayu menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit, dipenuhi ribuan botol kaca bening dalam berbagai ukuran.

Di dalam setiap botol itu, kabut tipis menari-nari memancarkan warna yang beragam—ada yang kuning cemerlang seperti sinar matahari pagi, ada yang biru pucat seperti genangan air hujan, dan ada pula yang merah pekat, hampir menyerupai darah yang membeku perlahan.

"Kau terlambat, Agung," sebuah suara parau tiba-tiba terdengar, memecah lamunannya.

Di balik meja kayu besar yang tergores usia, duduk seorang lelaki tua dengan kacamata berlensa tebal, sedang mengelap sebuah botol kecil dengan kain sutra lembut. Itu Pak Aris.

Wajahnya penuh keriput yang mencer...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Warisan Dari Bapak
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Sobari
Soerja HR Hezra
Cerpen
Bronze
Silence
Anisah Ani06
Cerpen
Kopitaloka: Rumah Yang Kebetulan Menjual Kopi
Indra Afriza Arsad
Cerpen
Pergi Melaut, Tak Kembali
Muhammad Irsyad
Cerpen
Bronze
Gamophobia
Jasma Ryadi
Cerpen
Beranda Kecil
Penulis N
Cerpen
Bronze
ALE
aelan savory keron lewar
Cerpen
Untitled, 1994
Rein
Cerpen
Bronze
Selimut Tidak Pernah Kering
Titin Widyawati
Cerpen
Liburan Juga Bermanfaat
LISANDA
Cerpen
Batas Pacuan
Kopa Iota
Cerpen
Cugak
Pipo Vernandes
Cerpen
Bronze
Prenuptial Agreement: Cinta di Atas Materai
Jasma Ryadi
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
KEPINGAN KACA
Shanty Dewi Shanty
Novel
Bronze
Topeng Di Balik Kemeja Flanel
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
BATAS
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
JANJI YANG KOSONG
Shanty Dewi Shanty
Novel
Hujan Di Tengah Badai
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Meja Terang
Shanty Dewi Shanty
Cerpen
Bronze
Selamat Hidup Kembali, Ra
Shanty Dewi Shanty