Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Komedi
Kelebihan Hormon Keberuntungan
0
Suka
110
Dibaca

SELAMAT MEMBACA

~Part 1~

Reno Sanjaya adalah tipe pemuda yang jika melempar koin ke atas, koin tersebut bisa hilang secara misterius karena jatuh ke dalam lubang gorong-gorong yang tertutup semen cor. Hidup Reno selama dua puluh tahun ini selalu diisi oleh rantai kesialan yang seolah tidak pernah putus. Namun, semua takdir buruk itu mendadak berubah total pada suatu hari Selasa yang tenang, tepat jam sepuluh pagi di dalam laboratorium biologi kampus. Semua kekacauan baru di hidup Reno dimulai karena sifat sok tahu dan kecerobohannya sendiri saat mengantuk.

Hari itu kepala Reno terasa sangat pusing karena semalaman dia begadang bermain game online di kamar kosnya. Ditambah lagi, perut Reno belum diisi makanan sama sekali karena uang sakunya sudah menipis di pertengahan bulan. Saat jam kuliah praktikum Biologi Molekuler berlangsung, Reno mendapatkan tugas untuk membersihkan meja laboratorium milik Profesor Bambang. Di atas meja kayu yang penuh dengan tabung reaksi itu, ada sebuah botol kaca kecil berwarna cokelat tanpa label yang diletakkan sangat dekat dengan termos air minum milik para asisten dosen. Di dalam botol tersebut berisi cairan bening yang mengeluarkan aroma agak manis mirip dengan sirup melon.

"Aduh, seret banget tenggorokan gue. Ini sirup melon punya asisten lab kali ya? Lumayan buat ganjal perut yang kelaparan," bisik Reno pelan sambil celingukan menatap sekeliling laboratorium yang sepi.

Tanpa berpikir panjang dan tanpa repot-repot membaca catatan penelitian yang ada di sebelah botol, Reno langsung menenggak cairan bening itu sampai habis tidak bersisa. Rasanya agak hangat saat melewati tenggorokan Reno, lalu ada sebuah sensasi menggelitik yang aneh menjalar cepat dari ujung lidahnya hingga ke ujung jari kaki. Reno sempat bersendawa kecil yang aromanya mirip dengan wangi ruang operasi rumah sakit. Reno sama sekali tidak menyadari bahwa cairan yang baru saja dia telan adalah senyawa buatan bernama Fortunium Sintetis, sebuah hormon buatan tingkat tinggi yang sedang diteliti untuk memanipulasi probabilitas di sekitar objek. Sederhananya, Reno baru saja meminum hormon keberuntungan instan.

Dampak nyata dari hormon misterius itu langsung terasa tepat tiga puluh menit kemudian, yaitu saat ujian mendadak mata kuliah Statistik Kimia dimulai secara mendadak. Reno sama sekali tidak membuka buku semalam. Lembar soal yang dibagikan oleh dosen pengawas di depannya terlihat seperti tulisan hieroglif mesir kuno yang mustahil dibaca oleh mahasiswa biasa seperti dia. Soal ujian itu berbentuk pilihan ganda dari huruf A sampai huruf E dengan total lima puluh nomor. Karena sudah pasrah dan siap jika harus mengulang mata kuliah itu di tahun depan, Reno mengambil pulpen hitamnya lalu mulai menyilang jawaban dengan metode acak yang sangat tidak masuk akal.

"Ah, pasrah sajalah. Pakai metode capcipcup kembang kuncup saja dari nomor satu sampai lima puluh," gumam Reno frustrasi sambil menyilang lembar jawabannya membentuk pola gambar zigzag. Setelah selesai, Reno langsung mengumpulkan kertas ujiannya paling pertama lalu berjalan keluar kelas dengan wajah lesu.

Dua jam kemudian, hasil ujian langsung ditempel oleh pihak fakultas di papan pengumuman depan kantor tata usaha. Mahasiswa lain tampak berkerumun sambil menangis dan mengeluh karena tingkat kesulitan soal yang sangat tidak manusiawi. Reno ikut mengintip dari balik punggung teman-temannya yang bertubuh tinggi. Ketika mata Reno melihat namanya sendiri, Reno Sanjaya, tertera di papan itu, jantungnya rasanya mau melompat keluar dari dada. Di sebelah namanya tertulis angka seratus bulat dengan menggunakan tinta warna merah. Reno mengucek matanya berkali-kali sampai perih, tetapi angka sempurna itu tetap tidak berubah.

"Lho, Reno? Lo dapet nilai seratus?" teriak Joni, teman sekelasnya dengan mata melotot. "Gila, soal dewa begitu lo babat habis?"

Dosen statistik yang terkenal sangat pelit nilai tiba-tiba berjalan melewati koridor, menepuk pundak Reno dengan wajah bangga. "Reno Sanjaya, analisis probabilitas yang kamu jawab di lembar kertas itu adalah sebuah kejeniusan mutlak! Bapak belum pernah melihat logika sebersih ini selama sepuluh tahun mengajar. Pertahankan bakatmu, Nak!"

"Ah, iya, Pak. Terima kasih banyak. Saya juga tidak menyangka," jawab Reno dengan senyum kaku. Padahal Reno berani bersumpah di dalam hatinya, dia cuma asal silang sambil memikirkan menu nasi bungkus untuk makan siang.

Keanehan hidup Reno tidak berhenti sampai di situ saja karena perutnya yang keroncongan akhirnya membawa kakinya berjalan menuju ke arah warung tegal di pinggir jalan raya dekat kampus. Saat Reno baru berjalan sekitar sepuluh langkah keluar dari pintu gerbang utama kampus, ujung sepatu usangnya tidak sengaja menyenggol sesuatu yang keras di dalam kubangan air sisa hujan. Reno membungkuk untuk mengambil benda itu, mengira itu hanya sebuah sampah plastik atau botol bekas yang dibuang sembarangan. Ternyata benda itu adalah sebuah dompet kulit berwarna hitam yang kondisinya sangat tebal. Ketika Reno membuka dompet itu untuk mencari kartu identitas pemiliknya, tidak ada kartu apa pun di dalamnya. Yang ada hanyalah tumpukan uang pecahan seratus ribu rupiah yang masih sangat baru dan rapi, jumlahnya tepat lima juta rupiah.

