Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Cerpen
Misteri
Katalog Bau di Kamar Mayat
0
Suka
8
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak pernah membayangkan hidupku akan berakhir seperti ini—tenggelam dalam katalog bau kematian, mencatat dengan teliti setiap aroma yang mengapung di ruang steril Rumah Sakit Umum Pusat, lantai basement, kamar jenazah nomor tiga. Mungkin memang begitu takdirku sejak awal, menjadi pencatat hal-hal yang tidak terlihat, yang diabaikan, yang dianggap tidak penting oleh orang-orang dengan gelar dokter dan label "profesional medis" di dada mereka.

Lima belas tahun aku bekerja di sini, di tempat yang orang-orang segan menyebutnya dengan lantang. Mereka bilang kamar mayat, kamar jenazah, atau yang paling halus: ruang pemulasaraan. Tapi bagiku, ini adalah perpustakaan. Perpustakaan bau.

Semuanya dimulai dengan Nyonya Lastri.

Pagi itu—atau mungkin sudah siang, sulit membedakan waktu di ruangan tanpa jendela—mereka membawa jenazah perempuan tua dari bangsal geriatri. Nyonya Lastri, 73 tahun, meninggal karena komplikasi diabetes. Aku sudah hapal prosedurnya: cuci tangan, pakai sarung tangan latex, periksa nomor jenazah, catat di buku besar, lalu pindahkan ke lemari pendingin.

Tapi ketika aku membuka kain putih yang menutupi wajahnya, aku tercengang.

Lavender.

Bukan bau khas mayat yang sudah mulai mengalami dekomposisi. Bukan aroma desinfektan yang menyengat. Bukan pula sisa-sisa parfum murah yang biasa dipakai nenek-nenek ke pengajian. Ini lavender asli, segar, seperti baru dipetik dari kebun di Provence yang pernah aku lihat di majalah National Geographic bekas yang kutemukan di ruang tunggu.

Aku mendekat, mengendus lebih dalam. Lavender itu keluar dari pori-pori kulitnya, dari rambutnya yang sudah memutih, bahkan dari sudut bibirnya yang terbuka sedikit. Mustahil. Nyonya Lastri berasal dari keluarga miskin, tinggal di daerah pinggiran, dan menurut berkas medisnya, dia tidak pernah menggunakan aromaterapi atau apapun yang berbau mewah.

Aku mengambil buku catatan lusuh yang selalu kusimpan di saku seragam—buku yang awalnya kumaksudkan untuk mencatat jadwal shift, tapi lambat laun berubah fungsi menjadi katalog pribadiKu. Aku menulis:

Jenazah #1.247 - Nyonya Lastri (73 th) - Lavender murni, intensity: 7/10, duration: 15 menit sebelum memudar. Anomali: tidak ada sumber eksternal yang teridentifikasi.

Aku pikir itu kebetulan. Mungkin ada perawat yang menyemprotkan pengharum ruangan atau minyak esensial sebagai bentuk penghormatan terakhir. Tapi kemudian, tiga hari berikutnya, datang Pak Sularto.

Pak Sularto, 58 tahun, buruh bangunan, meninggal tertimpa scaffolding. Tulang rusuknya remuk, paru-parunya bocor. Seharusnya baunya adalah darah, keringat, debu semen, dan awal pembusukan. Tapi yang kucium adalah melati. Melati putih yang sangat harum, seperti sedang mekar di malam hari, basah oleh embun.

Aku berdiri terpaku di samping meja stainless steel, hidungku bergetar, otakku mencoba mencari penjelasan rasional. Tidak ada. Pak Sularto datang langsung dari lokasi kecelakaan, bahkan masih ada serpihan beton menempel di rambutnya. Tidak ada bunga, tidak ada wewangian.

Jenazah #1.250 - Pak Sularto (58 th) - Melati malam, intensity: 8/10, duration: 20 menit. Catatan: bau muncul sebelum proses pembersihan jenazah.

Setelah itu, aku tidak bisa berhenti.

Setiap jenazah yang masuk, aku akan mendekat, menutup mata, dan mengendus dengan hati-hati. Dan setiap kali, ada yang aneh. Ada yang berbau kayu cendana, ada yang berbau teh hijau, ada yang berbau hujan pertama di musim kemarau. Tidak pernah bau yang sama, tidak pernah bisa dijelaskan.

