Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Slice of Life
KEDAI KOPI PUKUL EMPAT
1
Suka
7
Dibaca

​Kota ini tidak pernah benar-benar tidur, tapi ia sering kali lupa caranya bernapas. Di antara deru mesin bus kota dan langkah kaki para pekerja yang terburu-buru, terdapat sebuah gang sempit yang luput dari pandangan mata. Di sanalah, sebuah kedai kayu dengan cat yang mulai mengelupas berdiri dengan anggun. Tak ada papan nama neon, hanya sebuah jam dinding tua di atas pintu yang selalu berdentang empat kali saat aroma kopi mulai menyeruak ke jalanan.

​Pak Haris, pria dengan rambut seputih kapas dan garis wajah sedalam parit, selalu memulai ritualnya pada pukul 15.45. Ia memanaskan air hingga suhu yang tepat—tidak boleh terlalu mendidih agar tidak membakar "jiwa" biji kopinya.

​Tepat pukul 16.00, pintu berderit.

​Aris masuk. Ia adalah pria dengan kemeja yang rapi tapi layu, seolah-olah beban di pundaknya lebih berat dari tas kantor yang ia jinjing. Ia duduk di kursi tinggi di depan meja kayu oak. Matanya tidak melihat ke arah menu, melainkan terpaku pada sebuah toples kaca besar yang diletakkan Pak Haris di depannya. Toples itu penuh dengan gulungan kertas kecil—ribuan penyesalan yang membeku dalam waktu.

​"Selamat datang kembali ke pukul empat sore, Nak," suara Pak Haris tenang, seolah ia sedang menyapa seorang kawan lama yang baru kembali dari medan perang.

​Aris tidak menjawab. Ia mengambil pulpen yang disediakan. Tangannya gemetar. Di atas kertas putih itu, ia menuliskan kalimat yang telah menghantuinya selama tiga tahun: "Seandainya aku tidak mematikan ponselku malam itu."

​Ia melipatnya, lalu menjatuhkannya ke dalam toples. Bunyinya pelan, tapi di telinga Aris, itu terdengar seperti hantaman palu besar.

​Pak Haris mengambil kertas itu menggunakan penjepit kayu. Ia tidak membacanya dengan mata, melainkan mendekatkannya ke hidung, seolah-olah ia sedang menghirup emosi yang tertinggal di sana. Kemudian, secara mengejutkan, Pak Haris memasukkan kertas itu ke dalam alat penggiling kopi bersama beberapa biji kopi pilihan.

​Krrreeekkk... Krrreeekkk...

​Suara gilingan manual itu memenuhi ruangan yang sunyi. Aris menatap dengan bingung. "Pak, kenapa kertas itu...?"

​"Kopi biasa hanya akan membuatmu terjaga, Aris. Tapi kopi di sini akan membuatmu 'melihat'," jawab Pak Haris.

​Ia menuangkan air panas ke dalam alat seduh. Uap yang mengepul mulai membentuk siluet yang aneh. Aroma yang keluar bukan hanya aroma kopi Arabika, melainkan bau parfum mawar yang sangat dikenal Aris. Bau parfum istrinya, Maya.

​Pak Haris menyodorkan cangkir keramik itu. "Minumlah. Tapi ingat, setiap sesapan memiliki harganya. Kau akan kembali ke momen itu, tapi kau tidak bisa menyentuhnya. Kau hanya bisa menjadi saksi atas dirimu yang dulu."

​Aris ragu, tapi kerinduan yang membakar di dadanya lebih besar daripada rasa takutnya. Ia menyesap kopi itu.

​Seketika, dinding kedai memudar. Suara bising kota menghilang, digantikan oleh kesunyian kamar apartemennya tiga tahun lalu. Ia melihat dirinya sendiri yang sedang tidur mendengkur, dan di atas nakas, ponselnya dalam keadaan mati. Di sampingnya, Maya sedang bersiap-siap pergi untuk sif malam di rumah sakit.