"Wah, dompet siapa ini tebal amat? Gak ada KTP-nya lagi," ucap Reno kaget. Dia menemukan secarik kertas kecil di dalam selipan dompet bertuliskan kalimat pendek. Reno membacanya dengan berbisik. "Bagi siapa saja yang menemukan dompet ini, ambil saja uangnya karena ini adalah uang sisa hasil kemenangan judi yang sudah saya ikhlaskan. Lah? Ini beneran buat gue?" Reno celingukan ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu apakah dia sedang dikerjai oleh acara kamera tersembunyi di televisi, tetapi jalanan di sekitarnya sangat sepi.

Dengan uang lima juta rupiah di kantong celananya, Reno mendadak merasa seperti seorang anak sultan yang baru turun dari pesawat pribadi. Reno memutuskan untuk membatalkan niatnya makan di warung tegal, melainkan berjalan masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji mewah yang memiliki fasilitas pendingin ruangan yang sangat dingin. Reno memesan paket ayam goreng paling besar, burger sapi ganda, kentang goreng ukuran jumbo, dan minuman soda yang bisa diisi ulang sepuasnya. Ketika Reno sedang mengantre di depan meja kasir dan hendak mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet barunya, Mbak petugas kasir yang memakai topi merah tiba-tiba tersenyum sangat lebar ke arah Reno. Petugas kasir itu menekan tombol di mesin kasirnya sampai berbunyi dentingan yang sangat keras, lalu lampu di atas langit-langit restoran mendadak berkedip-kedip warna-warni secara otomatis mirip dengan suasana di tempat hiburan malam.

"Selamat! Anda adalah pengunjung ke-seratus ribu di cabang kami hari ini!" teriak Mbak kasir itu menggunakan mikrofon genggam dengan suara melengking. Seluruh pengunjung restoran langsung menoleh ke arah Reno. "Anda berhak mendapatkan seluruh makanan ini secara gratis, dan tidak hanya itu saja, Anda juga memenangkan hadiah utama berupa satu unit sepeda motor matic keluaran terbaru yang semua biaya pajaknya sudah ditanggung penuh oleh perusahaan kami!"

Beberapa karyawan restoran langsung keluar dari arah dapur sambil membawa papan styrofoam besar berbentuk replika kunci motor, lalu mereka menyiram kepala Reno dengan potongan kertas warna-warni yang mengkilap. Orang-orang di dalam restoran bertepuk tangan dengan sangat meriah.

"Hah? Serius Mbak? Saya cuma mau beli ayam sama burger lho, kok malah dikasih motor?" tanya Reno dengan wajah cengo. Dia berdiri mematung sambil memegang nampan ayam goreng dengan mulut terbuka lebar karena merasa semua keberuntungan ini sudah mulai tidak masuk akal dan cenderung mengerikan.

Setelah selesai mengurus surat-surat hadiah motor yang ternyata asli dan langsung bisa dibawa pulang hari itu juga, Reno mengendarai sepeda motor baru tersebut dengan perasaan yang campur aduk antara senang, bingung, dan mulai merasa agak takut. Reno memutuskan untuk pergi ke bank terdekat untuk menyimpan uang lima juta rupiah yang dia temukan di jalan tadi agar lebih aman. Saat Reno sedang berdiri mengantre di dalam bank yang suasananya sangat tenang dan formal, tiba-tiba pintu kaca depan bank didorong dengan sangat kasar dari arah luar. Dua orang laki-laki bertubuh besar dengan topeng hitam skiing dan memegang senjata api laras pendek masuk ke dalam bank.

"Jangan ada yang bergerak! Tiarap semua di lantai kalau masih sayang nyawa!" teriak salah satu perampok dengan suara menggelegar.

Semua orang di dalam bank langsung panik, berteriak ketakutan, dan segera merebahkan diri ke lantai termasuk para petugas satpam yang tidak sempat mengambil senjata mereka dari dalam sarungnya. Reno yang kebetulan berada di barisan tengah antrean juga ikut tiarap dengan tubuh yang gemetaran. Salah satu perampok yang memegang tas besar berjalan mendekati meja teller sambil menodongkan senjatanya, sementara perampok yang satunya lagi berjaga di dekat barisan mengantre, tepat di sebelah tempat Reno sedang tiarap ketakutan.

Perampok yang berdiri di sebelah Reno itu tampak sangat gugup, tangannya yang memegang pistol terlihat berkeringat dingin dan bergetar hebat. Tiba-tiba, tanpa ada yang menduga sebelumnya, perampok itu tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri yang terlepas dari ikatan. Tubuhnya yang besar langsung kehilangan keseimbangan lalu dia jatuh terjungkal ke arah depan dengan sangat keras.

"Aduh, bajingan!" umpat perampok itu sebelum kepalanya mendarat tepat di atas ujung ruji besi pembatas antrean yang tajam. Topengnya robek dan dia langsung pingsan seketika dengan mata mendelik ke atas langit-langit.

