Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
KEMBALI KE SUKOWATI
0
Suka
66
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Angin bakda Subuh berhembus teramat sejuk, menyapu hamparan sawah hijau yang membentang luas di pinggiran Bumi Sukowati. Di ufuk timur, siluet Gunung Lawu tampak gagah menjulang, dibingkai oleh semburat jingga yang perlahan mengusir pekatnya malam. Di teras sebuah rumah berdinding separuh bata yang sederhana, seorang pemuda bernama Arga menunduk takzim. Ia mencium punggung tangan kedua orang tuanya lekat-lekat, menyerap kehangatan yang selama ini membesarkannya.

Sayup-sayup lantunan ayat suci Al-Qur'an dari radio tua di dalam rumah mengiringi momen perpisahan pagi itu. Hari ini, Arga akan memulai fase baru dalam hidupnya. Sebelum ia melangkah keluar dari pagar kayu rumahnya, sang ayah menepuk pundaknya pelan, sementara ibunya mengusap air mata yang menitik di sudut mata. Arga meresapi setiap bait doa Ayah Ibu—sebuah untaian doa tulus agar putranya senantiasa dijaga oleh Allah, dihindarkan dari fitnah dunia, dan diberkahi setiap langkah ikhtiarnya. Doa itu menjadi bekal utama, jauh lebih berharga dari sekadar uang saku di dompetnya. Hari itu, dunia terasa begitu luas dan penuh misteri, namun Arga melangkah dengan keyakinan penuh bahwa rida Tuhannya senantiasa bersemayam pada rida kedua orang tuanya.

Masa muda Arga di Kabupaten Sragen adalah kanvas yang diwarnai dengan kesederhanaan dan kebersamaan. Langkah kakinya sering membawanya ke pusat kota, terutama selepas menunaikan jamaah Isya di Masjid Raya Al Falah. Duduk di serambi masjid bersama kawan-kawan remajanya, mereka kerap berdiskusi tentang agama, masa depan, hingga hal-hal ringan khas anak muda. Setelahnya, mereka akan berjalan kaki menuju keramaian kota.

Di bawah pendar lampu kekuningan Alun-Alun Sasana Langen Putro, tawa sering kali pecah di antara kepulan asap teh hangat dari gerobak angkringan langganan mereka. Bersama sahabat-sahabatnya, Arga kerap bersenja gurau, merayakan kebebasan masa muda dengan obrolan ringan yang tetap terjaga batasannya. Mereka membahas cita-cita, rencana merantau, dan harapan-harapan yang melangit.

Namun, di antara keriuhan dan wajah-wajah ceria di bawah tenda terpal angkringan itu, pandangan Arga kerap terpaku pada satu sosok. Kirana. Seorang gadis dengan jilbab kain yang selalu terulur rapi menutupi dada, yang senyum simpulnya selalu berhasil menghentikan rotasi bumi di dalam dada Arga. Kirana bukanlah gadis yang banyak bicara; tawanya tertahan, dan pandangannya selalu dijaga. Namun, justru keanggunan akhlak itulah yang membuat Arga luluh.

Sadar bahwa cinta sebelum waktunya bisa menjadi pintu fitnah, Arga sekuat tenaga menundukkan pandangannya. Ia menjaga hatinya dari kemaksiatan, memilih menepi dari rayuan untuk sekadar bertegur sapa tanpa keperluan. Sebagai gantinya, ia diam-diam merapal nama Kirana di atas sajadahnya, merintih di setiap sujud sepertiga malamnya. Dalam keheningan tahajud, Arga memelihara harapan puitis, memohon kepada Sang Pemilik Hati agar suatu hari nanti, jika memang berjodoh, ia diberi kesiapan untuk menghalalkan gadis itu.

Tahun berganti, dan keberanian itu akhirnya terkumpul. Dengan niat yang lurus, Arga memberanikan diri menemui Kirana usai sebuah kajian pemuda di masjid, ditemani oleh salah satu sahabat Arga sebagai perantara agar tidak berdua-duaan. Dengan suara gemetar namun penuh kesungguhan, Arga mengutarakan niat baiknya untuk mengkhitbah Kirana setelah mereka lulus nanti.

