Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Kembalinya Puyang
0
Suka
5
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku lahir dan besar di sebuah kampung kecil di Lampung. Di belakang rumah kami terbentang kebun kopi, kebun karet, lalu hutan yang tampak tak berujung. Saat matahari mulai tenggelam, pepohonan itu berubah menjadi bayangan hitam yang selalu berhasil membuatku mempercepat langkah setiap kali pulang bermain.

Namun, bagiku waktu itu, hutan hanyalah tempat yang menarik.

Tempat mencari burung, mengambil rotan, memancing di sungai kecil, atau sekadar mengejar layangan yang putus.

Aku tidak pernah menganggapnya menakutkan.

Yang membuatku takut justru satu orang.

Kakek.

Bukan karena kakek galak. Justru sebaliknya. Sepanjang hidupku, aku hampir tidak pernah melihat beliau marah. Wajahnya selalu tenang. Suaranya pelan. Setiap pagi beliau berangkat ke kebun membawa parang tua yang gagangnya sudah menghitam dimakan usia, lalu pulang menjelang magrib dengan seikat sayuran atau beberapa kilogram kopi.

Beliau jarang bercerita.

Kalaupun bercerita, isinya selalu tentang musim tanam, hujan, burung, atau pohon-pohon tua yang menurutnya harus dijaga.

Hari itu aku masih duduk di kelas dua SMP.

Musim kemarau hampir berakhir. Angin mulai membawa bau tanah yang lembap. Bersama beberapa teman, aku bermain bola di lapangan kecil dekat kebun.

"Nanang, oper!"

Aku menendang bola sekuat tenaga.

Bukannya mengarah ke gawang, bola justru melambung melewati semak-semak dan menggelinding ke jalan setapak menuju hutan.

"Ambil, Nang!" teriak Deni sambil tertawa.

Tanpa berpikir panjang aku berlari.

Aku melewati rumpun bambu, melompati parit kecil, lalu memasuki jalan tanah yang mulai dinaungi pohon-pohon besar.

Baru beberapa langkah.

"Nanang!"

Suara itu menggelegar.

Aku menoleh.

Dari kejauhan kulihat kakek berlari ke arahku.

Aku membeku.

Beliau berlari sekencang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sandalnya bahkan terlepas di tengah jalan. Napasnya tersengal ketika akhirnya berhasil memegang lenganku.

"Kakek..."

Beliau tidak menjawab.

Tangannya menggenggam lenganku begitu erat hingga terasa sakit.

"Kamu jangan masuk ke sana."

Aku kebingungan.

"Kenapa, Kek? Aku cuma mau ambil bola."

Kakek menoleh ke arah pepohonan yang berdiri rapat di depan kami. Tatapannya berubah. Bukan marah.

Takut.

"Nanti kamu dibawa buyutmu."

Aku spontan tertawa.

"Buyut? Buyut kan sudah meninggal."

Kakek tidak ikut tertawa.

Kakek hanya berkata pelan,

"Tidak semua yang hilang benar-benar pergi."

Aku mengernyit.

Saat itu aku menganggap ucapan itu hanya cara orang tua menakut-nakuti anak kecil agar tidak bermain terlalu jauh.

Aku pun pulang sambil masih menggerutu karena bola kami tertinggal di dalam hutan.

Malam harinya, rasa penasaranku belum hilang.

Saat ibu sedang memasak di dapur, aku mendekatinya.

"Bu."

"Hm?"

"Buyut itu siapa?"

Sendok kayu yang dipegang ibu berhenti mengaduk sayur.

"Kenapa tiba-tiba tanya begitu?"

"Tadi Kakek bilang kalau aku masuk hutan nanti dibawa buyut."

Ibu tersenyum kecil.

"Itu cuma omongan orang tua."

"Jadi tidak benar?"

Ibu mengangkat bahu.

"Ibu juga tidak tahu."

Jawaban itu membuatku heran.

"Masa Ibu tidak tahu buyut sendiri?"

Ibu tertawa pelan.

"Kamu lupa ya? Ibu dari kecil sekolah di Jawa."

Benar juga.

Ibuku berasal dari kampung yang sama dengan ayah. Rumah masa kecil mereka hanya dipisahkan beberapa rumah. Namun setelah lulus SD, keduanya dikirim keluarga merantau ke Pulau Jawa untuk sekolah.

Mereka tumbuh di sana.

Bertemu saat dewasa.

Menikah.

Barulah kembali ke Lampung.

Cerita-cerita lama kampung hampir tidak pernah mereka dengar.

Ayah bahkan lebih tidak peduli lagi.

Baginya semua harus bisa dijelaskan dengan akal.

Saat kutanyakan hal yang sama kepadanya, beliau hanya tertawa.

"Kalau memang ada harimau yang bisa mengajak orang, pasti dari dulu sudah masuk berita."

"Itu kata Kakek."

"Ya biarkan saja. Orang tua memang suka menyimpan cerita zaman dulu."

Bagiku, jawaban ayah masuk akal.

Beliau orang yang modern.

Tidak percaya mitos.

Lebih percaya kerja keras daripada cerita gaib.