Saat perampok itu jatuh terjungkal, pistol yang dipegangnya terlempar jauh dari genggaman tangannya. Pistol itu meluncur cepat di atas lantai marmer yang licin, bergerak lurus menuju ke arah tempat Reno sedang tiarap, lalu bagian hulu pistol itu menghantam keras bagian kaki meja besi di depan Reno dengan sudut kemiringan yang sangat pas. Benturan keras itu memicu pelatuk pistol yang ternyata sudah dalam posisi siap tembak tanpa pengaman. Pistol itu meletus satu kali dengan suara menggelegar yang sangat memekakkan telinga semua orang di dalam bank. Peluru yang keluar dari laras pistol melesat memantul ke dinding marmer sebelah kanan, memantul lagi ke langit-langit beton, lalu meluncur lurus ke arah perampok kedua yang sedang mengancam teller di bagian depan. Peluru nyasar itu tepat mengenai bagian belakang lutut perampok kedua.

"Argh! Kakiku! Siapa yang nembak gue?" jerit perampok kedua kesakitan lalu jatuh berlutut sambil melepaskan tas berisi uang curiannya.

Melihat kedua perampok sudah tidak berdaya, para satpam bank langsung bergerak cepat untuk meringkus mereka dan mengikat tangan kedua penjahat itu dengan tali plastik yang kuat. Suasana bank yang tadinya mencekam langsung berubah menjadi riuh dengan sorak-sorai kebahagiaan dari para nasabah. Kepala cabang bank keluar dari ruangannya dengan wajah pucat tetapi penuh rasa syukur, dia langsung berjalan menuju ke arah Reno yang masih tiarap di lantai dengan wajah kebingungan yang amat sangat. Kepala cabang itu menarik tangan Reno untuk berdiri, menyalaminya dengan sangat erat sampai tangan Reno terasa agak sakit.

"Anak muda, tindakan refleksmu sungguh luar biasa!" puji Kepala Cabang bank itu dengan mata berkaca-kaca. "Anda sangat berani menendang pistol itu ke arah meja sehingga pelurunya memantul secara akurat untuk melumpuhkan perampok! Ini adalah sebuah aksi heroik luar biasa yang hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli taktis profesional!"

"Eh? Ditendang? Saya tadi cuma tiarap kok, Pak," jawab Reno jujur dengan wajah polos. Padahal kenyataannya Reno sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, dia bahkan hampir mengompol di dalam celana karena ketakutan saat mendengar suara letusan pistol yang menggelegar tadi.

Tidak lama kemudian, beberapa mobil polisi datang ke lokasi kejadian dengan sirine yang meraung-raung keras. Seorang perwira polisi berpangkat tinggi masuk ke dalam bank, melihat situasi yang sudah aman, lalu menghampiri Reno untuk memberikan piagam penghargaan sebagai warga negara teladan serta sebuah amplop putih besar.

"Ini adalah hadiah sayembara sebesar sepuluh juta rupiah dari kepolisian, Dek Reno," kata perwira polisi itu sambil menjabat tangan Reno dengan mantap. "Kamu telah berhasil membantu menggagalkan sindikat perampokan bank yang sudah buron selama tiga tahun ini. Terima kasih atas jasamu!"

Reno pulang ke rumah kosnya pada sore hari itu dengan membawa satu unit sepeda motor matic baru, uang tunai belasan juta rupiah di dalam tasnya, nilai ujian seratus sempurna, dan sebuah piagam penghargaan resmi dari kepolisian daerah. Reno duduk di pinggir kasur tipis kamar kosnya sambil menatap semua benda-benda mewah itu dengan perasaan yang sangat hampa dan agak ngeri. Hidup Reno yang biasanya penuh dengan perjuangan keras, penuh usaha, dan penuh air mata hanya untuk mendapatkan sesuatu yang kecil, tiba-tiba berubah menjadi sangat instan dan tanpa usaha sama sekali hanya dalam waktu setengah hari saja.

"Gila, ini gak bener. Masa gue gak ngapa-ngapain malah dapet motor, duit seonggok, sama nilai seratus?" gumam Reno sambil menatap cermin di kamarnya dengan wajah cemas. "Ini pasti gara-gara cairan melon di lab tadi pagi. Keberuntungan yang terlalu besar ini rasanya bukan lagi berkah, tapi kutukan! Hidup gue jadi gak ada tantangannya sama sekali kayak main game pakai cheat. Besok gue harus cari cara gimana biar bisa sial atau gagal normal kayak manusia biasa!"

~ Part 2 ~

Malam harinya Reno tidak bisa memejamkan mata sama sekali karena terus memikirkan nasib hidupnya yang sekarang sudah tidak berjalan dengan normal lagi. Kasur busa di kamar kosnya yang biasanya terasa sangat keras dan selalu membuat punggungnya pegal setiap pagi, entah bagaimana tiba-tiba terasa sangat empuk seperti kasur hotel berbintang lima karena ternyata kain sprei murah yang dia beli di pasar malam salah jahit dari pabriknya dan malah dilapisi bahan sutra halus yang salah kirim. Keberuntungan sialan ini benar-benar telah menjajah seluruh aspek hidup Reno sampai ke hal yang paling sepele. Reno merasa harga dirinya sebagai manusia yang harus berjuang menjadi runtuh total. Oleh karena itu, pas jam dinding kamarnya menunjukkan pukul enam pagi, Reno langsung melompat dari kasur dan membuat sebuah keputusan yang sangat bulat.

"Hari ini, gue harus bisa merasakan kesialan, bagaimanapun caranya! Operasi Menjemput Kesialan dimulai!" seru Reno pada dirinya sendiri di dalam kamar.

Target Reno sebenarnya sangat sederhana yaitu dia hanya ingin mengalami satu saja hal buruk yang biasa dialami oleh orang normal pada umumnya seperti dompet ketinggalan, terkena tilang polisi, atau minimal bajunya basah karena kecipratan air got oleh mobil yang lewat di jalanan. Reno sengaja tidak mandi dan hanya memakai kaos oblong putih yang sudah robek cukup besar di bagian ketiak serta celana kolor bergambar kartun yang warnanya sudah pudar. Reno juga sengaja tidak membawa dompet, tidak membawa handphone, dan sengaja mengendarai motor matic barunya tanpa menggunakan helm keselamatan, tanpa membawa surat izin mengemudi, dan tanpa membawa surat tanda nomor kendaraan.

