Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Romantis
KEMARIN KITA BERJANJI
0
Suka
24
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suara suara mesin jahit yang berdesir khas mengisi ruangan kecil yang penuh dengan kain dan benang di lantai bawah rumah dua lantai itu. Ibu Dewi duduk dengan fokus di depan mesin jahit tua yang telah mewarisi dari ibunya, menjahit seragam sekolah yang dipesan oleh tetangga sekitar. Di mejanya, tumpukan kain putih dan biru muda menunggu untuk dijahit, sementara di sudut ruangan, empat anaknya sedang bermain dengan mainan yang dibuat dari barang bekas—bola dari tali anyaman, boneka dari kain lusinan, dan mobil dari kaleng bekas.

Kondisi keluarga mereka tidak pernah mudah. Setelah suaminya pergi tanpa kabar tiga tahun yang lalu, Ibu Dewi harus bekerja sendirian untuk mencukupi kebutuhan lima orang mulut. Selain menjahit seragam sekolah, dia juga menjahit baju dan kain untuk orang di sekitar desa dengan upah yang sangat minim. Kadang-kadang mereka harus makan hanya sekali sehari, dan anak-anaknya seringkali tidak bisa membeli buku atau alat tulis yang dibutuhkan untuk sekolah.

Namun, Ibu Dewi selalu menemukan cara untuk membuat anak-anaknya bahagia. Setiap malam sebelum tidur, dia akan menceritakan cerita tentang kebaikan dan kerja keras, serta selalu mengingatkan anak-anaknya untuk selalu membantu orang lain yang sedang kesusahan. "Kita mungkin tidak punya banyak uang," ucapnya setiap kali, "tapi kita memiliki hati yang bisa memberikan cinta dan bantuan kepada orang lain. Itulah kekayaan yang paling berharga."

Pada suatu hari hujan yang deras, seorang lelaki tua dengan jas hujan yang sobek datang ke rumah mereka meminta tempat berteduh. Ibu Dewi dengan senang hati membiarkannya masuk, memberikan dia teh hangat dan makanan sederhana yang ada di rumah. Lelaki tua itu yang bernama Pak Suroto ternyata adalah seorang pedagang kain yang sedang dalam perjalanan ke kota terdekat sebelum hujan membuatnya terpaksa berhenti.

Selama dia berada di rumah mereka, Pak Suroto melihat bagaimana Ibu Dewi bekerja dengan sangat terampil dan penuh cinta pada setiap jahitan yang dia buat. Dia juga melihat bagaimana anak-anak Ibu Dewi bersikap ramah dan membantu satu sama lain tanpa pernah mengeluh tentang kondisi hidup mereka yang sederhana. Ketika dia bertanya mengapa Ibu Dewi tetap bersikap baik dan membantu orang lain meskipun hidupnya sendiri sangat sulit, Ibu Dewi hanya tersenyum dan berkata:

"Kemarin ada seseorang yang sangat penting bagiku yang berkata padaku—'Jika kita hanya memberikan kebaikan ketika kita memiliki banyak hal, maka itu bukan kebaikan yang tulus. Kebaikan sejati adalah ketika kita masih mau memberikan apa yang kita punya meskipun kita sendiri sedang kesusahan.' Itu adalah janji yang pernah aku buat dengannya, dan aku akan selalu menepatinya."

Pak Suroto merasa sangat tersentuh dengan kata-kata dan sikap Ibu Dewi. Sebelum dia pergi ketika hujan reda, dia memberikan Ibu Dewi selembar kain katun berkualitas tinggi yang masih tersisa dari dagangannya, bersama dengan beberapa pola jahitan yang lebih modern. "Ini adalah hadiah dari aku untuk kamu," ucapnya. "Gunakan kain ini untuk membuat sesuatu yang kamu inginkan. Dan ingat, kebaikan yang kamu berikan akan selalu kembali padamu dengan cara yang tidak terduga."

