Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
"Aku berharap kamu mati!" baca Kana dengan penuh penekanan. Satu alisnya terangkat menandakan keheranannya. "Aku bingung. Siapa pula yang mengirimkan tulisan konyol ini. Kau tau siapa, Deneya?"
Seorang gadis berambut cokelat pendek mendongak. Ia menggelengkan kepalanya sejenak. Ia kemudian kembali menundukkan kepalanya membaca bukunya.
"Ah, Deneya! Kau tidak seru!" tukas Kana. Ia memalingkan wajahnya. "Aku bermain dengan yang lain saja!"
Deneya tetap menunduk. Ia baru mengangkat kepalanya saat suara langkah kaki Kana telah menjauh. Mata Deneya masih menatap lamat pintu kelas yang terbuka.
Deneya menipiskan bibirnya. Ia sebenarnya sama sekali tidak sibuk membaca. Ia hanya tidak ingin berbicara dengan Kana. Bukan karena ia memandang rendah Kana, tetapi karena ia bukan pembohong ulung. Ia khawatir Kana akan melihat sesuatu dari gerak-geriknya.
"Oh, kenapa Kana menghampirimu, Deneya?" ujar sebuah suara. Deneya tidak perlu menengok untuk tahu siapa pemilik suara lembut itu.
"Kau yang melakukannya?" tanya Deneya dengan suara yang dipelankan. Ia khawatir ada yang mendengar suaranya meskipun kelas cukup bising dengan suara-suara gadis lainnya yang saling berbincang.
Pertanyaannya hanya dibalas dengan kekehan kecil. "Deneya, itu hanya ucapan biasa."
Kali ini Deneya berbalik badan. Ia mendesis, "Apa yang ada dipikiranmu, Aria? Tulisan biasa katamu? Kau menghina bangsawan!"
Wajah gadis berambut hitam itu menggelap. Mata hitamnya yang sekelam malam menatap tajam sejenak. Ia menelisik wajah Deneya. "Kenapa? Apa Deneya mulai membela mereka?"
Deneya semakin frustasi mendengarnya. Meskipun begitu ia menahan suaranya. Sambil melirik sekelilingnya, ia berkata pelan, "Kau gila? Aku khawatir denganmu! Tidakkah kau khawatir dengan konsekuensinya?!"
"Deneya, jangan lupa apa yang mereka lakukan selama ini padaku. Oh, aku lupa ayahmu seorang saudagar kaya dan menikahi ibumu yang anak bangsawan. Kenapa? Kau berpikir kalau kau akan dianggap dalam lingkaran pertemanan mereka?"
Wajah Deneya merah padam. Sedikit rasa kesal berkilat di matanya. Ia menggerutu, "Aku tidak pernah berpikir begitu. Aku tahu diri. Ibuku juga bukan anak bangsawan ternama. Tapi aku tahu kekuatan mereka! Aku tidak akan cari mati dengan menantang mereka!"
Aria tidak menjawab. Ia hanya mendekap lebih erat buku yang sejak tadi dalam dekapannya. Ekspresi wajahnya tetap sama.
Melihat ini, Deneya hanya mendecak, "Aku tidak peduli! Aku tidak akan ikut campur urusanmu dan Kana!"
Selepas itu, Deneya kembali berbalik badan. Ia menunduk membaca buku catatannya kembali. Ia lebih baik memikirkan bagaimana ia bisa lulus ujian manajemen keuangan dasar hari ini.
.....
Kekaisaran sangat mementingkan pendidikan untuk generasi mudanya. Bahkan mereka mendirikan Akademi Voahn di ibu kota untuk memperhatikan hal ini. Akademi Voahn terbagi menjadi dua tempat, akademi untuk laki-laki dan perempuan. Keduanya memiliki kurikulum yang berbeda sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Berdasarkan peraturannya, Akademi Voahn menerima siswa dari berbagai kalangan. Bahkan mereka mengadakan beasiswa rutin tahunan untuk siswa yang kurang mampu. Salah seorang penerima bantuan ini adalah Aria. Tentu, masih banyak lagi penerima dari beasiswa ini. Kebanyakan dari mereka adalah anak dari martir kerajaan, anak jenius dari keluarga tidak mampu, atau anak yatim piatu.
Untuk usia yang diterima, Voahn menerima siswa berusia kisaran 8-9 tahun. Kemudian mereka akan menempuh pendidikan selama 6 tahun bagi siswa perempuan dan 8 tahun bagi siswa laki-laki. Siswa perempuan akan dinyatakan lulus setelah...