"Gak bawa helm, gak bawa SIM, gak bawa STNK, pakai baju gembel begini. Polisi di perempatan pasti langsung nangkep gue dan nyita motor ini. Sempurna!" ucap Reno dengan senyum penuh kemenangan.

Reno sengaja mengendarai sepeda motornya menuju ke arah jalan protokol yang terkenal selalu mengadakan razia polisi setiap pagi hari. Benar saja, dari jarak seratus meter Reno sudah melihat papan rambu kuning bertuliskan pemeriksaan surat-surat kendaraan dan belasan polisi berseragam lengkap sedang sibuk menghentikan motor-motor yang lewat di sana. Reno tersenyum lebar lalu sengaja menambah kecepatan sepeda motornya agar terlihat mencurigakan di mata petugas. Seorang polisi muda bertubuh tegap melihat ke arah Reno, dia langsung meniup peluitnya dengan sangat keras lalu mengangkat tangannya.

"Prrriiiiiiiiittt! Motor matic baru yang tidak pakai helm, berhenti di pinggir jalan sekarang!" teriak polisi muda itu dengan tegas.

Jantung Reno berdegup kencang karena merasa sangat senang, akhirnya dia akan merasakan sensasi ditilang dan dimarahi oleh petugas seperti orang-orang pada umumnya. Reno memarkir sepeda motornya di depan pos polisi dengan wajah yang sengaja dibuat menantang dan menyebalkan.

"Selamat pagi, Dek. Kenapa tidak pakai helm? Tolong tunjukkan SIM dan STNK-nya," kata polisi muda itu sambil bersiap membuka buku tilang berwarna merah.

"Gak punya, Pak! Saya gak bawa apa-apa hari ini! Silakan tilang saya atau sita motor ini sekarang juga!" jawab Reno dengan nada menantang, berharap polisi itu akan langsung membentaknya.

Namun, baru saja polisi itu mau membuka mulutnya untuk membalas ucapan Reno, tiba-tiba sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam di belakang mereka melaju dengan sangat kencang dan tidak terkendali. Mobil sedan itu oleng ke arah kiri lalu langsung menghantam pembatas jalan beton dengan sangat keras sampai bagian depannya hancur total dan asap tebal mengepul dari kap mesinnya. Brakk!

"Astaga! Ada tabrakan!" Polisi muda di depan Reno langsung kaget dan melupakan keberadaan Reno begitu saja. "Cepat, semuanya tolong pengemudi mobil itu!" berteriak memanggil teman-temannya.

Ternyata pengemudi mobil mewah itu adalah seorang pejabat daerah yang sedang mengantuk berat dan yang paling mengejutkan bagi semua orang adalah di dalam bagasi mobil yang terbuka akibat benturan keras itu, ada dua karung besar berisi uang tunai miliaran rupiah yang diberi label dana bansos palsu serta beberapa botol minuman keras selundupan. Polisi yang memeriksa mobil itu langsung berteriak heboh karena mereka baru saja berhasil menangkap seorang koruptor besar yang sudah menjadi buronan komisi pemberantasan korupsi selama berbulan-bulan.

Kapolres yang sedang memimpin razia di tempat itu langsung berjalan mendekati Reno dengan wajah yang penuh dengan rasa haru dan kekaguman yang amat sangat. Kapolres itu memegang pundak Reno dengan erat.

"Anak muda, kamu sungguh luar biasa!" puji Kapolres itu dengan suara lantang yang membuat polisi lain menoleh. "Kamu sengaja berkendara tanpa helm dan memancing perhatian kami di sini agar kami semua berkumpul di titik ini tepat saat mobil buron kakap itu lewat, kan? Tindakanmu membuat jalurnya terhambat dan dia panik lalu menabrak pembatas jalan! Luar biasa cerdas!"

"Eh? Bukan begitu, Pak. Saya beneran cuma --," Belum Reno menyelesaikan ucapannya Polisi itu sudah menyela.

"Sudah, tidak usah rendah hati! Pengawal, kawal anak muda jenius ini sampai ke rumahnya menggunakan mobil sirine mewah! Dan ingat, orang berjasa seperti dia tidak perlu diperiksa surat-surat kendaraannya lagi!" perintah Kapolres kepada anak buahnya. Reno hanya bisa melongo di atas motornya sambil meratapi nasibnya yang gagal total untuk ditilang hari itu.

Karena rencana pertamanya gagal total, Reno keputusan untuk mencoba rencana kedua yang dinilainya lebih ekstrem di dalam pasar tradisional yang terkenal sangat rawan dengan aksi premanisme dan pencopetan. Reno berjalan masuk ke dalam pasar yang becek dan ramai, sengaja mengeluarkan uang pecahan seratus ribu rupiah sisa kemarin dari kantong kolornya secara terang-terangan di depan kerumunan orang banyak. Tidak butuh waktu lama bagi Reno untuk memancing perhatian, ada tiga orang pria berbadan kekar dengan tato penuh di lengan dan wajah yang menyeramkan mulai berjalan mengikutinya dari arah belakang. Mereka sengaja menggiring Reno menuju ke sebuah lorong sepi di dekat gudang beras yang sudah kosong.

"Heh, bocah! Sini lo jangan banyak tingkah!" bentak salah satu preman bertato yang memiliki bekas luka codet di pipi kanannya. Dia maju sambil mengeluarkan sebilah pisau lipat yang tajam dari saku celananya. "Serahin semua duit di kantong lo kalau lo masih sayang sama nyawa lo! Cepetan!"

Reno melihat pisau itu dan langsung tersenyum sangat tulus, dia malah merasa sangat bahagia. Reno menyodorkan semua uangnya ke tangan preman itu. "Ini Bang, ambil semua uang saya! Oh iya, kalau bisa, tolong pukul wajah saya sekali saja dong, Bang. Biar kelihatan kayak perampokan beneran di pasar ini, plis!"

