Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Kelokan Terakhir
2
Suka
14
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Bertepian aliran sungai disana, terdapat rumah-rumah berjejer tidak beraturan, di rumah-rumah itu DIA hidup bersama-sama, sama yang lainnya.

Di dalam rumah-rumah itu terdapat mereka yang hidup pula mereka yang dikenang manusia-manusia lain, diantara manusia-manusia itu terdapat mereka yang memiliki keluarga-keluarga.

Dia juga memiliki keluarga-keluarga, dari dia untuk keluarga dia bisa hidup. Dia tidak kaya raya, tidak pula melarat hidupnya, dia bernaung di bawah atapnya, dibalik dinding kamar nya, hanya dia seorang tersisa. Dia terbangun dari tidurnya, meski ufuk telah beranjak naik, dia bangkit dari kasurnya, duduk dengan kantuknya, termenung menatap sekitar. Istrinya sudah tidak ada, anaknya sudah tidak ada, handphonenya masih ada, masih tersambung dengan kabel charger.

Masih dengan kantuknya dia berjalan keluar kamarnya, melihat istrinya memangku anaknya, istrinya masihlah hidup, anaknya tak pula sakit.

“Azizah kenapa kamu tidak membangunkanku?” Dia masih mengusap matanya. “Aku sudah melakukannya, papa saja yang tidur seperti kebo,” sambil menyisir rambut anaknya. “Iya ibu sudah membangunkan ayah, tapi ayah masih saja ngorok,” sela anaknya dengan senyumnya. “Tuh Lena aja tahu, lagipula kamu kan libur hari ini, jadi tidak masalah bukan? Papa kan capek kerja, jadi hari ini tidak apa-apa kesiangan,” lalu ibu memasangkan jepit rambut untuk Lena. Dengan demikian dia sudah tidak memiliki argumen apapun untuk menjawabnya. “Ya sudahlah aku mau mandi dulu,” kemudian dia pergi ke kamar mandi, suara air terdengar byar-byur tak lupa dengan suara batuk berdahak yang khas.

Dari pelataran rumahnya, suara terdengar. “Ibu Ayah aku pergi bermain ya,” berkata sambil berlari menjauh, rambutnya sudah tersisir rapi, berhias jepit rambut stroberi. “Iya hati-hati, jangan lama-lama mainnya.” Ibu melambaikan tangannya, menjawab lambaian tangan Lena. Ayah tidak menjawab, mungkin tidak mendengar, sebab air byar-byur masih terdengar yang kemudian berhenti. “Azizah, ambilkan handukku,” suara dia menggema-gema di dalam kamar mandi. “keluar saja seperti itu, kek dirumah orang lain saja, lagipula Lena sudah pergi,” canda istrinya, “tak usah malu-malu”, sahut istrinya sekali lagi dengan menahan tawanya.

“Aku masih manusia beradab Azizah, kenapa kamu menyuruh suami mu menanggalkan rasa malunya,” dia mengusap wajahnya yang masih basah, dia berpikiran Azizah masih sama, masih jahil seperti masa sekolah. suara langkah kaki terdengar, ditemani suara tawa Azizah dengan handuk ditangannya mendekati kamar mandi. “Ini aku taruh di gagang pintu depan,” (depan kamar mandi), namun Azizah tidak mengatakan dengan lengkap, suaminya terdiam sejenak. “Pintu depan? Aku kan di kamar mandi, kenapa kamu taruh handukku di pintu depan?” Kali ini Azizah ikut terdiam, diamnya lebih lama, Azizah hanya bercanda namun suaminya benar-benar percaya, Azizah kembali tersenyum, sebab suaminya masih sama seperti masa sekolah dahulu. “Ya ampun, sudah ah aku mau pergi ke pasar dulu,” derap langkah kaki menjauh dari kamar mandi, menyisakan suara tetesan air.

Suara pintu tertutup, disambut suara motor terdengar, melaju, menjauh, hingga suaranya tak terdengar lagi. Hanya tersisa dirinya seorang, di dalam kamar mandi, kedinginan. Dia memberanikan dirinya, untuk pertama kalinya, dengan tekad bulatnya, sebulat-bulat perutnya. Dia membuka pintu kamar mandi, handuk terjatuh dari gagang pintu depan kamar mandi, dia baru mengerti apa maksud istrinya. Dia tersenyum kecil, mengambil handuknya, menyarungkan pada pinggangnya, beranjak dari kamar mandi.

