Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Horor
Bronze
Kematian Di Tanah Rawa
1
Suka
6,681
Dibaca

Reno, Vina, Andi, dan Dewi berdiri di gerbang pendakian Gunung Rawa. Udara dingin dan segar mengisi paru-paru mereka, mengusir sisa-sisa kantuk dari perjalanan dini hari. Di tangan Reno, tergenggam erat sebuah peta lusuh yang sudah menguning—warisan dari kakeknya, seorang pendaki legendaris yang konon pernah menjelajahi setiap jengkal pegunungan ini. Peta itu adalah kunci menuju Curug Seribu, air terjun mitos yang dijaga oleh arwah kuno.

“Serius, cuma pake peta ini?” tanya Dewi, suaranya terdengar cemas. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya, mungkin bukan karena dingin, tapi karena keraguan yang mulai merayap. “Kata orang, gunung ini angker banget.”

Andi tertawa, mencoba mencairkan suasana. “Angker-angkeran apaan sih? Itu cuma cerita buat nakut-nakutin. Kita kan mau cari air terjun, bukan hantu.”

Vina menatap Reno, matanya memancarkan kepercayaan penuh. “Tenang, Dewi. Reno tahu apa yang dia lakukan. Kita aman kok.”

Reno tersenyum, mengangguk yakin. “Ini petanya kakek. Dia bilang, Curug Seribu itu tempat paling indah yang pernah dia lihat. Kita harus ke sana.”

Mereka pun memulai langkah, menyusuri jalan setapak yang mulanya jelas dan lebar. Pohon-pohon menjulang tinggi, menaungi mereka dari terik matahari. Suara alam berpadu harmonis: kicauan burung, gemericik air sungai, dan gesekan daun-daun kering yang terinjak. Semangat petualangan membara, mengalahkan sedikit rasa takut yang mungkin ada. Reno memimpin di depan, dengan Vina tepat di belakangnya. Andi dan Dewi menyusul di belakang, mengobrol ringan.

Seiring waktu, jalan setapak mulai mengecil dan vegetasi semakin lebat. Andi, yang biasanya paling ceria, mulai menjadi pendiam. Beberapa kali, matanya melirik ke balik pohon-pohon besar, seolah-olah ada sesuatu yang mengawasinya.

“Di sana itu apa?” gumam Andi, menunjuk ke arah semak-semak. “Kayak ada yang lewat.”

Dewi menoleh, matanya melebar. “Mana? Jangan nakut-nakutin!”

Andi menggeleng. “Nggak, bukan nakut-nakutin. Gue beneran lihat. Kayak bayangan hitam.”

Reno dan Vina menoleh. “Mungkin itu cuma monyet atau binatang lain, Ndin,” kata Vina, mencoba menenangkan.

Namun, Andi menggeleng lagi. Ia mengendus udara, keningnya berkerut. “Kalian nyium bau busuk nggak? Bau bangkai, tapi aneh.”

Reno mengabaikannya, terlalu fokus dengan peta di tangannya. “Nggak, gue nggak ci...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp10.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Bronze
Kematian Di Tanah Rawa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pemakaman Jhon Mortonson karta Ambrose Bierce penerjemah : ahmad muhaimin
Ahmad Muhaimin
Flash
Jalan Setapak
Bima Kagumi
Novel
MISTERI RUMAH BAMBU DI BUKIT WINGIT
Embart nugroho
Flash
Beban
Andre Borneo
Novel
DENTING
Denting Project
Cerpen
Bronze
Kultus Sebuah Lagu
Christian Shonda Benyamin
Skrip Film
BONGKAH
Aisyah
Novel
Bronze
MARAKAYANGAN: Yang Tertolak Dua Dunia
Trippleju
Cerpen
Menjadi Tua, Lalu Luka
Fazil Abdullah
Cerpen
Bronze
MANGSA PERTAMA
Darryllah Itoe
Novel
Lenggak Tak Berkelok
Mahina 'Ai
Novel
Gold
The Motion of Puppets
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Aku Wis Tekan.
Rere Valencia
Skrip Film
lius cek request
John Doex
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kematian Di Tanah Rawa
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kultus Sebuah Lagu
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Ruko Terlarang
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Pintu Retak
Christian Shonda Benyamin
Novel
Bronze
Di Balik Tirai
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Retha
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Elara
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Galeri Lukisan Oscar
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Indigo
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Sisi Lain
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Bus Senja
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Perawat Siska
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Aku Bersama Mereka
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kacamata Paman
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Kaca Retak
Christian Shonda Benyamin