Melihat reaksi Reno yang sangat santai dan malah meminta dipukul sambil tersenyum bahagia seperti itu, ketiga preman itu mendadak menjadi sangat bingung dan saling berpandangan dengan cemas.

"Bos, ini anak kok malah senyum-senyum? Jangan-jangan dia anak bos mafia besar atau intel polisi yang lagi menyamar?" bisik salah satu anak buah preman itu dengan ketakutan.

"S-sialan, jangan bikin gue takut lo!" jawab pemimpin preman itu dengan gugup. Karena terlalu panik menatap mata Reno yang penuh harap, tangan preman itu mendadak gemetaran sehingga pisau lipat yang dipegangnya tidak sengaja jatuh ke arah bawah.

Mata pisau tersebut jatuh menghadap ke bawah lalu menancap tepat di atas karung beras tua yang sudah rapuh di sebelah mereka. Karung beras itu langsung robek besar dan mengeluarkan aliran beras yang sangat deras mirip seperti air terjun mini. Sreeeett! Aliran butiran beras yang licin itu membuat pijakan kaki ketiga preman menjadi tidak seimbang sama sekali.

"Eh, eh, licin Bos! Waaa!"

Mereka bertiga terpeleset bersamaan lalu jatuh terjungkal ke belakang dengan posisi kepala membentur tembok bata gudang yang keras. Dug! Benturan itu sangat keras hingga membuat rak besi tua di atas mereka yang berisi puluhan kaleng cat bekas menjadi miring lalu tumpah menyiram seluruh tubuh ketiga preman itu dengan cairan cat warna merah muda yang sangat pekat.

Belum sempat ketiga penjahat itu berdiri, tiba-tiba pemilik gudang beras yang merupakan seorang kakek tua pemilik sabuk hitam karate berjalan lewat di lorong tersebut. Kakek itu melihat ketiga preman belepotan cat merah muda sedang mengepung Reno.

"Kurang ajar! Beraninya kalian memeras anak muda di gudangku!" teriak kakek tua itu histeris. Dia langsung mengeluarkan jurus tendangan tanpa bayangan yang sangat kuat. "Hiaaa! Rasakan ini, preman busuk!"

Kakek itu menghajar ketiga preman yang masih pusing itu sampai mereka babak belur dan tidak bisa bergerak lagi di atas lantai lorong yang kotor. Kakek itu kemudian menggenggam tangan Reno dengan air mata yang berlinang.

"Terima kasih, anak muda! Keberanianmu menjadi umpan di lorong sepi ini telah berhasil memancing keluar para preman yang selama ini sering memeras para pedagang kecil di pasar ini!" kata kakek itu dengan haru. "Sebagai rasa terima kasih, kamu harus menerima dua karung beras kualitas premium ini secara gratis! Nanti saya antar pakai mobil pikap ke rumahmu!"

Reno berjalan pulang ke arah rumah kosnya dengan langkah kaki yang sangat gulai dan lemas karena kelelahan rohani. Di depan pintu gerbang kos, Reno melihat ada sebuah papan pengumuman baru yang ditempel oleh ibu kosnya yang terkenal sangat galak dan kejam kalau menagih uang sewa bulanan. Papan itu bertuliskan bahwa mulai bulan ini uang kos naik dua ratus ribu rupiah dan bagi siapa saja yang menunggak pembayaran lebih dari tiga hari akan langsung diusir keluar tanpa toleransi. Reno langsung merasa ada secercah harapan baru yang muncul di dalam hatinya yang sedang gundah.

"Gue sengaja gak bawa duit kamar hari ini. Gua bakal bilang belum bisa bayar biar ibu kos ngamuk dan ngusir gue sekarang juga!" tekad Reno penuh semangat. Dia sengaja mengetuk pintu rumah ibu kos dengan keras. Tok! Tok! Tok!

Ibu kos membuka pintu rumahnya dengan wajah yang cemberut dan judes seperti biasanya. "Apa kamu ketuk-ketuk keras amat? Mau bayar kosan? Inget ya, bulan ini naik!"

"Maaf, Ibu kos. Saya belum bisa bayar uang kos bulan ini karena uang saya habis. Jadi kalau Ibu kos mau mengusir saya hari ini, saya ikhlas kok," jawab Reno dengan wajah yang dibuat menantang, menunggu amukan badai dari sang ibu kos.

Namun, wajah ibu kos tiba-tiba berubah ekspresi menjadi sangat ramah, matanya berbinar manis setelah melihat wajah Reno dengan jelas. Dia langsung menarik tangan Reno untuk masuk ke dalam ruang tamunya.

"Eh, Dek Reno! Masuk dulu, masuk! Sini duduk di sofa, Ibu kos suguhkan teh manis hangat sama kue bolu moka kesukaanmu ya," kata ibu kos dengan suara yang dibuat-buat lembut, membuat Reno bergidik ngeri.

"Lho, Ibu kos gak marah saya gak bisa bayar uang kos?" tanya Reno kebingungan.

"Aduh, Reno sayang, buat apa marah sama pahlawan?" jawab ibu kos sambil tersenyum lebar. "Anak perempuanku yang kuliah di luar kota baru saja menelepon. Dia bilang wajahmu terpampang di koran digital karena berhasil menggagalkan perampokan bank kemarin siang! Ibu kos bangga banget punya pahlawan daerah yang tinggal di sini! Bisa menaikkan gengsi kos-kosan Ibu di mata warga kampung! Mulai hari ini, uang kosmu Ibu gratiskan selama satu tahun penuh! Kamu juga boleh pakai mesin cuci dan wifi utama rumah Ibu sepuasnya secara gratis sampai lulus!"