Namun, takdir Allah memiliki ketetapan yang tak selalu selaras dengan keinginan hamba-Nya. Kirana menunduk dalam, jari-jarinya bertaut cemas. Dengan suara bergetar namun tegas, terucaplah sebuah penolakan yang halus nan sopan. Kirana menjelaskan bahwa ia ingin fokus pada baktinya kepada keluarga yang sedang kesulitan ekonomi, serta mengejar pendidikannya tanpa terikat janji dengan siapa pun. Ia memilih untuk menjaga hati, mengunci takdir cinta pertama Arga dalam batas sewates konco. Tidak ada amarah malam itu, hanya ada keheningan menusuk yang menyelimuti pelataran masjid. Arga memaksakan senyum, mengangguk hormat, dan menyadari sepenuh hati bahwa Qadarullah, tidak semua hal yang diaminkan dengan deras di bumi akan dikabulkan sama persis oleh penduduk langit.

Menyimpan rasa ini di sebuah kota sekecil Sragen adalah ujian batin yang teramat berat. Setiap sudut kota—dari jalan raya Sukowati yang rindang, perpustakaan daerah tempat mereka kadang tak sengaja bertemu, hingga serambi Masjid Al Falah tempat mereka dulu sering mengaji di majelis yang sama—seolah menjelma menjadi ruang kenangan yang kejam. Luka itu menganga tanpa suara. Arga memperbanyak zikir saat dadanya terasa sesak. Ia harus belajar menahan kebas, menunduk, dan beristighfar dalam hati setiap kali tak sengaja berpapasan dengan gadis itu di jalanan kota. Perang terbesarnya kini adalah melawan rasa kecewa pada takdir.

Waktu terus bergulir tanpa belas kasihan hingga masa perpisahan itu benar-benar tiba. Ujian sekolah usai, dan kelulusan mengepak cerita masa muda mereka ke arah yang berbeda-beda. Kirana akhirnya merantau jauh ke Semarang untuk kuliah sambil bekerja, disusul oleh sahabat-sahabat Arga yang lain yang menyebar ke Jogja, Solo, hingga Jakarta.

Tiba-tiba saja, kota ini tak sama tanpamu. Sragen mendadak menjadi kota yang sangat sunyi dan menyisakan ruang hampa di dada Arga. Angkringan di alun-alun tak lagi terasa hangat, dan jalanan kota di malam hari hanya memantulkan rasa sepi. Sadar bahwa ia tidak boleh terus meratapi takdir dan terbelenggu oleh masa lalu, Arga akhirnya memutuskan untuk pergi. Berbekal tawakal, doa restu ibunya, dan selembar tiket kereta kelas ekonomi, Arga melangkah menuju Jakarta.

Ia bertekad menaklukkan kerasnya dunia yang nanti menunggunya di ibu kota. Di tanah rantau yang serba cepat, asing, dan penuh dengan fitnah dunia, Arga bekerja keras dari bawah. Mulai dari menjadi pegawai magang hingga perlahan membangun karirnya sendiri. Ia menjadikan kerja kerasnya memeras keringat di ibu kota sebagai bentuk ibadah dan pembuktian bahwa doa orang tuanya tidak pernah sia-sia. Di saat yang sama, ia memohon pada Allah, Sang Maha Membolak-balikkan Hati, untuk menyembuhkan lukanya secara sempurna. Ia menukar rasa lelahnya dengan bentangan sajadah di kamar kosnya yang sempit, merengkuh ketangguhan yang perlahan mendewasakannya.

Di tengah perjuangannya menjaga ikhtiar dan iman di tengah kerasnya Jakarta itulah, Allah menghadirkan jawaban yang jauh lebih indah dari apa yang pernah Arga minta di masa lalu. Melalui perantara Ustadz Hasyim, guru ngajinya di majelis taklim ibu kota, Arga diperkenalkan dengan seorang perempuan. Ia memulai proses ta'aruf yang syar'i dengan Naya—seorang perempuan salihah keturunan Jawa yang menetap di Jakarta.