Beberapa hari kemudian, Ibu Dewi memutuskan untuk menggunakan kain itu untuk membuat gaun pesta yang cantik untuk anak perempuannya yang paling besar, Rina. Rina akan menghadiri acara wisuda akhir tahun sekolah dan sangat menginginkan memiliki gaun yang cantik seperti teman-temannya. Meskipun dia tahu bahwa menjual kain itu akan memberikan uang yang cukup untuk membeli makanan selama beberapa minggu, Ibu Dewi merasa bahwa kebahagiaan anaknya jauh lebih berharga.

Selama seminggu, Ibu Dewi bekerja dengan sangat giat untuk menyelesaikan gaun itu. Anak-anaknya membantu dengan cara mereka sendiri—membawa air, menjepit kain, atau hanya duduk di samping ibunya sambil memberikan dukungan sembari belajar mengaji dari buku bekas yang mereka miliki. Pada hari sebelum acara wisuda, gaun itu akhirnya selesai dengan hasil yang lebih cantik dari yang diharapkan.

Pada hari acara wisuda, Rina mengenakan gaun itu dengan bangga dan merasa seperti seorang putri. Banyak teman sekelasnya yang kagum dengan keindahan gaunnya dan bertanya di mana dia membelinya. Ketika Rina memberitahu mereka bahwa gaun itu dibuat oleh ibunya sendiri, salah satu teman sekelasnya yang ayahnya adalah pemilik perusahaan tekstil besar mengundangnya untuk datang ke pameran busana yang akan diadakan di kota minggu depan.

"Ayahku selalu mencari desainer muda yang berbakat," ucap teman sekelasnya, Maya. "Jika kamu mau menunjukkan gaun yang dibuat ibumu pada dia, mungkin dia akan memberikan kesempatan baginya untuk bekerja di perusahaan kami atau bahkan memproduksi desainnya."

Ibu Dewi merasa sangat terkejut ketika mendengarnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa gaun yang dia buat dengan cinta untuk anaknya bisa membawa kesempatan yang begitu besar. Pada hari pameran, dia datang bersama Rina dan membawa beberapa karya jahitannya yang lain. Ketika pemilik perusahaan tekstil itu melihat karya-karyanya, dia langsung terkesan dengan keahlian dan kreativitasnya yang luar biasa.

"Saya ingin bekerja sama dengan Anda," ucap pria itu dengan tegas. "Kami akan memberikan Anda mesin jahit baru, bahan berkualitas tinggi, dan akan menjual produk Anda di toko-toko kami. Anda juga akan mendapatkan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan Anda dan bisa mengajarkan keterampilan jahit kepada orang lain di desa Anda."

Kesempatan ini mengubah hidup keluarga Ibu Dewi secara drastis. Tidak hanya mereka bisa hidup dengan lebih nyaman, tetapi Ibu Dewi juga bisa membantu banyak orang lain di desa dengan membuka kelas pelatihan jahit bagi wanita yang tidak punya pekerjaan. Dalam waktu singkat, banyak wanita di desa bisa mendapatkan keterampilan baru dan bisa menghasilkan uang sendiri untuk membantu keluarga mereka.

Beberapa bulan kemudian, ketika Ibu Dewi sedang bekerja di ruang kerja yang baru dibuat untuknya, dia menerima kunjungan dari Pak Suroto yang sudah dia tidak lihat sejak hari hujan itu. Lelaki tua itu membawa kabar bahwa suami Ibu Dewi yang pergi tanpa kabar ternyata tidak pergi dengan sengaja—dia mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatan selama beberapa tahun, baru saja bisa kembali sadar dan mencari keluarga nya.

Ketika suaminya akhirnya tiba di rumah mereka, seluruh keluarga menangis bahagia dan saling memeluk erat-erat. Suaminya yang kini sudah pulih kembali memberitahu mereka bahwa selama dia hilang, ada banyak orang yang telah membantunya tanpa pamrih—memberikan makanan, tempat tinggal, dan membantu dia mendapatkan pengobatan yang dibutuhkan.