Reno kembali masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kayu itu dengan sangat rapat, lalu menjatuhkan seluruh tubuhnya ke atas lantai semen yang dingin. Reno ingin sekali menangis tetapi air matanya tidak mau keluar karena saking frustrasinya dia menghadapi takdir keberuntungan ini.

"Kenapa susah banget buat sial sih di dunia ini?" keluh Reno frustrasi menatap langit-langit kamarnya. Saat dia memalingkan wajah ke arah jendela, pandangan matanya tidak sengaja tertuju pada sebuah jendela kamar kos lain di seberang jalannya.

Di seberang sana, Reno melihat seorang cewek berambut kuncir kuda yang sedang sibuk membersihkan tumpahan air kopi di atas meja belajarnya. Namun, semenit kemudian cewek itu tidak sengaja menyenggol pot bunga di pinggir meja sampai jatuh, dan saat dia mencoba mengambil pot tersebut, bagian kepalanya malah terbentur pinggiran jendela besi dengan sangat keras hingga dia meringis kesakitan sambil memegang dahinya.

"Aduh! Sakit banget!" samar-samar terdengar teriakan cewek itu dari seberang jalan.

Reno tahu nama cewek itu, namanya adalah Citra, seorang mahasiswi jurusan akuntansi yang terkenal di seluruh area komplek kos sebagai manusia paling sial yang pernah ada karena setiap hari selalu saja ada kejadian kesialan aneh yang menimpa dirinya. Sebuah ide gila dan sangat nekat tiba-tiba muncul di dalam kepala Reno.

"Gue punya hormon keberuntungan mutlak, sedangkan Citra punya aura kesialan abadi. Kalau gue deketin dia, apa kesialan Citra bisa menetralkan kutukan keberuntungan gue ini? Atau jangan-jangan dunia ini bakal hancur karena benturan dua energi yang bertolak belakang?" gumam Reno dengan mata berbinar penuh harapan baru.

~ Part 3 ~

Reno Sanjaya berdiri tegak di koridor lantai dua rumah kos dengan perasaan yang sangat berdebar-debar. Langkah kakinya sengaja dihentikan tepat di depan pintu kamar nomor tiga belas, sebuah kamar dengan daun pintu tripleks yang sudah agak lapuk di bagian bawahnya. Kamar itu adalah tempat tinggal Citra, si cewek pembawa sial. Reno datang ke sana dengan sebuah niat yang sangat tidak biasa bagi manusia normal pada umumnya yaitu dia ingin ketularan sial agar hormon keberuntungan di dalam tubuhnya bisa sedikit mereda.

Baru saja Reno mengangkat tangan kanannya untuk mengetuk pintunya, tiba-tiba pintu kayu tersebut terbuka dengan sangat keras dari arah dalam secara mendadak. Cklek!

"Awas, awas! Gue udah telat mau jemur baju!" teriak Citra yang muncul dari balik pintu dengan terburu-buru sambil kedua tangannya mengangkat sebuah ember plastik besar berwarna merah yang penuh dengan tumpukan baju basah yang baru selesai dicuci.

Karena berjalan terlalu cepat dan pandangannya terhalang oleh tumpukan baju, kaki Citra tersandung oleh lipatan keset kain yang posisinya tidak rata di atas lantai koridor. Tubuh Citra langsung kehilangan keseimbangan lalu melayang ke arah depan.

"Kyaaa! Lepas, lepas!" pekik Citra saat ember di tangannya terlepas, dan seluruh air cucian yang penuh dengan busa sabun pekat itu meluncur dengan sukses ke arah wajah Reno.

Namun, di sinilah hormon Fortunium Sintetis yang mengalir di dalam tubuh Reno mulai memanipulasi hukum fisika secara paksa. Tepat satu detik sebelum air sabun itu mengenai kaos oblong Reno, sebuah embusan angin kencang yang sangat mendadak bertiup dari arah jendela ujung koridor yang terbuka lebar. Wuuusshh! Angin itu berputar cepat mirip seperti angin puyuh versi kecil, lalu membelokkan seluruh aliran air sabun itu hingga berbalik arah seratus delapan puluh derajat ke posisi semula.

Byuurrr! Air sabun itu justru kembali menyiram wajah Citra sendiri hingga rambutnya yang dikuncir kuda menjadi sangat lepek dan basah kuyup. Tidak hanya itu saja keajaibannya, ember plastik yang melayang tadi jatuh dengan posisi terbalik tepat di atas kepala Reno. Plak! Karena ukuran diameter ember itu sangat pas dengan kepala Reno, benda itu malah berfungsi menjadi pelindung kepala yang sangat kokoh dari jatuhnya sebuah lampu neon panjang dari langit-langit koridor yang tiba-tiba bautnya copot.

Pranggg! Lampu neon itu hancur berantakan menjadi serpihan kecil di atas dasar ember di kepala Reno tanpa melukai seujung rambut pun dari pemuda tersebut. Citra mengusap wajahnya yang penuh dengan busa sabun putih dengan ekspresi wajah yang sangat jengkel dan matanya tampak berkaca-kaca karena menahan tangis. Dia menatap Reno yang masih memakai helm ember merah dengan tatapan penuh keheranan sekaligus rasa kesal yang amat dalam.

"Reno! Lo ngapain sih berdiri di depan kamar orang kayak patung?" teriak Citra dengan suara yang agak serak karena menahan jengkel. "Terus kenapa setiap kali ada orang yang berusaha dekat-dekat sama lo, orang itu yang selalu kena apes? Lihat nih, gue malah kesiram air sabun sendiri, lampu neon kosan juga mendadak copot!"

Reno perlahan-lahan melepaskan ember merah dari kepalanya, menatap Citra dengan pandangan yang penuh rasa bersalah. "Maaf banget, Cit. Gue beneran gak maksud bikin le kesiram. Sebenarnya, ada hal aneh yang lagi terjadi sama gue sejak kemarin."