Naya adalah sosok yang teduh. Kelembutan tutur katanya, kedalaman ilmu agamanya, dan kesederhanaannya seketika menyejukkan hati Arga yang selama ini keras oleh tempaan hidup. Naya hadir bukan sebagai pelarian atas luka masa lalu, melainkan sebagai penyempurna separuh agama yang memang telah Allah persiapkan di waktu yang paling tepat. Setelah proses ta'aruf dan khitbah yang dimudahkan, mereka melangsungkan pernikahan. Dengan terucapnya kalimat qobiltu di hadapan penghulu, Arga akhirnya merasakan anugerah terbesar: bagaimana indahnya mencintai dan dicintai karena Allah dalam ikatan pernikahan yang suci dan penuh keberkahan. Bersama Naya, ia menemukan definisi cinta yang sebenarnya—cinta yang tidak membuat dada sesak oleh kecemasan, melainkan menenangkan jiwa.

Bertahun-tahun berlalu. Setelah Allah mencukupkan rezeki mereka di tanah rantau dan mengaruniakan buah hati, hiruk-pikuk ibu kota mulai terasa melelahkan. Arga merindukan ketenangan batin. Dengan kesepakatan bersama sang istri, Arga memutuskan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya, Sragen. Kali ini, ia tak lagi datang sebagai pemuda nestapa yang hatinya hancur, melainkan sebagai seorang ayah dan imam yang tangguh bagi keluarga kecilnya.

Sore itu, di bawah langit Bumi Sukowati yang mulai merona jingga, suasana terasa begitu syahdu. Selepas menunaikan salat Asar berjamaah bersama istri dan anaknya, Arga duduk bersandar di kursi rotan di teras rumah mereka yang asri, dikelilingi rimbunnya tanaman hias peliharaan Naya. Angin sore meniup pelan ujung pashmina Naya saat wanita itu berjalan menghampirinya, tersenyum sembari menghidangkan nampan berisi teh hangat dan singkong rebus.

Arga menerima cangkir itu, lalu menatap lekat mata Naya. Dalam keheningan yang damai, diiringi sayup-sayup tilawah Al-Qur'an dari surau terdekat yang bersahutan dengan kicauan burung gereja, Arga menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Di sana, di kota kecil tempat segala luka, perpisahan, dan pendewasaannya bermula, Arga bersyukur tiada henti pada Ilahi. Kepahitan masa lalunya telah luruh, digantikan oleh kebahagiaan yang hakiki. Ia menatap Naya yang tersipu malu, lalu tersenyum, menyadari sepenuhnya bahwa nanti kita seperti ini—merajut sakinah, mawaddah, warahmah, menjaga ketaatan bersama, dan menua dalam ketenangan Sragen, berpegangan tangan hingga kelak melangkah bersama memasuki surga-Nya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
KEMBALI KE SUKOWATI
FARHAN AGIL TRISNANSYAH
Novel
Gold
Geigi
Bentang Pustaka
Flash
POSESSIVE ARVIN
natasya03_
Novel
MENEPI
Rina Purwanti
Novel
Bunga Kembang Sepatu
Ratselini
Flash
Bronze
Tentang Dia
Gabriella Gunatyas
Novel
Kylie (Secret Of Love)
Julieta Syakur
Novel
Gold
The Other Side
Mizan Publishing
Novel
Milikku Seorang
Amrullah Ibrahim
Novel
Bronze
Musim Dingin di Izmir
Diana Dia
Novel
Gold
Song in the Wind
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Arjuna dan Kirana
Mizan Publishing
Novel
Sea
Rakhmah Wahidatunnisa
Flash
Titik Nadir
Lisnawati
Novel
Jarak Dan Waktu
Seruputankopi
Rekomendasi
Cerpen
KEMBALI KE SUKOWATI
FARHAN AGIL TRISNANSYAH