"Itu adalah balasan dari kebaikan yang kamu berikan kepada orang lain selama ini," ucap Pak Suroto dengan senyum hangat. "Kemarin kamu berjanji untuk selalu memberikan kebaikan meskipun dalam kesusahan, dan sekarang kebaikan itu sudah kembali padamu dengan cara yang paling indah."

Ibu Dewi meraih tangan suaminya dengan lembut dan melihat ke arah anak-anaknya yang sedang bermain bahagia di sekitar mereka. Dia tahu bahwa hidup mereka tidak akan selalu mudah, tapi dia juga tahu bahwa dengan cinta, kerja keras, dan kesediaan untuk membantu orang lain, mereka akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada di depan.

Setiap malam setelah itu, Ibu Dewi akan mengumpulkan keluarga nya dan mengingatkan mereka pada janji yang pernah dibuatnya. "Kemarin kita berjanji untuk selalu memberikan kebaikan kepada orang lain," katanya setiap kali. "Dan kita akan selalu menepati janji itu, karena itu adalah cara kita untuk menunjukkan rasa syukur atas semua yang telah kita terima dan cara kita untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik bagi semua orang."

Sekarang, kelas pelatihan jahit yang dia dirikan telah berkembang menjadi sebuah usaha kecil yang memberdayakan puluhan wanita di desa dan sekitarnya. Anak-anaknya juga tumbuh menjadi orang-orang yang baik hati dan selalu siap membantu orang lain yang sedang kesusahan. Mereka semua tahu bahwa kebaikan yang diberikan dengan hati yang tulus tidak akan pernah sia-sia—ia akan selalu kembali dengan cara yang tidak terduga dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Cerpen
KEMARIN KITA BERJANJI
Lukitokarya
Novel
Sajak Cinta Terakhir
Widhi ibrahim
Flash
Bronze
Tak Ingin Menulis Lagi Tentang Dia
Anjrah Lelono Broto
Cerpen
Bucin Tanpa Nama
Kingdenie
Novel
SELEGRAM CANTIK DENGAN SERIBU WAJAH
brielle athalia
Novel
Gold
Reverse
Falcon Publishing
Novel
"SELEGRAM CANTIK SERIBU WAJAH"
brielle athalia
Novel
Love Me Later
Sukma Gayatri Dewi
Skrip Film
Me, You, and Him
Asti Pravitasari
Novel
Cahaya di Ujung Pantura
Fatmawati
Novel
Bronze
Menghitung Hari Dalam Isolasi
Rahellya
Flash
Pulang
Dara Oct
Novel
SEMPITERNAL
Anas stasia paskalina sufi mangu
Novel
Bronze
Kita Kehilangan Cara Untuk Melupa
Ningrati Sumarto
Novel
Bronze
Me and this Pandemic
Eunike Mariyani
Rekomendasi
Cerpen
KEMARIN KITA BERJANJI
Lukitokarya
Cerpen
Sebuah Catatan Galau
Lukitokarya
Flash
Debu cinta di barang antik ,strategi hati yang terencana
Lukitokarya
Cerpen
KACA BOLONG DI ATAS MEJA
Lukitokarya
Cerpen
JALAN PANJANG UNTUK KEBAIKAN
Lukitokarya
Flash
Simfoni Bunga Es di Istana Kristal
Lukitokarya
Flash
Cubitan Manja Sang Primadona
Lukitokarya
Cerpen
Senandung Patah Hati di Kedai Kopi Senja
Lukitokarya
Flash
Jejak Waktu di Balik Lensa
Lukitokarya
Flash
bisikan hati di balik topeng
Lukitokarya
Flash
Kisah di Balik Kedai Kopi Usang
Lukitokarya
Cerpen
Harmoni di Balik Pagar
Lukitokarya
Cerpen
Bayang-Bayang Masa Lalu
Lukitokarya
Cerpen
Aroma Kayu Manis di November Kelabu
Lukitokarya
Flash
Cahaya memudar di lantai
Lukitokarya