"Hal aneh apa? Jangan bilang lo hantu penunggu kosan ya!" tuding Citra ketakutan sambil mundur satu langkah.

Reno akhirnya mulai menceritakan semua kejadian aneh yang dialaminya sejak kemarin tanpa ada satu pun fakta yang ditutupi, termasuk tentang cairan hormon misterius bernama Fortunium Sintetis yang tidak sengaja dia minum di dalam laboratorium biologi kampus. Mendengar cerita Reno yang sangat sulit dicerna oleh akal sehat itu, Citra melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan tidak percaya.

"Lo ini bicara apa sih, Ren? Hormon keberuntungan instan? Lo kebanyakan nonton film fiksi ilmiah ya?" cibir Citra tidak percaya. "Mana ada orang di dunia ini yang dikutuk jadi terlalu beruntung?"

"Gue serius, Cit! Kalau lo gak percaya, ayo kita buktiin!" tantang Reno dengan mata berbinar. "Gimana kalau kita taruhan di minimarket depan gang? Kita beli dua es krim bungkus yang ada hadiah undiannya di stik kayu. Kalau gue bisa dapet stik yang tulisannya maaf coba lagi alias zonk, berarti eksperimen kita berhasil dan aura sial lo bisa menetralkan hormon di tubuh gue. Gimana, berani gak?"

Citra terdiam sejenak lalu mendengus menantang. "Oke, siapa takut! Kebetulan gue ini ratunya zonk, jangankan es krim, seumur hidup ikut undian jalan sehat di RT aja gue cuma dapet zonk. Ayo kita berangkat!"

Perjalanan sejauh lima puluh meter menuju ke minimarket tersebut berubah menjadi sebuah rentetan kejadian yang sangat luar biasa di luar nalar manusia. Citra yang berjalan di posisi sebelah kanan berkali-kali mengalami kejadian sial yang hampir saja membuat dirinya celaka secara fisik.

"Aduh! Sandal jepit gue putus!" keluh Citra saat tali sandalnya mendadak copot. Namun saat dia melihat ke bawah, kakinya justru menginjak sesuatu. "Eh? Ini uang lima puluh ribu rupiah nyelip di daun kering? Kok pas banget ada duit jatuh di sini?"

"Tuh kan, baru permulaan, Cit!" kata Reno mengingatkan.

Beberapa meter kemudian, seekor kambing kurban berukuran besar tiba-tiba lepas dari ikatannya dan berlari kencang ke arah mereka berdua dengan mata mendelik.

"Reno, awas! Ada kambing ngamuk!" jerit Citra ketakutan sambil bersembunyi di balik punggung Reno.

Namun, alih-alih menyeruduk mereka, kambing besar itu mendadak mengerem langkah kakinya tepat dua sentimeter di depan lutut Reno. Kambing itu mendadak tenang, mengeluarkan suara mengembik yang lembut, lalu berlutut menjinakkan diri di depan Reno seolah-olah sedang menghormati majikannya.

"Tuh, lihat sendiri kan? Kambingnya malah sungkem sama gue," bisik Reno geleng-geleng kepala.

Tidak hanya itu, pluk! Sebuah buah mangga matang yang sudah busuk jatuh dari pohon tepat di atas kepala Citra. Tetapi sebelum mengenai rambut Citra, seorang petugas kebersihan yang membawa keranjang sampah berjalan cepat melewati mereka, sehingga buah mangga busuk itu jatuh tepat masuk ke dalam keranjang sampah dengan suara deburan halus. Hubungan antara keberuntungan Reno dan kesialan Citra ternyata menciptakan sebuah medan magnet probabilitas yang sangat seimbang di mana semua hal buruk secara otomatis diubah menjadi hal baik secara instan.

Sesampainya di dalam minimarket yang dingin, mereka berdua langsung menuju ke arah mesin pendingin besar di bagian pojok belakang. Reno mengambil satu buah es krim rasa cokelat dengan tangan yang sangat gemetaran, sementara Citra mengambil es krim rasa vanila yang bagian bungkusnya tampak agak sedikit robek di bagian pinggir. Setelah membayar di kasir, mereka duduk di atas kursi plastik di teras minimarket untuk membuka bungkus es krim tersebut bersama-sama.

Reno menggigit es krim cokelatnya dengan sangat cepat sampai giginya terasa linu, dia hanya ingin segera bisa melihat tulisan apa yang tersembunyi di balik stik kayu tersebut. Ketika es krimnya sudah habis, Reno mengangkat stik kayu itu di bawah sinar matahari pagi.

"Toolong, semoga tulisannya coba lagi. Gue pengen sial sekali aja hari ini," doa Reno dengan amat khusyuk. Namun, setelah melihat tulisan di stik kayunya, wajah Reno langsung berubah pucat pasi. "Astaga, gagal lagi..."

"Coba gue lihat, Ren! Tulisannya apa?" Citra merebut stik kayu milik Reno dan membacanya keras-keras dengan mata terbelalak. "Selamat Anda memenangkan hadiah utama berupa paket umroh gratis untuk dua orang dan liburan musim dingin ke negara Jepang selama dua minggu penuh! Hah?! Ini beneran memenangkan paket liburan ke Jepang?!"

Reno langsung menjatuhkan kepalanya ke atas meja plastik dengan lesu. "Hormon keberuntungan di tubuh gue ternyata masih terlalu kuat, Cit. Lo gak mempan buat bikin gue sial."

Meskipun begitu, sesuatu yang sangat tidak terduga justru terjadi ketika Citra menyelesaikan es krim vanilanya sampai bersih. Citra melihat stik kayunya sendiri lalu tiba-kira berteriak sangat kencang sampai mengagetkan kasir minimarket di dalam.