Malam itu aku tidur tanpa memikirkan lagi ucapan kakek.

Beberapa hari kemudian hujan pertama turun.

Udara menjadi jauh lebih dingin.

Aku terbangun sekitar pukul dua dini hari karena mendengar suara angin menerpa jendela.

Rumah kayu kami berderit pelan.

Aku mencoba memejamkan mata lagi.

Entah kapan aku kembali tertidur.

Lalu mimpi itu datang.

Aku berdiri sendirian di tepi hutan.

Kabut turun perlahan.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara serangga.

Hanya kesunyian yang begitu pekat.

Dari balik pepohonan muncul seekor harimau Sumatra.

Tubuhnya besar.

Bulunya jingga keemasan dengan loreng hitam yang tampak jelas meski cahaya begitu redup.

Aneh.

Aku tidak merasa takut.

Harimau itu hanya berjalan perlahan, lalu berhenti beberapa meter di depanku.

Matanya menatap lurus ke arahku.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada kemarahan.

Tatapannya justru seperti seseorang yang telah lama mengenalku.

Kemudian terdengar suara.

Bukan dari mulut harimau.

Bukan pula dari belakangku.

Suara itu seperti datang dari seluruh hutan.

"Belum waktunya."

Aku terbangun.

Napas memburu.

Kausku basah oleh keringat.

"Astaghfirullah..."

Aku mengusap wajah.

Mimpi itu terasa begitu nyata.

Aku turun dari tempat tidur untuk mengambil minum.

Namun ketika telapak kakiku menyentuh lantai, aku langsung berhenti.

Ada sesuatu yang dingin dan lengket.

Aku menyalakan lampu minyak kecil di kamar.

Lalu kulihat telapak kakiku dipenuhi lumpur.

Aku membeku.

Lumpur itu masih basah.

Aku menoleh ke arah pintu.

Masih terkunci.

Jendela juga masih tertutup rapat.

Tidak mungkin aku keluar rumah saat tidur.

Dengan tangan gemetar aku mencuci kakiku menggunakan air di kendi.

Lumpur itu perlahan hilang.

Tetapi rasa dingin yang merambat di dadaku tidak ikut hilang.

Pagi harinya aku berusaha melupakan semua itu.

Kupikir mungkin aku hanya bermimpi terlalu dalam.

Saat keluar rumah, kulihat kakek sudah duduk di beranda sambil menikmati kopi hitam.

Beliau memandang telapak kakiku yang masih sedikit kemerahan karena terlalu keras kugosok semalam.

"Kamu mimpi?"

Aku langsung terdiam.

"Kakek... kok tahu?"

Beliau tidak menjawab.

Hanya menyeruput kopinya perlahan.

Aku memberanikan diri bertanya.

"Kek... memang siapa sebenarnya buyut?"

Kakek meletakkan cangkirnya.

Tatapannya mengarah ke hutan yang terlihat samar di balik kebun kopi.

Angin pagi bertiup pelan, menggerakkan daun-daun pisang di samping rumah.

Lama sekali beliau diam.

Seolah sedang memilih kata-kata.

Kemudian beliau berkata lirih,

"Selama bertahun-tahun aku berharap dia tidak pernah menemukanmu."

Aku tidak mengerti.

"Siapa?"

Kakek menoleh kepadaku.

Matanya tampak tua. Sangat tua. Menyimpan kelelahan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.

"Buyutmu."

Aku hendak bertanya lagi.

Namun sebelum satu kata pun keluar dari mulutku, terdengar suara panjang dari arah hutan.

Suara itu menggema pelan, lalu menghilang bersama embusan angin.

Aku menoleh ke arah pepohonan.

Tidak terlihat apa-apa.

Hanya rimba yang diam.

Tetapi entah mengapa, sejak pagi itu aku selalu merasa...

Ada sepasang mata yang sedang mengawasiku dari balik hutan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, hutan yang dulu hanya tempat bermain itu terasa seperti sesuatu yang sedang menunggu.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Kembalinya Puyang
Maulana Hasan
Novel
Mengawat Kisikan
heriwidianto
Novel
Gold
Fantasteen Wooley Dolley
Mizan Publishing
Cerpen
Bronze
Ada Pocong di Kamarku
Abdi Husairi Nasution
Flash
Halo?
Esteh.maniez
Novel
Malam satu suro
Pradiky winata
Flash
Terminal
Jasma Ryadi
Flash
Wanita Berbaju Putih
Desi Ra
Skrip Film
Mburi Lawang
NUR SAFA'AH SIREGAR
Novel
Bronze
Penjara Sukma
Ravistara
Novel
SEGEL IBLIS
Miss Green Tea
Flash
Siapa Disana?
D.Agustin
Cerpen
Insomnia
Noer Eka
Cerpen
Bronze
Kutukan Polaroid
Christian Shonda Benyamin
Novel
Di Antara Rumah yang Kosong
Imajiner
Rekomendasi
Cerpen
Kembalinya Puyang
Maulana Hasan
Cerpen
Bronze
Kembalinya Puyang
Maulana Hasan