Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Drama
Ken Arok Gendis
0
Suka
1,370
Dibaca

Gendis duduk di sebuah bangku panjang, di bawah sebuah pohon rindang, di atas sebuah tebing yang sejauh mata memandang hanya ada pemandangan alam yang menakjubkan. Gunung Arjuna dan Welirang tampak megah dari sini, dengan hutan sebagai selimutnya, tanpa kabut-kabut menutupinya. Pepohonan di hutan sekitar tebing juga menjulang tinggi-tinggi, bersama semak-semak, tanaman liar, dan bunga-bunga yang cantik.

Namun, tak seindah itu, tak secerah cuaca hari ini, Gendis tampak murung dan diam saja sejak tadi. Gadis berambut lurus panjang itu, yang sesekali merapikan poninya yang tertiup angin itu, yang berseragam pramuka dengan lengan yang ramai itu, seperti tidak bersemangat untuk apa pun hari ini, padahal ini masih siang. Itu karena ada satu orang yang sedang dia pikirkan. Bukan pacar, bukan artis Korea, bukan tokoh fiksi. Itu ... tokoh sejarah.

Ken Arok namanya.

“Gendis!” teriak seseorang cukup ketus dari belakang.

Gendis segera menoleh lalu berdiri dengan wajah bingung. “Ha?”

“Kamu minjemin barang-barang kamu ke mereka, Ndis?” tanya laki-laki yang juga berseragam pramuka itu, Angga, begitu sampai di hadapan Gendis.

Gendis tak langsung menjawab. “Iya.”

“Duh, Ndis. Kenapa kamu pinjemin, sih?”

“Karena mereka nggak bawa, Ngga.”

“Ya aku tahu, tapi kan itu–” Angga memotong kalimatnya sendiri. “Apa aja? Jangan-jangan ada yang aku nggak tau. Atau kamu juga kasih mereka bahan-bahan buat masak?”

“Nggak,” jawab Gendis dengan lembut, lalu melirik-lirik ke arah lain. “Itu cuma.. gunting, senter, pulpen, sama ... sendok.”

Angga melongo. “Sampe pulpen sama sendok juga?”

“I-iya.”

“Astagfirullah, Gendis. Kenapa, sih? Mereka itu harus belajar disiplin. Kamu boleh pinjemin kalo mereka emang nggak bisa ngakalin masalah mereka tanpa barang-barang itu, tapi nanti. Seenggaknya mereka kita marahin dulu. Persiapan kemah ini kan nggak dadakan juga. Mereka harusnya udah siapin semuanya dari jauh-jauh hari. Kalo kamu bantu mereka gini gimana mereka mau belajar?” cecar Angga tanpa jeda.

Hening.

“Mm, maaf,” kata Gendis menatap laki-laki itu.

Angga menghela napas. “Aku tahu kamu baik, tapi yang ini waktunya nggak pas.”

“Iya, Ngga. Apa.. aku ambil-ambilin lagi aja semua barang itu?”

“Nggak, nggak perlu, tapi kita tetep nasehatin mereka.”

Gendis mengangguk-angguk. “Oke.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, dengan kesal yang masih.. kesal, Angga melangkah pergi dari sana, menuju jalan utama yang tampak seperti jalan setapak, lalu sempat berpapasan dengan seorang gadis berambut pendek sebelum akhirnya berbelok dan tak terlihat lagi. Gadis itu melihat Angga dan Gendis bergantian, lalu segera menghampiri Gendis yang akhirnya duduk lagi di bangku tadi.

“Eh, kenapa tuh? Kalian berantem? Dia nembak kamu terus kamu nolak apa gimana?” tanyanya, Rara, sambil ikut duduk juga.

“Apa, sih? Nggak.”

“Terus kenapa muka kalian kayak gitu?”

“Dia negur aku gara-gara minjemin banyak barang ke adek kelas.”

“Oh. Terus kamu selemes ini cuma gara-gara itu?”

“Ya nggak juga.”

“Ya terus?”

Gendis menghela napas pasrah. “Ya aku nggak enak aja, Rara. Tapi, sebenernya, aku lagi mikirin sesuatu yang lain sih emang, dari sebelum kemah ini.”

“Apa?”

Gadis itu melirik Rara cukup lama.

“Apa?”

“A.. anu.”

“Ah!” Rara memalingkan wajahnya sebentar—dia tahu. “Siapa lagi? Ha? Habis Airlangga, Raden Panji, siapa lagi sekarang? Ken Arok?”

“Eh, kok tau, sih?”

“Hah? Beneran?”