Seakan dia tiada, ucapan tak terucap, candaan tak keluar, dia diam, masih diam, dia berjalan menuju kamar tidur dalam diam.

Di kamar melepas handuknya, memakai pakaian.

Berjalan ke dapur, meminum air.

Berjalan ke depan, membuka pintu.

Duduk di teras, menatap halaman.

Di halaman, seekor ayam berlalu-lalang.

Dalam diamnya dia merenung, renungannya tiada tahu, apakah tentang istrinya, anaknya, atau mungkin ayamnya. Ayamnya pun sudah tiada, sudah menjadi gulai ayam 2 bulan lalu, dihari ulang tahun istrinya. Dia menatap ayam berlalu-lalang, dia mengenal ayam itu—ayam pak Joko—masihlah hidup. Ayam itu mengais tanah sembari mematuk. “Apa dia dapat perintah dari Pak Joko? Cuman buat pamer ayamnya masih hidup,” dia menatap tajam ayam Pak Joko, seakan ayam itu sadar, ayam tersebut berlari menjauh, rasa bosan kini kembali menghantui. “Harusnya aku ikut Azizah saja,” ucap dia sambil berdiri.

Setelah berdiri dia memutuskan untuk berjalan, hanya sekedar jalan-jalan. Meski sedikit berharap jalan-jalannya bisa menurunkan sedikit berat badannya, berat badannya 86 kg cukup untuk daftar sumo. Dia berjalan dengan pipi tembamnya sedikit memantul, keluar dari lorong rumahnya berkelok kiri, pemandangan aliran sungai menyambutnya. Dia berjalan di pinggir sungai, di dalam sungai ikan berenang, melompat, menciptakan gemericik air.

Dia masih berjalan di pinggir-pinggir sungai, di sisinya terdapat toko-toko berdiri, salah satu toko kelontong pinggir sungai itu, terpampang spanduk biru bertuliskan toko ibu hamil. “Toko ibu hamil masih terbaca lucu, pemilik toko itu adalah Pak Roni, terkadang aku ingin bertanya filosofi dibalik nama tersebut,” dia kemudian melewati toko kelontong dengan spanduk biru.

Setelah beberapa toko dia lewati, terduduk kulit keriput yang gemar menyapa. “Nak Jerome mau kemana?” Tegur lelaki tua itu. “Biasa mbah dari toko, habis beli kuota, mari Mbah aku pulang dulu,” jawab pemuda itu yang berjalan dari arah berlawanan, pemuda itu mengangguk ringan ke dia—dia hanya tersenyum. “Kalau Iwan mau kemana?” Tegur lelaki tua itu. “Ke depan Mbah, mau sarapan, Mbah sudah sarapan?” Kata Iwan, sambil melirik batu akik lelaki tua itu. “Sudah, Mbah sudah sarapan, ini sedang menikmati kopi,” kata lelaki tua itu.

Iwan masih melirik batu akik lelaki tua itu, akik hijau besar berkilau melingkari jarinya yang usang, Iwan ingin menawarnya, namun wajah seram istrinya terlintas di benaknya, Iwan pun mengurungkan niatnya.

“Saya lanjut dulu Mbah”, kata Iwan. “Tidak duduk dulu? Nanti Mbah suruh cucu Mbah buatkan kopi untuk Iwan,” kata lelaki tua. Iwan hanya menggelengkan kepalanya. “Makasih Mbah, mungkin lain hari,” Iwan hanya mengatakan itu, meski benaknya sempat ingin nyeletuk (jika Mbah masih hidup sih). Namun Iwan masih menahan dirinya, karena tak semua orang bisa menerima candaannya. “Ya sudah, nanti kalau ada waktu, temenin Mbah berbincang,” kata lelaki tua. “Iya Mbah aman,” kata Iwan sembari melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.

Dia melanjutkan jalan-jalan paginya, di depan sana terdapat beberapa kelokan. Dia berjalan di kelokan pertama, suara sungai kian menipis.

Di kelokan kedua, suara sungai telah hilang sepenuhnya.

Dan kelokan terakhir, batagor Haji Mansyur terlihat.

Dia masuk ke warung batagor Haji Mansyur. “Pak Haji mau makan,” kata Iwan. “Mau pesan apa nih Pak Iwan,” kata Pak Haji dari balik sekat. “Hm.. batagor 2 piring, pangsit 4, sama dimsum 6 itu saja Pak Haji, sedikit saja,” kata Iwan setengah bercanda. “hahaha iya nih tumben sedikit, lagi diet ya Pak Iwan?” Kata Pak Haji sembari mengelap piring. Pak Iwan hanya tersenyum ringan, kemudian duduk menunggu pesanannya tiba.

