Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
Bronze
Kedai Suram
5
Suka
3,722
Dibaca

Apakah Salah Untuk Pasrah ?

segelas teh tanpa gula yang selalu ku sajikan. Mungkin memang hambar tapi setidaknya itu membuat mereka tenang.

Orang – orang yang selalu mengawali pagi hari dengan energi positif yang melekat pada diri mereka, sebenarnya apa tujuan mereka. Sembari menunggu kereta yang ku tumpangi sampai ke stasiun tujuan, aku mulai mengamati raut wajah manusia yang ikut menumpang di kendaraan bergerbong itu. Begitu banyak raut wajah yang ku jumpai di pagi hari. Seseorang dengan wajah murung, angkuh, ceria, bahkan seseorang dengan wajah datar yang sepertinya jika aku bisa masuk kedalam pikiran orang itu hanya ada cacian untuk pagi yang selalu datang dengan memamerkan kecerahannya. Tapi di antara semua ekspresi raut wajah yang sering ku temui, seseorang dengan raut wajah ceria sering membutaku bergidik (entah perasaan merinding, takut, atau hampa yang kurasakan, aku tidak paham. Tapi melihat mereka membuatku merasa sangat tidak nyaman).

 Dunia ini kejam. Dan ku rasa tidak ada orang yang bisa menyangkalnya, semua pasti setuju dengan penyataan tersebut. Tapi, monster macam apa mereka yang tetap dapat memamerkan senyum untuk menyambut awal hari di dunia yang kejam ini. Apakah mereka ini yang disebut ‘manusia tanpa hati’? Atau mereka hanya para manusia yang haus akan atensi orang lain. Pasti mereka pemain akting yang sangat baik. Aku yakin pasti para manusia berwajah ceria itu hanya menyembunyikan diri sejati mereka agar mendapat pujian sebagai ‘Manusia Terkuat’ dari masyarakat. Bukankah itu artinya mereka melakukan kebohongan besar terhadap khalayak ramai, bahkan membohongi diri mereka sendiri. Tapi jika semua itu bukanlah kebohongan, sudah kuduga. Monster, mereka adalah monster yang selalu ikut tertawa dengan segala kekejaman yang dilakukan dunia. 

Sejak menduduki bangku sekolah menengah pertama, sudut pandanganku terhadap dunia yang tadinya putih kini berubah kian memerah. Pola pikirku yang dulunya sederhana hanya sebatas ‘meminum es berwarna -warni dapat membuat bahagia’, kini tak bisa dirasakan lagi. Aku sadar, betapa bodohnya aku yang dulu ikut termakan oleh perkataan orang dewasa “jangan berteman dengan anak yang keluarganya tidak jelas” bahkan kata ‘tidak jelas’ disini terdengar sangat ambigu. Ketika mulai memiliki banyak teman dan menambah lingkup pergaulan, aku paham akan satu hal. Dunia itu kejam. Tidak semua hal yang terlihat itu sebagaimana yang sebenarnya terjadi, tidak semua...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp2.000
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
Bronze
Kedai Suram
godok
Cerpen
Bronze
Blaming The Victim
Dewi Fortuna
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Cerpen
Bronze
Cowok cafe sebelah
Fitriani
Cerpen
Bronze
Wheres My Home?
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Cerpen
Bronze
Pelangi Di Atas Tiara
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
He's not just a green flag but teal green
Firlia Prames Widari
Cerpen
Bronze
Hanya Untukmu
mareta amelia
Cerpen
Bronze
Kena Batunya
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Maaf, aku terlambat tahu.
Fianaaa
Cerpen
Bronze
Topeng Keindahan
Cicilia Oday
Cerpen
Bronze
Sebuah Pilihan untuk Dikenang
I Putu Agus Yoga Permana
Cerpen
Bronze
Bahtera di Lautan Waktu
Haswardi Eka putra
Cerpen
Aku Bersimpuh di Hadapan Kopi yang Tengah Ku Seduh
Galang Gelar Taqwa
Cerpen
Bronze
Syamsul dan Senja yang Jujur
Desto Prastowo
Rekomendasi
Cerpen
Bronze
Kedai Suram
godok
Cerpen
Tuan Kutukan dan Warisan Terakhir
godok
Flash
Nasi
godok
Novel
Bronze
Hunter for The Phantom
godok
Flash
Candala
godok
Cerpen
Figure Skating
godok
Cerpen
Bronze
Beras Orang Kaya
godok
Cerpen
Bronze
Yang Tetangkap
godok
Novel
Gubuk Tengah Hutan
godok
Cerpen
Bronze
Apa Makan Malammu
godok
Cerpen
Bronze
Agnosia
godok
Cerpen
Dua Sisi LainNya
godok
Cerpen
Bronze
Pareidolia
godok
Cerpen
Kemusnahan
godok