​Maya mencium kening Aris yang sedang tidur, berbisik "Aku pergi dulu ya, sayang," lalu melangkah keluar pintu. Aris yang sedang menyeruput kopi ingin berteriak, "Jangan pergi! Malam ini akan ada truk yang remnya blong!" namun suaranya hanya menjadi gema hampa di udara.

​Aris tersentak kembali ke kursi kedai. Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi dahinya. Cangkir di tangannya masih terasa hangat, tapi hatinya terasa seperti bongkahan es.

​"Kenapa Anda melakukan ini, Pak Haris?" tanya Aris dengan nada marah yang terselubung kesedihan. "Menyiksa orang dengan ingatan yang tidak bisa diubah?"

​Pak Haris mengelap meja dengan perlahan. "Manusia sering kali mengira penyesalan adalah cara untuk memperbaiki masa lalu. Padahal, penyesalan adalah beban yang kita bawa karena kita menolak untuk melihat kebenaran."

​Pak Haris berjalan ke belakang konter, mengambil sebuah jam saku tua. "Banyak orang datang ke sini mengira aku penyihir atau dewa. Padahal aku hanya seorang pria yang gagal. Toples itu... bukan berisi kertas. Itu berisi keberanian yang belum tuntas."

​Ia menatap Aris tajam. "Tahukah kau kenapa Maya mencium keningmu malam itu meskipun kalian sedang bertengkar hebat sebelumnya?"

​Aris tertegun. Ia baru sadar. Malam itu, mereka memang bertengkar soal masalah sepele sebelum Aris memutuskan untuk tidur dan mematikan ponselnya. Ia mengira Maya pergi dengan rasa marah. Tapi di penglihatan tadi, Maya menciumnya dengan penuh kasih.

​"Kopi ini tidak mengubah masa lalu, Aris," lanjut Pak Haris. "Dia hanya menunjukkan bagian dari masa lalu yang kau lupakan karena kau terlalu sibuk mengasihani dirimu sendiri."

Lonceng pintu kembali berdenting, memutus keheningan berat antara Aris dan Pak Haris. Seorang wanita tua dengan gaun beledu berwarna ungu pudar melangkah masuk. Gerakannya sangat lambat, seolah setiap jengkal lantai kedai ini adalah memori yang rapuh. Di tangannya, ia menggenggam sebuah kertas yang warnanya sudah menguning, hampir keemasan—sebuah penyesalan yang telah diringkas oleh waktu selama puluhan tahun.

​Aris masih mencoba mengatur napasnya yang sesak, sementara Pak Haris menyambut wanita itu dengan anggukan takzim.

​"Sudah saatnya, Sarah?" tanya Pak Haris lembut.

​Wanita itu tersenyum sedih. Ia meletakkan kertas itu ke dalam toples. Berbeda dengan kertas milik Aris yang tenggelam begitu saja, kertas emas ini mengeluarkan pendar redup sebelum akhirnya menyatu dengan ribuan kertas lainnya.

​"Aku tidak ingin membawanya ke liang lahat, Haris. Biarkan dia tinggal di sini, bersama kopi-kopimu," bisik wanita itu sebelum akhirnya berbalik dan pergi tanpa memesan apa pun.

​Aris memperhatikan kejadian itu dengan dahi berkerut. "Siapa dia? Dan kenapa kertasnya berbeda?"

​Pak Haris kembali ke belakang meja, tangannya sibuk mengelap cangkir porselen yang tadi digunakan Aris. "Itu adalah penyesalan yang sudah berubah menjadi penerimaan. Kertas emas hanya muncul jika pemiliknya sudah tidak lagi ingin mengubah keadaan, tapi hanya ingin menitipkan ceritanya agar dunia tidak melupakannya."

​"Tapi Pak," Aris memotong, rasa penasarannya mulai mengalahkan rasa sedihnya. "Kedai ini... tempat ini tidak masuk akal. Saya baru saja melihat masa lalu saya dari uap kopi. Siapa Anda sebenarnya? Mengapa Anda melakukan semua ini?"