Aroma kacang terhembus angin pagi, mengelilingi warung batagor Haji Mansyur. Dia terduduk disana menatap udara kosong, hingga 6 menit berlalu, hidangan satu persatu tersaji, piring berjejer rapi di mejanya. “Silahkan dimakan Pak Iwan,” kata Pak Haji sembari menaruh piring terakhir. Pak Iwan mengambil sendok dan garpu yang berada di ujung meja. “Pasti dimakanlah Pak Haji, kalau tidak dimakan, masa saya pesan,” kata Pak Iwan yang segera disambut tawa keduanya, kedua bapak-bapak itu menganggap itu lucu.

Dia menikmati setiap sendok batagornya yang kian berkurang, dimsumnya dicelupkan ke saus kacang lalu menyantapnya dengan pangsit. Beberapa suapan berlalu, Pak Haji kemudian nyeletuk. “Pak Iwan aku dapat kabar, sampeyan sudah tahu belum?” Kata Pak Haji. “Kabar apa pak haji? Aku baru bangun belum buka handphone,” kata Pak Iwan. “Itu Pak Rudi yang kerja di pabrik tekstil,” kata Pak Haji. “emang si Rudi kenapa pak?” Kata Pak Iwan sembari menyuap dimsumnya yang terakhir. “Dia meninggal dunia subuh tadi,” kata Pak Haji dengan raut wajah iba. Pak Iwan menaruh sendoknya, meminum segelas air, lalu membayar makanannya. Pak Iwan segera beranjak dari sana tanpa menerima kembalian, meski Pak Haji berulang kali memanggilnya.

Dia berjalan menatap lurus ke depan. “Jadi dia mati lebih dulu kah,” gumam dia. Dia tidak merasa sedih tidak pula kehilangan, lagipula orang-orang memang mati semudah itu, hanya ada rasa kosong yang kini merambat dari dalam melemahkan geraknya. Dia baru saja menerima kabar, seandainya dia bangun lebih cepat, seandainya dia membuka handphonenya, mungkin dia akan mendengar kabar lebih cepat, lalu datang untuk melihat jasad sahabatnya, memberikan perpisahan terakhir yang tak berlangsung lama itu, dan ikut menguburkannya.

Pertemuan dia dengan Rudi terjadi 3 hari lalu, mereka duduk dengan sahabatnya yang tersisa, membicarakan hal-hal besar yang tidak mungkin bisa mereka capai. Namun itu tetaplah berharga meski tidak terlalu berarti, topik silih berganti dari hal-hal besar ke hal-hal kecil. Saat itu Rudi duduk di sampingnya dengan rokok diantara jarinya, membicarakan tentang anaknya yang baru masuk sekolah.

Kini dia berjalan dijalan yang sama tidak ada yang berubah.

Kelokan pertama, dia meninggalkan warung haji Mansyur.

Kelokan kedua, dia mengingat dia yang telah mati. “Rudi bin Paijo hutangmu belum kau bayarkan, jaketku yang dulu kau pinjam belum kau kembalikan, namun. Karena aku sahabatmu, aku relakan itu,” bisik kecil dia sembari mengenang.

Kini di kelokan terakhir suara sungai kembali terdengar, disertai suara kecil yang mengobrol dengan suara kecil lainnya, salah satu suara kecil itu meminta pamit dengan suara kecil lainnya, dan dia mengenal salah satu dari mereka.

Ketika dia keluar dari kelokan terakhir, suara kecil itu memanggilnya sembari berlari dengan suara sendal jepit yang terdengar. “Ayah… Ayah darimana?” Kata suara kecil itu sembari memeluk kakinya. Dia menoleh, menundukkan kepalanya. “Lena kamu sudah selesai main?” Kata Ayah lalu menggendong putri kecilnya. Sebelum Lena menjawab, Lena menyadari sesuatu yang tidak disadari ayahnya. “Ayah habis sedih ya?” Kata Lena sambil mengelap pipi ayahnya yang basah. “Tidak, Ayah tidak sedih kok, tadi Ayah makan batagor dan itu pedas,” kata ayah. “hahaha Ayah cemen, tidak kuat makan pedas,” ejek Lena. “memang Lena kuat makan pedas?” Kata ayah. Lena menggelengkan kepalanya sembari mencubit perut bulat ayahnya.