Katalogku bertambah tebal. Aku membuat sistem klasifikasi sendiri: bunga, rempah, elemen alam, bahkan kategori abstrak seperti "nostalgia" dan "kehilangan". Aku tahu kedengarannya gila. Tapi aku tidak bisa berhenti. Ini seperti bahasa rahasia yang hanya bisa aku pahami, pesan terakhir dari orang-orang yang sudah menyeberang.

Dr. Ratna, kepala unit pemulasaraan, sempat menanyakan kenapa aku sering berlama-lama di ruang jenazah. Aku bilang aku sedang memastikan semua prosedur berjalan sempurna. Dia mengangguk, puas, tidak pernah curiga bahwa aku sebenarnya sedang mencatat aroma kematian seperti seorang sommelier mencatat wine.

Tapi yang benar-benar mengubah segalanya adalah ketika aku mulai mencium bau-bau itu pada orang yang masih hidup.

Hari itu hari Jumat. Aku sedang makan siang di kantin rumah sakit, menyendok soto ayam yang terlalu asin sambil membaca katalogku. Tiba-tiba, aku mencium lavender. Lavender yang persis sama dengan yang kucium dari Nyonya Lastri.

Aku mengangkat kepala. Di meja sebelah, seorang perempuan paruh baya sedang makan dengan perlahan, tangannya gemetar sedikit ketika mengangkat sendok. Wajahnya pucat, bibirnya kering.

Aku mendekat, berpura-pura ingin mengambil sambal, dan mengendus.

Ya Tuhan.

Lavender. Intensity 7/10. Sama persis.

Jantungku berdegup kencang. Aku duduk kembali, mencoba tenang, mencoba berpikir rasional. Mungkin dia memakai parfum lavender. Mungkin dia baru saja dari spa. Mungkin—

Tapi ketika aku melihat gelang identitas di pergelangan tangannya, aku tahu dia adalah pasien rawat inap. Bangsal onkologi. Kanker stadium akhir.

Aku tidak tidur malam itu. Aku terus memikirkan perempuan itu, terus mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa ini hanya kebetulan. Tapi dua hari kemudian, jenazahnya tiba di ruangku.

Jenazah #1.289 - Ibu Siti Aisyah (52 th) - Lavender murni, intensity: 7/10. Konfirmasi: bau yang sama tercium 48 jam sebelum kematian.

Aku ingin muntah. Aku ingin lari dari ruangan itu, lari dari katalogku, lari dari kemampuan terkutuk ini. Tapi aku tidak bisa. Karena kemudian aku mulai mencium bau-bau lain.

Melati pada penjaga parkir yang selalu ramah menyapaku setiap pagi. Cendana pada perawat muda yang sering menangis di tangga darurat. Hujan pertama pada pasien anak-anak yang bermain di taman rumah sakit dengan infus masih tertancap di tangannya.

Mereka semua mati. Satu per satu. Seperti daftar tunggu yang sudah tertulis di tempat yang tidak bisa kulihat.

Aku berhenti makan. Aku berhenti tidur. Aku hanya mencatat, mencatat, mencatat. Katalogku sekarang penuh dengan nama-nama orang yang masih hidup, lengkap dengan bau yang kucium dan prediksi kapan mereka akan mati. Aku seperti malaikat maut yang tidak bisa melakukan apaapa selain menonton.

Dr. Ratna menyadari ada yang salah. Dia memanggil aku ke ruangannya, menawarkan cuti, bahkan menyarankan aku menemui psikolog. Aku menolak. Bagaimana bisa aku menjelaskan? Bagaimana bisa aku bilang bahwa aku bisa mencium kematian seperti orang mencium kopi di pagi hari?

Suatu sore, aku sedang berjalan di koridor rumah sakit ketika aku mencium sesuatu yang membuatku berhenti total.

Kayu cendana. Intensity 9/10.

Aku menoleh. Dr. Ratna sedang berdiri di ujung koridor, sedang berbicara dengan seorang dokter spesialis. Dia tertawa, terlihat sehat, terlihat baik-baik saja. Tapi baunya... baunya seperti sedang memelukku, memenuhi paru-paruku, memaksaku untuk mengakui kenyataan.