​Pak Haris berhenti mengelap. Ia menatap jam dinding yang jarumnya seolah berhenti di angka empat lewat sedikit. "Aku hanyalah seorang penjaga arsip yang gagal, Aris. Dulu, aku adalah orang yang paling banyak memiliki kertas di toples ini. Begitu banyak, hingga aku tidak bisa lagi melihat masa depan."

​Ia kemudian menunjuk ke arah sudut kedai yang gelap. Di sana, terdapat sebuah pintu kecil yang terkunci rapat dengan gembok berkarat. "Di balik itu, tersimpan semua kopi yang tidak pernah diminum. Kopi dari mereka yang memilih untuk terjebak di masa lalu dan tidak pernah mau bangun lagi."

​"Setiap sesapan memiliki harga," ujar Pak Haris, mengulangi kalimatnya di awal. "Kau sudah meminum setengahnya. Kau sudah melihat bahwa Maya tidak pergi dengan kebencian. Sekarang, kau punya pilihan. Habiskan sisa kopimu untuk melihat apa yang seharusnya terjadi jika kau mengangkat ponsel itu, atau buang kopi ini dan berjalanlah keluar melalui pintu depan."

​Aris menatap cairan hitam yang masih tersisa di cangkirnya. Keinginan untuk tahu—keinginan untuk melihat realitas alternatif di mana Maya masih hidup—terasa seperti candu yang sangat kuat.

​"Jika aku meminumnya sampai habis, apakah aku bisa tinggal di sana?" tanya Aris dengan mata penuh harap yang menyakitkan.

​Wajah Pak Haris berubah menjadi sangat dingin. "Itulah harga yang aku bicarakan. Kau bisa melihatnya, tapi jiwamu akan tertinggal di dalam uap itu. Tubuhmu akan tetap duduk di kursi ini, menjadi patung yang mengisi sudut kedai, selamanya terjebak dalam 'seandainya'. Itulah yang terjadi pada mereka yang kertasnya berubah menjadi hitam di dasar toples."

​Aris melihat ke dasar toples. Benar saja, jauh di bawah tumpukan kertas putih, ada beberapa gulungan kertas hitam pekat yang tampak seperti arang.

​"Kedai ini disebut Pukul Empat karena ini adalah waktu di mana siang hampir berakhir dan malam segera tiba. Waktu transisi," lanjut Pak Haris. "Kau harus memilih untuk menjadi cahaya atau menjadi kegelapan."

​Aris terdiam. Di kepalanya, suara tawa Maya bergema. Ia merindukannya. Ia sangat merindukannya hingga ia merasa sanggup mati hanya untuk melihat senyumnya sekali lagi. Namun, ia teringat pada ciuman di kening tadi. Ciuman itu adalah tanda bahwa Maya ingin Aris terus hidup dengan cinta, bukan dengan rasa bersalah.

​Tangan Aris menjangkau cangkir itu. Pak Haris menahan napas.

​PYARRR!

​Aris tidak meminumnya. Ia menyapu cangkir itu hingga jatuh ke lantai, pecah berkeping-keping. Cairan hitam itu meluber di lantai kayu, dan uap parfum mawar perlahan-lahan menghilang, terbang menuju langit-langit kedai dan lenyap melalui ventilasi.

​Pak Haris menghela napas panjang, sebuah senyum tipis yang tulus muncul di bibirnya. "Keputusan yang sulit, Nak. Tidak banyak yang berani menghancurkan cangkir mereka."

​"Aku tidak butuh melihat 'seandainya'," kata Aris dengan suara yang sekarang terdengar lebih kokoh. "Melihat Maya menciumku malam itu sudah cukup. Dia sudah memaafkanku bahkan sebelum kejadian itu terjadi. Aku yang tidak pernah memaafkan diriku sendiri."