Meskipun begitu, sesuatu yang sangat tidak terduga justru terjadi ketika Citra menyelesaikan es krim vanilanya sampai bersih. Citra melihat stik kayunya sendiri lalu tiba-tiba berteriak sangat kencang sampai mengagetkan kasir minimarket di dalam.

"Reno! Lihat ini, Reno! Cepetan lihat!" teriak Citra sambil melompat-lompat kecil di depan pintu minimarket dengan wajah memerah karena gembira.

"Kenapa lagi, Cit? Lo dapet tulisan zonk yang lebih parah ya?" tanya Reno lemas dari atas meja.

"Bukan! Lihat sendiri nih tulisannya!" Citra menyodorkan stik kayunya tepat di depan mata Reno. Di atas permukaan kayu tipis itu, tertulis sebuah kalimat dengan tinta hitam yang rapi, Selamat Anda mendapatkan hadiah langsung uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah tanpa perlu diundi kembali.

"Hah? Lo dapet duit lima ratus ribu dari stik es krim?" Reno langsung tegak dari duduknya dengan mata terbelalak kaget. "Bukannya seumur hidup lo selalu dapet zonk?"

"Iya! Ini pertama kalinya dalam dua puluh tahun hidup gue, gue memenangkan sesuatu dari hadiah undian makanan, Ren!" seru Citra sambil memeluk stik kayu kecil itu seperti memeluk harta karun paling berharga di dunia. "Gue menang! Gue gak sial lagi hari ini!"

Reno menatap wajah Citra yang sedang sangat bahagia itu dengan sebuah kesadaran baru yang sangat mendalam di dalam lubuk hatinya. Reno menyadari bahwa hormon keberuntungan di dalam tubuhnya mungkin memang tidak bisa dihilangkan dengan mudah dan dia mungkin akan tetap menjadi orang yang terlalu beruntung untuk waktu yang sangat lama ke depan. Akan tetapi, Reno juga menyadari sebuah fakta penting bahwa keberuntungannya yang berlebihan itu ternyata bisa disalurkan untuk mengubah jalan hidup orang lain yang selalu dirundung kemalangan seperti Citra. Keberuntungan Reno secara otomatis menjadi perisai yang melindungi Citra dari segala bentuk kesialannya, sementara kesialan Citra menjadi wadah yang sangat pas untuk menampung energi keberuntungan Reno yang selalu meluap-luap tidak terkendali.

Reno tersenyum tipis, rasa frustrasinya mendadak hilang digantikan oleh rasa hangat di dadanya. "Cit, gimana kalau mulai besok dan seterusnya, kita main atau jalan bareng terus?"

Citra menghentikan lompatannya, menatap Reno dengan alis berkerut heran. "Eh? Kenapa tiba-tiba ngajakin jalan bareng terus? Kamu mau pamer keberuntungan lagi di depan gue?"

"Bukan begitu," jawab Reno sambil terkekeh pelan. "Gue baru sadar, keberuntungan gue ini gak bakal berguna kalau gue sendirian karena cuma bikin gue bosen. Tapi kalau gue bareng lo, keberuntungan gue bisa ngelindungin lo dari kesialan, dan lu juga bisa dapet untung kayak stik es krim tadi. Jadi, lo mau kan jadi partner hidup gue buat ngabisin bonus keberuntungan dari alam semesta ini?"

Wajah Citra mendadak merona merah mendengar ucapan Reno yang terdengar seperti sebuah pernyataan cinta terselubung itu. Dia memalingkan wajahnya sambil mengerucutkan bibirnya yang manis. "Ya-ya boleh saja sih. Lagian siapa yang mau menolak dapet duit lima ratus ribu tiap hari dan gak perlu takut kejatuhan buah mangga busuk lagi? Deal ya, kita jadi partner!"

Reno tertawa lepas, sebuah perasaan bahagia yang murni akhirnya bisa dia rasakan kembali setelah seharian stres menjadi orang beruntung. Reno akhirnya memutuskan untuk berhenti mengeluh dan berhenti mencari cara untuk menjadi orang sial kembali. Dia menerima takdir barunya sebagai manusia super beruntung, karena kelebihan sesuatu yang awalnya dianggap sebagai sebuah kutukan oleh Reno, ternyata hanyalah sebuah cara unik dari alam semesta untuk mempertemukan dirinya dengan Citra, orang yang sangat tepat yang bisa melengkapi segala kekurangan di dalam hidup ini.

♡ TAMAT

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Komedi
Cerpen
Kelebihan Hormon Keberuntungan
Putri Akira
Cerpen
Bronze
Dukun Cabul Dan Celana Dalam Warisan
muhamad jumari
Cerpen
DI BAWAH BENDERA REVOLUSI
Darryllah Itoe
Cerpen
Lelaki yang Menyobek-nyobek Hidungku
Fazil Abdullah
Komik
Bangku
Ka Dar
Flash
Jeruk
Y. N. Wiranda
Flash
Bronze
Surat Keterangan Hidup
Saifoel Hakim
Komik
Bronze
AFTER 18
Agam Nasrulloh
Flash
WANTO
Mr. Nobody
Flash
Bronze
Sang Penulis
Rere Valencia
Komik
No Way!
Senggereng
Flash
"Kehancuran Kelakar: Kejeniusan Kembar Alex dan Andy"
Maria Septian Riasanti Mola
Flash
Bronze
Pilot
Andriyana
Flash
Gengsi! (Kebaikan Dari Ocehan Bunda)
Siddfen
Flash
Bronze
Hantu Token Listrik
Silvarani
Rekomendasi
Cerpen
Kelebihan Hormon Keberuntungan
Putri Akira
Flash
GEMA
Putri Akira
Flash
Kalah Sebelum Start
Putri Akira
Flash
JENDELA KAMAR SEBERANG
Putri Akira
Flash
Si Belang
Putri Akira
Flash
gak tau aturan
Putri Akira