Aku berlari ke toilet, membungkuk di wastafel, napas tersengal-sengal. Tidak. Tidak Dr. Ratna. Bukan dia. Bukan orang yang sudah berbaik hati padaku selama lima belas tahun.

Tapi katalog tidak pernah salah.

Tiga minggu kemudian, Dr. Ratna tiba-tiba kolaps di ruang operasi. Aneurisma otak. Dia dibawa ke ICU, kondisi kritis. Aku tidak berani mendekat. Aku tidak ingin mencium baunya lagi, tidak ingin mengonfirmasi apa yang sudah aku tahu.

Malam itu, aku duduk di ruang jenazah yang kosong, memegang katalogku dengan tangan bergetar. Aku membuka halaman kosong terakhir, mengambil pulpen, dan untuk pertama kalinya, aku mencoba mengendus diriku sendiri.

Tidak ada.

Tidak ada lavender, tidak ada melati, tidak ada cendana. Aku hanya berbau seperti deterjen murah dan desinfektan. Aku masih hidup. Aku masih aman.

Tapi kemudian, seperti bisikan yang datang dari kejauhan, aku mencium sesuatu. Samar-samar. Hampir tidak terasa. Tapi pasti.

Teh hijau. Dingin. Seperti yang sudah lama diseduh dan dilupakan.

Tanganku membeku. Aku menulis dengan lambat, huruf demi huruf, di halaman terakhir katalogku:

Jenazah #? - (47 th) - Teh hijau dingin, intensity: 3/10, duration: belum diketahui. Status: menunggu konfirmasi.

Aku menutup buku itu, meletakkannya di atas meja stainless steel yang dingin, di samping label kosong dan spidol permanen. Besok, mungkin lusa, mungkin seminggu lagi, seseorang akan menemukanku di sini. Dan mereka akan mencium bauku.

Aku bertanya-tanya, apa yang akan mereka cium?

Tapi mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah ada orang yang akan peduli untuk mencatatnya?

Di luar jendela kecil yang hampir tidak terlihat, langit mulai gelap. Aku mendengar suara ambulans yang datang, mendengar roda brankar yang berderit di koridor, mendengar bisik-bisik perawat yang berganti shift.

Hidup dan mati berjalan beriringan di tempat ini, seperti biasa, seperti seharusnya.

Dan aku, pencatat bau kematian, duduk di tengah-tengahnya, menunggu giliranku untuk menjadi bagian dari katalog yang kutakuti sekaligus kucintai.

Lavender untuk yang damai. Melati untuk yang tulus. Cendana untuk yang bijaksana. Teh hijau untuk yang terlupakan.

Dan mungkin, hanya mungkin, seseorang akan ingat bahwa aku pernah ada di sini, di antara aromaaroma terakhir yang tidak pernah terucapkan, di perpustakaan bau yang hanya aku pahami.

Aku menutup mata, menghirup dalam-dalam, dan menunggu. βα™

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Cerpen
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Katalog Bau di Kamar Mayat
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Pertemuan di Kereta Bawah Tanah
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Isi Dalam Kemasan yang Berkurang Satu
Marino Gustomo
Cerpen
Zoon Politicon
Teguh Santoso
Flash
Coffee
Wuri
Flash
SMS
Veramuna Risqyana
Flash
After Dark-19
Populartflower
Flash
Bronze
Niskala
Bksai
Cerpen
Bronze
Mimpi Terakhir
Nuraini Mastura
Novel
Gold
Rahasia Nenek Piju
Mizan Publishing
Novel
Kaliptra
Kaela
Cerpen
Rahasia Gudang Tua
Yusfita
Flash
Mengisi Segelas Kopi
imagivine
Skrip Film
Does Netflix party require everyone to have Netflix?
watch party
Rekomendasi
Cerpen
Katalog Bau di Kamar Mayat
Muhammad Ibrahim
Novel
Rumah Tujuh Cahaya
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Kota Bayang dan Upacara Penutupan
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Pertemuan di Kereta Bawah Tanah
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Diam yang Berbicara
Muhammad Ibrahim
Cerpen
Di Atas Meja*
Muhammad Ibrahim