“Iya.”

Sekarang, Rara yang menghela naoas. Temannya yang satu ini memang agak unik. Di saat orang lain suka dengan artis-artis, maksimal tokoh fiksi di novel-novel, dia malah sangat sibuk dengan tokoh-tokoh sejarah yang bahkan visualnya saja tidak dia ketahui secara pasti. Namun, ya, Gendis ini tetaplah temannya, temannya yang baik dan kalem, temannya yang unik.

“Emang kenapa Ken Arok?”

“Ternyata tuh ya, Ken Arok itu nggak yang disukain gitu sama rakyatnya, soalnya dia orang biasa kan, bukan bangsawan atau keturunan orang penting yang berhak jadi raja gitu. Jadi, dia kayak.. selalu berusaha ngebuktiin kalo dia layak. Dia lakuin ini itu, banyak hal, termasuk invasi Kediri waktu itu.”

“Oh, gitu.”

“Tapi, ya, emang dari awal aku udah sedih banget sama cerita dia. Kayak sayang banget gitu loh, Ra. Dia ngebunuh raja sebelumnya si Tunggul Ametung, bahkan ngebunuh orang yang bikin keris yang dia pake ngebunuh itu si Mpu Gandring. Terus dia nikahin Ken Dedes, istrinya raja yang tadi. Terus ya, sebelum itu tuh hidup dia tuh berantakan banget, Ra. Kayak.. nggak terpuji banget, sedangkan dia tuh leluhurnya raja-raja Majapahit nanti. Ngerti nggak, sih?”

“Nggak,” jawab Rara melongo.

“Ih.”

“Iya, iya, ngerti.”

“Nah, aku tuh rasanya kayak.. sayang banget gitu loh. Kenapa gitu dia gitu?”

Rara terdiam, lalu tampak memperbaiki posisi duduk. “Khem, khem. Gini, Ndis. Orang itu, nggak butuh leluhurnya buat jadi apa atau siapa. Nggak butuh status sosial juga. Ya, butuh sih, tapi ya nggak selalu. Gajah Mada juga awalnya bukan siapa-siapa, tapi jadi orang besar. Eh, bener kan? Kamu pernah cerita itu kalo nggak salah.”

Gendis tampak berpikir. “Bener. Iya juga sih..”

“Nah, kalo yang ngebunuh-ngebunuh, ya.. kita nggak pernah tau. Bisa aja dia punya alasan yang lain yang nggak kecatet di sejarah. Lagian orang bikin salah kan biasa, Ndis. Bikin dosa juga. Hidup dia yang berantakan juga pasti ada alasannya. Malah bisa jadi semua hal yang dia lakuin sebenernya yang terbaik buat saat itu. Eh, jangan terbaik, deng. Lebih baik. Bisa aja semua itu lebih baik dari semua hal yang dia pikirin, cuma orang liatnya itu buruk, dan emang buruk, sih. Tapi, ya, balik lagi kita nggak tau.”

“Hm..”

“Kenapa?”

“Bener juga.”

“Iya kan?”

“Bijak banget sih kamu, Ra?”

Rara mengibaskan rambutnya yang pendek itu. “Hah! Ya iya lah!”

Mereka pun tertawa.

Saat tawa itu mereda, Gendis tak sengaja melihat ke arah area lain di tempat itu, sebuah puncak bukit yang lebih rendah dari tebing ini, yang lebih menjorok ke luar, yang tanahnya ditutupi rumput-rumput pendek dengan pagar-pagar bambu yang tidak terlalu tinggi mengitarinya. Gendis pun terdiam beberapa saat, merasa aneh, lalu mulai menyipit untuk memastikan apa yang dia lihat.

Di sana, seorang laki-laki tampak berdiri menatap pemandangan yang terbentang menakjubkan di hadapannya. Rambutnya ikal, gondrong hingga sebawah bahu, dengan ikat kepala yang bersimpul, dan rapi. Laki-laki itu tidak memakai baju. Dia hanya memakai celana dari kain yang tidak dijahit, yang kain itu juga sekaligus selendang yang dikalungkan dari bahu kiri ke pinggang kanan.

“Kenapa, Ndis?”

“Eh, Ra, lihat deh itu,” kata Gendis sambil melirik laki-laki itu.

Rara pun menoleh ke belakang. “Apa?”

“Itu di area kelinci.”

“Heem. Terus?”

“Aneh banget nggak sih mas-mas itu?”