Ayah berjalan menggendong Lena, sesekali melihat jalan, sesekali melihat sungai, dan sesekali melihat wajah putri kecilnya.

Dalam perjalanan pulang, Lena menunjuk salah satu warung. “Ayah, Lena mau jajan, boleh tidak?” Kata Lena dengan raut memohon. “Boleh dong,” kata ayah lalu menggendong putri kecilnya menuju warung itu. Sesampainya di warung, Ayah menurunkan putri kecilnya, Lena segera berlari ke dalam warung, matanya melihat-lihat ke rak-rak yang di penuhi jajanan, Lena mengambil permen demi permen, coklat demi coklat, jajan demi jajan dengan tangan kecilnya menyerahkan jajanan itu ke ayahnya. Ayah hanya tersenyum mengikuti Lena, sembari menghitung kira-kira berapa totalnya. Setelah Lena puas, ayah membawa tumpukan jajanan itu ke kasir, lalu menukarkan beberapa lembar uangnya demi senyum putri kecilnya.

Kini Ayah berjalan bersama Lena menuntunnya di tangan kanan, dan kantong besar jajanan di tangan kiri cukup banyak untuk beberapa hari kedepan. Di sela-sela perjalanan, Lena bersenandung kecil, senandungnya tidaklah jelas kata apa yang disenandungkan, karena itu tidaklah penting bagi ayah.

“Ayah terimakasih, Lena sayang ayah”

“Iya sama-sama, Ayah juga sayang Lena”

Kini tersisa kelokan terakhir yang menuju rumahnya. Dia melirik halaman rumahnya. ‘setelah ayam Pak Joko, sekarang ayam jago Pak Eko yang datang, mana membawa betina sama anak-anaknya’, dia membatin dalam hatinya.

Lena berlari lebih dulu, mendahului ayahnya. “Ibu-Ibu, ayah tadi,” kata Lena sambil berlari, kemudian Lena membuka pintu, lalu memeluk ibunya yang sedang duduk memetik kangkung. “Ibu Ayah tadi kepedesan sampai nangis,” kata Lena dengan semangat. “hahaha Ayah cemen ya,” kata Ibu yang kemudian mengelus kepala Lena.

Diapun memasuki rumahnya. “Bawa apa itu, banyak banget, habis di palak sama Lena ya?” Kata istrinya. Lena pun berlari, mendekati ayahnya dan mengambil jajanan dengan senyuman dan membawanya ke kamarnya. “Ya seperti yang kamu lihat,” kata Ayah.

Dia mendekati istrinya, dengan kepala tertunduk. “Azizah.. Rudi dia.. dia meninggal, dia pergi lebih dulu, terlebih dahulu, mendahului—,” ucap dia, namun tidak sempat terselesaikan, Azizah segera memeluk suaminya. “Jangan katakan itu, mari kita takziah sore nanti,” kata Azizah dengan mata berkaca-kaca. Azizah tidak ingin suaminya melanjutkan ucapannya, Azizah sangat mengenal persahabatan mereka, yang mereka jalin sejak bangku sekolah.

~Tamat~

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Kelokan Terakhir
Feeee
Cerpen
Bronze
KAU KHIANATI AKU, KUBATALKAN PERNIKAHAN
ari prasetyaningrum
Cerpen
1/2 Nakal & 1/2 Polos (Tetangga Ku)
muhamad fahmi fadillah
Cerpen
Bronze
Integritas Ketua KPUD
Yovinus
Cerpen
Kabar Kandasnya Kepercayaan Kuncoro
Bella Paring Gusti
Cerpen
Paduka Yang Mulyo
Kiiro Banana
Cerpen
Bronze
Atap
Titin Widyawati
Cerpen
KISAH DI BALIK HUJAN
Penulis N
Cerpen
Kisah Rubah
Rafael Yanuar
Cerpen
Gubuk Kecil di Kota Kuning
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Boneka Plastik
Sri Wintala Achmad
Cerpen
KABULKU
Racelis Iskandar
Cerpen
Bronze
Aku iri padamu
Dingu
Cerpen
Baskara Sialan: Menanam Benih, Lupa Memanen
Ririna Rew
Cerpen
Bronze
NADINE
glowedy
Rekomendasi
Cerpen
Kelokan Terakhir
Feeee