​Aris berdiri. Ia merasa tubuhnya jauh lebih ringan, seolah beban yang selama ini menekan pundaknya telah menguap bersama aroma kopi tadi.

​"Terima kasih, Pak Haris. Berapa yang harus saya bayar?"

​Pak Haris menggeleng. "Kau sudah membayar dengan keberanianmu untuk melepaskan. Sekarang, pergi dan hiduplah. Jam empat sudah hampir usai."

​Saat Aris memegang gagang pintu, ia menoleh kembali. "Pak Haris, suatu saat nanti, apakah saya bisa kembali ke sini?"

​"Kedai ini hanya akan ada bagi mereka yang membutuhkannya, Aris. Jika kau tidak lagi melihatnya di gang ini besok, berarti kau sudah benar-benar sembuh."

​Aris keluar dari kedai. Sinar matahari sore yang berwarna oranye menerpa wajahnya. Bising kota kembali terdengar, namun kali ini tidak lagi terdengar seperti deru mesin yang menyakitkan, melainkan seperti melodi kehidupan. Aris menarik napas panjang, menyalakan ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia tidak mencari nomor Maya. Ia hanya melihat ke langit, berbisik "Terima kasih," lalu berjalan menjauh.

​Di dalam kedai, Pak Haris mengambil sehelai kertas emas yang baru saja muncul secara ajaib di tangannya. Di atasnya tertulis nama: Aris. Ia menjatuhkannya ke dalam toples, lalu membalik papan di pintu dari "BUKA" menjadi "TUTUP".

​Pukul 17.00. Kedai itu perlahan memudar, menyatu dengan bayang-bayang gedung bertingkat, menyisakan hanya aroma kopi yang samar di udara kota yang dingin.

Tahun-tahun berlalu. Di sudut kota yang sama, seorang pria paruh baya berjalan dengan tenang. Ia berhenti di depan sebuah gang sempit. Di sana, sebuah kedai tua dengan jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore muncul kembali.

​Pria itu masuk, memakai celemek tua, dan mulai memanaskan air. Ia adalah Aris. Pak Haris sudah lama pergi, dan kini Aris-lah yang bertugas menyeduh penyesalan bagi mereka yang tersesat di antara siang dan malam. Karena ia tahu, terkadang yang kita butuhkan bukanlah kesempatan untuk kembali, melainkan keberanian untuk tetap tinggal.

​SELESAI

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Cerpen
KEDAI KOPI PUKUL EMPAT
P12
Cerpen
Beranak Dalam Kaos Kaki
muhammad rio al fauzan
Cerpen
Toko Buku Kecil di Kaki Bukit
Rafael Yanuar
Cerpen
Harus Bersama
Mariana Sibuea
Cerpen
Bronze
Kelas Tambahan Di Hari Rabu
Cinta Ayumi
Cerpen
Bronze
( dalam Kurung )
Yasin Yusuf
Cerpen
Bronze
Rajo Angek Garang
Gia Oro
Cerpen
Ruang Temu
Lail Arahma
Cerpen
Dua Wanita yang Berteduh
anjel
Cerpen
Bronze
A Little Secret
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Cerpen
Jenazah
Rita Puspitasari
Cerpen
Sang Penembus Dua Sisi
Janeeta Mz
Cerpen
Barang Biasa, Cerita Luar Biasa
Tresnaning Diah
Cerpen
Sesi
Dina prayudha
Cerpen
Bronze
Keluarga bahagia dibalik senyum sederhana
Ryan Wijayanto
Rekomendasi
Cerpen
KEDAI KOPI PUKUL EMPAT
P12
Novel
Bronze
Kultivator Terkuat yang Mengira Dirinya Warga Sipil.
P12
Cerpen
Bronze
KALA: Perjalanan Terakhir
P12
Cerpen
Bronze
Elara
P12
Cerpen
Bronze
Simfoni di Balik Botol Kaca
P12
Novel
Bronze
SIMFONI DI BALIK BOTOL KACA.
P12
Cerpen
Bilasan Terakhir.
P12