“Mas-mas? Mas-mas mana? Orang cuma ada ibu-ibu sama anaknya,” tukas Rara yang memang hanya melihat beberapa pengunjung di bagian lain bukit. “Itu ada lagi cewek-cewek.”

“Hah? Itu loh, Ra, yang di atas.”

“Mana? Nggak ada.”

“Ada, itu di sana.”

“Ih, nggak ada, Ndis. Kamu ngerjain aku, ya?”

“Nggak, sumpah. Masa nggak kelihatan, sih? Kamu kali yang ngerjain aku.”

“Nggak, serius,” pungkas Rara sebelum menoleh ke Gendis lagi. “Eh, bentar. Jangan aneh-aneh kamu, Ndis. Lagi di alam nih kita. Kamu bilang kamu nggak bisa liat hantu.”

“Ih, apa sih, Ra? Jangan gitu, dong. Masa itu hantu?”

“Ya terus apa? Ih.”

Gendis yang tidak bisa berkata-kata lagi, hanya memperhatikan laki-laki itu dengan raut bingung dan tidak mengerti. Dia pun mulai berpikir, dan entah kenapa dia hanya berakhir pada satu hal, bahwa laki-laki itu adalah seseorang yang sedang dia galaukan beberapa waktu ini, Ken Arok, meski itu sangat tidak masuk akal. Dia pun terkejut sendiri. Dia melebarkan mata dan menutup mulutnya dengan satu tangan.

“Eh, Ndis? Ndis, kenapa?”

“Jangan-jangan.. dia Ken Arok lagi, Ra.”

“Hah? Aduh, apa sih, Ndis?”

Di tengah itu, laki-laki itu tiba-tiba tampak bergerak, menoleh ke arah Gendis, sebelum akhirnya benar-benar menghadap gadis itu dengan sempurna. Gendis seketika terhenyak dan menahan napas. Dia pun perlahan melihat ke sekitarnya untuk memastikan barangkali ada orang lain yang laki-laki itu lihat, tetapi tempat ini kosong, dan sorot mata itu benar-benar mengarah kepadanya.

“Ndis, sumpah, ada apa, sih?” Rara benar-benar bingung.

Gendis memejam-mejamkan matanya beberapa kali, dan laki-laki itu masih ada di sana, bahkan jika dia tidak salah lihat, laki-laki itu seperti tersenyum kecil sekarang. Gendis pun berdiri dengan mata masih menatap ke sana, lalu perlahan berjalan menjauh, membuat Rara tampak lebih tidak mengerti lagi, sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah cepat untuk pergi dari sana.

“Eh? Ndis! Ndis!” pekik Rara sebelum akhirnya segera menyusul.

Gendis sedikit berlari menyusuri jalan yang agak naik turun di sana, lalu menuju sebuah gerbang kecil dengan sebuah warung yang juga sebuah loket di depannya. Dia membeli tiket untuk bisa masuk ke area itu, area bermain dengan kelinci yang masih dibuka untuk pengunjung umum meski lokasi ini sudah disewa untuk kemah. Melihat Gendis masuk, Rara yang baru sampai juga cepat-cepat membeli tiket, lalu menyusul temannya yang sedang aneh lagi itu.

Di area kelinci, Gendis mengedarkan pandangan ke seluruh bagian, tetapi tiba-tiba saja laki-laki tadi tidak ada. Gendis lalu berjalan ke arah puncak bukit di mana tadi laki-laki itu berada sambil tetap melihat seluruh sisi dan sudut area ini. Masih tidak ada, padahal tadi jelas sekali dia di sini. Sementara itu, Rara hanya mengikuti sambil terus mengoceh dan bertanya ini itu.

“Ndis, duh, jangan minggir-minggir. Bahaya.”

Gendis tampak agak sedih. “Kok nggak ada ya, Ra?”

“Ya emang nggak ada, Ndis.”

“Tapi tadi tuh ada.”

Rara menghela napas pasrah. “Ya.. menguap kali.”

“Gendis,” panggil seseorang dari belakang, tiba-tiba.

“Eh?”

Itu adalah Angga.

“Nah, itu. Ken Arok kamu tuh,” bisik Rara.

“Ih, sst.”

Rara tertawa kecil. “Ya udah, balik duluan, ya. Ngga, balik duluan. Oh, ya, inget, jangan minggir-minggir. Jangan lama-lama juga,” tutur gadis itu kepada mereka berdua, lalu mulai berjalan menjauh, sesekali menoleh lagi, sebelum akhirnya keluar dari area itu.

“Ada apa, Ngga?” tanya Gendis.

Angga yang kedua tangannya ada di belakang maju satu langkah. “Aku ... mau minta maaf soal tadi. Harusnya aku nggak marah gitu. Maaf ya, Ndis.”

“Oh, nggak pa-pa, Ngga. Emang aku salah juga.”

“Mmm, kalo gitu..” Angga mengeluarkan sebuah mahkota yang terbuat dari ranting, daun, dan bunga dari belakang punggungnya, lalu sedikit mengulurkannya kepada Gendis. “Ini, buat kamu.”

Gendis bergeming. “Ha?”

“A-anu. Sebenernya.. tadi aku bikin ini buat aku sendiri. Tadi nggak ada bunga-bunganya. Tapi, tiba-tiba aku nemu bunga-bunga yang udah jatuh, dan masih bagus. Jadi, aku pasang. Jadi, buat kamu aja,” jelas Angga terbata-bata dan terburu-buru.

“Oh, iya.”

Baru saja Gendis akan mengambil mahkota bunga itu, tangannya sudah bergerak, tetapi Angga sudah lebih dulu mengangkatnya dan memakaikannya di kepala Gendis. Gendis refleks bergeming lagi, lalu perlahan menatap Angga yang kini tersenyum kecil kepadanya. Gadis itu merasa gugup. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana kalau jantungnya berdebar seperti ini.

“Woy! Ngga!” teriak seseorang dari gerbang masuk area, membuat Angga dan Gendis seketika menoleh. “Ayo! Jangan pacaran mulu!”

Angga kembali menatap Gendis. “Eh, aku balik, ya. Istirahat udah mau selesai. Anak-anak pasti udah solat semua. Kamu nggak balik juga?”

“Oh, iya. Habis ini aku juga mau balik, kok. Duluan aja.”

“Ya udah.”

“Makasih ya, Ngga, flower crown-nya.”

Angga tersenyum. “Iya.”

Setelah itu, Angga pergi dari sana, meninggalkan Gendis hanya berdua dengan jantungnya yang belum bisa tenang meski sudah menghela napas beberapa kali. Angga, laki-laki itu selalu membuatnya kikuk. Dan, entah apa yang baru dia lakukan dengan memberi dan memakaikannya flower crown alias mahkota bunga ini, padahal jika dia ingin meminta maaf, mengucapkannya saja sudah cukup, apalagi hanya karena kekesalan yang memang wajar.

Gendis mengambil mahkota bunga itu, lalu memandanginya tanpa ekspresi cukup lama. Dia lalu berbalik dan kembali menatap lanskap pemandangan yang masih menakjubkan itu. Sambil mengatur napas, dia mulai menyadarkan diri, bahwa dia tidak boleh jatuh hati kepada Angga, meski sebenarnya itu sudah terjadi sejak lama. Dia tidak boleh, karena mereka tidak akan bisa.

Nggak, Ndis. Cinta beda agama cuma happy ending di film-film.

Gendis menghela napas ringan untuk meyakinkan diri sekali lagi, lalu berbalik dan mulai berjalan kembali, melewati beberapa pengunjung yang sedang duduk-duduk, bersantai, dan berfoto, melewati kelinci-kelinci lucu yang berlari ke sana kemari, menyusuri jalan, memunggungi tenang dan indahnya potret alam Malang-Mojokerto itu, sebelum akhirnya melewati gerbang dan keluar dari sana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Elia Sismona
Tumiesn
Cerpen
Ken Arok Gendis
Nailu Chirzati
Novel
Sad Girl
Neng Jihan
Novel
Dekat
BlackTruffleGvrl
Cerpen
Bronze
Dan Aku Telah di Ujung Kesimpulan
Reinka Maheswari
Novel
SANIA
apriana rohayati
Cerpen
Bronze
Hujan & Sepatu Harapan
Dialogika Setiawan
Novel
Bronze
Unforgettable Story
Ayzahran
Novel
Darkpunzel
Art Fadilah
Novel
Bronze
Marwah Wanita
Siti Nashuha
Novel
Bronze
From script to screen
Ais Ahya Nahira
Skrip Film
Nada Citaku
Hesti Yuliantika
Flash
Perkara Bintang yang Tak Kunjung Ditemukan
kanun
Flash
Bronze
Jejak Kaki Kecil di Tanah Haram
CICIAIRA
Flash
Bronze
Emergency Exit
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
Ken Arok Gendis
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Shakira dan Magis Rasa Senang
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Kiera dan Hari Drama Sedunia
Nailu Chirzati
Cerpen
Bronze
Gadis Tulang Wangi dan Sekitarnya
Nailu Chirzati